NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mobil hitam Dareen secara perlahan mulai melambat saat mendekati gerbang tinggi kediaman mewah miliknya. Lampu sorot mobil menyinari aspal jalanan, dan seketika itu rahang sang pria semakin mengetat erat.

Tepat di depan gerbang sana, terdapat sebuah mobil yang Dareen yakini milik Algio, lihat saja dari plat yang digunakan, dicustom atas nama pria itu. dan dari balik kaca depan, Dareen bisa melihat siluet dua orang di dalamnya.

"Hentikan mobilnya di sini, Jax." Desis Dareen tegas, suaranya rendah, namun mengandung amarah yang bisa meledak kapan saja.

Jax menurut, menghentikan mobil beberapa meter di belakang mobil Algio. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang, pintu penumpang mobil itu terbuka pelan namun pasti.

Benar saja, Afnan keluar dari sana, merapikan gaunnya dengan gerakan yang menurut Dareen sangat memuakkan untuk dipandang.

Namun, yang membuat darah Dareen benar-benar mendidih adalah ketika Algio ikut turun, berjalan memutari mobil, dan kembali meraih jemari Afnan, dipegangi dengan begitu lembut.

"Lihat wanita itu, Jax." Dareen tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar seperti rintihan kebencian dan sesak.

"Dia bahkan tidak punya rasa malu untuk membawa selingkuhannya sampai ke depan gerbang pintu mansion, apa dia pikir mansionku ini adalah hotel transit untuk wanita semacam dia?"

Dari kejauhan, Algio tampak membisikkan sesuatu ke telinga Afnan yang membuat wanita itu tersenyum tipis, senyuman yang sayangnya membuat dada Dareen semakin berdegup tak menentu.

Algio kemudian melirik ke arah mobil Dareen yang terparkir di belakangnya, pria itu dengan sengaja menepuk pelan pipi Afnan sebelum akhirnya masuk kembali ke mobilnya dan melesat pergi.

"Masuk, Jax. Sekarang." Perintah Dareen pelan, intonasinya begitu rendah namun bagai mengandung kebencian yang mendalam.

Saat mobil Dareen melewati Afnan yang masih berdiri di depan gerbang, Dareen bahkan tidak sudi untuk sekedar menoleh. Namun, begitu mobil berhenti di drop-off area, ia keluar dengan gerakan secepat kilat. Ia tidak menunggu Afnan berjalan masuk, justru berdiri tegak di ambang pintu besar mansionnya.

Beberapa menit kemudian, Afnan melangkah masuk, tampak terkejut melihat Dareen sudah berdiri di sana dengan tangan bersedekap dan tatapan yang seolah ingin menguliti dirinya hidup-hidup.

"Berapa harga yang dia bayar untuk malam ini, Afnan?" Tanya Dareen tanpa basa-basi, suaranya menggema seolah menunjukan otoritasnya atas wanita itu.

Mendengar seruan itu membuat Afnan menghentikan langkahnya, "Apa maksudmu, Kak?" Serunya binggung.

Hay! Siapa yang tidak binggung apabila sudah dituding tengah menjual diri? Apa pria yang berdiri tepat di hadapannya ini tengah halusinasi? Atau mungkinkah Kak Dareen melihatnya bersama Algio? Dan cemburu?

"Jangan berlagak bodoh, Afnan! Mataku tidak buta." Dareen berjalan mendekat, setiap gesekan antar langkahnya terdengar mengintimidasi.

"Mencium tangan, berbisik mesra, kau benar-benar tidak sabar untuk menunjukkan pada dunia betapa murahannya dirimu." Dareen tertawa sumbang, tersenyum penuh ejekan.

Kerutan pada kening terlihat begitu jelas, Afnan menggeleng kasar, "Kakak berkata demikian karena melihatku bersama Algio ya?"

"Oh?" Dareen mundur selangkah, menatap wanita yang hanya sebatas dadanya itu tajam, "Apa ada pria lain selain Algio? Benar-benar hebat."

Helaan nafas Afnan layangkan, wanita itu mendengus geli, "Kakak bercanda ya? Mana mungkin aku mengkhianatimu, aku dan Algio hanya tem-"

"Hanya apa? Hanya teman tidurmu?" Potong Dareen cepat dengan seringai kejam, ia mencengkeram lengan wanita itu kuat, seolah-olah tengah melampiaskan rasa mendidih pada kepalanya.

"Dengar, aku tidak peduli dengan siapa kau tidur, aku tidak peduli jika kau ingin hancur di tangan pria mana pun, tapi selama namamu masih bersanding di dalam namaku, jangan harap bisa mencoreng nama baikku!"

Napas Dareen memburu kasar, nafasnya beradu cepat, matanya merah sebab amarah yang tiba-tiba menguasai akalnya, "Kau itu menjijikkan Afnan, sifat aslimu yang murah ini membuatku mual setiap kali harus melihat wajahmu di dekatku."

