NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Menyerang

Kemenangan tipis itu tidak memberi ruang untuk bernapas.

Hanya jeda.

Dan Alina tahu, jeda adalah momen paling berbahaya dalam perang.

Dua hari setelah voting, suasana kantor terlihat normal di permukaan. Karyawan tetap bekerja. Proyek tetap berjalan. Email tetap berdatangan seperti biasa.

Namun di lantai eksekutif, ada jarak yang tak terlihat.

Beberapa anggota dewan yang memilih menolak kepemimpinannya mulai menjaga komunikasi seminimal mungkin. Rapat-rapat kecil dilakukan tanpa melibatkannya secara langsung secara teknis tidak melanggar aturan, tapi cukup untuk menunjukkan garis pemisah.

Alina tidak bereaksi.

Ia mengamati.

Menganalisis.

Dan menyusun langkah.

“Kalau kau ingin menyerang balik, kau tidak bisa melakukannya dengan emosi,” kata Arsen suatu pagi di ruangannya.

Alina berdiri di depan jendela, memandang kota yang diselimuti kabut tipis.

“Aku tidak marah,” jawabnya pelan.

“Bagus.”

“Aku hanya tidak ingin permainan ini terus dimainkan di belakang layar.”

Arsen menyandarkan punggungnya di kursi. “Kau punya sesuatu?”

Alina berbalik.

“Selama integrasi Aurora, kita melakukan audit internal menyeluruh. Bukan hanya proyek. Tapi juga transaksi dewan lama.”

Arsen menajamkan tatapannya. “Kau menemukan sesuatu.”

“Bukan aku. Tim forensik keuangan.”

Ia berjalan kembali ke meja dan membuka sebuah map tipis.

“Beberapa transaksi konsultasi mencurigakan. Nilainya tidak besar, tapi berulang. Mengarah ke perusahaan cangkang.”

Arsen berdiri dan mendekat.

“Siapa yang menandatangani?”

Alina menatapnya.

“Bima.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Ini bisa menjadi bom,” gumam Arsen.

“Jika diverifikasi.”

“Sudah diverifikasi?”

“Sebagian. Tapi aku tidak mau bergerak tanpa bukti sempurna.”

Arsen mengangguk pelan.

“Kau tidak ingin terlihat seperti membalas dendam.”

“Ini bukan soal balas dendam,” jawab Alina tegas. “Ini soal integritas.”

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ini juga soal keseimbangan kekuasaan.

Bima hampir menjatuhkannya.

Dan jika memang ada celah dalam rekam jejaknya, maka publik berhak tahu.

Sementara itu, investigasi proyek Vietnam memasuki tahap akhir.

Laporan final menyatakan tidak ada pelanggaran hukum signifikan. Rekomendasi administratif sudah ditindaklanjuti.

Secara resmi, badai itu mereda.

Saham perusahaan mulai pulih perlahan.

Media pun mulai mengalihkan perhatian ke isu lain.

Namun Alina tahu, ini momen yang tepat.

Bukan saat ia terpojok.

Tapi saat ia kembali stabil.

Ia mengadakan pertemuan tertutup dengan Daniel dan kepala divisi hukum.

Di ruangannya, map transaksi Bima tergeletak di meja.

Daniel membaca dengan wajah serius.

“Jika ini bocor ke media, dia selesai,” katanya.

“Aku tidak ingin bocor,” jawab Alina.

“Kau ingin?”

“Audit resmi internal.”

Daniel menatapnya tajam. “Itu sama saja dengan membuka perang.”

Alina terdiam sesaat.

“Perang sudah dimulai sejak mereka mencoba mencopotku.”

Daniel menghela napas panjang.

“Kau sadar konsekuensinya? Dewan bisa terbelah total.”

“Aku lebih memilih dewan yang terbelah daripada dewan yang munafik.”

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan.

Daniel tersenyum tipis.

“Kau sudah berubah.”

“Mungkin aku hanya berhenti bersabar.”

Sore itu, undangan rapat audit internal resmi dikirim.

Agenda: Evaluasi Transaksi Konsultasi Periode Pra-Merger Aurora.

