NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Sorot Lampu dan Harga Sebuah Obsesi

Mobil Maybach hitam itu meluncur mulus membelah gemerlap jalanan malam ibu kota, meninggalkan area apartemen mewah menuju kawasan Hotel Ritz yang prestisius. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan terasa begitu tebal dan mencekik.

Nadin duduk kaku sambil menatap ke luar jendela. Tangannya bertaut erat di atas pangkuan, meremas tas tangan kecil berbahan satin yang senada dengan gaun merah darahnya. Kalung berlian raksasa di lehernya terasa sangat dingin, sebuah pengingat fisik yang terus menerus menyadarkannya bahwa dia sedang dibawa menuju panggung pameran sebagai trofi milik pria di sebelahnya.

Gilang Mahendra duduk dengan postur santai namun penuh kewaspadaan. Pria itu menatap lurus ke depan, namun Nadin bisa merasakan dari sudut matanya bahwa perhatian Gilang sepenuhnya tertuju pada setiap tarikan napas dan gerakan gelisah yang Nadin buat.

"Tegakkan punggungmu, Nadin," perintah Gilang dengan nada datar memecah keheningan. "Kau memakai gaun seharga ratusan juta dan berlian yang nilainya bisa membeli sebuah pulau. Jangan duduk melengkung seperti tahanan yang sedang dibawa ke ruang eksekusi."

Nadin menarik napas panjang, memaksakan paru-parunya untuk mengembang. Dia menegakkan punggungnya perlahan. Postur itu membuat potongan dada gaunnya sedikit lebih rendah dan bagian punggungnya yang terbuka bergesekan dengan bahan kulit jok mobil.

"Saya merasa seperti barang dagangan yang sedang Anda bawa ke pasar lelang, Tuan Mahendra," balas Nadin tanpa menoleh. Suaranya terdengar dingin, mencoba menutupi getaran ketakutan di baliknya.

Gilang menoleh perlahan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai tipis yang tidak mencapai matanya. Pria itu menggeser tubuhnya mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Nadin bisa mencium aroma parfum vetiver dan alkohol ringan dari napas Gilang.

"Kau memang barang berharga milikku," bisik Gilang tepat di telinga Nadin. Tangan kanan pria itu naik, menyentuh bagian belakang leher Nadin yang terbuka, membelai kulit putih itu dengan ujung ibu jarinya. "Dan malam ini, aku ingin seluruh pasar tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang mampu membelimu dariku."

Mobil perlahan melambat dan akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama Hotel Ritz. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di kanopi hotel memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Di luar sana, puluhan wartawan dan fotografer sudah berkerumun di balik garis pembatas beludru merah. Kilatan cahaya blitz kamera menyambar nyaring seperti badai kilat.

Dimas yang duduk di kursi depan segera turun dan membukakan pintu untuk Gilang. Pria itu melangkah keluar dari mobil dengan keanggunan seorang penguasa sejati. Kilatan kamera seketika menjadi dua kali lipat lebih brutal. Gilang mengancingkan jas tuksedonya dengan satu tangan, wajahnya tetap datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh kebisingan di sekitarnya.

Gilang kemudian berbalik dan mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil.

Nadin menatap uluran tangan yang kokoh itu. Jantungnya berpacu bagaikan derap kuda liar. Ini adalah titik baliknya. Begitu dia menerima tangan itu dan keluar dari mobil, wajahnya akan terekam oleh puluhan lensa kamera. Statusnya sebagai wanita simpanan Gilang Mahendra akan menjadi konsumsi publik. Namun dia tidak punya pilihan. Menolak uluran tangan Gilang di depan umum sama saja dengan mengundang murka iblis tersebut.

Dengan jemari yang sedikit bergetar, Nadin meletakkan tangannya di atas telapak tangan Gilang.

