Kalandra Wiranata adalah seorang Petugas Pemadam Kebakaran yang bertugas di sebuah Kota kecil.
Kota tempat tinggalnya itu terletak cukup strategis karena tepat berada di tengah - tengah dari lima Kabupaten di Provinsi itu.
Karena tempatnya yang strategis, Timnya kerap kali di perbantukan di luar dari Kotanya.
Timnya, bukan hanya sekedar rekan kerja. Mereka sudah seperti keluarga kedua yang di miliki oleh Kalandra.
Karna sebuah kejadian, Kalandra pun di pertemukan dengan seorang wanita yang ternyata merupakan jodohnya.
Selain perjalanan karir dan cinta, ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap setelah selama ini selalu membuatnya penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Mata Indah
Hawa dingin malam itu, terasa begitu menusuk. Naina yang sudah berbalut jaket dan emergency blanket, masih saja menggigil karena kedinginan.
Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Kalandra yang Ia sandari. Kalandra sendiri tak bisa berbuat banyak, api unggun yang nyalanya tak lagi besar, memang tak banyak membantu.
Kalandra berusaha mencari ranting di sekitarnya duduk agar tak membangunkan Naina yang terlelap. Ia melemparkan satu per satu ranting yang ia dapatkan ke dalam api, berharap api itu akan sedikit membesar.
"Dingin..." Lirih Naina. Gadis itu tiba - tiba memeluk tubuh Kalandra dan bersandar di dada pria itu.
"Astaghfirullah, anak ini." Lirih Kalandra sambil geleng - geleng kepala. Ia pun menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di batang pohon besar yang ada tepat di belakangnya.
"Dingin..." Lirih Naina lagi. Kalandra yang hendak terpejam pun kembali terjaga.
"Padahal sudah pakai jaket dan emergency blanket. Emergency blanket juga cuma tinggal satu itu." Batin Kalandra.
"Dingin..." Suara yang seperti gumaman itu, kembali terdengar. Bibir dan tubuh gadis itu pun mulai kembali bergetar. Naina menggigil lagi, entah apa sebabnya. Menurut Kalandra suhu di sekitar mereka tidaklah sedingin di puncak gunung.
"Nai... Naina..." Panggil Kalandra sambil menepuk pelan pipi Naina.
"Dingin banget, Bang." Jawab Naina yang sepertinya masih dalam kondisi sadar.
"Memangnya Abang gak kedinginan?" Tanya Naina kemudian.
"Maaf ya. Bang, aku peluk Abang." Lirihnya lagi.
"Hm, tidurlah lagi." Kata Kalandra.
Dengan ragu, Kalandra melingkarkan tangannya di tubuh Naina. Pada akhirnya, Kalandra mendekap erat gadis yang memeluk tubuhnya dengan erat itu.
Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah - celah dedaunan, membuat Kalandra mengerjapkan matanya. Ia kemudian melihat ke arah gadis yang nampak nyaman dalam pelukannya.
Entah kapan Naina berhenti menggigil karena Kalandra pun tertidur tak lama setelah mendekap erat tubuh Naina.
Kalandra melihat matahari yang mulai meninggi. Ia juga mengamati sekitarnya yang begitu sunyi.
"Untung gak ada hewan yang mengganggu." Lirih Kalandra.
"Kenapa mereka gak cari aku, ya?" Batin Kalandra.
"Nai... Naina..." Kalandra membangunkan gadis di pelukannya.
Perlahan, Naina mengerjapkan matanya.
"Iya, Bang." Jawabnya. Ia segera melepaskan pelukannya pada Kalandra saat wajah mereka begitu dekat.
"Maaf, Bang." Lirihnya sambil menunduk.
"Hm. Semalaman kamu menggigil." Kata Kalandra.
"Kita lanjut jalan, ya. Sudah siang." Ajak Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
Mereka berdua segera membereskan tempat menginap mereka malam itu dan langsung melanjutkan perjalanan.
"Makan ini, Nai." Kata Kalandra sambil memberikan daun yang ia temukan.
"Ini? Bisa di makan, Bang?" Tanya Naina yang tak percaya begitu saja.
"Enak. Makanlah." Kata Kalandra sambil memakan daun yang sama.
Walaupun ragu, Naina akhirnya memakan daun itu. Meski sedikit aneh, namun daun itu masih bisa di nikmati. Mereka terus melanjutkan perjalanan sembari melahap buah ataupun daun yang mereka temukan di perjalanan karena stok makanan yang di bawa Kalandra sudah habis.
"Boleh istirahat dulu, Bang? Aku lemes banget." Kata Naina.
"Tinggal sedikit lagi, Nai." Jawab Kalandra.
"Tapi aku gak kuat." Lirihnya.
Kalandra menghela nafas. Ia lalu berbalik dan menghampiri Naina yang sedang berjongkok. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat dingin. Kalandra kemudian memindahkan ranselnya ke bagian depan.
"Ayo aku gendong." Kata Kalandra.
