NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Dua Api

Milan menyambut Carmela dengan cahaya berlebihan.

Lampu toko, suara mobil, orang-orang yang berjalan cepat tanpa tahu bahwa seorang wanita di tengah kota itu sedang menjadi pusat permainan berbahaya. Semua terlalu terang—dan justru itulah yang ia inginkan.

Mobil berhenti di depan sebuah kafe tua di dekat alun-alun. Tempat umum. Banyak jendela. Banyak saksi.

Carmela turun lebih dulu.

Ia merapikan mantel, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk seolah ia hanya perempuan biasa yang sedang menunggu seseorang. Namun jantungnya berdetak keras, setiap detiknya mengingatkan bahwa satu kesalahan kecil bisa berarti akhir.

Ia duduk di dekat jendela.

Menunggu.

Matteo menemukan lokasi Carmela lewat satu-satunya orang yang masih bisa ia percaya sepenuhnya—Ricardo.

“Kau seharusnya tidak membiarkannya pergi,” kata Matteo dingin, nyaris menggeram.

Ricardo menatapnya tajam. “Dan kau seharusnya tidak pergi sendirian ke gudang itu.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Matteo menutup mata sesaat, menahan amarah yang berputar liar di dadanya. Bajunya masih bernoda darah, lukanya belum sepenuhnya ditangani, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Carmela.

“Aku akan menjemputnya,” kata Matteo.

Ricardo menggeleng. “Belum. Lorenzo menginginkan reaksimu. Jika kau muncul sekarang, kau memberinya apa yang ia mau.”

“Aku tidak peduli.”

“Itulah masalahnya.”

Matteo menoleh tajam. “Kau ingin aku diam saja sementara dia—”

“—sedang hidup,” potong Ricardo. “Karena ia cukup cerdas untuk tidak bersembunyi.”

Kalimat itu membuat Matteo terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak: Carmela tidak sedang menunggu untuk diselamatkan.

Ia sedang bertahan dengan caranya sendiri.

Lorenzo datang tanpa pengumuman.

Tidak ada rombongan besar. Tidak ada senjata terbuka. Ia hanya masuk ke kafe itu, memesan kopi, lalu duduk di meja yang berjarak dua kursi dari Carmela.

Mereka tidak langsung saling menatap.

Keheningan di antara mereka terasa lebih berat dari kata-kata.

“Matteo selalu suka bermain cepat,” kata Lorenzo akhirnya, suaranya santai. “Sayang sekali, ia lupa bahwa permainan panjang adalah keahlianku.”

Carmela mengalihkan pandangan perlahan. Tatapan mereka bertemu.

“Jika kau ingin bicara tentang Matteo,” kata Carmela tenang, “kau seharusnya mengundangnya langsung.”

Lorenzo tersenyum kecil. “Aku sudah melakukannya. Ia datang. Ia kalah.”

“Kau tidak membunuhnya.”

“Belum.”

Satu kata itu cukup membuat udara di antara mereka menegang.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Carmela.

Lorenzo mencondongkan tubuh sedikit. “Aku ingin tahu… apakah kau sadar betapa besarnya pengaruhmu.”

Carmela menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutannya.

“Matteo melakukan kesalahan hari ini karena ia pikir kau aman,” lanjut Lorenzo. “Bayangkan apa yang akan ia lakukan jika kau benar-benar terancam.”

“Ancaman tidak membuatku berharga,” balas Carmela. “Hanya membuatmu terlihat putus asa.”

Untuk sesaat, senyum Lorenzo memudar.

Lalu kembali—lebih tipis, lebih dingin.

“Kau berbeda dari yang kuduga,” katanya. “Aku mengira kau akan gemetar.”

“Aku gemetar,” jawab Carmela jujur. “Aku hanya memilih untuk tidak menunjukkannya padamu.”

Di tempat lain, Matteo menghancurkan gelas di tangannya sendiri.

Darah menetes ke lantai, tapi ia tidak merasakannya.

“Dia menemuinya,” kata Matteo pelan, hampir seperti bisikan berbahaya.

Ricardo menatap layar ponsel yang menampilkan laporan singkat dari salah satu kontak mereka di Milan. “Ya. Tapi Lorenzo tidak menyentuhnya.”

“Itu karena ia ingin aku datang dengan cara tertentu.”

“Dan kau tidak akan memberinya itu,” kata Ricardo tegas.

Matteo tertawa pendek—tanpa humor. “Kau pikir aku masih bermain sesuai aturan?”

Ricardo tahu tatapan itu.

Tatapan seseorang yang sudah melewati batas kesabaran.

“Jika kau menyerang sekarang,” kata Ricardo hati-hati, “kau mempertaruhkan Carmela.”

Matteo menutup matanya. Mengatur napas. Mengingat suara Carmela. Sentuhannya. Cara ia menatapnya seolah dunia tidak sepenuhnya gelap.

“Aku tidak akan kehilangan dia,” katanya akhirnya. “Dengan cara apa pun.”

Di kafe, Lorenzo berdiri lebih dulu.

“Ini bukan perpisahan,” katanya pada Carmela. “Hanya pengantar.”

“Untuk apa?”

“Untuk perang yang lebih jujur,” jawab Lorenzo. “Di mana kau bukan lagi penonton.”

Ia meletakkan sebuah kartu kecil di meja.

Satu alamat. Satu waktu.

“Datanglah jika kau ingin Matteo hidup lebih lama.”

Lorenzo pergi tanpa menoleh lagi.

Carmela menatap kartu itu lama.

Tangannya bergetar—bukan karena takut semata, tapi karena pilihan yang kini ada di hadapannya.

Ia tahu satu hal dengan pasti:

Jika ia pergi ke alamat itu, segalanya akan berubah.

Malam itu, di sebuah sudut kota yang berbeda, seorang pria menerima amplop tipis.

Isinya sederhana: uang tunai, dan satu perintah kecil.

Matikan satu kamera keamanan di rumah danau.

Pria itu ragu.

Lalu mengingat jumlah uangnya.

Dan memilih diam.

Pengkhianatan itu kecil.

Nyaris tak terlihat.

Namun cukup untuk membuka celah.

Carmela berdiri di balkon hotel kecil tempat ia menginap sementara. Angin malam menyentuh wajahnya, dingin dan nyata.

Ia mengeluarkan ponsel.

Mengetik satu pesan.

Aku baik-baik saja.

Jangan mencariku malam ini.

Percayalah padaku.

Pesan itu terkirim.

Dan jauh di tempat lain, Matteo membaca pesan itu dengan rahang mengeras—bukan karena marah.

Melainkan karena ia sadar:

Perempuan yang ia cintai kini berjalan di medan perang yang sama dengannya.

Dan ia tidak lagi bisa memaksanya kembali ke belakang garis aman.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!