Cengkeraman Gilang langsung mengerat, hangat dan posesif. Pria itu menarik Nadin keluar dari mobil dengan lembut namun penuh tenaga. Begitu sepatu hak tinggi Nadin menjejak karpet merah, suara riuh dari para wartawan meledak. Pertanyaan-pertanyaan saling bersahutan, menanyakan identitas wanita misterius berbaju merah darah yang berhasil bersanding dengan CEO Mahendra Corp yang terkenal dingin dan tidak pernah membawa pasangan ke acara publik.

Gilang tidak menjawab satu pun pertanyaan itu. Dia memindahkan tangannya dari jemari Nadin menuju pinggang bawah wanita itu. Telapak tangan Gilang yang besar dan panas menempel langsung pada kulit punggung Nadin yang terbuka. Sentuhan itu membuat Nadin tersentak pelan, namun Gilang menahannya dengan kuat, menekankan tubuh Nadin ke sisi tubuhnya sambil menuntunnya berjalan menyusuri karpet merah.

"Tersenyumlah," bisik Gilang tanpa menggerakkan bibirnya terlalu banyak. "Tunjukkan pada mereka bahwa kau pantas berada di sisiku."

Nadin memaksa sudut bibirnya untuk naik, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat terukur. Otak arsiteknya secara otomatis bekerja untuk mengalihkan rasa paniknya. Nadin mulai memperhatikan pilar-pilar besar lobi hotel, menghitung perkiraan bentang struktur, dan menganalisis desain interior klasik ruangan tersebut. Trik itu sedikit berhasil menenangkan detak jantungnya.

Mereka berdua melangkah masuk ke dalam ballroom raksasa di lantai dua. Suasana di dalam sana jauh lebih elegan. Alunan musik klasik dari kuartet gesek memenuhi ruangan yang dihiasi oleh ornamen emas dan lampu gantung kristal Bohemian. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari pejabat tinggi, pengusaha properti, dan sosialita kelas atas berdiri berkelompok sambil memegang gelas sampanye.

Begitu Gilang dan Nadin melangkah melewati pintu ganda, seolah ada sihir yang bekerja, sebagian besar percakapan di dekat pintu masuk langsung terhenti. Kepala-kepala menoleh. Mata-mata tajam mulai menilai. Nadin bisa merasakan tatapan merendahkan dari para sosialita wanita, dan tatapan lapar yang tidak disembunyikan dari para pria hidung belang saat melihat gaun merah dan berlian di lehernya.

"Abaikan mereka," perintah Gilang pelan, seolah bisa membaca ketidaknyamanan Nadin. Cengkeraman tangannya di pinggang Nadin semakin mengerat. "Mereka menatapmu karena mereka cemburu. Dan para pria itu menatapmu karena mereka tahu mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu."

Seorang pelayan lewat membawa nampan minuman. Gilang mengambil dua gelas sampanye, menyerahkan satu kepada Nadin, lalu membimbing wanita itu menuju area meja VIP yang berada tepat di depan panggung utama.

Sepanjang perjalanan menuju meja mereka, beberapa pengusaha menghampiri Gilang untuk menyapa dan mencari muka. Gilang menanggapi mereka dengan sangat singkat, dingin, dan profesional. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya secara langsung mengenai Nadin, meskipun mata mereka terus mencuri pandang ke arah belahan gaun Nadin yang menampilkan paha putihnya setiap kali dia melangkah.

Mereka baru saja duduk di kursi VIP ketika sebuah suara bariton yang berat menyela dari belakang.

"Gilang Mahendra. Suatu kejutan yang luar biasa melihatmu hadir di acara seperti ini, dan terlebih lagi, membawa seorang pendamping yang begitu memukau."

Gilang tidak segera menoleh. Rahang pria itu mengeras seketika. Hawa di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat. Gilang meletakkan gelas sampanyenya di atas meja, lalu berdiri perlahan, diikuti oleh Nadin yang merasa harus ikut berdiri karena sopan santun.

