NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Rumah yang Tak Pernah Kosong

Mobil berhenti perlahan di depan gerbang besi tinggi yang sudah berkarat.

Rumah lama keluarga Wijaya berdiri megah namun sunyi, dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat suasana semakin gelap meski lampu jalan menyala.

Aluna menatap bangunan itu dengan perasaan tak nyaman.

“Jadi ini rumahmu dulu?”

Arkan tidak langsung menjawab.

“Rumah orangtuaku,” katanya pelan. “Aku pindah setelah ibu meninggal.”

“Dan ayahmu?”

“Setahun setelahnya… kecelakaan.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Gerbang terbuka perlahan setelah Arkan memasukkan kode lama yang masih ia hafal.

“Aku ikut,” kata Aluna tegas saat Arkan mematikan mesin mobil.

“Kita sudah membicarakan ini,” jawabnya singkat.

“Aku tidak akan tinggal di mobil sendirian.”

Tatapan mereka bertemu dalam gelap.

Beberapa detik kemudian Arkan menghela napas.

“Jangan jauh dariku.”

Mereka melangkah ke dalam rumah yang dipenuhi aroma kayu tua dan debu tipis.

Lampu utama menyala ketika Arkan menekan saklar.

Ruang tamu luas itu masih tertata rapi, seolah tak pernah ditinggalkan.

Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Ada jejak kaki di lantai marmer yang sedikit berdebu.

“Seseorang sudah datang sebelum kita,” bisik Aluna.

Arkan mengangguk tipis.

Ponselnya bergetar.

Pesan baru.

‘Ruang kerja.’

Arkan langsung melangkah ke lorong panjang menuju ruangan paling ujung.

Pintu kayu gelap itu masih sama seperti yang ia ingat.

Ia membukanya perlahan.

Ruangan itu dipenuhi rak buku tinggi dan meja kerja besar yang dulu sering ditempati ayahnya.

Dan di kursi itu—

Seseorang duduk membelakangi mereka.

Jantung Aluna terasa berhenti.

Pria itu perlahan berputar.

Bukan ayah Arkan.

Namun kemiripan wajahnya membuat napas Arkan tertahan.

“Paman Surya,” gumam Arkan.

Pria itu tersenyum tipis.

“Sudah lama, Arkan.”

Aluna menatap Arkan dengan bingung.

“Kau mengenalnya?”

“Adik ayahku,” jawab Arkan pelan. “Yang pergi ke luar negeri lima tahun lalu.”

Paman Surya berdiri perlahan.

“Aku tidak pergi. Aku disingkirkan.”

Udara terasa semakin berat.

“Maksudmu?” tanya Arkan.

Surya berjalan mengitari meja.

“Proyek Sentral Park… itu bukan sekadar proyek. Itu titik awal perpecahan keluarga kita.”

Aluna merasakan jantungnya kembali berdebar.

“Kenapa Anda menghubungi kami dengan cara seperti ini?” tanyanya hati-hati.

Surya menatapnya sekilas.

“Kau pasti Aluna.”

Aluna mengangguk.

“Putri kontraktor kecil yang terlalu jujur,” lanjutnya.

Nada itu membuat Aluna merinding.

“Kenapa Ayah saya ada di lokasi proyek malam itu?” tanyanya langsung.

Surya tersenyum tipis.

“Karena dia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.”

Arkan melangkah maju.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Surya menatapnya lama sebelum menjawab.

“Ayahmu memindahkan dana proyek ke perusahaan cangkang.”

Arkan langsung menggeleng.

“Itu tidak mungkin.”

“Itu yang kau percaya,” jawab Surya tenang. “Tapi ada transfer tambahan yang tidak pernah dilaporkan.”

“Kevin yang melakukannya,” potong Arkan cepat.

Surya tertawa kecil.

“Kevin hanya pion.”

Kata itu menggema di ruangan.

“Lalu siapa dalangnya?” tanya Aluna.

Surya menatap Arkan dalam.

“Orang yang memiliki akses tertinggi dan paling sedikit dicurigai.”

Arkan membeku.

“Ayahku sudah meninggal.”

“Benarkah?” suara Surya menurun. “Atau itu yang ingin kalian percaya?”

Dunia terasa runtuh seketika.

“Apa maksudmu?” bisik Arkan.

Surya mengeluarkan sebuah map dari laci meja.

Ia melemparkannya ke atas meja.

“Laporan medis kecelakaan.”

Arkan membukanya dengan tangan sedikit gemetar.

Di sana tertulis detail yang belum pernah ia baca sebelumnya.

Kecelakaan mobil.

Rem blong.

Namun ada catatan kecil yang membuat darahnya terasa dingin.

Sistem rem menunjukkan tanda manipulasi.

“Ini tidak pernah dipublikasikan,” gumam Arkan.

“Tentu saja tidak,” jawab Surya. “Karena ayahmu tidak ingin kebenaran keluar.”

“Kenapa?” suara Arkan mulai bergetar, bukan karena takut—melainkan marah.

“Karena jika penyelidikan berlanjut, transfer dana ilegal itu akan terungkap. Dan nama keluarga kita hancur.”

