Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Yang Menghujam
Pagi setelah serangan panik Arka, apartemen itu kembali sunyi, tapi suasananya tidak lagi sedingin sebelumnya. Arka masih tertidur di kamarnya kelelahan mental yang luar biasa membuatnya tumbang. Laras tidak pulang. Ia menghabiskan sisa malam di sofa, terjaga, dengan laptop di pangkuannya dan ponsel yang terus bekerja.
Sebagai orang lapangan yang terbiasa berurusan dengan berbagai macam vendor dan mandor licik, Laras punya jaringan informasi yang tidak diketahui keluarga Baskoro. Ia tidak butuh otot untuk menghancurkan Doni; ia hanya butuh data.
Pukul sepuluh pagi, Laras berdiri di sebuah kafe tersembunyi di kawasan Senopati. Ia mengenakan kacamata hitam, jaket kulit, dan ekspresi yang tidak mengundang percakapan. Doni duduk di depannya, tampak sangat percaya diri, seolah dia sudah memenangkan peperangan.
"Cepat sekali kamu minta bertemu, Laras," Doni menyeringai, menyesap kopinya. "Arka sudah menyerah? Atau dia menyuruhmu datang untuk memohon agar foto itu tidak sampai ke telinga Jenderal?".
Laras tidak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tipis dari tasnya dan mendorongnya ke arah Doni.
"Apa ini? Surat cinta?" Doni tertawa, lalu membukanya.
Seketika, tawa Doni lenyap. Wajahnya yang kemerahan perlahan berubah menjadi pucat pasi. Di dalam map itu bukan berisi pembelaan diri Laras, melainkan laporan audit internal perusahaan sub-kon milik Doni yang selama ini menyuplai material untuk proyek keluarga Baskoro.
"Kamu pikir aku nggak tahu kenapa kamu begitu semangat menjatuhkan Arka?" suara Laras tenang, hampir seperti bisikan, tapi tajam seperti silet. "Kamu butuh posisi Arka agar kamu bisa menutupi penggelapan dana material senilai dua puluh miliar yang kamu lakukan selama tiga tahun terakhir. Besi yang kamu kirim ke proyek Jenderal Baskoro bukan spek standar. Kamu menurunkan kualitasnya demi margin keuntungan pribadi."
Doni mencoba menutup map itu dengan tangan gemetar. "Ini... ini fitnah. Kamu nggak punya bukti asli." "Aku orang lapangan, Doni. Aku tahu cara membedakan besi kualitas A dan kualitas banci hanya dengan melihat teksturnya," Laras mencondongkan tubuh, menatap Doni tepat di mata.
"Laporan itu lengkap dengan tanda tangan orang gudangmu yang sudah aku 'ajak bicara' semalam. Jika foto klub malamku sampai ke tangan Jenderal, maka laporan audit ini beserta sampel besi karatan yang kamu pasok akan sampai ke meja kejaksaan sebelum matahari terbenam."
"Kamu... kamu nggak akan berani," desis Doni, suaranya parau. "Keluarga Baskoro akan malu kalau tahu ada kerabatnya yang korupsi."
"Keluarga Baskoro akan lebih malu jika bangunan yang mereka banggakan runtuh karena besi murahmu, Doni. Dan Jenderal? Dia paling benci dikhianati oleh orang dalam. Kamu tahu apa yang dia lakukan pada pengkhianat, kan?".
Laras mengambil kembali map itu, memasukkannya ke dalam tas. "Pilihannya ada di tanganmu. Kamu hapus semua foto itu, berhenti mengganggu Arka, dan tutup mulutmu selamanya. Atau kita hancur bersama-sama. Bedanya, aku hanya akan kehilangan nama baik, sementara kamu akan kehilangan kebebasanmu di balik jeruji besi."
Doni terdiam. Ia menunduk, tidak sanggup menatap "porselen" yang baru saja menghantamnya dengan kekuatan baja. Di hadapan Laras, dia menyadari bahwa dia telah salah menilai lawan.
"Oke," gumam Doni akhirnya. "Aku hapus semuanya. Tapi jangan pikir ini selesai."
"Bagiku, ini sudah selesai," jawab Laras dingin. Ia berdiri, meninggalkan Doni yang masih terpaku di kursinya. Laras kembali ke apartemen Arka. Ia menemukan Arka sudah bangun, duduk di meja makan dengan wajah yang masih tampak pucat tapi jauh lebih tenang. Arka menatap Laras dengan penuh tanya saat wanita itu masuk.
"Sudah selesai," kata Laras singkat, meletakkan tasnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arka pelan.
"Memberinya alasan untuk takut," Laras duduk di depan Arka, menghela napas panjang. "Doni nggak akan mengganggu kita lagi. Dia punya lubang hitam yang jauh lebih besar daripada foto-foto lamaku."
Arka menatap Laras cukup lama. Ada rasa hormat, kekaguman, sekaligus rasa bersalah yang terpancar dari matanya. "Laras... maaf soal semalam. Aku seharusnya nggak meragukanmu."
"Lupakan soal itu, Ka. Kita sudah sepakat, ini aliansi," Laras meraih gelas air putih di meja. "Tapi aku sadar satu hal. Kita nggak bisa terus-terusan bertahan. Selama kita masih tinggal di bawah bayang-bayang orang tua kita, mereka akan selalu punya cara untuk menyerang."
Arka mengangguk setuju. "Kita harus mempercepat rencana. Pernikahan ini harus segera dilaksanakan. Bukan karena mereka yang mau, tapi karena itu adalah cara tercepat bagi kita untuk mendapatkan akses penuh ke aset dan kekuasaan masing-masing agar bisa lepas sepenuhnya."
"Berarti, kita akan benar-benar melakukannya?" tanya Laras, suaranya sedikit bergetar.
Arka mengulurkan tangannya di atas meja, bukan untuk bersalaman secara formal, tapi untuk menggenggam tangan Laras dengan tulus. "Iya. Kita akan menikah. Tapi kali ini, bukan sebagai tawanan. Tapi sebagai partner yang akan membangun kerajaan kita sendiri, di mana nggak ada lagi etalase, dan nggak ada lagi porselen yang bisa pecah."
Laras merasakan hangat tangan Arka merambat ke hatinya. Untuk pertama kalinya, pikiran tentang pernikahan tidak lagi terasa seperti vonis mati, melainkan seperti awal dari sebuah revolusi. drama berpindah ke ranah "wilayah kekuasaan". Rumah bagi Arka dan Laras bukan sekadar tempat tinggal, tapi benteng pertahanan terakhir mereka.