Di hadapan mereka berdiri seorang pria yang usianya mungkin sepadan dengan Gilang. Pria itu mengenakan setelan jas putih tulang yang sangat mencolok, rambutnya ditata sedikit berantakan, dan wajahnya dihiasi oleh senyuman yang terlihat sangat karismatik namun licik. Nadin mengenali pria itu dari artikel majalah bisnis. Bastian Wirawan. Dia adalah pewaris utama Wirawan Group, saingan terbesar Mahendra Corp dalam industri properti, sekaligus lawan tender untuk proyek Menara Selatan.

"Bastian," balas Gilang dengan nada datar dan sangat dingin. "Aku hadir untuk memastikan uang amal malam ini tidak jatuh ke tangan orang-orang yang salah. Sesuatu yang sering terjadi di acaramu."

Bastian tertawa pelan, sama sekali tidak tersinggung oleh sindiran tajam tersebut. Namun mata pria itu tidak tertuju pada Gilang. Sepasang mata berwarna cokelat terang milik Bastian sepenuhnya mengunci sosok Nadin dari atas ke bawah. Tatapan itu tidak ditutup-tutupi, sangat kurang ajar dan penuh minat.

"Dan siapa wanita cantik yang berhasil melunakkan hati manusia es dari Jakarta ini?" Bastian melangkah maju setengah langkah. Dia mengulurkan tangannya ke arah Nadin. "Bastian Wirawan. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Nona."

Nadin menatap uluran tangan itu dengan ragu. Sebagai orang yang memiliki tata krama, instingnya adalah membalas jabatan tangan itu. Nadin baru saja mengangkat tangan kanannya sejauh lima sentimeter ketika Gilang bergerak.

Tangan besar Gilang memotong gerakan Nadin, meraih telapak tangan Bastian dan menjabatnya dengan kekuatan yang sangat keras hingga buku-buku jari Gilang memutih. Bastian meringis pelan, namun senyum liciknya tidak memudar.

"Nadin Kirana," jawab Gilang mewakili Nadin. Suara Gilang terdengar seperti geraman peringatan dari seekor harimau yang wilayahnya sedang diusik. Tangan kiri Gilang merangkul pinggang Nadin, menarik tubuh wanita itu mundur hingga berlindung di balik bahu lebarnya. "Dan dia tidak tertarik untuk berkenalan denganmu, Bastian. Jaga pandanganmu."

Bastian menarik tangannya dengan paksa dari jabatan tangan Gilang. Dia mengusap telapak tangannya sendiri sambil menatap Gilang dengan tatapan menantang.

"Posesif sekali, Gilang. Berhati-hatilah, burung cantik yang dikurung terlalu erat biasanya akan mencari cara untuk terbang keluar dari sangkar," sindir Bastian. Pria itu kemudian menatap Nadin dan memberikan kedipan mata yang sangat provokatif. "Jika Anda bosan dengan udara dingin di sekitar pria ini, Nona Kirana, pintu Wirawan Group selalu terbuka untuk Anda."

Sebelum Gilang sempat melakukan kekerasan fisik di tengah acara lelang, pembawa acara di atas panggung berbicara melalui mikrofon, mengumumkan bahwa sesi pelelangan barang utama akan segera dimulai. Bastian tersenyum penuh kemenangan, menundukkan kepalanya sedikit, lalu berjalan menuju meja VIP miliknya yang berada di seberang ruangan.

Gilang duduk kembali dengan gerakan kasar. Dada pria itu naik turun dengan cepat. Nadin duduk di sebelahnya dalam diam, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Nadin bisa merasakan kemarahan yang mendidih di dalam diri Gilang. Urat-urat di leher pria itu menonjol jelas.

Acara lelang dimulai. Barang-barang mewah berupa lukisan kuno, artefak sejarah, dan perhiasan mulai ditawarkan. Gilang sama sekali tidak tertarik. Pria itu hanya menatap ke arah panggung dengan pandangan kosong, sementara jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang cepat dan mengancam.

