"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa penasaran
"Ayo, kita ke rumah sakit!" ajaknya sedikit panik.
"Ga usah! Aku mau pulang aja. Nanti dibuat istirahat pasti sembuh," jawab Elang menggelengkan kepala,
"Periksa aja. Biar dikasih obat! Takutnya ada apa-apa," Nila berusaha membujuk,
Herman menelan ludah, masih gugup melihat gadis yang begitu polosnya masuk ke dalam kebohongan mereka.
"Aku beneran gapapa. Semalam cuma kurang tidur, gara-gara kamu ngorok kenceng banget."
Nila terkejut, kedua matanya membulat sempurna. Benarkah dia mendengkur saat tidur? Seingatnya, Nila memang tidur pulas tapi tidak menyangka akan bertingkah memalukan.
"Jangan keras-keras dong ngomongnya! Aku jadi malu." bisik Nila meremas kuat lengan Elang,
Herman tertegun mendengar perbincangan mereka. Bukan soal dengkuran gadis itu, tapi tentang pengakuan Elang.
"Jadi mereka udah tidur sekamar?" batinnya sulit percaya.
Sebab sebelumnya Elang pernah menegaskan jika pernikahan mereka hanya sebatas sandiwara. Lalu, kenapa tiba-tiba terjadi perkembangan mengejutkan seperti ini? Mungkinkah Elang mulai menaruh rasa pada gadis itu.
"Maaf, Pak Herman. Kayaknya kita mau pulang dulu." pamit Nila merendahkan suara,
"Oh iya, hati-hati di jalan." angguk Herman mempersilahkan keduanya pergi.
Mengawasi dari jauh punggung yang perlahan hilang dari pandangan. Sekilas dia merenungi semua yang telah terjadi, meski tidak ada dalam rencana dia akan tetap menghormati semua keputusan tuannya.
1 jam kemudian.
Keduanya telah sampai ke rumah. Nila segera mengantarkan Elang ke dalam kamar, perlahan membantunya berbaring.
"Kamu tidur dulu. Aku mau masak, nanti kamu makan terus minum obat nyeri biar sakit kepalanya sembuh."
Diraihnya kacamata hitam yang masih menempel,
"Sial! Aku lupa pakai softlens." Elang menjerit dalam hati, siap menahan kedua gagang yang menggantung di telinga.
Nila mengernyit kebingungan, kenapa pria itu menolak? Untuk apa dia tidur sambil memakai kacamata. Terus saja tarik menarik saling memperebutkan,
"Kamu kenapa sih? Sini lepasin kacamatanya!" tegas Nila terdorong ke belakang.
Berhasil merampas setelah menariknya dengan kuat,
"Mampus!" batin Elang memejamkan mata,
Jangan sampai Nila melihat warna matanya yang berubah menjadi hitam.
"Lho? Udah tidur?" gumam Nila menatap pria yang terus terpejam. Mencolek singkat pipi Elang guna memastikan,
Colek, colek terus saja dilakukan seperti tengah bermain slime.
"Elang?" panggilnya reflek mendekat, jemari itu menekan pelan kelopak mata Elang. Tampak ingin membuka,
Elang merasa gugup, terpaksa menepis tangan Nila lalu beranjak bangun. "Aku mau mandi!"
Pria itu langsung berdiri memunggungi Nila. Tanpa kacamata dia menyembunyikan wajah, mulai meraih tongkatnya.
"Ga usah mandi. Ganti baju aja!" pekik Nila bergegas menyusul,
Elang pun membuang muka karena panik, menghindari agar tak berhadapan.
Perlahan melirik, melihat apa yang tengah gadis itu lakukan di depan lemari.
Sepertinya Nila tidak curiga?
"Kamu kan sakit. Jadi jangan mandi dulu--" Nila bergumam meraih sepasang baju tidur.
Namun saat berbalik dia tak melihat keberadaan siapapun. "Lho...mana orangnya?"
Di sela kesempatan ternyata Elang sudah berjalan secara diam-diam, bergegas mengambil softlens yang disimpan dalam laci lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Elang!!" teriak Nila merasa kesal,
Melangkah cepat, keluar mencari pria yang telah berani mengabaikan.
"Elang." panggilnya,
Mengagetkan punggung yang berhenti di depan pintu lain.
Perlahan pria itu berbalik, sempat memasang softlens. "Maaf, aku kebelet. Ada panggilan alam,"
"Hh! Ya sudah! Ambil ini," Nila mendengus kesal sambil memberikan baju ganti.
"Lain kali, kalau ada orang ngomong dengerin dulu!"
Elang mengangguk sambil tersenyum kaku, melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama setelah berganti pakaian, dia keluar melihat Nila yang sudah sibuk berdiri di depan kompor.
"Oh iya! Apa kamu pernah ketemu sama pimpinan DaungGroup?" tanya Nila mengangkat alis,
Menghentikan langkah pria yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Nggak, belum pernah. Mana mungkin aku ketemu orang sepenting dia," gumamnya menggaruk belakang telinga.
Sedikit gugup, untuk apa Nila tiba-tiba bertanya? Mungkinkah curiga kalau mereka adalah orang yang sama.
"Hm, aku jadi penasaran kayak apa wajahnya." berpangku tangan,
"Kenapa tadi dia harus pakai topeng?"
Nila terlihat penasaran, sibuk membayangkan rupa pria yang tadi ditemui.
"Apa mungkin dia punya tompel?"
"Mana mungkin!" sontak Elang dengan nada tinggi, dibuat tersinggung oleh tuduhan Nila.
"Aku pernah denger, kalau pimpinan DaungGroup sangat tampan. Wajahnya bisa buat semua orang terpesona--mangkanya dia pakai topeng!" tambahnya begitu antusias memuji dirinya sendiri.
"Oh...benarkah?" Nila menyengir keheranan,
Melihat tingkah kesal suaminya demi membela seseorang.
"Lagian, kalau beneran ganteng mah ga mungkin ditutupin. Pasti yang kamu denger itu hoax!"
"Tapi yah---ga tau kenapa, menurutku suaranya mirip kayak kamu--"
"Perasaanmu saja. Udah, lupakan!" seru Elang buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Gimana soal barang-barang orang tuamu? Apa udah kamu tanyakan ke Herman?"
"Hm? Iya sudah." Nila mengangguk singkat.
Pasalnya kemarin kardus yang dibawa berjumlah sedikit, hanya berisi barang-barang milik Nila. Padahal dia berencana mengambil semua barang peninggalan orangtuanya.
"Kayaknya barang yang lain masih disimpan pamanku. Kapan-kapan aku mau ke sana dan mengambilnya sendiri,"
Jangan lupa tinggalkan komen ya/Pray//Kiss/
Komen kalian menambah semangat author dalam menulis, biar lebih sering updatenya. Hehe...