Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Istana Ibu Suri
Menjelang malam kereta milik Lu Mingyu baru tiba di halaman istana Ibu suri, dan saat turun dari kereta Mingyu melihat kedatangan sang Ayah.
Mingyu bergegas menghampiri perdana mentri Lu yang baru turun dari kudanya.
''Ayah''
''Mingyu''
Sepasang Ayah dan anak itu saling berpelukan untuk melepas rindu, Mingyu bersyukur di kehidupannya yang sekarang dia bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ayah, karna di kehidupan pertamanya Mingyu seorang yatim piatu sejak lahir.
''Putriku, bagaimana kabar kamu?''
''Seperti yang ayah lihat, Mingyu baik baik saja'' ucap Mingyu sembari memutar mutar badannya di hadapan Tuan Lu.
Perdana mentri Lu tersenyum, dia bernafas lega kalau putrinya baik baik saja selama kembali ke kediaman Jendral Rong.
Sebenarnya perdana mentri Lu pernah curiga, saat putrinya tiba tiba pulang dengan alasan merindukannya, karna selama berada di rumah putrinya terus terlihat murung, tapi putrinya tidak pernah mengaku saat di desak untuk cerita, hingga setelah putrinya jatuh di kolam, dia melihat sikap putrinya ceria kembali, bahkan tatapannya lebih hidup dari sebelum sebelumnya.
''Ayah''
''Iya, ada apa?'' Perdana mentri Lu langsung tersadar dari lamunannya.
''Kira kira siapa saja yang datang di acara ulang tahun Ibu suri, Ayah?'' tanya Mingyu, agar dia bisa berantisipasi, mengingat sosoknya sangat tidak di sukai oleh masyarakat.
''Tentu kaisar dan permaisuri serta putra mahkota, sisanya para anggota pejabat negara, dan biasanya juga ada kalangan para bangsawan juga petinggi akademi kekaisaran'' ucap Perdana mentri Lu.
Mingyu mengangguk anggukkan kepalanya, ternyata orang orang yang meliki kedudukan tinggi semua pikirnya.
''Memangnya kenapa?'' tanya perdana mentri Lu.
''Tidak apa apa Ayah, Mingyu cuma tanya saja, kan Ayah tahu kalau Mingyu belum pernah datang ke acara ulang tahun Ibu suri'' jawab Mingyu sembari tersenyum.
Mingyu tahu tentang itu semua dari Xiao Fei, tadi sore saat Xiao Fei membantunya merias diri, dia terlihat bersemangat, dan katanya karna Nonanya akhirnya bisa datang ke ulang tahun Ibu suri, karna sebelum sebelumnya tidak pernah sama sekali.
Perdana mentri Lu seketika merasakan hatinya tertampar, selama ini dirinya memang belum pernah sekalipun membawa Mingyu ke acara acara yang di adakan oleh keluarga kerajaan, bukan tidak mau, tapi mendiang Ibunya yang melarangnya, dengan alasan takut Mingyu mempermalukan kediaman Lu, hanya karna Mingyu terlahir bodoh dan tidak memiliki bakat apapun, kalau mengingat itu perdana mentri Lu amat sangat menyesal, kenapa dulu dia begitu patuh pada perintah Ibunya, sampai mengorbakan perasaan putri kandungnya.
''Mingyu, maafkan Ayah'' ucap perdana mentri Lu penuh sesal, sembari mengusap surai hitam putrinya dengan lembut.
Mingyu menggelengkan kepalanya. ''Tidak apa apa Ayah, Ayah tidak perlu minta maaf'' ucapnya tersenyum.
''Kalau begitu ayo masuk ke dalam'' ajak Perdana mentri Lu.
''Iya''
Ayah dan anak itu berjalan beriringan masuk ke dalam istana Ibu suri, di belakangnya ada Xiao Fie yang mengikutinya sembari membawa kotak hadiah milik Nonanya untuk Ibu suri.
Sesampai di dalam aula istana, semua mata para tamu langsung mengarah pada perdana mentri Lu dan Lu Mingyu, berbagai macam cara mereka memandang ke arah ayah dan anak itu, tapi rata rata mereka menatap rendah pada Lu Mingyu.
Mingyu sendiri tidak perduli, dia terus mengikuti Ayahnya yang berjalan ke arah Ibu Suri untuk memberi salam.
''Salam hormat pada Ibu Suri, semoga panjang umur dan sehat selalu'' ucap Perdana mentri Lu dengan cara bersimpuh, dan di ikuti oleh Lu Mingyu dan juga Xiao Fei.
Ibu Suri tersenyum. ''Terimaksih Tuan Lu, salam anda saya terima'' ucap Ibu Suri.
''Mingyu, sini, mendekatlah'' pinta Ibu Suri.
Mingyu langsung berdiri dan berjalan menghampiri Ibu Suri, sebelum itu dia mengambil kotak hadiah yang di bawa oleh Xiao Fei.