Hingga tiba pada barang lelang kelima. Sebuah kotak beludru hitam dibuka oleh pembawa acara di bawah lampu sorot. Di dalamnya terdapat sebuah cincin bertahtakan batu ruby merah darah langka dari pedalaman Afrika, dihiasi oleh pecahan berlian di sekelilingnya. Warnanya sangat persis dengan gaun yang dipakai oleh Nadin malam ini.

"Barang kelima kita malam ini adalah Cincin Air Mata Merah. Harga pembukaan dimulai dari lima miliar rupiah," seru pembawa acara.

"Enam miliar," suara Bastian terdengar dari seberang ruangan. Pria berjas putih itu mengangkat papan nomornya sambil menatap lurus ke arah Nadin dengan senyuman menggoda.

Bisik-bisik mulai terdengar di penjuru ballroom. Semua orang menyadari bahwa Bastian sedang mencoba menarik perhatian pasangan dari saingan bisnisnya. Nadin menundukkan kepalanya, merasa sangat tidak nyaman dijadikan objek perebutan ego dua orang konglomerat.

Di sebelah Nadin, Gilang mendengus pelan. Sebuah tawa sinis yang sangat dingin keluar dari bibirnya. Gilang bahkan tidak mengangkat papan nomornya. Pria itu hanya mengangkat tangan kanannya dengan santai, namun suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan yang tiba-tiba menjadi hening.

"Dua puluh miliar," ucap Gilang datar.

Suara tarikan napas kaget terdengar serentak di dalam ballroom. Melompat dari enam miliar langsung ke dua puluh miliar untuk sebuah cincin ruby adalah sebuah tindakan yang gila. Itu bukan lagi soal lelang amal, itu adalah ajang pembuktian kekuasaan absolut.

Bastian di seberang sana terlihat sedikit terkejut, namun ego pria itu menolak untuk kalah. "Dua puluh satu miliar."

Gilang tidak memberikan jeda sedetik pun. "Tiga puluh miliar."

Ruangan menjadi sangat sunyi. Tiga puluh miliar rupiah. Bahkan pembawa acara di atas panggung sampai kehilangan kata-katanya. Bastian memucat. Untuk mengeluarkan dana tunai sebesar itu hanya demi sebuah cincin akan membuat dewan direksinya marah besar. Dengan rahang mengeras, Bastian menurunkan papan nomornya. Dia menyerah.

"Tiga puluh miliar, ketukan ketiga. Sah! Terjual kepada Tuan Gilang Mahendra!" seru pembawa acara sambil memukulkan palu kayunya. Tepuk tangan riuh pecah di dalam ruangan.

Sepuluh menit kemudian, seorang petugas membawa cincin tersebut ke meja mereka. Gilang menandatangani cek pembayaran tanpa melihat angkanya. Setelah petugas itu pergi, Gilang mengambil cincin ruby tersebut dari dalam kotaknya. Pria itu meraih tangan kiri Nadin dan menyelipkan cincin yang terasa sangat dingin itu ke jari manis Nadin. Ukurannya pas dengan sempurna.

"Tuan Mahendra, ini terlalu berlebihan," bisik Nadin dengan suara gemetar. Cincin seharga tiga puluh miliar di jarinya terasa lebih berat daripada kalung berlian di lehernya. "Saya tidak bisa memakai sesuatu yang bernilai sebesar ini."

Gilang menahan tangan Nadin, mengusap batu ruby itu dengan ibu jarinya. Mata hitamnya menatap Nadin dengan tatapan yang sangat gelap dan menakutkan.

"Aku tidak membelinya karena cincin ini indah, Nadin," geram Gilang dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya Nadin yang bisa mendengarnya. "Aku membelinya agar semua anjing di ruangan ini, terutama si bajingan Bastian itu, tahu dengan pasti berapa harga yang harus mereka bayar jika mereka berani menatap milikku."