Aluna merasa dunia berputar.

“Jadi Ayah Arkan…?”

“Bukan pelaku tunggal,” potong Surya. “Tapi ia tahu.”

Keheningan membeku di antara mereka.

“Dan Ayahku?” suara Aluna pelan namun tegas.

Surya menatapnya.

“Ayahmu mencoba melapor.”

Jantung Aluna mencelos.

“Ke siapa?”

“Ke ibunya Arkan.”

Arkan terangkat kepalanya.

“Ibu?”

Surya mengangguk.

“Dia ingin membongkar semuanya. Tapi sebelum sempat—kecelakaan itu terjadi.”

Aluna memandang Arkan.

Mereka kini berdiri di tengah pusaran rahasia yang jauh lebih gelap dari yang mereka bayangkan.

“Tapi kenapa sekarang?” tanya Arkan. “Kenapa Paman baru muncul sekarang?”

Surya tersenyum tipis.

“Karena sekarang kau sudah cukup kuat untuk melawan.”

“Kuat melawan siapa?”

Jawaban Surya terhenti ketika suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Semua menoleh.

Kevin berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tidak lagi setenang biasanya.

“Pak… saya tahu Anda akan datang ke sini.”

Arkan menatapnya tajam.

“Kau mengikuti kami?”

Kevin melangkah masuk perlahan.

“Saya hanya memastikan keselamatan Anda.”

Surya tertawa pelan.

“Masih setia pada keluarga Wijaya, ya?”

Kevin menoleh tajam padanya.

“Jangan bermain api, Pak Surya.”

Aluna merasakan sesuatu yang salah.

“Jadi kamu tahu dia di sini?” tanyanya pada Kevin.

Kevin terdiam sesaat.

Lalu ia berkata pelan, “Saya tahu banyak hal, Nyonya.”

Arkan melangkah maju.

“Cukup. Siapa sebenarnya yang mengatur semua ini?”

Kevin dan Surya saling berpandangan.

Ketegangan di ruangan itu hampir bisa disentuh.

Akhirnya Surya berbicara.

“Arkan, pernahkah kau bertanya kenapa ayahmu begitu cepat menekan kasus proyek itu?”

“Karena reputasi perusahaan.”

“Bukan. Karena ada seseorang yang mengancamnya.”

“Siapa?”

Surya menunjuk ke arah Kevin.

“Dia.”

Aluna membeku.

Arkan menoleh perlahan.

Kevin tidak lagi tersenyum.

“Pak Surya sudah terlalu lama menyimpan kebencian,” katanya tenang.

“Kebencian?” Surya tertawa pahit. “Atau kebenaran?”

Arkan merasakan dadanya sesak.

“Kevin. Jawab aku.”

Beberapa detik hening.

Lalu Kevin menghela napas panjang.

“Benar. Saya yang memindahkan dana.”

Aluna menutup mulutnya.

“Tapi bukan untuk saya.”

“Untuk siapa?” suara Arkan nyaris menggeram.

Kevin menatapnya dalam.

“Untuk melindungi Anda.”

Keheningan menghantam ruangan.

“Apa maksudmu?” tanya Arkan.

Kevin melangkah lebih dekat.

“Lima tahun lalu, ada penyelidikan besar terhadap perusahaan Anda. Investor asing menemukan indikasi manipulasi pajak. Jika proyek Sentral Park gagal, perusahaan bisa runtuh.”

“Jadi kau mencuri dana?” Aluna tak bisa menahan diri.

“Saya mengalihkan dana untuk menutup lubang keuangan sementara,” jawab Kevin tegas. “Dan mengembalikannya melalui jalur lain.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?” suara Arkan bergetar marah.

“Saya tidak punya pilihan.”

Surya menggeleng.

“Dan ketika ayah Aluna menemukan itu?”

Kevin terdiam.

Arkan merasa dunia kembali goyah.

“Kau mengancamnya?”

“Saya hanya memperingatkannya.”

“Dan kecelakaan?” bisik Arkan.

Kevin mengangkat pandangannya.

“Saya tidak pernah menyentuh rem mobil ayah Anda.”

Jawaban itu tidak menenangkan.

Karena artinya—ada orang lain.

Tiba-tiba lampu ruangan padam.

Kegelapan menyelimuti mereka.

Suara pecahan kaca terdengar dari ruang tamu.

Seseorang masuk.

Beberapa detik kemudian lampu darurat menyala redup.

Di ambang pintu berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu.

Wajahnya setengah tertutup bayangan.

Arkan membeku.

Karena wajah itu…

Sangat ia kenal.

“Ayah…?”

Suara itu hampir tak terdengar.

Pria itu tersenyum tipis.

“Sudah waktunya kau tahu kebenarannya, Arkan.”

Aluna merasakan tubuhnya melemas.

Karena pria itu—

Sangat mirip dengan foto terakhir yang ia lihat di berita kematian dua tahun lalu.

Dan jika itu benar…

Maka semua yang mereka percaya tentang masa lalu—

Adalah kebohongan.

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!