Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: CELAH DI BALIK MAWAR
Pagi itu, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di mansion Dirgantara sebagai tawanan, Alana tidak disambut oleh wajah kaku Marco di depan pintu kamarnya. Sesuai janji Arkano semalam setelah kejadian di kasino, pengawalan ketat terhadapnya mulai dikendurkan. Ia kini memiliki "kebebasan" untuk bergerak di area mansion, meski ia tahu ribuan lensa CCTV tetap mengintai setiap jengkal langkahnya.
Alana berjalan menelusuri koridor panjang yang sunyi. Ia mengenakan gaun sutra simpel berwarna putih, kontras dengan gaun merah membara yang ia kenakan semalam. Langkah kakinya membawanya menuju sayap barat, tempat taman labirin yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik jendela kamar.
Udara pagi yang segar menyapa wajahnya, namun pikiran Alana tetap berputar pada satu hal: Rian. Sahabatnya itu memang sudah bebas, namun bagi kepolisian, Rian sekarang adalah saksi kegagalan operasi. Dan bagi Alana, ia telah resmi menjadi pengkhianat.
"Aku harus menemukan cara untuk menghubungi markas secara pribadi," gumam Alana pelan.
Ia tahu Arkano telah menghancurkan lipstik pemancarnya, tapi Arkano tidak tahu bahwa Alana memiliki sebuah micro-chip cadangan yang ia sembunyikan di sebuah celah di taman batu minggu lalu, saat ia pertama kali diizinkan berjalan-jalan di bawah kawalan Marco. Jika ia bisa mengambil chip itu, ia mungkin bisa mengirim sinyal darurat tanpa terlacak oleh sistem keamanan mansion.
Alana berjalan menuju sudut taman yang paling rimbun, tempat pohon-pohon willow besar menaungi pandangan dari kamera pengawas di balkon atas. Ia berlutut di depan sebuah kolam ikan kecil, berpura-pura mengagumi bunga teratai, namun jemarinya meraba bagian bawah batu hias yang berlumut.
Jantungnya berdebar kencang. Ia meraba celah kecil di bawah batu itu. Kosong.
Alana mengernyit. Ia meraba lebih dalam lagi. Seharusnya chip itu ada di sana. Apakah terbawa arus air? Atau...
"Mencari sesuatu yang hilang, Alana?"
Suara bariton yang dingin itu muncul tepat di belakangnya. Alana tersentak hebat hingga hampir jatuh ke dalam kolam. Ia segera berdiri dan berbalik, menyembunyikan tangannya di balik punggung.
Arkano berdiri di sana, hanya beberapa meter darinya. Pria itu tidak memakai jas formalnya, melainkan kemeja hitam santai dengan kancing atas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin pagi, namun tatapan matanya tajam seperti belati yang siap menghujam.
"Aku... aku hanya melihat ikan," alibi Alana, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Arkano melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya di atas kerikil taman terdengar seperti hitungan mundur bagi nyawa Alana. Pria itu berhenti tepat di depan Alana, memangkas jarak hingga Alana bisa mencium aroma maskulin kayu cendana dan asap cerutu yang samar.
Arkano mengangkat tangannya. Alana memejamkan mata, mengira akan ada tamparan atau cengkeraman kasar. Namun, ia justru merasakan jemari dingin Arkano menyentuh helai rambutnya yang tertiup angin, menyelipkannya ke belakang telinga.
"Benda ini yang kau cari?" Arkano membuka telapak tangannya yang lain.
Di sana, di atas telapak tangan Arkano yang lebar, tergeletak sebuah chip transparan kecil. Alat penyadap cadangan milik Alana.
Wajah Alana memucat seketika. "Arkano, aku—"
"Kau sangat gigih, Alana. Aku menghargai dedikasimu pada pekerjaanmu," potong Arkano dengan nada datar yang sulit ditebak. "Tapi bukankah sudah kukatakan? Di sini, tidak ada rahasia yang bisa kau sembunyikan dariku."
Arkano menjatuhkan chip itu ke tanah dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Ia kemudian mencengkeram dagu Alana, memaksanya menatap mata gelap yang penuh obsesi itu.
"Kenapa kau masih mencoba melarikan diri, padahal duniamu yang lama sudah membakarmu?" tanya Arkano. "Hendra sudah menyatakanmu sebagai agen yang membelot. Rian mungkin hidup, tapi dia sedang diinterogasi oleh divisi internal karena dicurigai bekerja sama denganmu untuk menjebak tim SWAT semalam."
Air mata mulai menggenang di mata Alana. "Itu semua karena perbuatanmu! Kau yang merancang ini semua agar aku tidak punya tempat kembali!"
Arkano tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar getir. "Kau pikir aku sejahat itu? Alana, aku memang monster, tapi aku monster yang jujur. Ikut denganku. Ada sesuatu yang harus kau lihat sebelum kau memutuskan untuk terus membenciku."
Arkano menarik tangan Alana, menuntunnya melewati taman labirin menuju sebuah paviliun kecil di bagian paling belakang mansion yang selalu terkunci rapat. Paviliun itu tampak tua namun sangat terawat. Begitu Arkano membuka pintunya dengan kunci fisik, aroma kertas lama dan kayu mahoni menyergap indra penciuman Alana.