Sisa acara lelang berlalu seperti mimpi buruk bagi Nadin. Gilang tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Nadin sedikit pun. Tepat sebelum acara penutupan, Gilang menarik Nadin berdiri. Mereka meninggalkan ballroom tanpa berpamitan kepada siapa pun.

Langkah Gilang sangat cepat saat mereka berjalan menyusuri lorong hotel menuju lobi bawah. Nadin harus setengah berlari dengan sepatu hak tingginya untuk menyamai langkah pria itu. Aura kemarahan Gilang tidak lagi ditutup-tutupi. Para staf hotel bahkan menyingkir dari jalan mereka dengan wajah ketakutan.

Dimas sudah menyiapkan mobil di pintu keluar. Gilang mendorong Nadin masuk ke dalam kursi belakang Maybach dengan gerakan kasar, lalu pria itu menyusul masuk dan membanting pintu mobil dengan sangat keras hingga suara dentumannya menggema.

"Jalan. Tutup sekatnya," perintah Gilang kepada sopir.

Sekat kaca berwarna hitam pekat yang kedap suara seketika naik, memisahkan kabin penumpang belakang dari bagian depan. Kini hanya ada Nadin dan Gilang di dalam ruangan sempit yang bergerak menembus malam itu.

Nadin memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menempel pada pintu mobil. Dia belum pernah melihat Gilang semarah ini. Napas pria itu memburu cepat. Gilang melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan satu tarikan brutal, lalu melemparkannya ke lantai mobil. Pria itu melepaskan dua kancing kemeja teratasnya, berusaha mencari udara di dalam kabin yang tiba-tiba terasa sangat panas.

"Gilang," panggil Nadin pelan, mencoba meredakan ketegangan.

Namun panggilan itu justru menjadi pemicu ledakan. Gilang bergerak maju bagaikan predator yang menerkam mangsanya. Pria itu menyudutkan Nadin, kedua tangannya mengunci sisi tubuh Nadin di sandaran jok mobil. Gilang menatap Nadin dengan mata yang menyala oleh api cemburu dan posesivitas yang gila.

"Kau tersenyum padanya," desis Gilang. Suaranya sangat berat dan serak, memancarkan bahaya murni. "Kau hendak menjabat tangan bajingan itu."

"Itu hanya sopan santun dasar, Gilang! Saya tidak mengenalnya sama sekali," bela Nadin dengan nada panik. Tangannya mendorong dada bidang Gilang, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.

"Sopan santunmu tidak berlaku untuk pria lain selain aku!" bentak Gilang. Pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Nadin dengan satu tangannya dan menekannya ke atas kepala Nadin, mengunci wanita itu sepenuhnya.

Tangan Gilang yang lain menyusuri belahan tinggi gaun merah Nadin, merayap naik menyentuh paha wanita itu dengan gerakan yang sangat kasar dan posesif. Nadin terkesiap, tubuhnya menegang kaku di bawah sentuhan panas tersebut.

"Kau adalah milikku, Nadin Kirana. Dari ujung rambut hingga ujung kakimu," bisik Gilang tepat di depan bibir Nadin. Aroma alkohol dan amarah menyapu wajah wanita itu. "Dan malam ini, di dalam mobil ini, aku akan menghapus setiap pandangan kotor pria bajingan itu dari tubuhmu. Aku akan memastikan kau mengingat dengan jelas siapa pemilik mutlakmu."

Tanpa memberikan ruang bagi Nadin untuk bernapas atau memprotes, Gilang meraup bibir wanita itu dengan ciuman yang mematikan. Di dalam mobil mewah yang melaju menembus dinginnya malam, Nadin kembali menyadari bahwa gaun merah, kalung berlian, dan cincin ruby ini bukanlah lambang kemewahan. Semuanya adalah rantai tak kasatmata yang akan mengikatnya selamanya di dalam dasar kegilaan seorang Gilang Mahendra.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!