Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Balai Desa Asih pagi ini penuh sesak. Udara yang biasanya tenang kini riuh dengan suara obrolan warga, mulai dari bapak-bapak petani yang memakai caping hingga ibu-ibu PKK yang sudah siap dengan buku catatan mereka. Di depan ruangan, Mika berdiri dengan tegak. Ia mengenakan kemeja biru navy yang rapi, rambutnya diikat high-ponytail yang memberikan kesan profesional, dan di tangannya terdapat sebuah laser pointer.
Hari ini adalah hari penentuan. Mika dan timnya akan memaparkan program kerja utama mereka: Revitalisasi Sistem Irigasi dan Budidaya Perairan Berkelanjutan. Mika telah menghabiskan waktu semalaman—bahkan setelah memakan sate "gratisan" dari Alvaro—untuk memoles salindia presentasinya. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar mahasiswi yang bisa terjatuh ke sungai, tapi seorang calon ahli perairan yang kompeten.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih sudah hadir," Mika membuka presentasi dengan suara yang lantang dan percaya diri. "Kami dari tim KKN Universitas Perairan ingin menawarkan solusi atas masalah kematian ikan di keramba yang belakangan ini meresahkan warga. Kami membawa teknologi filter sederhana dan sistem pemantauan pH air yang bisa Bapak-Ibu buat sendiri dengan biaya murah."
Mika menjelaskan dengan sangat detail. Ia menunjukkan grafik, foto-foto bakteri yang ia ambil dari sampel kemarin (setelah ia bersusah payah membersihkan diri dari lumpur), dan cara kerja alat penyaring air mereka. Penjelasannya lugas, tidak berbelit-belit, dan sangat menyentuh kebutuhan warga.
Warga desa tampak terpesona. Beberapa bapak nelayan manggut-manggut antusias saat Mika menjelaskan cara menghemat pakan ikan namun hasil panen tetap maksimal.
"Jadi, dengan sistem ini, kita tidak perlu takut lagi dengan perubahan cuaca ekstrem yang sering membuat air sungai beracun," tutup Mika dengan senyum kemenangan.
PROK! PROK! PROK!
Ruangan itu pecah oleh tepuk tangan riuh. Beberapa ibu-ibu bahkan berseru, "Wah, hebat ya Neng Mika!" atau "Cerdas sekali mahasiswi kota ini!"
Mika merasa di atas angin. Ia melirik ke arah sudut ruangan, di mana Alvaro duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sejak tadi hanya diam, memperhatikan dengan tangan bersedekap di dada dan wajah yang sulit dibaca. Mika mengangkat dagunya sedikit, seolah berkata, 'Lihat? Gue nggak cuma modal tampang, kan?'
Namun, tepat saat suasana sedang hangat-hangatnya, sebuah suara berat dan dingin memotong keriuhan itu.
"Menarik. Sangat akademis," ucap Alvaro sambil berdiri dari kursinya.
Suara itu seketika membungkam ruangan. Tepuk tangan warga mereda satu per satu. Mika mendengus pelan, nyaris tak terdengar, namun matanya berkilat kesal. "Apa lagi sih ini orang..." gumamnya sangat pelan, hingga hanya Siti yang berdiri di sampingnya yang bisa mendengar.
Alvaro berjalan perlahan ke depan, mendekati layar proyektor. Ia berdiri di samping Mika, membuat perbedaan tinggi badan mereka terlihat sangat mencolok. Aroma woody dari tubuh Alvaro kembali menyerbu indra penciuman Mika, tapi kali ini Mika berusaha tetap fokus pada "perang" intelektualnya.
"Proposal kalian bagus di atas kertas, Mikayla. Presentasi yang sangat manis untuk telinga warga saya," Alvaro memulai, matanya menatap warga sejenak sebelum kembali ke arah Mika. "Tapi, ada satu hal besar yang kamu lupakan dalam risetmu yang 'hebat' ini."
Mika mengerutkan kening. "Lupakan? Saya sudah menghitung parameter kimia air, debit sungai, bahkan siklus hidup plankton di sini, Pak Kades."
Alvaro tersenyum tipis—senyum yang bagi Mika lebih terlihat seperti ejekan. "Kamu menghitung semuanya secara teknis, tapi kamu lupa menghitung aspek sosial. Desa Asih bukan laboratorium pribadimu. Sungai di sini bukan sekadar aliran air H_2O."
Alvaro beralih menatap warga. "Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Neng Mika bilang kita harus memasang filter di setiap keramba. Tapi apa dia menjelaskan siapa yang akan merawatnya setiap hari? Apa dia tahu bahwa di titik hulu yang dia sebutkan tadi, ada tradisi larung sesaji setiap Jumat Kliwon yang membuat aliran air tersumbat sementara oleh material alami? Dan apa dia tahu kalau biaya 'murah' yang dia sebutkan tadi, bagi warga yang gagal panen bulan lalu, masih setara dengan biaya makan mereka seminggu?"
Warga mulai berbisik-bisik. Antusiasme mereka tadi mulai goyah oleh realita yang dilemparkan Alvaro.
Mika merasa wajahnya memanas. "Itu... itu masalah teknis yang bisa kita bicarakan nanti, Pak. Yang penting solusinya ada dulu!"
