kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Penaklukan Masa Lalu
Cahaya fajar yang pucat merayap masuk melalui jendela-jendela tinggi aula utama Kerajaan Atlas, memantul di atas lantai marmer yang dingin. Di tengah keheningan yang mencekam, sebuah sosok berdiri dengan kaku di depan singgasana emas yang megah. Ratu Layla, yang hanya beberapa jam lalu tampak seperti mayat yang menunggu waktu, kini telah duduk tegak. Jubah merah darahnya tersampir di bahu, menutupi tubuhnya yang masih kurus, namun matanya telah kembali menyala dengan api otoritas yang mengerikan. Ia tidak lagi tampak rapuh; ia tampak seperti predator yang baru saja bangun dari hibernasi panjang dan sedang merasakan lapar yang luar biasa.
Tangannya yang lentik mengetuk-ngetuk sandaran singgasana yang terbuat dari tulang naga, menciptakan suara detak yang ritmis dan mengintimidasi. Kehadirannya di aula itu seolah menyedot oksigen dari ruangan, membuat para penjaga yang berdiri di kejauhan hampir tidak berani bernapas. Tanpa perlu berteriak, suaranya yang serak namun penuh penekanan menggema ke seluruh penjuru aula. "Panggil sang Penasehat dan Panglima sekarang juga. Aku tidak ingin menunggu satu detik pun lebih lama untuk mendengar bagaimana kerajaan ini berantakan saat aku tertidur."
Penyihir Petir adalah yang pertama tiba. Ia melangkah dengan cepat, jubahnya berdesir tertiup angin sihir yang selalu mengikutinya. Di belakangnya, Panglima Delta berjalan dengan langkah yang lebih lambat, baju besinya yang masih memiliki bekas goresan pertempuran tampak kontras dengan kemegahan aula tersebut. Keduanya berlutut di bawah tangga singgasana, menundukkan kepala sedalam mungkin. Ada ketegangan yang nyata di udara; Delta masih mengingat jelas bagaimana Ratu mengusirnya semalam, sementara Penyihir Petir merasa waspada terhadap perubahan suasana hati sang penguasa yang sangat drastis.
Ratu Layla menatap mereka dari ketinggian takhtanya dengan tatapan yang menghina. Ia tidak menyuruh mereka berdiri. Baginya, kedua pria ini adalah perpanjangan tangannya,
"Kalian terlihat sangat tenang untuk orang-orang yang telah membiarkan kehormatan Atlas ternoda," ujar Ratu Layla, "Aku terbangun dengan rasa sakit di tubuhku, tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan kemarahan yang kurasakan melihat betapa lemahnya kalian menjaga wilayahku."
Ratu Layla menyandarkan punggungnya, matanya terpaku pada Panglima Delta. "Delta, Panglimaku yang gagah... berikan aku angka. Aku tidak butuh alasan, aku tidak butuh metafora tentang keberanian. Aku butuh angka yang pasti tentang apa yang tersisa dari kekuatanku. Berapa banyak pedang yang masih bisa diayunkan? Berapa banyak sayap yang masih bisa mengepak?"
Delta menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia berdiri perlahan, namun tetap menunduk, tidak berani menatap langsung ke mata sang Ratu. "Ratuku, keadaannya... jauh lebih buruk dari perkiraan awal. Pasukan Minotaur yang dulunya merupakan garda terdepan kita, kini hanya tersisa kurang dari lima puluh personel. Sebagian besar dari mereka mengalami luka permanen yang membuat kekuatan hantam mereka berkurang drastis. Para Centaur, pemanah cepat kita, kehilangan hampir delapan puluh persen jumlahnya karena terjebak dalam perangkap musuh di wilayah perbatasan."
Ratu Layla terdiam, namun rahangnya mengeras. Delta melanjutkan dengan suara yang semakin mengecil, "Mengenai pasukan udara... unit Griffon kita telah kocar-kacir. Hanya ada segelintir yang kembali ke sarang, dan mereka terlalu trauma untuk terbang kembali ke medan tempur. Dan... Naga Api..." Delta berhenti sejenak, seolah kata-kata selanjutnya akan menjadi vonis mati baginya. "Seluruh divisi Naga Api telah musnah. Tidak ada satu pun yang tersisa. Telur-telur mereka di inkubator bawah tanah juga ikut hancur akibat serangan sihir musuh yang merembes ke pondasi istana."
Mendengar laporan itu, Ratu Layla bangkit dari singgasananya dengan gerakan yang begitu cepat hingga Penyihir Petir pun tersentak. Wajah sang Ratu memucat,
"Musnah?!" teriaknya,. "Kau membiarkan simbol kekuatan Atlas, mahluk yang seharusnya menjadi teror bagi dunia, habis tak bersisa? Kau bilang padaku bahwa Atlas sekarang hanyalah sebuah benteng kosong yang dijaga oleh segelintir monster cacat?!" Ia melangkah turun dari tangga singgasana, mendekati Delta hingga ujung sepatunya menyentuh sepatu baja sang Panglima.
