"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
...
...
Cahaya matahari musim semi yang lembut menyusup malu-malu di balik puncak pegunungan Alpen, memantulkan warna keemasan pada permukaan Danau Hallstatt yang tenang. Di dalam dapur kecil yang beraroma kayu manis dan mentega segar, Kalea—atau Lea bagi penduduk setempat—sedang sibuk menata sarapan sederhana namun bergizi. Sepiring omelet sayuran, potongan apel lokal, dan segelas susu murni sudah siap di atas meja kayu yang dihiasi taplak rajutan tangan.
"Leo, Sayang? Ayo bangun, matahari sudah menyapa lili-lili kita!" panggil Kalea dengan suara lembut yang penuh kasih.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki kecil di lantai kayu. Seorang bocah laki-laki berusia dua setengah tahun muncul dengan piyama motif beruangnya. Rambutnya yang sedikit bergelombang tampak berantakan khas bangun tidur, namun mata cokelat madunya langsung berbinar cerdas saat melihat tumpukan buku di sudut meja.
"Mama, hari ini kita ke library lagi? Leo mau pinjam buku tentang mountain goat," ucap Leo dengan pelafalan yang sangat jelas untuk anak seusianya.
Kalea tersenyum bangga sambil menggendong putranya ke kursi makan. Leo adalah anak yang luar biasa cerdas. Di usianya yang belum genap tiga tahun, ia sudah fasih berkomunikasi dalam dua bahasa—Indonesia yang diajarkan Kalea secara privat, dan bahasa Jerman yang ia serap dari lingkungan desa. Daya ingatnya tajam, ia bisa mengenali lebih dari tiga puluh jenis bunga di toko ibunya hanya dengan sekali lihat.
"Makan dulu sarapannya, baru kita bicara soal kambing gunung," goda Kalea sambil mencium kening Leo.
Setelah sarapan, rutinitas mereka berlanjut ke toko bunga "Lili’s Garden". Kehadiran Lea dan Leo di desa itu telah menjadi warna tersendiri. Penduduk Hallstatt, yang biasanya tertutup terhadap orang asing, kini sangat menyayangi pasangan ibu dan anak ini.
"Guten Morgen, Frau Lea! Hallo, kleine Leo!" sapa Frau Schmidt, nenek pemilik toko roti di sebelah, sambil memberikan sebuah croissant hangat pada Leo.
"Danke, Frau Schmidt! Schönen Tag noch!" jawab Leo sopan sambil melambaikan tangan kecilnya.
Kalea menatap pemandangan itu dengan hati yang menghangat. Tiga tahun lalu, ia adalah wanita yang hancur, namun desa ini dan kehadiran Leo telah menyembuhkannya. Di sini, ia tidak perlu menjadi "barang" seharga satu miliar. Ia adalah seorang pengusaha bunga yang dihormati, seorang ibu yang mandiri, dan seorang warga yang dicintai.
Leo tidak seperti anak-anak sebayanya yang hanya suka bermain lari-larian. Ia sering duduk tenang di sudut toko bunga ibunya, mengamati bagaimana Kalea merangkai bouquet. Ia akan bertanya, "Mama, kenapa bunga lavender baunya bikin Leo ngantuk?" atau "Kenapa bunga matahari selalu ikut matahari?"
Pertanyaan-pertanyaan kritis itu seringkali membuat Kalea terdiam kagum. Leo mewarisi kecerdasan tajam milik ayahnya, namun tanpa sisi gelap yang mengerikan itu. Leo memiliki empati yang besar; setiap kali ia melihat ibunya tampak lelah, ia akan membawakan segelas air dan berkata, "Mama istirahat dulu, Leo yang jaga toko."
Sore harinya, mereka biasanya menghabiskan waktu di dermaga kayu. Kalea akan duduk di bangku kayu sambil membaca naskah lepasnya, sementara Leo sibuk dengan buku sketsanya. Hari ini, Leo sedang menggambar angsa yang berenang di danau.
"Leo, nanti kalau sudah besar, Leo mau jadi apa?" tanya Kalea iseng.
Leo mendongak, matanya yang intens menatap dalam ke mata ibunya. "Leo mau jadi pilot. Leo mau ajak Mama terbang tinggi, ke atas gunung yang ada saljunya, biar Mama bisa liat bunga dari langit."
Kalea tercekat. Kalimat itu begitu manis namun juga mengingatkannya pada sesuatu yang pahit—pelarian mereka dengan helikopter tiga tahun lalu. Namun ia segera menghapus pikiran itu. Di sini, di bawah langit Austria yang biru, ia merasa benar-benar memiliki hidupnya kembali.
Malam harinya, setelah Leo terlelap di pelukannya, Kalea berdiri di balkon rumah kayu mereka. Ia menatap bintang-bintang yang berkilauan di atas pegunungan Dachstein. Kehidupannya sempurna. Ia memiliki cinta yang tulus dari putranya, kedamaian dari alam, dan perlindungan dari komunitas yang tulus.