"Solusi tanpa pemahaman lapangan adalah bencana yang tertunda," potong Alvaro tajam. Ia menatap Mika dengan pandangan yang dalam. "Kamu ingin membantu, atau kamu hanya ingin mendapatkan nilai A di transkrip nilaimu?"
Mika mengepalkan tangannya di balik punggung. "Tentu saja saya ingin membantu warga! Bapak pikir saya sejauh ini ke sini cuma buat main-main?"
"Kalau begitu, buktikan," tantang Alvaro. Ia melangkah lebih dekat, membuat Mika harus sedikit mendongak. "Saya tidak akan mengizinkan alat-alat ini dipasang sebelum kamu bisa membuktikan bahwa alatmu tahan terhadap arus deras di titik tikungan sungai terdalam. Dan satu lagi, kamu harus mendapatkan persetujuan dari Mbah Darmo, sesepuh nelayan yang paling tidak percaya pada teknologi luar."
Mika membelalak. "Mbah Darmo? Yang katanya nggak mau bicara sama orang asing itu?"
"Tepat," sahut Alvaro datar. "Kalau kamu bisa meyakinkan Mbah Darmo dan memastikan alatmu tidak hancur dalam tiga hari di arus deras, baru saya akan menandatangani persetujuan program kerja kalian. Jika tidak..."
"Jika tidak?" tanya Mika menantang.
"Jika tidak, kalian silakan habiskan sisa KKN di sini dengan membantu mengecat pagar balai desa dan membersihkan selokan. Karena itu jauh lebih berguna daripada memberikan harapan palsu pada warga saya," ucap Alvaro tanpa ampun.
Alvaro berbalik, menatap sekretaris desanya. "Rapat selesai. Silakan warga kembali beraktivitas."
Pria itu kemudian melenggang pergi keluar balai desa, meninggalkan Mika yang mematung dengan perasaan campur aduk antara malu, marah, dan tertantang.
"Gila... dia bener-bener mau ngerjain kita," bisik Arga yang sejak tadi hanya diam membeku.
Mika mematikan proyektornya dengan kasar. "Dia nggak ngerjain kita, Ga. Dia lagi ngeremehin gue. Dia pikir gue bakal menyerah dan milih ngecat pagar?"
Mika menoleh ke arah teman-temannya dengan mata yang berapi-api. "Siapkan alat-alat. Sore ini kita ke rumah Mbah Darmo. Gue bakal buktiin ke Pak Kades Dajjal itu kalau mahasiswi kota ini punya nyali yang lebih besar dari motor Ninjanya!"
Sore harinya, Mika berjalan menyusuri pematang sawah menuju gubuk Mbah Darmo di pinggir sungai. Hatinya masih bergemuruh. Setiap kali ia mengingat wajah tenang Alvaro saat meruntuhkan presentasinya, rasa ingin membuktikannya semakin kuat.
"Siti, lo liat nggak sih tadi?" Mika mengoceh sambil membawa tas ransel beratnya. "Gaya dia bicara tuh seolah-olah dia paling tahu segalanya tentang desa ini. Mentang-mentang Kades!"
"Ya emang dia Kadesnya, Mik..." sahut Siti lelah. "Tapi jujur ya, apa yang dia bilang soal biaya itu masuk akal juga sih. Kita emang terlalu fokus sama angka di lab."
Mika terdiam sejenak. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu Alvaro ada benarnya. Namun, egonya terlalu tinggi untuk mengakui itu sekarang.
Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat sosok familiar sedang berdiri di pinggir sungai, tak jauh dari gubuk Mbah Darmo. Pria itu memakai kaos singlet hitam yang memperlihatkan otot lengannya yang kuat, sedang membantu seorang kakek tua memperbaiki jaring.
Itu Alvaro.
Tanpa jaket denimnya, tanpa motor Ninjanya. Ia terlihat sangat berbeda—lebih membumi, lebih... manusiawi. Ia tertawa kecil saat kakek tua itu menepuk bahunya. Pemandangan itu membuat langkah Mika terhenti.
"Ternyata robot denim itu bisa ketawa juga," gumam Mika tanpa sadar.
Namun, saat Alvaro menoleh dan menyadari kehadiran Mika, wajahnya langsung kembali mengeras, kembali ke mode "Kades Dingin" yang sangat menyebalkan.
"Mau cari Mbah Darmo? Dia baru saja tidur siang. Kembali lagi dua jam lagi," teriak Alvaro dari kejauhan.
Mika menghentakkan kakinya. "Gue nggak bakal balik! Gue bakal tunggu di sini sampai dia bangun!"
Alvaro hanya mengangkat bahu acuh, lalu kembali fokus pada jaring di tangannya. Mika duduk di sebuah batang pohon tumbang, memperhatikan Alvaro dari kejauhan. Di bawah sinar matahari sore yang berwarna jingga, ia harus mengakui satu hal yang sangat ia benci: Alvaro terlihat sangat menawan saat sedang bekerja sungguhan untuk warganya.
Dan saat itu, Mika menyadari bahwa KKN ini tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan. Bukan hanya soal air dan irigasi, tapi soal bagaimana ia bisa bertahan dari "arus" yang diciptakan oleh Alvaro di dalam hatinya.