seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 13
Pagi harinya, deru mesin alat berat terdengar lebih awal dari suara azan subuh. Dua truk besar membawa tumpukan pagar panel beton berhenti tepat di depan akses jalan utama menuju dermaga sekolah. Para pekerja dengan rompi kuning bertuliskan Pery Permata mulai menggali lubang untuk menancapkan tiang-tiang pembatas.
Andi keluar dengan tenang, tangannya menggenggam secangkir kopi, sementara Rian sudah berdiri di depan gerbang dengan wajah merah padam.
"Bang, mereka benar-benar mulai memagarinya!" Rian menunjuk ke arah ekskavator yang mulai mengeruk tanah di sisi jalan. "Kalau pagar ini berdiri, truk pengantar logistik dan warga yang mau ke dermaga harus memutar dua kilometer lewat kawasan industri."
Andi tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekati mandor proyek yang sedang sibuk memberikan instruksi. "Pak, saya hanya ingin mengingatkan. Di bawah tanah yang Anda gali ini, ada jalur pipa air tua yang menyuplai air bersih ke tiga rukun tetangga di sekitar sini. Peta utilitas tahun 1990 menunjukkan jalurnya ada di sini."
Mandor itu tertawa meremehkan. "Kami sudah punya izin mendirikan bangunan (IMB). Semua sudah dikaji oleh tim ahli Pery Permata. Tidak ada pipa di sini."
Andi hanya mengangkat bahu. "Saya hanya memperingatkan. Tanah pelabuhan punya ingatannya sendiri."
Hanya sepuluh menit setelah ekskavator itu menghujamkan kuku besarnya ke dalam tanah, sebuah suara ledakan tumpul terdengar. Air berwarna cokelat pekat menyembur setinggi tiga meter, menghantam kaca depan ekskavator dan merendam lubang galian.
"Airnya mati, Bang!" teriak salah satu warga dari kejauhan.
Dalam sekejap, puluhan ibu-ibu yang sedang menyiapkan sarapan keluar dari rumah mereka dengan membawa ember kosong. Kemarahan yang tadinya hanya berupa keresahan, kini menjadi aksi nyata. Mereka mengepung alat berat itu, bukan dengan senjata, tapi dengan teriakan menuntut air bersih mereka kembali.
"Pery Permata belum membangun satu rumah pun, tapi sudah mencuri air kami!" teriak seorang warga melalui pengeras suara mushola.
Herman, perwakilan pengembang yang kemarin datang, tiba di lokasi dengan panik. Ia melihat kekacauan itu dan segera menghampiri Andi yang masih menyesap kopinya di teras sekolah.
"Ini sabotase! Anda sengaja mengarahkan mereka untuk menggali di sana!" tuduh Herman.
"Saya sudah memperingatkan," jawab Andi dingin. "Tapi kalian terlalu sombong dengan cetak biru mewah kalian sampai lupa membaca sejarah tanah ini. Sekarang, pilihannya ada di tangan Anda. Teruskan memagari jalan ini dan biarkan warga menutup kantor pemasaran kalian, atau bongkar kembali pagar itu dan kita bicara soal akses publik."
Andin keluar membawa dokumen legalitas yayasan. "Kami sudah menghubungi dinas terkait mengenai perusakan fasilitas umum oleh pihak swasta. Elena juga sedang dalam perjalanan bersama tim investigasi lingkungan. Perumahan mewah tidak akan laku jika berita utamanya adalah 'Pengembang Merusak Akses Air Warga'."
Herman tampak terjepit. Ia melihat ke arah kerumunan warga yang semakin banyak, dipimpin oleh para buruh yang mulai memasang barikade di depan truk-truk Pery Permata.
"Kita bisa bicara soal akses jalan," gumam Herman akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh sorakan warga. "Tapi proyek Pery Permata tetap akan berdiri."
"Silakan berdiri," sahut Andi. "Tapi jangan pernah berpikir untuk menjadikan sekolah ini sebagai tembok belakang rumah kalian. Sekolah ini akan tetap punya akses laut, dan kalian akan membangun taman publik di antara lahan kita sebagai kompensasi atas kerusakan ini."
