Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Masa Lalu
Tiga bulan telah berlalu sejak Ima pindah dari sekolah. Kota kecil tempat SMA Negeri 6 berada terasa hampa tanpa kehadirannya, setidaknya bagi Rizky. Tapi waktu berjalan, luka perlahan mengering, dan kehidupan harus terus berputar.
Rizky duduk di kantin sekolah, mengaduk es tehnya tanpa semangat. Wira di hadapannya sudah menghabiskan semangkuk bakso dan kini sibuk dengan ponselnya.
"Lo masih mikirin dia?" Wira bertanya tanpa mengangkat muka.
Rizky mengangkat bahu. "Kadang."
"Masih sering?"
"Nggak kayak dulu."
Wira menghela napas. "Bagus. Lo harus move on, Zky. Dia udah punya hidup sendiri di sana."
Rizky tahu Wira benar. Ima sudah pindah ke kota lain, mengajar di sekolah baru, dan—menurut kabar yang tak sengaja ia dengar—sedang berusaha memperbaiki rumah tangganya dengan Heru. Rizky tak tahu pasti, dan ia sudah berhenti mencari tahu.
"Eh, lo lihat itu nggak?" Wira menunjuk ke arah gerbang dengan dagunya.
Rizky menoleh. Seorang siswi baru berjalan masuk, ditemani orang tuanya. Rambutnya sebahu, wajahnya manis dengan sorot mata yang tajam. Seragamnya masih baru, kelihatan dari lipatan-lipatan yang belum hilang.
"Murid pindahan," gumam Wira. "Cakep juga."
Rizky hanya mengangkat bahu. Perhatiannya kembali ke es teh.
"Cie, masih setia sama Bu Ima," ledek Wira. "Padahal dia udah pergi."
"Diem lo."
Tapi Wira benar. Rizky belum bisa membuka hati untuk orang lain. Luka dari Ima masih terlalu dalam.
---
Seminggu kemudian, murid pindahan itu resmi masuk kelas XII IPA 2—kelas Rizky dan Wira. Namanya Sasha, anak seorang pengusaha kaya yang baru pindah dari Jakarta. Cantik, percaya diri, dan sedikit sombong.
Hari pertama, Sasha duduk di bangku depan. Roknya agak pendek untuk ukuran sekolah, dan beberapa siswa laki-laki tak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka.
"Lo lihat tuh, Zky," bisik Wira. "Siswi baru, langsung jadi rebutan."
Rizky melirik sekilas, lalu kembali ke bukunya. "Bodo amat."
Tapi Sasha punya cara sendiri untuk menarik perhatian. Istirahat pertama, ia menghampiri meja Rizky.
"Rizky, kan?" Suaranya tegas, tak malu-malu.
Rizky mengangkat muka. "Iya?"
"Gue Sasha. Gue denger lo jago matematika. Bisa ajarin gue? Gue ketinggalan materi."
Wira nyengir di sampingnya. Rizky mengerutkan kening. "Kata siapa gue jago matematika?"
"Guru-guru. Mereka bilang lo murid favorit Bu Ima—eh, mantan guru matematika."
Nama Ima disebut. Rizky tersentak. Wira langsung tanggap.
"Dia emang jago," Wira memotong. "Tapi lagi sibuk. Mungkin gue bisa bantu?"
Sasha menatap Wira sebentar, lalu kembali ke Rizky. "Makasih, tapi gue mau Rizky."
Rizky dan Wira bertukar pandang.
---
Hari-hari berikutnya, Sasha makin sering mendekati Rizky. Ia selalu punya alasan: minta diajarin PR, pinjam catatan, atau sekadar duduk di kantin bareng. Rizky awalnya cuek, tapi lambat laun mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Wira mengamati dari jauh dengan perasaan campur aduk.
"Lo sadar nggak, Zky, kalo Sasha tuh naksir lo?" Wira bertanya suatu sore sepulang sekolah.
Rizky menggeleng. "Nggak mungkin. Dia baru kenal gue."
"Cewek tuh bisa langsung tahu, Zky. Dan dari cara dia liat lo, jelas banget."
Rizky menghela napas. "Gue nggak siap, Ra."
