Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Di dalam dekapan hangat Fharell, Paroline merasa seluruh beban yang ia pikul selama ini meluruh. Rahasia yang menyesakkan dada itu kini terbagi, dan pria di hadapannya tidak memandangnya dengan kehinaan, melainkan dengan kekaguman yang lebih dalam.
Paroline menyandarkan kepalanya di ceruk leher Fharell, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan sisa gairah mereka. "Fharell... ada satu hal lagi yang harus kau tahu," bisik Paro pelan.
Fharell mengusap punggung polos Paroline dengan ritme yang menenangkan. "Apa itu, Sayang?"
"Usia Andreas... dia belum genap dua tahun. Aku memalsukan datanya di kampus dan di lingkungan kita agar rentang waktunya tidak terlalu dekat dengan saat Sania menghilang. Aku ingin mengaburkan jejaknya dari siapa pun yang mungkin menyelidiki hubungan Sania dan keluarga Smith," Paro menarik napas panjang. "Sunny sebenarnya baru berusia satu tahun lima bulan."
Fharell tertegun sejenak. Matanya membulat kecil sebelum akhirnya ia tersenyum tipis. "Jadi, jagoan kecil itu bahkan lebih muda dari yang kukira? Pantas saja dia sangat manja padaku." Fharell mengeratkan pelukannya. "Paro, dengarkan aku. Aku tidak peduli dia anak siapa, atau berapa usianya. Aku mencintaimu, dan aku mencintai Andreas. Terima kasih sudah mempercayakan rahasia hidupmu padaku."
Keheningan malam kembali menyelimuti mereka, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan aliran listrik yang kembali memercik. Paroline menatap wajah Fharell, pria yang baru saja mengambil miliknya yang paling berharga dengan cara yang sangat emosional.
Rasa sakit fisik tadi mulai tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar. Paroline merasa bebas. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi rasa takut akan pengalaman yang sebenarnya tidak pernah ia miliki. Ia menatap bibir Fharell, lalu perlahan tangannya merambat naik ke leher pria itu.
"Rell..." bisik Paroline, suaranya serak namun penuh godaan. "Tadi... kau melakukannya karena emosi. Sekarang, lakukanlah karena kau mencintaiku. Pelan-pelan."
Fharell menaikkan sebelah alisnya, sebuah senyum jahil muncul di sudut bibirnya. "Kau yakin? Tadi kau bilang kau muak dengan bocah sepertiku, ingat?"
Paroline merona hebat, ia menyembunyikan wajahnya di dada Fharell. "Diamlah... aku hanya sedang kacau tadi."
"Oh, jadi sekarang Nyonya Benedicta yang terhormat sedang memohon pada berondong ini?" goda Fharell lagi. Ia memposisikan dirinya di atas Paroline, menopang tubuhnya dengan kedua tangan agar tidak memberatkan kekasihnya. "Baiklah. Karena ini permintaan pertama dari perawan tercantik di Los Angeles, aku akan melayani dengan sepenuh hati."
Kali ini, tidak ada kekasaran. Fharell memulai segalanya dengan sangat lembut, seolah Paroline adalah porselen langka yang bisa retak jika disentuh terlalu kuat. Ia mencumbui setiap inci kulit Paroline, memberikan waktu bagi tubuh wanita itu untuk benar-benar menerima kehadirannya.
"Sakit?" tanya Fharell lembut saat ia mulai bergerak kembali.
Paroline menggeleng pelan, meski matanya terpejam rapat dengan tangan yang mencengkeram bahu tegap Fharell. "Tidak... kali ini terasa... berbeda."
Fharell tersenyum, ia menunduk untuk mencium bibir Paroline, memindahkan napasnya ke dalam mulut wanita itu. Penyatuan kali ini terasa jauh lebih sakral. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu liar yang palsu, yang ada hanyalah kejujuran antara dua orang yang saling memiliki. Fharell memperlakukan Paroline dengan sangat hati-hati, memastikan setiap gerakannya membawa kenyamanan dan kenikmatan yang membuat Paroline melupakan segalanya.
Hingga akhirnya, mereka mencapai puncak bersama-sama di bawah guyuran hujan yang kian menderu di luar sana. Sebuah pelepasan yang membuat keduanya jatuh terkulai lemas, saling mendekap dalam keringat yang menyatu.
Beberapa menit setelah napas mereka kembali teratur, Fharell masih enggan melepaskan Paroline. Ia merebahkan diri di samping Paro, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, lalu menoleh dengan wajah penuh kemenangan.
"Jadi..." Fharell memulai dengan nada yang sangat usil. "Boleh aku bertanya sekarang, Sayang?"
Paroline menoleh kecil. "Tanya apa?"
"Apa aku sudah cukup memuaskan mu, Nona?" Fharell tertawa kecil saat melihat wajah Paroline langsung berubah semerah kepiting rebus. "Tadi ada yang bilang aku tidak bisa memuaskannya. Sekarang, lihat siapa yang lemas tidak berdaya di pelukanku?"
"Fharell! Berhenti!" Paroline memukul dada Fharell pelan, namun pria itu justru menangkap tangannya dan mengecup jari-jarinya.
"Hahaha, sayang, pipimu memerah sampai ke telinga. Sangat menggemaskan," goda Fharell lagi. "Siapa sangka Ratu Klub malam yang ditakuti pria-pria di Sunset Strip ternyata sangat pemalu saat disentuh?"
Paroline mendengus, mencoba memasang wajah dinginnya kembali namun gagal total. "Aku hanya tidak terbiasa dengan ini, tahu."
"Aku tahu. Dan aku sangat bahagia menjadi yang pertama dan terakhir bagimu," Fharell mengubah posisinya menjadi miring, menatap Paroline dengan tatapan yang sangat memuja. "Mulai besok, jangan pernah lagi memanggilku bocah. Karena bocah ini sudah resmi menjadi milikmu, dan kau adalah milikku."
Fharell terus menggoda Paroline malam itu, membicarakan bagaimana Paroline tadi merintih namanya, bagaimana cengkeraman tangan Paro di punggungnya meninggalkan bekas, hingga membuat Paroline berkali-kali menyembunyikan wajah di balik bantal. Humor Fharell yang cerdas dan nakal berhasil mencairkan sisa-sisa ketegangan pasca-konflik mereka.
Saat cahaya fajar mulai mengintip dari balik tirai, Paroline tertidur lelap dengan senyum di bibirnya. Fharell tetap terjaga, ia mengamati wajah tidur Paroline dan sesekali menoleh ke arah monitor bayi yang menunjukkan Andreas juga sedang tidur nyenyak.
Fharell menyadari bahwa tanggung jawabnya kini berlipat ganda. Ia harus melindungi Paroline dari rasa bersalahnya, dan ia harus melindungi Andreas dari ancaman keluarga Smith yang mungkin sewaktu-waktu muncul.
"Aku tidak akan membiarkan Danesha Smith atau siapa pun menyentuh kalian," bisik Fharell pada kesunyian pagi.
Ia tahu, ujian sebenarnya baru akan dimulai. Danesha sudah mulai curiga, dan rahasia tentang status Andreas adalah bom waktu. Namun, dengan tangan yang saling bertaut di bawah selimut, Fharell merasa siap menghadapi dunia, bukan sebagai remaja sembilan belas tahun, tapi sebagai pria yang telah menemukan rumah untuk ia jaga selamanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