Pertarungan melawan Pery Permata baru saja dimulai, namun Andi telah memberikan pelajaran pertama: kemewahan tidak bisa membeli kedaulatan warga pelabuhan.
Herman mundur beberapa langkah sambil menempelkan ponsel ke telinganya, wajahnya memerah karena malu sekaligus geram. Sementara itu, aliran air yang menyembur mulai mereda, meninggalkan kubangan lumpur pekat di tengah jalan akses utama.
"Jangan merasa menang dulu, Andi," desis Herman sebelum masuk ke mobilnya. "Air bisa diperbaiki dalam sehari. Tapi izin operasional yayasanmu? Kita lihat berapa lama itu bisa bertahan di meja birokrasi."
Mobil mewah itu melesat pergi, meninggalkan debu yang bercampur bau amis lumpur laut. Rian mendekati Andi, napasnya masih memburu. "Dia tidak menggertak, Bang. Pery Permata punya orang di setiap dinas. Mereka bisa saja mencabut izin sekolah kita dengan alasan 'keamanan lingkungan' karena dekat dengan proyek konstruksi."
Andi menatap genangan air itu dengan saksama. "Mereka punya orang di atas, tapi kita punya tanah di bawah. Rian, panggil Pak Jaka dan tim mekanik. Jangan cuma perbaiki pipa yang pecah. Aku ingin kalian memasang sambungan paralel ke arah sekolah."
"Untuk apa, Bang?"
"Kalau mereka benar-benar memutus air kita secara legal nanti, kita harus punya cadangan mandiri. Dan satu lagi," Andi menoleh ke arah Andin yang sedang menenangkan ibu-ibu warga. "Ndin, hubungi Elena. Katakan padanya jangan cuma bawa tim investigasi. Bawa arsitek lanskap yang pernah kita bantu dulu. Aku ingin kita membuat tandingan."
"Tandingan?" Andin mengernyitkan dahi.
"Pery Permata ingin membuat hunian eksklusif yang tertutup tembok. Kita akan buat proposal tandingan: Kampung Bahari Terintegrasi. Kita akan tunjukkan pada pemerintah bahwa sekolah ini, dermaga ini, dan pemukiman warga bisa ditata menjadi kawasan wisata edukasi yang jauh lebih bernilai daripada sekadar perumahan mewah yang angkuh."
Dua hari kemudian, Elena datang tidak sendirian. Ia membawa seorang pria muda berkacamata dengan tas tabung gambar di punggungnya. "Ini Aris, arsitek yang dulu kau selamatkan dari pemerasan preman di pelabuhan lama, Andi. Dia sudah membuat draf awal."
Aris membentangkan sebuah peta baru di atas meja perpustakaan. Di sana, sekolah Cahaya Bahari menjadi titik pusat. Alih-alih tembok beton Pery Permata, Aris menggambar jalur hijau (green belt) yang menghubungkan pemukiman warga dengan dermaga publik, lengkap dengan area UMKM untuk ibu-ibu nelayan.
"Konsepnya adalah Social Inclusion," Aris menjelaskan dengan antusias. "Jika pemerintah melihat ini, mereka akan sadar bahwa menutup akses laut demi perumahan pribadi adalah langkah mundur bagi ekonomi kerakyatan. Kita akan buat Pery Permata terlihat seperti musuh kemajuan."
Andi tersenyum tipis. Ia teringat kata-kata ayahnya: Jangan lawan api dengan api, tapi lawanlah dengan sesuatu yang membuat api itu tidak lagi berguna.
"Rian," panggil Andi. "Siapkan radio. Malam ini kita tidak bicara soal mesin. Kita bicara soal masa depan kampung ini. Kita akan undang setiap warga untuk memberikan masukan pada draf ini. Kita buat proyek ini menjadi milik semua orang, bukan cuma milik satu perusahaan."
Andi berdiri di depan jendela, menatap ke arah lahan Pery Permata yang kini tampak sunyi karena pengerjaan terhenti akibat protes warga. Ia tahu, Herman dan para petinggi di atas sana sedang menyusun rencana balasan. Namun, "Sang Cobra" kini tidak lagi menunggu serangan; ia sedang membangun benteng yang terbuat dari harapan ribuan orang.