Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.
Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.
Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.
Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.
Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"
"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.
Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27: LORONG ISTANA
Sesuai janji, orang dari Istana Fengyi mengantarkan Mei Zhiyi ke Istana Zhaoyang setelah matahari terbenam. Jalan istana yang biasa dilalui entah kenapa berbeda dengan jalan yang tadi siang dilewati. Ketika melewati lorong, udara tiba-tiba tidak terasa enak.
Dua orang pengantar dari Istana Fengyi tiba-tiba menghilang. Insting Mei Zhiyi memperingatkan bahwa ada yang tidak beres dengan jalan yang dia lewati. Jalannya lebih panjang dan lebih sepi, seolah dia sengaja diarahkan menuju tempat yang tidak terjangkau.
Jika dia mati di sini, dia jamin tidak ada orang yang dapat mengetahuinya dan menemukan jasadnya. Lorong panjang ini mengarah pada Istana Dingin, sebuah istana pengasingan yang terbengkalai dan sunyi. Jalan mulai gelap, udara mulai dingin.
“Peringatan: Ancaman penurunan daya hidup terdeteksi! Harap tuan berhati-hati!” peringat sistem.
Terdengar langkah kaki beberapa orang di belakang Mei Zhiyi. Kening Mei Zhiyi mengernyit, ekspresinya berubah jadi dingin.
Masih ada saja orang yang berani macam-macam dengannya. Apakah mereka tidak tahu bagaimana nasib Bibi Rong dan dua pelayan serta dua kasim yang terakhir kali mengganggunya?
“Lakukan pemindaian! Berapa jumlahnya? Seberapa kuat kemampuannya?”
Sistem mulai mengaktifkan mode pemindaian. Mode ini baru diperbarui dan ditambahkan dalam pengaturan hari ini. Mei Zhiyi ingin mencobanya sekaligus memastikan seperti apa lawan yang akan ia hadapi malam ini.
“Pemindaian selesai. Laki-laki, empat orang. Tingkat kemampuan: bela diri tahap menengah. Harap tuan waspada!”
Sial, jumlahnya empat orang laki-laki dan semuanya bisa bela diri. Mei Zhiyi memutar otak untuk menghadapi mereka tanpa meninggalkan cedera serius pada akhir pertarungan. Sistem bilang bela diri tahap menengah, itu artinya mereka cukup ahli.
Kali ini, siapa lagi yang menargetkannya? Jika itu Su Qian, tidak mungkin dengan otak bodohnya bisa memikirkan cara seperti ini.
Paling bagus mengerahkan pelayan dan kasim untuk menyakitinya. Tapi, yang diutus kali ini adalah empat orang ahli. Siapa yang begitu peduli pada hidup dan matinya?
Jalan di lorong kawasan Istana Dingin gelap. Suara langkah di belakangnya menjadi samar.
Dalam hitungan beberapa detik, sebilah pedang melayang hendak menebas leher Mei Zhiyi. Mei Zhiyi dengan cepat menghindari serangan dan menarik tangan si penyerang.
“Buka etalase toko! Aku butuh sebuah senjata!”
Etalase toko poin pun terbuka. Dalam katalog yang disajikan, terdapat berbagai jenis senjata.
Hanya saja harganya mahal, terutama untuk senjata api seperti pistol dan revolver. Mei Zhiyi terpaksa menukarkan lima puluh poin miliknya untuk ditukar dengan sebilah pedang sabuk tajam.
Pedang sudah ditangan. Prinsipnya seperti menggunakan pisau. Walau awalnya agak kesulitan, Mei Zhiyi lama-lama jadi terbiasa. Gerakannya seringan angin, menyerang dan menahan serangan dari empat orang pria berbaju hitam yang saat ini ingin membunuhnya.
Istana Kekaisaran dijaga dengan ketat, tidak mungkin membiarkan penyusup lolos. Itu artinya, orang yang mengutus keempat orang ini ada di dalam istana dan punya kekuasaan cukup besar. Tapi masalahnya, ada dendam apa dia dengan Mei Zhiyi sampai mau membunuhnya?
“Berani sekali kalian melakukan pembunuhan di istana!” seru Mei Zhiyi marah.
“Mati saja kau!”
Pertarungan di lorong yang gelap itu semakin sengit. Bahu Mei Zhiyi terkena tusukan pedang sampai tangannya bergetar.
Untung saja tangan kanannya masih berfungsi dan masih bisa digerakkan. Tubuh yang baru pulih ini payah, tidak dapat menahan serangan lebih lama lagi.
