NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Selesai membeli pakaian, Sasa kini bersama Kania melangkah bersama untuk pergi dari toko pakaian itu.

Kania yang melangkah di samping Sasa berkata, "Sa, kita ke restoran dulu ya, kita makan-makan, tenang aku yang bayarin."

"Sebenarnya malas sih, tapi ya sudahlah ayo, kita makan dulu," jawab Sasa sambil mengalihkan tatapan ke Kania.

Mereka pun kini menuruni eskalator untuk turun ke lantai bawah dan pergi keluar mal.

Sementara itu, Arif bersama Abdul dan Laras sedang melangkah keluar dari kafe. Saat langkah Arif terhenti di depan kafe, dia berbicara, "Laras, kamu bawa mobil atau gimana?" Tanya Arif dengan tatapan lekat ke arahnya.

"Gue duluan ya, Rif," Abdul sambil tersenyum, dia pun melangkah pergi menuju ke parkiran.

"Oke," jawab Arif dengan tatapan ke arah Abdul, lalu mengalihkan ke Laras yang berbicara, "Aku tadi naik taksi sih."

"Ya sudah kalau begitu aku anterin pulang ya," Arif sambil tersenyum.

"Jangan deh, biar aku naik taksi lagi saja, lagian aku enggak mau merepotkan kamu,"

"Jangan, biar besok masuk sekolah aku bisa jemput kamu," Arif langsung menarik tangan Laras, dia pun membawanya ke parkiran.

Di depan mobil Ferrari, langkahnya terhenti. Laras memperhatikan mobil itu. Laras pun berbicara, "Ini mobilmu?" tanya Laras sambil memperhatikan Arif yang membuka pintu mobilnya.

"Iya, ini mobil aku, ayo naik," Arif langsung membuka pintu, dan berlalu masuk.

Dari dalam, Arif memperhatikan Laras yang sedang memutar dan duduk bersampingan di kursi depan bersamanya.

Arif pun mulai melajukan kendaraan itu, untuk mengantar Laras pulang. Laras yang duduk dia sesekali memperhatikan Arif.

"Rif," panggil Laras.

"Kenapa?" jawab Arif sesekali melihat ke arah Laras.

"Kamu beneran enggak punya pacar?"

"Sebenarnya sih, pernah pacaran, cuma di-ghosting gitu, sampai akhirnya enggak pernah lagi dekat-dekat sama cewek."

"Aku enggak percaya, kamu di-ghosting, tapi aku yang curiga kamu yang nge-ghosting."

"Beneran tahu, jadi satu tahun yang lalu, aku punya pacar, waktu itu sih, enggak ada sama sekali masalah, cuma enggak tahu kenapa, dia sering menghindar, aku juga enggak tahu sikapnya kenapa, tapi waktu ketemu terakhir di restoran, dia langsung minta buat putus."

"Kok bisa gitu sih, Rif?"

Arif menghela napas kasar, lalu berbicara, "Jadi selama aku pacaran, dia sudah punya pasangan," Arif menatap ke arah Laras.

"Sabar ya, jadikan pelajaran, jangan terlalu memikirkan, semua orang mempunyai sikap berbeda-beda, aku yakin nanti pasti ketemu sama yang lebih baik," Laras sambil tersenyum.

"Eumm, iya aku coba untuk melupakan, oh iya jadi lupa arahnya kemana ke rumah kamu," tanya Arif.

"Bentar lagi kok Rif, nanti di depan belok ya,"

"Oke oke," Arif sambil melajukan kendaraannya, dan fokus ke depan.

Saat kendaraan itu melaju lurus, kini membelokkannya masuk ke perumahan elit.

Arif kembali fokus ke jalanan, dia yang memfokuskan untuk mengemudi, Laras yang memperhatikan jalan dia mulai berbicara,

"Rif, berhenti di depan ya," Laras sambil menatap ke arahnya.

Arif mengangguk, sampai di depan rumah mewah dan besar Arif memberhentikan kendaraannya di pinggir gerbang halaman rumah.

"Ini rumah kamu?" tanya Arif sambil memperhatikan ke arah rumah itu.

"Iya, kamu mau mampir dulu, di rumah cuma ada bibi kok," Laras sambil tersenyum menatap Arif, lalu dia pun membuka pintu dan berlalu keluar.

Arif terdiam, berpikir sesaat, sedangkan Laras sedang membuka gerbang, lalu Laras berbicara, "Ayo, masukin mobil kamu ke dalam," ucap Laras dari luar mobil menatap ke kaca depan.