Di tengah kemarahan Ratu, Delta melihat sebuah celah untuk memajukan rencananya kembali. Ia berlutut sekali lagi, mencoba memberikan solusi di tengah badai kemurkaan. "Itulah sebabnya, Ratuku, kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama. Kita membutuhkan kekuatan yang lebih ganas, sesuatu yang tidak mengenal rasa sakit atau loyalitas yang rapuh. Ratu Arkhne dan koloninya... mereka adalah jawabannya. Jika kita menaklukkan mereka, kita akan memiliki jutaan prajurit yang bisa meregenerasi jumlah mereka dalam hitungan hari. Mereka adalah kunci untuk membangkitkan Atlas dari abu ini."
Ratu Layla berhenti bergerak. Ia menatap Delta dengan pandangan yang aneh, seolah-olah ia sedang melihat seorang anak kecil yang mencoba menjelaskan cara kerja dunia kepada orang dewasa. Kemarahannya yang meledak-ledak tiba-tiba mendingin menjadi sebuah penghinaan yang tenang namun mematikan. Ia berjalan mengitari Delta, mengamati panglimanya itu seperti seorang juri yang sedang menilai ternak.
"Arkhne?" Ratu Layla tertawa singkat, suara tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sedikit pun. "Kau begitu putus asa hingga kau ingin merangkak ke sarang laba-laba dan memohon pada mahluk itu? Delta, dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya. Arkhne dan koloninya adalah hewan liar yang tidak bisa dijinakkan. Mereka tidak memiliki konsep hierarki selain rasa lapar mereka sendiri. Mereka tidak akan bertempur untuk Atlas; mereka akan memakan Atlas dari dalam segera setelah mereka mendapatkan akses ke gerbang kita."
Ratu Layla mencengkeram dagu Delta dengan tangannya yang dingin, memaksa pria itu menatapnya. "Sebagai seorang Panglima, kau harus memiliki kecerdasan untuk membedakan antara mahluk yang bisa dijadikan senjata dan mahluk yang hanya merupakan bencana bagi pemiliknya. Menggunakan Arkhne sama saja dengan membakar rumahmu sendiri hanya untuk mendapatkan cahaya sesaat. Kau ingin memimpin pasukan, bukan menjadi pengasuh bagi monster yang akan menggorok lehermu saat kau tertidur. Jangan pernah biarkan ambisi bodoh mu mengaburkan logika militer mu lagi."
Delta melepaskan cengkeraman Ratu dengan gerakan halus, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam. Ia merasa logikanya sedang diremehkan. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia menunjuk ke arah jendela aula yang menghadap ke barak prajurit, di mana beberapa Minotaur sedang berjaga dengan kapak besar mereka. "Tapi Ratuku, bukankah semua pasukan kita dulunya adalah hewan liar? Lihatlah Minotaur-minotaur itu. Mereka dulunya adalah monster yang tidak terkendali yang menghancurkan ladang dan membantai penduduk desa tanpa alasan. Namun, Atlas berhasil menundukkan mereka, memasangkan baju besi pada mereka, dan membuat mereka berlutut pada perintah Anda. Apa bedanya mereka dengan Arkhne?"
Ratu Layla melepaskan Delta dan berbalik menuju Penyihir Petir yang sejak tadi hanya diam mengamati. Sebuah senyum sinis tersungging di bibir sang Ratu. "Penasehat, sepertinya panglimaku membutuhkan pelajaran sejarah singkat tentang bagaimana kerajaan ini dibangun. Dia tampaknya berpikir bahwa menaklukkan monster hanya butuh keberanian dan rantai besi. Jelaskan padanya mengapa Minotaur bisa berdiri di sana, dan mengapa Arkhne tidak akan pernah bisa melakukan hal yang sama."
Penyihir Petir melangkah maju, tongkatnya mengetuk lantai marmer, menciptakan lingkaran cahaya listrik kecil di sekelilingnya. "Panglima Delta, kau melihat fisik mereka, tapi kau tidak melihat jiwa mereka. Minotaur memiliki sisa-sisa kesadaran mahluk berakal; mereka memiliki rasa takut, rasa bangga, dan yang paling penting, mereka memiliki struktur sosial yang bisa kita manipulasi. Kami menundukkan mereka bukan hanya dengan kekuatan, tapi dengan sihir kontrak darah yang mengikat esensi kehidupan mereka kepada takhta Atlas. Mereka patuh karena jika mereka memberontak, jantung mereka akan berhenti berdetak seketika."
Penyihir Petir kemudian menggelengkan kepala perlahan. "Namun Arkhne... mereka adalah mahluk kolektif yang dikendalikan oleh insting purba yang jauh melampaui sihir kontrak mana pun. Mereka tidak memiliki individu, hanya koloni. Tidak ada titik lemah yang bisa diikat oleh sihir kita tanpa menghancurkan mahluk itu sendiri. Mereka adalah kekacauan murni yang terbungkus dalam kulit keras. Kau tidak menjinakkan badai, Delta. Kau hanya bisa menghindarinya atau mati di dalamnya. Membandingkan Minotaur dengan Arkhne adalah kesalahan fatal yang menunjukkan betapa dangkalnya pemahamanmu tentang esensi sihir dan kekuasaan."