arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH TIGA
Vinno tidak bisa menahan malunya karena kalah balapan. Bagaimana bisa dia kalah dari seorang wanita di depan banyaknya orang yang menonton!
"Hanya uang! Lagi pula aku masih punya lebih banyak dari yang kubutuhkan!" Dia bergumam.
Rinta mendengus. "Ingat ini baik-baik! Cepat atau lambat, benda itu akan jadi milikku!" Vinno mendeklarasikan.
"Mimpi!" Rinta menyemprotnya.
Vinno menghentakkan kakinya dengan gusar.
Rinta sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dia menggenggam tangan Erika, "Ayo pergi, beb!"
Erika mengikutinya dengan diam dan mereka berdua naik ke mobil. Rinta meletakkan kedua tangannya di kemudi dan bertanya, "Bagaimana jika kita pergi makan-makan? Apa kau harus menyiapkan makan malam untuk suamimu malam ini?"
Erika ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ayo pergi bersenang-senang."
Rinta hendak menyalakan mobilnya, namun setelah mendengar itu dia langsung mematung karena terkejut, "Sungguh?" Dia menatap Erika.
Erika mengangguk. Rinta menatapnya dengan mata melebar. "Apa kau serius? Kau tidak sedang bercanda, kan? Setiap kali aku mengundangmu untuk keluar makan malam, kau pasti tidak pernah bisa karena harus menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kau terus mengatakan padaku betapa kau ingin tinggal di rumah dan menjadi istri yang baik. Kau tidak bisa keluar terlalu larut, maupun menginap di rumahku. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?"
Erika mengerutkan bibirnya karena kesal.
Dia membenci dirinya sendiri karena telah menyia-nyiakan waktunya untuk Gardan.
Rinta merasa ada yang salah. "Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" Dia bertanya pada Erika dengan cemas.
Erika menggelengkan kepalanya. "Ayo pergi ke tempatmu untuk makan malam?"
Menyadari bahwa Erika sedang mencoba untuk mengubah topik pembicaraan, Rinta meraih tangannya. "Katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kalian bertengkar? Bagaimana bisa dia memperlakukanmu seperti ini?"
Erika terkekeh. "Kapan kami pernah bertengkar?"
Bagaimana bisa mereka bertengkar saat mereka jarang saling berbicara?
Rinta mengerutkan alisnya, mungkin mengingat hal yang sama. "Kalau begitu apa yang terjadi? Dia bertanya dengan penuh perhatian.
"Kami sudah bercerai."
Rin adalah teman baikku. Aku tidak bisa menyembunyikan ini darinya.
"Apa?!"
Pegangan Rinta di kemudi mobil pun mengerat. Matanya melotot karena terkejut. Jika memungkinkan, dia bahkan akan melompat berdiri.
"Dokumen perceraiannya sudah ditandatangani. Aku tinggal menunggu Gardan mencari waktu yang tepat untuk membuat akta perceraian."
Erika terlihat tenang. Dia mengira akan menyakitkan untuk membicarakan itu, tapi... Dia tidak terpengaruh seperti biasanya.
Rinta mengerjapkan mata. Sepertinya Erika akhirnya menyerah.
Rinta menatapnya tidak percaya, "Kau telah memberikan hidupmu untuk Gardan karena kau sangat mencintainya Apa kalian benar-benar bercerai?"
Erika terdiam. Tetapi diamnya itu adalah jawabannya.
Rinta percaya padanya. Dia hampir bergetar kesenangan. "Bagus! Oke! Malam ini kita akan merayakannya Kita akan merayakan karena kau akhirnya menemukan kebebasanmu!!"
Erika sedikit tersenyum, "Bukankah kau harusnya menenangkanku?"
"Erika, biar ku beritahu kau sesuatu. Pria itu tidak pantas untukmu! Aku sudah mencoba untuk bicara padamu agar menceraikannya dari dulu! Dia mungkin memang pria yang paling sempurna di seluruh kota, tapi bukan berarti semua orang menyukainya! Kau harusnya meninggalkannya saat kau sadar bahwa dia tidak punya perasaan apapun padamu, alih-alih memaksakannya!" Rinta menyemprotnya.
Erika mengerjapkan matanya. Benar... Rin sudah lama mencoba meyakinkanku untuk bercerai.
Dia terkekeh, "Kau benar! Syukurlah, sekarang semua itu sudah berlalu."
"Ayo pergi! Cepat! Putuskan mau kemana! Aku akan memanggil beberapa teman kita! Malam ini, kita akan merayakannya!"