Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 (ten)
Ketegangan mencapai puncaknya. Laras mulai menangis keras karena telinganya sakit akibat tekanan udara yang berubah. Mbah Mansur hanya bisa merapal doa dengan suara gemetar. Di saat itulah, secercah harapan muncul dari sesuatu yang paling sederhana.
Saras mengeluarkan sebuah perangkat transmisi kecil dari sakunya. "Signal jammer mereka kuat, tapi mereka lupa satu hal. Mereka menggunakan satelit milik Silva Maju. Dan aku masih memegang kode enkripsi induknya."
"Kau bisa mematikan jammer-nya?" tanya Ratna dengan binar harapan di matanya.
"Lebih dari itu," Saras mulai mengetik dengan cepat di perangkatnya. "Aku akan membelokkan transmisi video dari drone mereka ke frekuensi televisi nasional yang sedang menyiarkan berita malam. Dunia akan melihat secara langsung apa yang sedang dilakukan seorang Komisaris Polisi pada warga sipil dan anak-anak di tengah hutan ini."
Ratna segera meraih laptopnya yang sempat terlempar. "Teguh! Bantu aku! Jika Saras bisa membuka celah sinyal selama sepuluh detik saja, kita kirim seluruh manifes 'Sapu Kayu' ke pusat data Mabes Polri dan jaringan media internasional!"
Teguh, dengan rasa sakit yang luar biasa, menyeret tubuhnya ke arah laptop. "Lakukan, Bu! Sekarang atau tidak sama sekali!"
Saras menekan tombol enter.
Sinyal terbuka...
TIGA...
DUA...
SATU...
KIRIM!"
Bilah progres di layar laptop mulai berjalan.
10%...
40%...
80%...
Di luar bunker, Bambang sedang berdiri dengan angkuh sambil memegang radio. "Tuangkan betonnya!" perintahnya.
Namun, asistennya tiba-tiba berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. "Pak! Lihat ini!" Ia menyodorkan tablet yang menampilkan siaran langsung TV Nasional. Di sana, wajah Bambang yang sedang memerintahkan penghancuran bunker terlihat jelas, lengkap dengan suara ancamannya. Di bawah layar, berjalan teks berita: "SKANDAL SAPU KAYU: BUKTI MANIFES ILEGAL TERSEBAR KE PUBLIK."
"APA?!" Bambang berteriak.
Tepat saat itu, suara helikopter lain yang lebih besar terdengar dari arah utara. Bukan helikopter Silva Maju, melainkan helikopter dari Satuan Brimob Pusat dan Divisi Propam yang bergerak cepat karena tekanan publik yang meledak dalam hitungan detik.
Di dalam bunker, bilah progres mencapai 100% - SEND SUCCESSFUL.
Ratna jatuh terduduk, air mata haru mengalir di pipinya. "Kita berhasil, Teguh. Dunia sudah tahu."
Saras menunjuk ke arah lubang ventilasi kecil di langit-langit belakang. "Cepat! Lewat jalur ini! Sebelum beton itu benar-benar turun, kita punya waktu satu menit untuk merayap keluar ke sisi belakang bukit."
Hendra segera menggendong Laras, Teguh memapah Santi dengan sisa kekuatannya, dan Ratna menarik Bagas serta Mbah Mansur. Mereka merangkak melalui lorong sempit yang dipenuhi akar pohon.
Saat mereka berhasil keluar di balik rimbunnya semak di lereng bukit yang gelap, mereka melihat pemandangan yang luar biasa. Langit Hutan Kemuning kini dipenuhi oleh lampu sorot dari puluhan helikopter polisi pusat. Pasukan Bambang mulai kocar-kacir, beberapa dari mereka langsung membuang senjata dan menyerah.
Ratna menoleh ke belakang, mencari Saras, namun wanita misterius itu sudah menghilang kembali ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan aroma Wijayakusuma yang samar.
Mbah Mansur memeluk kedua cucunya di bawah rintik hujan, menatap ke arah langit. "Kita selamat, Bu Detektif... kita benar-benar selamat."