"Memangnya Abang masih kuat? Abang aja belum makan." Kata Naina.
"Memangnya daun dan buah tadi bukan makanan?" Kekeh Kalandra.
"Camilan! Itu juga lebih banyak Abang kasihkan ke aku." Jawab Naina.
"Tenang aja. Memang begitu tugas tim SAR, kami mengutamakan korban." Ujar Kalandra yang kemudian memasang punggungnya di depan Naina.
"Ini beneran, Bang?" Tanya Naina lagi.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau gak mau, aku tinggal." Kata Kalandra.
"Satu-"
Hap! Naina langsung melompat ke punggung Kalandra. Kalandra hanya bisa tersenyum sambil geleng - geleng kepala.
"Kamu demam, Nai? Pantas kok pucat." Kata Kalandra ketika Naina menyandarkan kepalanya di bahu Kalandra.
"Iya, Bang. Kepalaku sakit." Jawab Naina.
"Pegangan, Nai." Titah Kalandra yang membuat Naina langsung memeluk leher Kalandra.
Dengan langkah lebarnya, Kalandra menembus jalanan yang sudah ia kenali. Setelah setengah jam berjalan, ia akhirnya berpapasan dengan anggota SAR lain.
"Kalandra! Kal!" Seru rekannya ketika melihat Kalandra turun sambil menggendong Naina.
Empat orang rekan Kalandra itu langsung menghampiri Kalandra yang menghilang dari sejak kemarin sore.
"Kamu kemana aja, Kal! Astaga..." Komentar salah seorang dari mereka.
"Jemput dia." Jawab Kalandra sambil tersenyum.
"Kita tandu saja." Sahut rekan lain yang kebetulan memang membawa tandu.
Naina pun di pindahkan ke atas tandu dan di tandu oleh empat orang rekan Kalandra. Sementara Kalandra, berjalan di belakang mereka sambil terus mengawasi Naina yang wajahnya tampak semakin pucat.
"Nai, masih kuat?" Tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh Naina.
"Abang ada bawa makanan?" Tanya Naina pada keempat rekan Kalandra.
"Ada. Kamu mau makan?" Jawab salah satu rekan Kalandra.
"Bukan buat aku. Tapi buat Bang Kalandra. Dia belum makan dari semalam. Semua bekal dia, dia berikan ke aku." Kata Naina.
"Nanti saja gak apa - apa. Aku bisa makan di POS Operasi." Sahut Kalandra yang membuat keempat rekannya senyum - senyum sendiri.
Kedatangan Kalandra bersama Naina dan keempat anggota SAR lain, di sambut sedikit riuh di POS Utama. Tentu karena Kalandra yang menghilang tanpa jejak sejak kemarin sore.
"Bang! Bang Kal!" Seru Edwin. Pria itu berlari dan langsung memeluk Kalandra.
"Alhamdulillah. Akhirnya pulang juga." Kata Edwin yang benar - benar merasa lega.
"Aku khawatir banget. Nungguin Bang Kal semalaman. Katanya bakal nyusul, tapi kok gak dateng - dateng." Imbuh Edwin yang membuat Kalandra terkekeh.
"Abang gak apa - apa, kan?" Tanya Edwin kemudian.
"Aman. Aku gak apa - apa." Jawab Kalandra sambil menepuk - nepuk bahu Edwin.
"Ini yang Abang cari?" Tanya Edwin saat melihat Naina yang sedang berbaring di atas bed darurat dan mendapatkan perawatan dari pihak medis.
"Iya. Alhamdulillah dia selamat." Jawab Kalandra.
"Abang nyarinya kemana? Kata temen - temen, pasti nyasar ke Desa Ghoib." Bisik Edwin yang hanya di jawab senyuman oleh Kalandra.
"Yang penting sekarang kami pulang dengan selamat." Kata Kalandra.
"Gimana korban lain?" Tanya Kalandra kemudian.
"Tinggal satu korban yang masih di jemput di atas. Tim menemukannya dalam kondisi hidup tetapi mengalami dehidrasi parah dan hipotermia. Jadi lima orang korban di temukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara tiga korban lain di temukan selamat." Jelas Edwin yang di jawab anggukan mengerti oleh Kalandra.
Setelah mengobrol sebentar, Kalandra pun beristirahat di sebuah kursi yang ada di sebelah Bed Naina.
"Abang gak makan?" Tanya Naina dengan suara lirih.
"Nanti saja, aku belum lapar." Jawab Kalandra sambil menoleh ke arah Naina.
"Kamu mau makan?" Tawar Kalandra yang di jawab gelengan oleh Naina.
"Terima kasih ya, Bang. Kalau gak ada Abang, mungkin aku gak akan kembali ke sini." Ucap Naina.
Kalandra pun mengangguk. Sejenak, keduanya saling bertatapan. Mata bulat yang indah milik Naina, entah mengapa rasanya sulit bagi Kal untuk mengalihkan pandangan dari mata indah itu.
yg crita stunya ko serem sih thor..
doble up donk