Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21| Seperti Mimpi
Selepas pulang dari kantor, Ara mampir dulu di sebuah kedai yang menjual kopi kesukaannya. Ia sudah lama tidak menikmati secangkir kopi, apalagi sekarang keadaan di luar sedang hujan lebat. Waktu yang sangat pas untuk duduk termenung dengan secangkir kopi hangat dan menatap ke arah jalanan yang sedang turun hujan. Sangat menenangkan dan nyaman bagi Ara.
“Masih sama,” gumam Ara saat menyesap secangkir kopi yang ia pesan.
Ara tertegun saat melihat bayangan sosok itu lagi, ia melihat tepat di hadapannya. Sosok yang kini tersenyum lebar ke arahnya.
Mata Ara mulai berkaca-kaca saat sosok itu mengusap lembut pipinya. Tak bisa dipungkiri, sangat susah untuk menghilangkannya. Ara mencoba untuk menghilangkan bayangan itu dengan menutup rapat-rapat kedua matanya.
“Kau harus bahagia,” ujar sosok itu sebelum menghilang dari hadapan Ara.
Ara menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya yang sebentar lagi akan pecah. Sekuat tenaga ia menghalau air matanya.
“Ara?” panggil seseorang membuat Ara terkejut, Ara melihat ke samping dan menemukan Jason yang dengan secangkir kopi yang sama dengan dirinya.
“Kau ke sini juga?” tanyanya lagi yang dibalas anggukan oleh Ara.
“Wah, selera kita sama ya?” senyum tampan di wajah Jason mulai mengembang.
“Matamu kenapa memerah? Kau habis menangis?”
Ara mengigit bibir bawahnya, tangisan yang sudah susah-susah ia tahan tidak bisa di halau lagi. Jason langsung menariknya ke dalam pelukannya, Ara mulai menangis tanpa suara, sungguh menyakitkan bila menangis tanpa suara. Tapi, Ara masih ingat di mana tempatnya sekarang.
“Menangislah, bahuku siap untuk sandaranmu,” lirih Jason membuat Ara mengencangkan pelukannya.
Ini sangat menyiksa Ara, ia tidak kuat lagi. Semua kenangan yang ingin ia hapus, nyatanya selalu saja muncul dan membuat dadanya begitu sesak.
“Kau sudah merasa lebih tenang?” tanya lembut Jason dengan tangannya menghapus sisa air mata di wajah Ara.
“Lumayan, terima kasih untuk bahumu,” jawab Ara dengan senyuman tipisnya, bukan senyuman lembut seperti biasanya. Senyuman yang lebih terlihat seperti paksaan itu membuat Jason penasaran.
“Kau bisa menceritakan masalahmu kepadaku, kalau kau tidak keberatan dan mungkin saja aku bisa membantumu,” ujar Jason membuat Ara meremang, ia sangat ingin menceritakan sosok itu. Tapi, lidahnya terasa kelu untuk menyebut nama yang begitu susah untuk dihilangkan itu.
“Kalau kau tidak mau tidak apa, mungkin kau masih belum mempercayaiku sebagai suamimu,” lanjut Jason sambil menyesap kopi di cangkirnya.
Ara melihat bagaimana cara Jason menikmati kopinya.
“Aku akan menceritakan tentang masa laluku kepadamu,” ucap Ara dengan suara lirihnya.
“Tidak apa, jika kau tidak ingin bercerita. Aku akan menunggunya sampai kau benar-benar siap untuk bercerita,” balas Jason dengan senyum kecilnya.
Ara menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku akan menceritakannya sekarang!” seru Ara yang kini merubah posisi duduknya kembali melihat ke arah hujan yang semakin lebat. Jason juga merubah posisinya seperti Ara.
Cukup lama mereka saling diam dan menatap ke arah jalanan yang di guyur hujan, Ara tersenyum pedih dan langsung menghapus kasar air matanya yang kembali keluar.
Jason melihatnya, tapi ia hanya terdiam menunggu Ara sedikit tenang. Terlihat jelas di mata Ara kalau ia sedang menahan sesuatu dan terlihat tersiksa.
“Sudah! Jangan dipaksa,” Jason tidak tega melihatnya.