Ratna berdiri mematung di lereng bukit, membiarkan air hujan membasuh jelaga di wajahnya. Di bawah sana, ia menyaksikan kejatuhan sebuah kekuasaan yang selama ini dianggap tak tersentuh.
Lampu-lampu sorot dari helikopter Mabes Polri kini mengunci posisi Komisaris Bambang yang tampak kerdil dan panik di tengah kepungan pasukannya sendiri yang mulai berkhianat. Namun, perhatian Ratna segera teralih oleh suara isak tangis di belakangnya.
Mbah Mansur sedang duduk bersimpuh di atas tanah basah, mendekap Bagas dan Laras dengan tenaga yang tersisa. Bagas, si sulung yang tadi bersikap sangat kuat, kini tumpah tangisnya di bahu sang kakek. Sementara Laras, dengan suara kecilnya yang parau, membisikkan sesuatu yang membuat hati Ratna berdenyut pilu.
"Mbah... apakah kita sudah boleh pulang? Laras mau kue ulang tahunnya," bisik bocah perempuan itu sambil mengerjapkan matanya yang sembab.
Mbah Mansur tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mencium puncak kepala cucunya berkali-kali, air matanya jatuh membasahi rambut Laras. Santi, yang kini sudah mendapatkan bantuan oksigen darurat dari tabung kecil milik Hendra, meraih tangan Mbah Mansur. Dalam diam, keluarga kecil itu menyatu dalam sebuah pelukan yang penuh syukur, sebuah pemandangan yang membuat pengorbanan Samsul Bahri terasa memiliki arti.
Teguh mendekat ke arah Ratna, langkahnya masih terpincang-pincang. "Kita melakukannya, Bu. Data itu sudah dikonfirmasi oleh pusat. Mereka mengirimkan unit khusus untuk menjemput kita."
Ratna mengangguk pelan, namun matanya tetap menatap tajam ke arah kegelapan hutan di mana Saras menghilang tadi. "Ini baru permulaan, Teguh. Bambang mungkin akan tumbang, tapi sistem 'S' yang dibangun Surya Atmadja memiliki akar yang sangat dalam. Manifest itu adalah senjata kita, tapi kita sekarang adalah target yang jauh lebih besar bagi mereka yang masih bersembunyi di balik layar."
Teguh mengikuti arah pandangan Ratna. Aroma parfum Wijayakusuma masih tertinggal tipis di udara, seolah menjadi pengingat bahwa Selina masih berada di luar sana, bebas dan terluka. "Apa Ibu pikir Saras benar-benar dipihak kita?"
"Dia tidak di pihak siapa pun kecuali dendamnya sendiri," sahut Ratna dingin. "Tapi malam ini, dendamnya menyelamatkan nyawa kita."
Saat matahari mulai menyembul dari balik cakrawala, menyebarkan warna emas yang membelah kabut Hutan Kemuning, sebuah tim penyelamat berseragam lengkap dengan tanda pengenal Divisi Propam tiba di posisi mereka. Ratna menarik napas panjang, merasakan udara segar pagi yang tidak lagi berbau solar atau asap ledakan.
Ia melihat Bagas yang kini memegang tangan kakeknya dengan erat, berjalan menuju helikopter penyelamat. Ratna bersumpah dalam hati, bahwa ia tidak akan berhenti sampai setiap jengkal hutan ini kembali menjadi milik rakyat, bukan milik mereka yang bertanda 'S'.
"Mari kita selesaikan ini, Teguh," ujar Ratna mantap. Ia melangkah maju, meninggalkan puing-puing bunker yang kini menjadi makam bagi rahasia gelap Proyek Sapu Kayu, menuju sebuah babak baru di mana hukum tidak lagi bisa dibeli dengan sepotong kayu Gaharu.
yakin deh pasti kalian akan banyak demo karna tegang tegang terus dari kemarin.. yaudah yok kita chill dulu biar adem tenang tenang....