Dia harus menyelesaikan pertarungan dengan cepat kalau tidak mau mati. Karena tempat ini terpencil, mustahil memanggil bantuan.
Mei Zhiyi ingin memaki Liu Yan yang tidak meninggalkan penjaga untuknya. Tapi, dia sadar kalau posisinya mungkin belum cukup untuk membuat pria itu mengirimkan orang untuk melindunginya secara khusus.
Setengah jam kemudian, keempat orang itu sudah tumbang. Pedang mereka jatuh dan tubuh mereka terkapar di jalan.
Mei Zhiyi berjalan tertatih-tatih, pergi dari kawasan terpencil dengan kaki setengah diseret dan tangan kanan menekan luka di bahu kiri. Wajahnya dipenuhi percikan darah dan tampilannya acak-acakan.
“Terjadi penurunan daya hidup! Daya hidup saat ini 45%!”
“Kau diam! Tunjukkan jalan untukku!”
Karena tidak mau tuan rumahnya mati, sistem kemudian menggunakan pengaturan untuk membuka jalan pulang bagi Mei Zhiyi.
Dengan petunjuk jalan sistem, Mei Zhiyi tiba di halaman samping Istana Zhaoyang. Lampu-lampu di sana lebih terang dan semua objek bisa terlihat jelas.
Kepala Mei Zhiyi mulai pusing dan pandangan matanya mulai kabur. Napasnya agak sesak, keringat mulai mengucur di tubuhnya.
Lewat pintu samping, dia memasuki ruangan samping. Kain-kain merah tergantung, tertiup angin malam. Aroma sabun herbal tercium dan uap tipis memenuhi udara.
Suara keciprat air terdengar. Mei Zhiyi terus berjalan. Ini kamar mandi utama Istana Zhaoyang.
Ada orang yang sedang mandi dan dia bisa mendengar ungkapan kesal dari mulut orang itu. Di tengah kesadaran yang mulai kabur, samar-samar Mei Zhiyi melihat sesosok pria tengah berendam dengan dada terbuka di dalam bak mandi besar.
“Yang Mulia….”
Kaki Mei Zhiyi menapaki tangga bak mandi. Dia kehabisan tenaga dan jatuh ke dalam air. Liu Yan membelalak, segera menarik tubuhnya yang hampir tenggelam. Darah dari luka di bahu Mei Zhiyi menggenang, mengubah warna air di bak mandi dari putih susu menjadi merah.
“Mei Zhiyi!”
Liu Yan menggendong tubuh Mei Zhiyi keluar dari dalam air. Hatinya mulai merasakan kepanikan yang belum pernah ada.
Penampilan Mei Zhiyi begitu kacau dan luka gores ada di beberapa bagian tubuh. Dalam keadaan basah kuyup, dia membawa keluar Mei Zhiyi menuju ruangan dalam sembari berteriak agar seseorang memanggil tabib.
“Seseorang! Cepat panggil tabib istana!”
Mendengar sang Kaisar berteriak, Li Dezai berlari masuk. Matanya membelalak begitu melihat Mei Zhiyi tidak sadarkan diri dalam gendongan Kaisar dan basah kuyup. Bibi Cui yang ada di sana juga ikut terkejut.
Apa yang terjadi? Kenapa Nona Mei jadi seperti ini?
“Kenapa kalian diam saja? Mau mati? Cepat panggil tabib!”
Li Dezai berlari memanggil tabib. Tak lama kemudian tabib istana datang dan memeriksa Mei Zhiyi.
Keningnya berkali-kali mengkerut begitu merasakan denyut nadi yang begitu kacau. Ditambah lagi ada luka yang lumayan serius di bahu kiri yang merobek kulit dan jaringan otot.
“Yang Mulia, lukanya perlu dijahit. Tapi, hambamu yang bodoh ini tidak memiliki peralatan jahit yang lengkap karena masih dalam tahap pengembangan,” ucap Tabib Wen dengan suara gemetar.
“Payah! Apa gunanya aku mempekerjakan kalian?”
“Mohon Yang Mulia memberi ampunan,” Tabib Wen berlutut.
“Yang Mulia mohon jaga kesehatan dan jangan marah. Yang Mulia, Nona Mei memiliki kotak peralatan medis. Bagaimana jika mengambilnya dan menyerahkannya pada Tabib Wen?” ucap Li Dezai.
