NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Bel istirahat kedua baru saja berbunyi, tapi Mori sudah merasa energinya terkuras habis. Bukan karena pelajaran matematika yang rumit, tapi karena Lian. Cowok itu, entah bagaimana, selalu punya cara untuk berada di sekelilingnya. Di kantin, di perpustakaan, bahkan di toilet putra (oke, itu berlebihan, tapi rasanya begitu!).

Pagi ini saja, Lian sudah menguji kesabaran Mori tiga kali. Pertama, saat Lian sengaja melewati meja Mori di kelas sambil nyanyi-nyanyi lagu cinta keras-keras, sambil matanya genit ke semua cewek (termasuk ke arah Mori, yang langsung Mori balas dengan tatapan tajam). Kedua, saat Lian dengan berani menyelinap ke barisan antrean Mori di kantin, senyum-senyum ke ibu kantin, lalu malah menawarkan Mori "jatah" bakso dia. Dan ketiga... ah, yang itu terlalu memuakkan untuk diingat.

Mori duduk di bangku taman sekolah, mencoba menikmati roti isi yang ia bawa dari rumah. Ia ditemani oleh tiga teman barunya yang selalu riang: Jessica, Nadya, dan Alissa. Mereka adalah tipe-tipe gadis ceria yang gampang akrab, dan Mori suka itu. Sayangnya, ada satu topik yang selalu jadi highlight obrolan mereka.

"Gila, lo liat nggak tadi pagi Lian pake jaket denim baru? Keren banget!" seru Jessica sambil menopang dagu, matanya berbinar.

Nadya mengangguk setuju. "Iya! Dia kan emang gitu, apa aja yang dia pake pasti kelihatan mahal. Aura chaebol-nya itu lho!"

Alissa menambahkan, "Bener! Tadi pas dia lewat depan kelas gue, semua cewek pada nahan napas. Ganteng banget."

Mori mengunyah rotinya pelan-pelan. Dia mencoba mengabaikan topik ini, tapi obrolan teman-temannya ini benar-benar menguji batas kesabarannya. Mereka adalah gadis-gadis baik, tapi obsesi mereka pada Lian benar-benar membuat Mori ingin lempar roti ke muka cowok itu.

"Kenapa kalian suka banget sih sama dia?" Mori akhirnya bertanya, tidak bisa menahan diri. Nada suaranya sedikit lebih dingin dari biasanya.

Jessica, Nadya, dan Alissa langsung menatap Mori dengan kaget.

"Hah? Mori, lo serius nggak tau kenapa? Dia itu Lian! Cowok paling hits, paling ganteng, paling keren di sekolah ini!" Jessica menjabarkan.

"Iya, lagian dia baik kok sebenarnya," sambung Nadya. "Dia suka nraktir, terus kalau ada cewek yang diganggu cowok lain, dia pasti nolongin."

Mori mendengus. "Baik? Nolongin? Kalian yakin dia baik karena tulus, atau karena dia senang jadi pahlawan di mata kalian biar dia makin dipuja?"

Tiga cewek itu terdiam. Mereka saling pandang, mencoba mencerna perkataan Mori yang blak-blakan.

"Mori, lo kok gitu sih ngomongnya? Lian itu nggak seburuk yang lo kira," kata Alissa, suaranya sedikit kecewa.

Mori meletakkan sisa rotinya. "Denger ya, guys. Gue nggak bilang dia buruk. Gue cuma bilang, kalian terlalu buta sama pesonanya. Kalian nggak liat dia flirting sama semua cewek di sekolah, dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas? Dia suka tebar janji manis yang nggak pernah ditepati. Dia suka manfaatin orang lain buat kepentingannya sendiri. Itu bukan 'baik', itu namanya... manipulatif."

Tiga temannya itu masih terdiam. Mungkin karena ini pertama kalinya ada orang yang berani bicara sejelek itu tentang Lian di depan mereka.

