Setelah istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan mobil, Alkha Kim Junno seorang lelaki keturunan Korea Selatan, menjadi seorang yang sangat dingin kepada semua wanita. Sampai akhirnya dia dijodohkan dengan seorang wanita oleh mamanya, karena mamanya takut anaknya akan selamanya sendiri.
"Aku nggak mau nikah sama duda!!!" teriak Arabella Putri Jovanka, seorang gadis yang baru lulus kuliah, bahkan belum dapat pekerjaan. Dia adalah wanita yang akan dijodohkan dengan Alkha. Seorang gadis ceria, optimis, dan memiliki rasa percaya diri diatas rata-rata, juga keras kepala.
Akan tetapi, setelah melihat ketampanan Alkha. Gadis kecil itu langsung berubah pikiran. Pasalnya, Alkha adalah lelaki yang dia cintai setelah pertemuannya di sebuah club malam.
Ara jatuh cinta pada Alkha, pada pandangan pertama. Alkha adalah tipe lelaki idaman Ara.
Akankah Ara bisa mencairkan gunung es yang bisa bernafas itu?
Terus dukung author ya 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Aku Harap Ini Yang Terbaik
Dari ruangannya, Ara bisa mendengar suara benda-benda pecah dari ruangan Alkha. Tapi Ara sama sekali tidak mau melihatnya, meskipun dia khawatir terhadap Alkha, takut jika Alkha akan terluka.
Keributan juga terjadi di depan ruangan Alkha. Dimana para karyawan Alkha datang untuk melihat apa yang sedang terjadi kepada bos-nya. Mereka saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi, karena selama mereka bekerja di perusahaan itu, baru pertama kalinya mereka melihat bos-nya seperti itu.
Reska yang paham betul bagaimana Alkha pun tidak sanggup menahan amarah sahabatnya itu. Reska lalu meminta bantuan Ara, tapi langsung ditolak oleh Ara. "Nggak mau, tadi aja gue diusir.." jawab Ara menolak permintaan Reska.
Mau tidak mau, Reska hanya bisa menghubungi Vanya. Karena hanya dia yang bisa menghentikan Alkha. Dulu sewaktu mereka pacaran, Alkha juga pernah kayak gitu, dan hanya Vanya yang bisa menghentikannya.
"Dulu kan mereka pacaran, apa dulu masih sama dengan sekarang?" Reska bergumam seorang diri.
"Bodo amatlah, coba dulu." Reska lalu berusaha menghubungi Vanya, dan memintanya datang ke perusahaan Alkha.
Tak lama setelah Reska menghubungi Vanya, Vanya tiba di kantor Alkha. Vanya berusaha menenangkan Alkha, akan tetapi Alkha meminta Vanya untuk pergi. Alkha masih belum bisa mengendalikan amarahnya, sampai akhirnya tanpa sengaja dia melempar sesuatu dan mengenai dahi Vanya.
"Argh.." teriak Vanya bersamaan dengan dahinya yang berdarah.
"Maafin aku!!" Alkha mulai tersadar dari amarahnya yang meledak-ledak. Dia menghampiri Vanya dengan perasaan bersalah.
"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Alkha, sembari menuntun Vanya ke sofa. Alkha juga berusaha mengobati luka Vanya.
Karena Alkha sudah mulai mereda amarahnya, Reska menyuruh karyawannya kembali ke ruangan masing-masing. Sementara Ara sudah tidak lagi mendengar keributan, dia keluar dari ruangannya dan mengintip apa yang telah terjadi. Ara tidak lagi melihat karyawan ada di depan ruangan Alkha. Hanya ada Reska dan Yekti yang merasa lega, karena Alkha sudah tidak lagi ngamuk.
Ara yang penasaran akhirnya mendekat dan melihat barang siapa yang mampu menenangkan amarah Alkha, sementara dia sendiri aja tidak bisa.
"Udah nggak ngamuk lagi tuh temen lo?" tanya Ara di belakang Reska yang menatap ke dalam ruangan.
"Eh, kamu," Reska sedikit gugup karena Ara langsung berubah raut wajahnya ketika melihat Alkha sedang mengobati dahi Vanya.
Tanpa menjawab Ara langsung berbalik badan, tapi dengan cepat Reska menahan tangan Ara. Reska meminta Ara untuk tidak salah paham dengan Alkha.
"Faktanya dia bisa tenang setelah tante Vanya datang, itu artinya dia lebih butuh tante Vanya daripada gue." ucap Ara dengan tersenyum, tapi terlihat jelas raut wajahnya yang kecewa.
"Alkha punya alasan kenapa dia tadi ngusir kamu," Reska tidak menyerah untuk membantu sahabatnya.
"Alasannya jelas, dia tidak butuh gue, udah ya gue mau balik kerja, kerjaan gue masih banyak.." Ara menarik tangan yang di genggam oleh Reska.
