Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELAMPAUI BATAS
“Gimana, Mas? Jadi ke rumah?”
Pesan dari Vina itu terus terpampang di layar ponsel Farid. Ia membacanya beberapa kali, penuh pertimbangan.
Tawaran itu sederhana, hanya obrolan dan juga teman curhat, katanya. Tapi Farid tahu, semuanya tak akan sesederhana itu.
Sejak malam dimana kulit mereka bersentuhan dan sejak aroma tubuh Vina terekam di ingatannya, batas di antara mereka sudah mulai kabur.
Ia melirik ke samping. Di atas ranjang, Maira duduk bersandar sambil membaca buku, seolah perhatiannya sepenuhnya tertuju pada halaman-halaman di depannya.
Namun sebagai istri yang peka, Maira bisa merasakan kegelisahan suaminya meski tanpa harus menoleh.
Setelah beberapa menit hanya berbaring gelisah, Farid akhirnya bangkit. Ia berjalan ke arah lemari, menarik kemeja santai lalu mengenakannya pelan.
Tak lupa ia juga mengambil botol parfum dan menyemprotkannya ke leher.
Klik. Suara semprotan kecil terdengar jelas di tengah keheningan.
“Mau ke mana kamu, Mas?" Suara Maira terdengar datar, tapi cukup untuk membuat Farid tersentak.
“Ah… itu, mau ketemu temen." Jawabnya cepat.
Maira menutup bukunya perlahan. Matanya menatap tajam, memicing sedikit. “Temen?” Ulangnya. “Temen, atau perempuan yang di malam itu?”
Farid membalikkan badan dengan cepat. “Apa sih kamu! Jangan asal nuduh! Mas cuma mau ketemu temen. Nggak ada hubungan apa-apa sama perempuan mana pun.”
Maira hanya diam sesaat, lalu membuka kembali bukunya. Namun sebelum Farid melangkah ke luar kamar, suaranya kembali terdengar.
“Hm… kalau memang ke rumah perempuan itu, jang lupa sekalian minta balikin uang 45 juta yang waktu itu." Ujarnya santai.
Nafas Farid tercekat. Ia menelan ludah dan ia tahu itu bukan sekadar sindiran—itu peringatan.
Maira tak menoleh, tak membentak. Ia hanya diam, tetap menatap bukunya seolah tak peduli. Tapi sikapnya justru terasa lebih dingin dari kemarahan.
Entah mengapa, Farid bisa merasakan bahwa hubungan mereka… semakin hari semakin hambar.
Farid menunduk, memalingkan wajah—menghindari tatapan Maira yang meski tak diarahkan padanya.
“Aku keluar dulu." Ujarnya pelan, nyaris seperti permisi.
Tak lama, suara pintu kamar tertutup pelan terdengar. Pandangan Maira perlahan beralih ke arah pintu yang kini tertutup rapat.
Wajahnya tenang, tapi matanya tak bisa menyembunyikan kekecewaan yang mulai mengendap. Dari gerak-gerik Farid yang gelisah, dari cara bicara yang gugup, ia tahu—dugaannya tak salah.
Farid pergi menemui wanita itu—Vina. Namun kali ini, Maira tidak berniat membuntuti suaminya. Ia sudah terlalu lelah untuk mengikuti jejak ketidakjujuran yang tak berujung.
____
“Mas Farid…” Seru Vina begitu membuka pintu rumahnya. Wajahnya langsung sumringah, seolah kedatangan lelaki itu telah lama ia nantikan.
“Aku pikir Mas nggak jadi datang." Lanjutnya dengan nada yang dibuat senormal mungkin, meski sorot matanya tak bisa berbohong—penuh antusias.
Farid tersenyum tipis. Ia tak membalas kata-kata itu, hanya mengangguk kecil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“Mas, ayo silakan duduk Mas.” Vina mempersilakan sambil menoleh ke arah ruang tamu.
Setelah Farid masuk, perempuan itu menoleh sekilas ke luar, memastikan tak ada tetangga yang melihat, lalu menutup pintu dengan pelan.
klik.
Bunyi pintu terkunci terdengar begitu jelas di telinga Farid. Entah mengapa, suara itu membuatnya sedikit gelisah. Ia menelan ludah perlahan.
Ruangan itu terasa hening sesaat, hanya terdengar suara langkah Vina menuju dapur.
“Aku ambilkan minum dulu ya, Mas." Ucapnya dari arah belakang.
Farid mengangguk lagi, meski tak ada yang melihat. Ia berdiri di tengah ruang tamu, menyapu pandangan ke sekeliling. Rumah itu sederhana tapi bersih.
Ada aroma wangi bunga melati yang samar-samar tercium, mencampur dengan harum tubuh Vina yang sempat menyengatnya di dalam mobil tadi pagi.