Tertawa pelan, Afnan memegang pinggang Dareen lembut, "Kak Dareen cemburu ya? Mengapa harus mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu?" Serunya menggoda.

"Cemburu?" Dareen menggantungkan ucapannya, tertawa meremehkan, "Kau bermimpi."

Kini jemari Afnan bergerak pelan, naik tepat di atas dada Dareen, membelai lembut, "Aku tau Kakak cemburu, hanya saja aku dan Algio hanya berteman, tidak ada hubungan lebih."

"Kau benar-benar wanita penuh tipu mus-"

"Sttt-" Afnan menarik jemari telunjuknya, tepat di atas bibir sang suami, "Tubuhku, jiwaku, hatiku, pikiranku, semua sudah milik Kak Dareen, mengapa masih mengkhawatirkan Algio?"

Dareen spontan menyentak kasar tangan Afnan dari bibirnya, ucapan wanita itu benar-benar membuatnya terpengaruh, lihat saja telinganya yang tiba-tiba panas pun dadanya terasa semakin ingin meledak.

Perlahan Dareen mundur selangkah seolah-olah menciptakan jarak di antara mereka, menatap Afnan dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya.

"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan yang pernah kau gunakan untuk membelai pria lain, itu membuatku merasa kotor hanya dengan berdiri di dekatmu." Desis Dareen.

Mendengar itu Afnan justru tertawa kecil, ia tak gentar sedikitpun, malah melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka yang baru saja Dareen ciptakan.

"Kak Dareen, Kak Dareen." Afnan berkata gemulai, netranya berubah menjadi sorot obsesi.

Sedangkan Dareen di sisi lain menutup netra, menikmati setiap usapan menggoda pada dadanya, nafasnya memberat, apalagi parfum manis sang wanita membuat pria itu semakin ingin menggila.

"Kotor? Tapi bukankah Kakak yang selalu bilang aku ini milikmu?" Afnan memiringkan kepalanya, menatap Dareen dengan binar mata yang menggoda.

Perlahan jemari Afnan naik, merapikan kerah kemeja Dareen yang sedikit berantakan, "Kalau aku milikmu, maka tidak ada bagian dari diriku yang kotor bagi pemiliknya bukan?"

Meneguk ludah kasar, Dareen mengeram, "Kau milikku karena status hukum yang menyebalkan itu, bukan karena aku menginginkanmu!" Ucapnya kasar.

Tiba-tiba Dareen mencengkeram kedua bahu Afnan, menekannya hingga wanita itu sedikit meringis, namun sayang sekali senyum di bibir Afnan tidak pudar sedikitpun, masih menggoda.

"Berhenti bertingkah seolah kau punya harga diri di depanku, permainanmu ini sungguh membosankan."

Tertawa kecil, Afnan berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Dareen, membisikkan kata-kata dengan nada yang mengalun lembut.

"Kalau membosankan, kenapa jantung Kakak berdetak begitu cepat? Apa amarah bisa membuat detak jantung sekencang ini, atau reaksi karena kita terlalu dekat?"

Dareen mengertakkan gigi, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol, lantas ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hampir membuat Afnan limbung jika wanita itu tidak segera menyeimbangkan diri.

"Jantungku berdegup kencang karena aku sedang menahan diri agar tidak melemparmu keluar dari mansion malam ini, Afnan!" Dareen menunjuk ke arah pintu besar dengan jari gemetar.

Mengusap frustasi surai hitamnya, Dareen mundur beberapa langkah, "Masuk ke dalam kamarmu, Afnan! Atau aku benar-benar akan kehilangan akal sebab menghadapi tingkahmu."

"Tingkahku?" Afnan memiringkan kepalanya, menatap sang suami penuh arti, "Bukan karena Kakak tengah tergoda?" Beonya kembali.

Tanpa aba-aba Afnan maju mendekat pada Dareen, bibirnya terangkat membentuk seringai penuh kemenangan, jemari lentiknya terangkat, mengusap sesuatu diantara selangkangan sang suami yang terlihat telah berdiri.

"Kakak, jangan membohongi diri sendiri." Afnan tersenyum penuh godaan, masih mengusap di antara gundukan itu.

"AFNAN!" Dareen berteriak menggelegar, badannya bergetar, tidak bukan karena amarah, namun nafsu yang sialnya sudah ingin membuatnya hampir kehilangan akal.

Decakan kecil terdengar, Afnan mundur lantas berjalan menjauh dengan lenggokan yang sengaja dipermainkan, meninggalkan Dareen yang berdiri mematung di tengah aula mansion yang sunyi.

"Sialan! Hanya digoda oleh wanita itu saja aku sudah berdiri." Dareen mengerang, merasa nafsunya tak dapat ia tahan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!