Nama Bima tercantum sebagai pihak yang akan dimintai klarifikasi.

Tidak butuh waktu lama hingga telepon di meja Alina berdering.

Bima.

Ia mengangkatnya dengan tenang.

“Ada yang bisa saya bantu?” suaranya datar di seberang.

“Kita akan bertemu besok dalam rapat audit,” jawab Alina.

“Rapat itu tidak perlu. Transaksi tersebut sah.”

“Kita akan membahasnya bersama tim hukum.”

Ada jeda.

“Apakah ini bentuk pembalasan?” tanya Bima langsung.

Alina tersenyum tipis, meski ia tahu Bima tak bisa melihatnya.

“Ini bentuk transparansi.”

Ia menutup telepon sebelum percakapan berubah menjadi debat panjang.

Malam itu, Arsen memperhatikannya dari seberang meja makan.

“Kau terlihat tenang.”

“Aku memang tenang.”

“Tapi?”

Alina menyandarkan tubuhnya.

“Bagian tersulit bukan menyerang. Bagian tersulit adalah memastikan aku melakukannya dengan alasan yang benar.”

Arsen mengangguk pelan.

“Dan apa alasanmu?”

“Perusahaan ini tidak boleh dipimpin oleh orang yang bermain dua sisi.”

Arsen menatapnya lembut.

“Dan jika hasil audit tidak cukup kuat?”

“Kalau begitu aku berhenti di sana.”

Itulah perbedaannya.

Ia tidak akan memaksakan cerita.

Ia hanya membuka apa yang memang ada.

Rapat audit berlangsung lebih panas dari yang diperkirakan.

Bima datang dengan pengacara pribadi.

Ia membela setiap transaksi sebagai pembayaran jasa konsultasi strategi.

Namun ketika tim forensik mempresentasikan pola aliran dana ke perusahaan cangkang yang ternyata terhubung dengan kerabat dekatnya

Suasana berubah.

“Ini tuduhan serius,” kata pengacaranya.

“Kami hanya meminta klarifikasi,” jawab kepala divisi hukum tenang.

Alina tidak banyak bicara.

Ia hanya mengamati.

Ekspresi Bima yang mulai kehilangan ketenangan.

Tatapan beberapa anggota dewan yang sebelumnya netral kini tampak ragu.

Permainan mulai bergeser.

Dua hari kemudian, salah satu anggota dewan yang sebelumnya menolak kepemimpinannya meminta pertemuan pribadi.

“Saya tidak tahu soal transaksi itu,” katanya pelan.

Alina mengangguk.

“Sekarang Anda tahu.”

Pria itu terdiam.

“Saya mendukung audit lanjutan.”

Satu per satu, dukungan mulai kembali.

Bukan karena simpati.

Tapi karena fakta.

Malam itu, setelah hari panjang yang melelahkan, Alina berdiri di balkon rumah lagi.

Namun kali ini angin terasa berbeda.

Lebih ringan.

Arsen keluar dan berdiri di sampingnya.

“Bagaimana rasanya menyerang balik?” tanyanya pelan.

Alina memikirkan pertanyaan itu.

“Tidak memuaskan seperti yang orang kira.”

“Tidak?”

“Karena ini bukan tentang menjatuhkan. Ini tentang membersihkan.”

Arsen tersenyum.

“Itulah kenapa kau berbahaya.”

Alina menoleh.

“Berbahaya?”

“Kau tidak bermain untuk menang cepat. Kau bermain untuk bertahan lama.”

Ia tertawa kecil.

“Mungkin.”

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip seperti biasa.

Namun untuk pertama kalinya sejak investigasi dimulai, ia merasa kendali perlahan kembali ke tangannya.

Bima belum resmi jatuh.

Audit lanjutan masih berjalan.

Dewan masih rapuh.

Tapi satu hal kini jelas

Ia bukan lagi bidak yang digeser oleh tekanan.

Ia adalah pemain yang menentukan arah permainan.

Dan jika ada yang masih berpikir ia hanya wanita yang menikah demi uang

Mereka baru saja menyaksikan seberapa jauh ia sanggup melangkah ketika dipaksa memilih antara bertahan… atau menguasai.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!