Li Dezai juga panik. Tapi, dia lebih takut Kaisar-nya jatuh sakit.
Ini sudah malam, tapi majikan agungnya malah keluar dari bak mandi dan hanya mengenakan pakaian tipis yang masih basah. Jika dibiarkan, bisa-bisa masuk angin dan besok pasti terkena flu dan demam.
“Ambil!”
Li Dezai berlari lagi mengambil kotak medis Mei Zhiyi di aula samping. Begitu dibuka, Tabib Wen sempat terpana karena isinya begitu aneh dan beragam.
Namun, dia merasakan hawa dingin dari mata sang Kaisar sedang menusuk tubuhnya. Langsung saja dia mengambil jarum dan benang jahit.
“Yang Mulia, lukanya ada di bahu. Mohon Yang Mulia izinkan agar membuka pakaiannya,” ucap Tabib Wen setengah takut.
Liu Yan ragu. Tidak hormat dan tidak sopan membuka pakaian tanpa izin, apalagi berbeda jenis kelamin. Tapi jika dibiarkan, Mei Zhiyi bisa saja dalam bahaya.
Dia akhirnya teringat pada Bibi Cui dan menyuruhnya membuka pakaian atas Mei Zhiyi. Adapun lukanya, dia merebut jarum dari Tabib Wen dan menjahitnya sendiri. Tabib Wen dan Li Dezai diminta untuk berbalik badan.
“Lukanya sudah dijahit. Apa selanjutnya?” tanya Liu Yan.
“Yang Mulia, lukanya harus dibalut dengan kasa.”
Liu Yan mengambil kapas, kain kasa, dan plester dari kotak medis Mei Zhiyi dan menutup luka jahit itu. Dulu Mei Zhiyi mengobati luka di telapak tangannya.
Sekarang biarkan dia yang membantunya mengobati luka di bahunya. Bisa dibilang mereka sudah impas.
“Pakaiannya basah. Bibi Cui, ambilkan pakaian di aula samping dan gantikan pakaiannya.”
Bibi Cui mengangguk. Kepanikan berangsur-angsur menghilang. Masih ada pertanyaan besar mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Namun, hal penting sekarang adalah menjaga Mei Zhiyi sampai bangun.
Usai semuanya selesai, Liu Yan baru memakai pakaiannya. Dia menatap Mei Zhiyi yang terbaring di tempat tidur miliknya dengan kening berkerut.
Dia marah karena Mei Zhiyi belum juga kembali. Dia kesal karena Feng Yuzhen tak kunjung mengantarkan Mei Zhiyi ke istananya.
Tapi, dia tidak pernah menyangka kalau Mei Zhiyi akan masuk melalui pintu samping kamar mandi utama dalam keadaan kacau. Tampaknya dalam perjalanan pulang, Mei Zhiyi menghadapi serangan dari orang yang cukup ahli. Jika tidak, dengan kemampuannya, pelayan dan kasim biasa tidak akan bisa melukainya.
“Li Dezai! Suruh Duan Jiu segera kembali dan selidiki masalah penyerangan Mei Zhiyi!”
“Baik, Yang Mulia. Yang Mulia, apakah ingin memindahkan Nona Mei ke kamarnya? Bagaimanapun, ini adalah tempat tidur naga milik Yang Mulia. Nona Mei berbaring di sini sepertinya kurang pantas.”
“Tidak apa-apa. Dia tidak punya penyakit yang bisa menulariku. Hanya sebuah tempat tidur tidak akan berarti apa-apa.”
Li Dezai memilih untuk tidak bicara lagi. Kaisar menganggapnya biasa, tapi di luar sana belum tentu. Belum pernah ada wanita yang tidur di ranjang sang Kaisar.
“Jangan sebarkan masalah malam ini atau kepala kalian akan dipenggal.”
Li Dezai dan Bibi Cui tentu saja mengangguk patuh. Mereka juga tahu kalau peristiwa besar ini harus disembunyikan agar musuh tidak waspada. Mereka mundur teratur, membiarkan majikan agung mereka berdiri menatap seorang pelayan yang masih tidak sadarkan diri.
“Cepatlah bangun. Kau harus membersihkan bak mandiku yang ternoda darahmu dan tempat tidurku yang sudah kau basahi.”
Liu Yan lalu keluar. Malam ini, dia tidur di ruang baca.
Takut knp knp sama Liu yan
😁😁😁😁
nebak" aja dulu
Emang enak di ghibahin sama Mei