''Ibu Suri, ini hadiah untuk anda, semoga anda suka'' ucap Mingyu.
Ibu Suri menerimanya dan langsung membukanya saat itu juga, dan seketika ibu suri terkejut melihat patung kayu yang bentuknya sama persis dengannya.
''Mingyu ini?''
''Ini patung Ibu suri, Mingyu sendiri yang memahatnya'' ucap Mingyu, kemarin dia kebingungan mau memberi Ibu Suri hadiah apa, mengingat Ibu Suri keluarga kerjaan sudah pasti punya semuanya, dan akhirnya Mingyu memiliki ide untuk membuat patung Ibu suri dari kayu cendana.
''Terimakasih Mingyu''
''Sama sama Ibu suri''
Selama ini Ibu Suri tidak pernah percaya dengan rumor yang dia dengar di luar sana, kalau Mingyu hanya gadis bodoh yang tidak memiliki kelebihan apapun, dan sekarang Ibu suri melihatnya sendiri, kalau Mingyu memiliki kemampuan untuk memahat, sesuatu yang harus di lakukan dengan penuh kesabaran dan ketekunan.
''Mingyu, bagaimana hubunganmu dengan Pangeran Rong Cheng?, apa dia memperlakukanmu dengan baik?'' tanya Ibu Suri.
''Ibu suri tenang saja, Pangeran Rong Cheng sangat baik dengan Mingyu'' jawab Mingyu tersenyum.
"Selama uang Jendral Rong di berikan padaku, dia masih aku anggap lelaki yang baik, dan sayang istri" batin Mingyu, dia tidak perduli apapun yang di lakukan oleh Jendral Rong Cheng, asalkan uang Jendral Rong Cheng masih terus mulus masuk ke kantongnya.
''Syukurlah kalau begitu'' ucap Ibu Suri bernafas lega.
''Ya sudah, kalau begitu kamu nikmati jamuannya''
''Baik Ibu Suri''
Mingyu langsung bangkit dan duduk di samping sang Ayah.
Dan tak berselang lama pengawal yang berada di pintu, berseru memberitahukan akan kedatangan Kaisar dan Permaisuri juga putra mahkota, dan semua tamu yang ada di dalam aula langsung berdiri untuk memberi hormat pada penguasa mereka, setelah itu mereka kembali duduk di tempat semula, dan kembali melanjutkan menikmati jamuan.
Dan di tengah tengah saat acara berlangsung, pengawal yang berjaga di depan pintu kembali berseru, saat anggota kerajaan ada yang datang.
''Pangeran Rong Cheng sudah tiba!!''
Reflek para wanita muda yang hadir di acara ulang tahun Ibu suri seketika kalang kabut, mereka sibuk merapikan penampilannya berharap Jendral Rong Cheng tertarik saat melihatnya, mereka lupa kalau di dalam aula itu ada istri sah Jendral Rong, lebih tepatnya mereka tidak perduli, mereka selalu berfikir kalau dirinya jauh lebih unggul dan lebih baik di banding Istri Jendral Rong.
Jendral Rong dengan gagah masuk ke dalam aula, langkahnya yang tegas dengan aura dinginnya yang terpancar dari tubuhnya, mampu membuat orang yang tak sengaja bersitatap dengannya akan merasa tertekan.
Tapi tidak untuk para gadis yang mengidolakan Jendral Rong, mereka hanya fokus pada ketampanan paripurna yang di miliki oleh Jendral Rong, dan berharap Jendral Rong melirik ke arah mereka, tapi sayangnya fokus Jendral Rong hanya ke depan.
''Salam Ibu Suri, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, maaf kalau Rong Cheng datang agak telat, karna baru tiba dari perbatasan'' ucap Jendral Rong Cheng.
''Hem, Ibu memaafkanmu'' sahut Ibu Suri.
Han Bing yang berada di belakang Jendral Rong juga memberi salam dan ucapan selamat untuk Ibu suri.
Jendral Rong lalu berbalik, dan saat itu dia melihat keberadaan Mingyu yang duduk di samping perdana mentri Lu, tengah menikmati hidangan yang ada di depannya.
Dengan expresi datarnya, Jendral Rong menghampiri Mingyu dan duduk di sebelahnya begitu saja, membuat para gadis yang melihatnya langsung menatap iri pada Mingyu.
Sedangkan Mingyu sendiri, karna terlalu fokus menikmati hidangan di depannya, sampai tidak sadar kalau Jendral Rong sudah duduk di sebelahnya.
''Mingyu''
Mingyu menoleh dan reflek mendorong bahu Jendral Rong dengan kuat, karna kaget melihat wajah Jendral Rong yang sangat dekat dengannya, bahkan hidung mancung mereka hampir saja bersentuhan karna sangking dekatnya.