"Kalian tau nggak tadi pagi dia ngapain gue?" Mori melanjutkan, suaranya naik satu oktaf. "Dia sengaja nyelip di antrean bakso gue, terus nawarin gue baksonya sambil kedip-kedip genit. Dia pikir gue bakal meleleh gitu aja?"

"Kan dia niatnya baik, Mori. Pengen nraktir lo," Nadya mencoba membela.

"Baik?" Mori tertawa sinis. "Dia ngelakuin itu cuma buat nunjukkin ke semua orang kalau dia bisa deketin siapa aja. Itu pamer. Itu red flag."

Tiba-tiba, dari arah lapangan basket, terdengar suara tawa riuh. Lian, dengan kaus basket yang sedikit basah karena keringat, sedang dikelilingi oleh sekelompok siswi. Dia sedang membungkuk, pura-pura mengikat tali sepatunya, tapi matanya melirik ke segala arah, menikmati perhatian yang ia dapatkan. Bahkan dia sempat melempar senyum ke arah segerombolan siswi yang lewat, membuat mereka semua histeris.

"Tuh kan," kata Mori datar. "Liat sendiri. Kalau dia memang cowok yang tulus, dia nggak bakal butuh validasi sebanyak itu dari orang lain."

Jessica, Nadya, dan Alissa mau nggak mau mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya, mereka melihat apa yang Mori lihat. Bukan Lian yang keren, tapi Lian yang haus perhatian.

"Tapi... dia ganteng banget, Mori," bisik Alissa, masih terpana.

Mori menghela napas. "Ganteng itu bonus, bukan alasan buat kalian ngasih hati kalian ke dia tanpa mikir. Kalian liat kan, dia itu red flag jalan. Nanti kalau kalian udah terjebak, baru nyesel."

Setelah obrolan itu, Mori makin menjaga jarak dari Lian. Bahkan, sekarang dia punya misi baru: membuka mata teman-temannya. Ia mulai menunjukkan bukti-bukti red flag Lian secara halus.

Suatu hari, saat jam pelajaran Bahasa Indonesia, Lian sengaja melemparkan senyum paling manisnya ke arah Mori dari bangku belakang. Mori membalasnya dengan tatapan tajam yang membuat Lian sedikit terkejut.

Saat pulang sekolah, Lian menunggu di parkiran, menyandarkan tubuhnya ke motor sambil memegang ponsel, pura-pura sibuk tapi matanya terus mengawasi. Ia tahu Mori akan lewat.

Mori melihat Lian. Dia langsung menarik Jessica, Nadya, dan Alissa ke arah gerbang belakang, meskipun itu berarti mereka harus memutar sedikit lebih jauh.

"Kenapa lewat sini sih, Mori? Padahal tadi kita bisa lewat depan, sekalian liat Lian," protes Jessica.

Mori tersenyum tipis. "Gue cuma pengen cari suasana baru aja. Lagian, udara di depan kan suka tercemar ego Lian. Nggak sehat buat paru-paru."

Alissa dan Nadya tertawa kecil. Jessica pun ikut tersenyum. Mungkin Mori ada benarnya. Semakin lama mereka bersama Mori, semakin mereka melihat celah-celah "sempurna" yang selama ini mereka sembah dari Lian.

Mori tahu perjalanannya masih panjang. Lian adalah magnet bagi banyak orang, dan mengubah pandangan teman-temannya butuh waktu. Tapi Mori yakin, suatu hari mereka akan sadar. Atau setidaknya, dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari perangkap pesona Lian yang beracun itu.

Di rumah, Mori membuka buku hariannya. Dia menulis:

"Hari ini, alarm 'red flag' untuk Lian makin keras berbunyi. Dia bukan cuma tebar pesona, tapi juga manipulatif. Aku harus lebih hati-hati. Dan aku harus melindungi teman-temanku dari pesonanya yang mematikan. Lian, kamu tidak akan pernah bisa menjebakku."

Mori menutup bukunya dengan tekad kuat. Ia tahu Lian tidak akan menyerah, tapi Mori juga tidak akan pernah tunduk. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Mori sudah siap dengan radarnya yang paling canggih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!