Tepat ketika dia berbalik badan, air matanya menetes tanpa kendali. Tapi Ara berusaha untuk kuat dan tidak menunjukan kesedihannya. Semua sudah berakhir.
Reska tahu Ara pasti salah paham dengan Alkha, tapi ketika dia akan mengejar Ara. Alkha memanggilnya, Alkha menugaskan dia untuk mengantar Vanya ke rumah sakit. Alkha tidak bisa mengantar karena dia ada meeting penting siang itu.
"Kamu diantar Reska dulu, nanti aku jenguk kamu!" ucap Alkha kepada Vanya.
Ketika Reska dan Vanya meninggalkan kantor. Alkha memerintahkan Yekti untuk menghubungi departemen IT. Alkha ingin memeriksa cctv di ruangannya hari kemarin. Alkha ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi antara Vanya dan Ara.
Meskipun Alkha sangat kecewa dengan Ara. Tapi dia masih harus tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Siap pak, tapi hari ini meeting dimajukan jam 11 siang pak.." Yekti mengingatkan Alkha.
"Oh, iya aku sampai lupa.. Tolong sekalian panggil OB buat bersihin ruangan aku!" perintah Alkha lagi.
"Arabella.. Em, ada keluar nggak?" tanya Alkha ragu sembari memandang ke ruangan Ara yang tertutup.
"Iya tadi keluar bentar, lalu masuk lagi. Kayaknya dia salah paham sama bapak, karena tadi sempat lihat bapak sedang khawatirin bu Vanya." jelas Yekti, membuat Alkha terbelalak. Tapi meskipun begitu, Alkha bersikeras tidak akan menemui Ara sebelum dia memeriksa cctv-nya dulu.
Alkha lalu bersiap untuk meeting di luar perusahaan.
****
Sewaktu Ara sedang makan seorang diri di kantin perusahaan. Tiba-tiba Reska mengagetkannya dengan duduk di sampingnya. "Sialan lo, kaget gue.." omel Ara, tapi Reska yang diomelin hanya senyum-senyum nggak jelas.
"Sendirian aja? Biasanya bareng sama pangeran kodok?" Reska juga menyebut Alkha dengan sebutan pangeran kodok, membuat Ara tertawa terpingkal-pingkal.
Akan tetapi tawa itu hanya sesaat, setelah kemudian Ara kembali murung. "Gue ama dia udah end.." ucap Ara dengan santai.
"Ra, aku yakin Alkha tidak bermaksud buat ngusir kamu tadi, dia cuma khawatir aja dia tidak bisa mengendalikan amarahnya, lalu melukai kamu. Kamu lihat kan tadi Vanya terluka?" Reska mencoba menjelaskan kepada Ara.
"Alkha punya penyakit Intermittent Explosive Disorder, dia tidak bisa mengendalikan dirinya ketika marah." jelas Reska lagi.
Ara sempat terkejut sih dengan penjelasan Reska tentang penyakit yang diidap Alkha. Reska juga memeberi tahu kalau terakhir dia seperti itu sewaktu masih kuliah dulu. Saat itu Alkha marah karena dia dikhianati oleh teman kuliahnya. Bahkan saat itu Alkha hampir membunuh temannya itu.
"Dia paling tidak terima kalau dikhianatin. Dan waktu itu yang bisa tenangin dia cuma Vanya, karena mereka masih pacaran. Makanya aku tadi tidak ada punya pilihan lain selain hubungi Vanya."
"Bagus dong, itu artinya mereka memang ditakdirkan satu sama lain."
"Arabella yang cantiknya 11 12 dengan Luna Maya, aku yakin Alkha sangat mencintai kamu."
"Sapa bilang? Kalau dia cinta sama gue, dia nggak akan seenaknya batalin pertunangan kita, orang semua udah disiapin malah dia ngebatalin." Ara masih sangat kecewa dan sakit hati dengan kejadian kemarin.
"Tapi nggak apalah, untungnya dia batalin sekarang, jadi nggak terlalu sakit banget. Kalau dia batalin pas mau nikah, kan nggak kebayang sakitnya kayak apa, meskipun sekarang juga sakit sih, " Ara tersenyum sinis, kemudian terlihat sedih.
"Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kalian, tapi aku berani bertaruh kalau Alkha beneran cinta sama kamu," Reska tidak bisa lebih lagi masuk ke dalam urusan percintaan Alkha dengan Ara. Meski bersahabat, Alkha dan Reska tahu batasan masing-masing dalam masalah pribadi mereka.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita saat ini, gue mau balik kantor, gue udah kenyang." Ara berjalan cepat menuju ruangannya. Dia berusaha menahan air matanya yang akan kembali jatuh. Ara tidak mau semua orang melihat kesedihannya, dia tidak mau dianggap lemah.