Arif mengangguk, dia memundurkan kendaraannya, lalu memasukkannya ke halaman rumah.

Arif mulai mematikan kendaraannya, dia pun turun dari kendaraan, Laras yang melangkah mendekat ke arah Arif dia langsung mengajak, "Ayo Rif, kita masuk ke dalam rumah," ucap Laras, sambil menatap Arif.

"Ayo," jawab Arif, sambil menatap ke sekitaran rumah itu, Arif pun kembali berbicara, "Besar banget rumah kamu," tanya Arif.

"Lumayan sih, aku juga enggak nyangka mamah pindah ke sini, soalnya besar banget rumahnya," jawab Laras, yang membuka pintu dan berlalu masuk, lalu dia pun berteriak, "Bi, Bibi," Laras dengan keras.

Laras melangkah dan duduk di kursi sofa, tatapannya tak lepas memperhatikan Arif yang melangkah melihat sekitaran ruangan tamu.

Arif duduk, di kursi sofa sambil berkata, "Bersih banget ruangannya, tapi kayak sepi banget sih," tanyanya.

"Iya sih, soalnya pada sibuk," jawab Laras sambil menatap ke arah Arif.

Dari arah ruangan, seorang wanita melangkah hingga terhenti di depan meja, sambil berbicara, "Iya, Mba Laras, ada yang mau bibi bantu?" tanyanya.

"Bibi, buatin dua teh hangat, ya," ucap Laras menatap ke arah Bu Ani.

"Baik Mba Laras, ngomong-ngomong sama siapa?" tanya Bu Ani, sambil tersenyum memperhatikan Arif.

"Ih kepo, ini Arif teman sekolah aku," Laras sambil menatap Bu Ani.

"Bukannya Mba Laras baru mau masuk sekolah, ya, kok sudah punya teman saja, teman apa pacar, Mba?" tanya Bu Ani sambil tersenyum.

"IHH bibi, kepo banget sih, sudah bi buatin dulu minumnya," Laras sambil menahan senyum.

"Iya Mba, ya sudah, bibi bikin dulu minum," jawabnya, lalu melangkah pergi untuk membuatkan teh hangat.

"Maaf ya Rif, suka kepo bibi tuh," ucap Laras sambil tersenyum menatapnya ke arahnya.

"Enggak apa-apa kok, Laras, aku boleh minta nomor telepon kamu?"

"Boleh, bentar ya," Laras mengambil telepon genggamnya di dalam saku, lalu dia pun menyalakan untuk menampilkan nomor di telepon genggamnya.

Sampai nomor tertera di layar handphonenya, dia langsung menaruh di atas meja dengan layar menyala,

"Ini nomor aku Rif," Laras sambil menatapnya.

"Aku catat ya," Arif lalu mencatat nomor Laras di telepon genggamnya, sampai nomor itu selesai dicatat, dia pun mencoba mengirim pesan,

Teing...

Telepon genggam Laras berbunyi dan menampilkan notifikasi, Arif pun sambil tersenyum dia berbicara, "Itu nomor aku, yang barusan nge-chat kamu simpan ya," ucapnya sambil memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku.

Laras mengambil telepon genggam yang berada di atas meja itu, dia pun melihat notifikasi dan menyimpan nomor Arif.

Sedangkan Bu Ani, dia melangkah membawakan dua gelas teh hangat, di depan meja dia pun menaruhnya sambil berbicara, "Mba, tehnya."

"Iya Bibi, Bi mama belum pulang kah?" tanya Laras.

"Belum sih, Mbak, Memang kenapa?" jawab Bu Ani sambil menatapnya.

"Enggak ada apa-apa sih," Laras sambil memperhatikannya, lalu kembali berbicara, "Bibi kenapa masih diam di situ?"

"Kan lagi ngobrol sama Mba Laras, ya udah kalau gitu bibi mau ke belakang dulu, Bang Arif jangan sakiti Mba Laras ya, soalnya suka," Bu Ani sambil mengalihkan tatapannya ke Arif.

"Iya Bi, enggak kok," Arif sambil tersenyum menatap ke Bu Ani.

"Ih apalah bibi nih, sudah bibi sana," Laras dengan tatapan lekat ke arahnya.

"Hehe, ya sudah Mba," Bu Ani melangkah pergi.

Arif memperhatikan Bu Ani yang berlalu pergi lalu mengalihkan ke arah Laras, Arif berbicara, "Aneh banget bibi kamu Laras."

"Hehe, maaf ya," Laras sambil tersenyum tipis.

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!