Di dalam ruangan itu terdapat rak-rak berisi arsip yang tersusun rapi. Arkano berjalan menuju sebuah meja kayu besar dan mengambil sebuah map berwarna cokelat yang tampak usang. Ia melempar map itu ke hadapan Alana.
"Apa ini?" tanya Alana ragu.
"Kebenaran tentang beasiswa kepolisianmu. Kebenaran tentang kenapa Komisaris Hendra begitu peduli pada pertumbuhanmu sejak orang tuamu meninggal sepuluh tahun lalu," ujar Arkano dingin.
Alana membuka map itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat laporan investigasi internal kepolisian yang sudah diberi cap "Dihancurkan". Ada foto-foto lama dari lokasi kecelakaan mobil yang menewaskan orang tua Alana.
Mata Alana membelalak saat membaca catatan di lembar kedua. Di sana tertera bahwa rem mobil ayahnya tidak blong karena kecelakaan teknis, melainkan diputus secara sengaja. Dan perintah operasi itu berasal dari sebuah unit bayangan yang dipimpin oleh perwira muda bernama Hendra—yang sekarang adalah Komisaris besarmu.
"Tidak... ini bohong. Kau memalsukan dokumen ini!" teriak Alana. Ia melempar map itu ke lantai.
"Lihat tanda tangan di pojok kanan bawah, Alana. Itu kode otorisasi Hendra sebelum dia menjadi Komisaris. Orang tuamu adalah wartawan investigasi yang memegang bukti aliran dana ilegal antara mafia klan rival dan beberapa pejabat kepolisian. Hendra harus melenyapkan mereka untuk menutupi jejaknya."
Arkano melangkah mendekati Alana yang kini terduduk lemas di lantai paviliun. "Dia memeliharamu, menyekolahkanmu, dan menjadikanmu agen hebat bukan karena dia menyayangimu. Dia ingin memilikimu di bawah kendalinya. Dia ingin musuh terbesarnya—anak dari orang yang dia bunuh—menjadi anjing setianya."
Alana merasa dunianya runtuh. Seluruh dedikasinya, seluruh rasa hormatnya pada Hendra yang ia anggap sebagai figur ayah, ternyata hanyalah sebuah lelucon besar. Ia selama ini mengabdi pada pria yang telah menghancurkan hidupnya.
"Kenapa kau memberitahuku sekarang?" tanya Alana dengan suara serak.
Arkano berlutut di depan Alana. Ia menggenggam kedua tangan wanita itu, kali ini tanpa kekerasan. "Karena aku butuh kau, Alana. Bukan sebagai perisai informasi, tapi sebagai rekan. Aku punya dendam yang sama pada Hendra. Dia menghancurkan keluargaku, dan dia menghancurkan keluargamu."
Arkano mengusap air mata di pipi Alana dengan ibu jarinya. "Bantu aku menghancurkannya dari dalam. Gunakan aksesmu yang masih tersisa, mainkan peran sebagai agen yang kembali 'sadar' jika perlu. Tapi lakukan itu untukku. Untuk kita."
Alana menatap Arkano. Pria di depannya ini tetaplah seorang mafia, namun di mata Arkano, Alana melihat sebuah kejujuran yang tidak ia temukan pada lencana kepolisiannya. Rasa sakit dikhianati oleh sistem yang ia bela lebih perih daripada rasa sakit diculik oleh Arkano.
"Jika aku membantumu... apa yang akan kau lakukan pada Hendra?" tanya Alana lirih.
Arkano menyeringai tipis, sebuah seringai yang memancarkan aura kematian. "Aku akan membiarkanmu yang menarik pelatuknya, jika itu yang kau inginkan. Tapi sebelumnya, aku ingin dia melihat semua hartanya, kekuasaannya, dan reputasinya hancur menjadi abu di depan matanya sendiri."
Alana terdiam cukup lama. Ia melihat ke arah pecahan chip di luar paviliun, lalu kembali menatap Arkano. Ia menyadari satu hal: Sangkar emas ini bukan lagi penjara baginya. Ini adalah benteng. Dan Arkano bukan lagi penculiknya. Pria ini adalah satu-satunya sekutu yang ia miliki di dunia yang sudah membuangnya.
"Baiklah," ucap Alana dengan suara yang kini terdengar dingin dan tegas. Ia berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. "Aku akan membantumu. Tapi jangan pernah berbohong padaku lagi, Arkano."
Arkano ikut berdiri dan menarik Alana ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Alana, menghirup aroma wanita itu yang kini sudah sepenuhnya menjadi miliknya—bukan lagi karena paksaan, tapi karena dendam yang sama.
"Aku janji, Sayang. Mulai hari ini, musuhku adalah musuhmu. Dan siapa pun yang menyakitimu, akan berhadapan denganku."
Malam itu, Alana Dirgantara lahir kembali. Bukan sebagai agen polisi, bukan sebagai sandera, melainkan sebagai Ratu di samping sang Raja Mafia. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.