“Dulu ada seseorang yang sangat aku cintai, lelaki hebat dengan segala kemampuan yang dia miliki membuatnya selalu di puja-puja oleh semua orang. Kami tidak pernah sekelas waktu di bangku sekolah, tapi aku selalu memperhatikannya dari tempatku. Aku tidak tahu apakah dia mengetahuinya atau tidak, yang pasti memperhatikannya setiap saat itu adalah kebiasaanku di waktu jam istirahat. Entah Tuhan merencanakan apa? Saat itu kami tidak sengaja bertabrakan di koridor sekolah dan membuat buku yang aku bawa terjatuh berserakan di lantai,” Ara menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
Jason masih setia mendengarkannya, ia tidak berani untuk memotongnya.
“Dia selalu mengucapkan kata maaf sambil mengambil kembali buku-buku itu, setelah selesai dia kembali memberikan buku-buku itu kepadaku. Pandangan kami sempat bertemu beberapa detik sampai dia mengalihkan pandangannya, karena merasa canggung, dia langsung pergi dari hadapanku setelah kembali mengucapkan kata maaf. Aku hanya bisa tersenyum melihat punggungnya yang mulai menjauh itu. Keesokan harinya, motorku tiba-tiba mogok dan lima menit lagi gerbang sekolah akan di kunci. Rasanya aku ingin menangis, tapi tiba-tiba dia menghentikan motornya di dekatku. Dia mengajakku untuk berangkat bersama, tanpa berpikir panjang aku langsung naik ke motornya dan berangkat ke sekolah bersamanya,” Ara menghapus air matanya yang kembali keluar.
“Mulai saat itu kami menjadi dekat, hingga satu bulan lamanya kita sering menghabiskan waktu bersama. Dia mulai menyatakan perasaannya kepadaku dan dia menyadari setiap kali aku memperhatikannya. Dia juga sering memperhatikanku, tapi aku tidak pernah menyadarinya,” kekeh Ara dengan air mata yang terus mengalir, Jason meberikan sapu tangan miliknya kepada sang istri.
“Karena, kami sama-sama sudah menyimpan rasa mulai dari lama. Kami akhirnya menjalin sebuah hubungan, dia adalah lelaki pertama yang menjadi kekasihku begitu pun sebaliknya. Hubungan kami memang tidak selalu berjalan dengan baik, ada saja perdebatan di antara kami. Tapi, setelah kami saling meminta maaf satu sama lain. Sehingga hubungan kita begitu awet dan sudah banyak kenangan indah yang kami buat sehingga sukar untuk dilupakan,” Ara menyesap kopinya dan menghembuskan napas kasar.
“Hubungan kami berjalan selama satu tahun lebih, kami sama-sama lulus dengan nilai terbaik di sekolah dan kami juga di terima di universitas ternama yang sering diimpikan banyak orang. Kami berdua sudah berjanji akan selalu menjaga hubungan ini sampai ke jenjang yang serius setelah kami berdua sama-sama memiliki gelar dan mapan, sampai suatu ketika kejadian yang tidak pernah terpikirkan olehku menimpanya. Dia mengalami kecelakan dan jatuh ke jurang, karena menabrak pembatas jembatan dengan mobilnya, kecelakaan yang membuatnya pergi jauh dariku. Sampai saat ini pun, sangat susah untuk menghilangkan semua kenangan tentangnya dan saat mengingat kenangan kami, aku merasa sesak dan sakit,” jelas Ara sambil menundukkan kepalanya.
“Itu sudah masa lalu dan sekarang kau sudah menjadi milikku, aku harap kau bisa melupakan sosok itu dan mulai membayangkan sosok diriku yang berada di depanmu,” ujar Jason.
“Aku memang ingin melupakannya,” jujur Ara.
“Apa kau ingin menghilangkan kenangan itu dan membuat kenangan baru denganku?” tanya Jason sambil menggenggam tangan dingin Ara.
“Aku mau dan aku harap ini bukan seperti mimpi, tolong bantu aku,” jawab Ara membuat Jungkook tersenyum lebar.
“Aku akan membuat itu menjadi nyata, Ara. Kau pasti akan melupakan sosok itu dan menggantinya dengan diriku, bahkan hatimu,” jelas Jason.
“Jason, kenapa kau berbicara seperti itu kepadanya?” tanya marah seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Jason.
Ara dan Jason melihat sosok Heori dengan wajah marahnya, karena tidak suka dengan kedekatan mereka.
“Heori! Mulai saat ini aku tegaskan! Kita sudah putus dan Ara adalah istriku! Kau tidak bisa menemuiku lagi! Hubungan kita cukup sampai di sini, ayo, sayang!” Jason menarik Ara keluar dari kedai setelah hujan berhenti.
Heori mengepalkan tangannya dan menatap tajam Ara.
“Lihat saja dengan apa yang ku lakukan!”
Bersambung...