Ia mendudukkan diri di sofa. Tangannya mengepal, lalu dilemaskan. Ada sesuatu yang mengganjal dalam dadanya. Ini salah, tapi ia tetap datang.
Sementara itu, dari dapur, Vina mengambil dua gelas dan menuangkan minuman sambil menata senyum. Ia tahu malam ini adalah peluang. Dan ia tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja.
“Ayo diminum, Mas." Ujar Vina sembari meletakkan gelas tepat di hadapan Farid.
Ia lalu duduk di samping pria itu, cukup dekat hingga aroma parfumnya langsung menyeruak ke indera penciuman Farid. Wangi yang menggoda, halus namun menghanyutkan.
“Oh iya, sebentar Mas. Aku ada cokelat baru, oleh-oleh dari teman kerjaku yang pulang dari luar negeri."
Katanya riang, lalu bangkit sejenak dan kembali membawa satu kotak kecil. Ia mengambil sepotong dan langsung menyerahkannya ke tangan Farid.
Tanpa banyak pikir, Farid menerima dan mengunyahnya perlahan.
“Enak, kan? Ini dari Malaysia, katanya sih lagi hits banget di sana." Celoteh Vina ringan, seolah tak menyadari bahwa sejak tadi Farid hanya menatap kosong ke depan.
Beberapa menit kemudian, Vina mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Gerakan Farid berubah. Tubuhnya sedikit gelisah, nafasnya mulai memburu, dan pelipisnya dipenuhi keringat dingin.
“Kamu kenapa, Mas? Panas ya?” Tanya Vina, lalu dengan gerakan pelan ia menghapus keringat di pelipis Farid menggunakan tangannya.
Sentuhan itu membuat jarak mereka menghilang. Farid nyaris tak bisa berpikir jernih. Tubuh mereka kini terlalu dekat.
Matanya menatap Vina, dan perempuan itu pun tak menolak, bahkan membalas dengan tatapan yang sama.
Aroma Vina yang semakin memabukkan membuat hasrat Farid kian tak sabar.
Ia menarik wajah Vina pelan-pelan semakin dekat hingga bibir keduanya tertaut.
Salah satu tangannya, entah sejak kapan, mulai bergerak tanpa sadar, membuat Vina menikmati setiap sentuhan pria itu.
Vina semakin dilanda mabuk kepayang, hingga akhirnya, dengan pakaian yang sudah entah ke mana, keduanya dituntun Vina menuju kamarnya untuk melanjutkan.
Dan pada malam itu… batas yang seharusnya tidak dilanggar akhirnya dilampaui.
Tak ada kata, tak ada penjelasan. Hanya keheningan yang menggantung di udara setelah semuanya terjadi di antara mereka.
•
Farid terbangun di tengah malam. Ruangan terasa hening, tapi suara kecil sesenggukan dari sampingnya membuatnya tersentak. Saat itu juga ia menoleh.
Disebelahnya, Vina membelakanginya. Bahunya tampak naik-turun pelan dengan isak tangis yang terdengar tertahan.
Farid menelan ludah, dan rasa bersalah seketika menyesaki dadanya. Ia langsung teringat pada apa yang telah terjadi beberapa jam lalu—hal yang seharusnya tidak pernah ia lakukan.
Perlahan, ia mendekat dan mencoba menyentuh lengan perempuan itu.
“Vi… Vina." Panggilnya pelan, suaranya bergetar.
Vina menoleh, wajahnya sembab, dan tubuhnya masih dibalut selimut yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Matanya menatap Farid—tajam, tapi juga penuh luka.
“Kamu jahat, Mas…” Suaranya nyaris berbisik. “Kenapa kamu lakuin ini ke aku?”
Kalimat itu meluncur pelan namun menampar keras batin Farid. Ia terdiam, bingung harus berkata apa. Jelas ia salah. Ia tahu sejak awal bahwa semua ini tak seharusnya terjadi.
Ia telah membohongi Maira—istrinya, lebih dari satu kali, tapi malam ini… malam ini ia telah melewati batas yang tak seharusnya.
“Aku… aku akan tanggung jawab." Ucapnya gugup, hampir tak terdengar.
Vina terdiam sesaat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang sulit ditebak artinya. Tapi tak lama, ia kembali menunduk, menampilkan wajah sedihnya.
"Bener, Mas?” Bisiknya dengan nada ragu, seolah masih tak percaya.
Farid mengangguk pelan, menunduk, napasnya berat. “Tapi… Mas butuh waktu,” katanya akhirnya. “Mas harus bicara dulu sama istri Mas.”
Pernyataan itu membuat sorot mata Vina berubah sekejap. Ada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan, namun ia cepat mengendalikannya.
Ia mengangguk kecil, meski hatinya berdesir tak karuan. “Ya… aku ngerti." Jawabnya lirih, jari-jarinya meremas sudut selimut.
semangat kak 💪 iklan untukmu
semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
kak yuk saling dukung