"Terima kasih Tuhan, untuk kedamaian ini," bisik Kalea.
Ia tidak tahu bahwa ribuan kilometer dari sana, di dalam sebuah jet pribadi yang sedang membelah awan menuju Eropa, seorang pria sedang menatap foto dirinya dan Leo yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Pria itu menyentuh wajah Leo di layar tabletnya dengan jari yang gemetar karena emosi yang tertahan.
"Tunggu aku, Kalea. Tunggu aku, Putraku," gumam Liam Jionel di tengah heningnya kabin pesawat.
Liam sudah tahu segalanya. Ia tahu Leo cerdas, ia tahu Leo suka angsa, dan ia tahu Kalea sangat bahagia. Dan bagi seorang Liam Jionel, kebahagiaan Kalea tanpa dirinya adalah sebuah kesalahan yang harus segera ia perbaiki.
Malam itu, di Hallstatt, bunga-bunga lili masih mekar dengan indah, tidak menyadari bahwa sang badai dari masa lalu akan segera mendarat di pelabuhan mereka esok pagi, membawa kembali semua rahasia, obsesi, dan klaim yang telah lama terkubur.
Kalea menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi oleh udara pegunungan yang murni. Di Hallstatt, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan ruang bagi jiwanya yang dulu hancur untuk merajut kembali serpihan-serpihan harapan. Ia sering berdiri di dermaga kayu tua samping tokonya, memperhatikan Leo yang sedang asyik berbicara dengan seekor angsa putih yang sering singgah. Pemandangan itu selalu berhasil membuat Kalea tersenyum tipis; putranya tidak hanya mewarisi kecerdasan tajam, tapi juga kelembutan hati yang dulu selalu Kalea dambakan dalam hidupnya sendiri.
"Mama, liat! Angsanya punya mahkota kecil di kepalanya!" seru Leo sambil menunjuk ke arah burung itu dengan antusias.
Kalea mendekat, berlutut di samping jagoan kecilnya. "Itu karena angsa itu rajin menjaga kebersihan danau, Sayang. Sama seperti Leo yang rajin jaga toko Mama."
Leo tertawa, sebuah tawa renyah yang menjadi musik paling indah bagi telinga Kalea. Namun, di balik tawa itu, Kalea terkadang termenung saat melihat pantulan wajah Leo di air danau yang jernih. Garis rahang itu, cara Leo mengerutkan kening saat sedang berpikir serius, semuanya adalah replika dari pria yang pernah mengurungnya dalam sangkar emas. Kalea seringkali merasa takut jika suatu saat nanti, Leo akan menanyakan sosok ayahnya. Sejauh ini, jawaban "Ayah sudah di surga" masih cukup untuk menenangkan rasa ingin tahu bocah itu.
Sore itu, suasana desa mendadak terasa sedikit berbeda bagi insting Kalea. Beberapa mobil mewah dengan plat nomor dari luar kota terlihat melintas di jalanan sempit Hallstatt yang biasanya hanya dilalui pejalan kaki. Kalea merapatkan mantelnya, perasaan cemas yang sudah lama terkubur mendadak mencuat kembali. Ia segera menggendong Leo dan memutuskan untuk menutup tokonya lebih awal.
"Kita pulang sekarang ya, Leo. Mama mau buatkan cokelat panas yang banyak marshmallow-nya," ucap Kalea, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya.
Leo, dengan kecerdasannya yang luar biasa, menatap mata ibunya lekat-lekat. "Mama takut ya? Ada naga jahat lagi?"
Kalea tertegun, namun ia segera mencium pipi putranya. "Nggak ada naga, Sayang. Mama cuma kangen peluk Leo di rumah."
Saat mereka melangkah menuju rumah kayu mereka, Kalea tidak menyadari bahwa dari kejauhan, di atas bukit yang menghadap langsung ke dermaga, seorang pria dengan teropong sedang merekam setiap gerakannya. Pria itu menekan tombol kirim pada ponselnya, mengirimkan koordinat terakhir tempat tinggal Kalea.
Di dalam jet pribadi yang kini sudah memasuki wilayah udara Austria, Liam Jionel menatap foto terbaru putranya yang sedang tertawa di dermaga. Matanya berkilat dengan emosi yang tak terbendung—sebuah campuran antara rasa rindu yang menyiksa dan obsesi yang kini memiliki tujuan baru.
"Kau mendidik putraku dengan sangat baik, Kalea," gumam Liam sambil menyesap whisky-nya. "Tapi petualanganmu di pegunungan ini sudah cukup lama. Besok, aku akan menunjukkan pada singa kecilku siapa raja yang sebenarnya."
Malam pun jatuh di Hallstatt, membawa dingin yang lebih menusuk dari biasanya. Kalea mendekap Leo erat dalam tidurnya, tidak menyadari bahwa esok pagi, ketenangan yang ia bangun selama tiga tahun ini akan hancur oleh deru langkah kaki pria yang paling ia hindari di seluruh dunia._