"Lo nggak siap atau lo masih mikirin Bu Ima?"
Pertanyaan itu mengena. Rizky diam.
"Zky, Bu Ima udah pergi. Dia udah punya hidup sendiri. Lo juga harus lanjutin hidup lo."
"Gue tahu, Ra. Tapi..."
"Tapi apa? Mau nungguin dia sampai kapan? Sampai lo tua?"
Rizky tak menjawab. Wira menggeleng pasrah.
---
Malam itu, Rizky tak bisa tidur. Ia memandangi jam tangan pemberian Ima. Masih melekat di pergelangan tangannya, meskipun Ima sudah pergi.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Rizky, ini Sasha. Besok gue ulangan matematika. Bisa ajarin gue sekarang? Gue di kost dekat sekolah."
Rizky membaca pesan itu berulang kali. Jelas ini tidak pantas. Malam-malam begini, ke kost cewek?
Ia membalas: "Nggak enak. Malam-malam gini."
Balasan cepat masuk: "gue serius, Rizky. Gue butuh bantuan. Ajarin gue, please."
Rizky menghela napas. "Lo dimana?"
---
Kost Sasha ternyata hanya lima menit dari kost Rizky. Sebuah rumah kos mewah dengan kamar-kamar bergaya minimalis. Sasha membuka pintu dengan kaus longgar dan celana pendek, rambut basah habis keramas.
"Masuk," katanya dengan senyum.
Rizky ragu, tapi akhirnya masuk. Kamar Sasha rapi, wangi, dengan lampu temaram.
"Ajarin gue integral, ya," Sasha duduk di lantai, membuka buku.
Rizky duduk di sampingnya, berusaha tak memperhatikan paha Sasha yang terbuka. Ia menjelaskan materi dengan suara serak.
Setengah jam kemudian, Sasha menutup bukunya.
"Makasih, Rizky. Lo guru yang baik."
Rizky tersenyum canggung. "Sama-sama. Gue pulang, ya."
"Tunggu." Sasha meraih tangannya. "Rizky, gue mau bilang sesuatu."
Rizky menegang.
"Gue suka lo."
Langsung. Tanpa basa-basi. Rizky terpaku.
"S-Sasha..."
"Gue tahu lo baru putus. Gue tahu lo masih sedih. Tapi gue mau lo tahu, gue di sini." Sasha menatapnya dalam. "Gue nggak akan kejar-kejar lo. Tapi kalau lo butuh teman, gue ada."
Rizky tak tahu harus menjawab apa. Sasha tersenyum manis.
"Sekarang pulang. Udah malam."
Rizky berdiri dengan gontai. Ia ke luar dari kamar Sasha dengan perasaan campur aduk.
---
Keesokan harinya, Rizky cerita ke Wira.
"Lo serius? Dia ngomong gitu?" Wira melongo.
"Iya. Dan gue... bingung."
"Bingung kenapa? Lo suka dia nggak?"
Rizky menggeleng. "Gue nggak tahu."
Wira menghela napas. "Zky, lo harus mulai buka hati. Sasha cakep, baik, dan jelas suka lo. Apa lagi yang lo cari?"
"Gue nggak mau nyakitin dia."
"Justru kalau lo nolak mentah-mentah, itu yang nyakitin." Wira menatapnya serius. "Kasih kesempatan, Zky. Pelan-pelan. Nggak usah buru-buru."
Rizky merenung. Mungkin Wira benar. Mungkin sudah waktunya move on.
---
Sore itu, Rizky mengirim pesan pada Sasha.
"Makasih buat semalem. Dan... gue mau kenalan lebih dekat. Pelan-pelan."
Balasan Sasha cepat dan membuatnya tersenyum.
"Gue seneng denger itu. Kita pelan-pelan aja, kok."
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Rizky merasa ada secercah harapan.
---
Dua minggu berlalu. Rizky dan Sasha makin dekat. Mereka sering makan siang bersama, belajar bareng, dan sesekali nonton di bioskop. Sasha tak pernah memaksa, selalu memberi ruang. Dan perlahan, hati Rizky mulai terbuka.
Suatu sore, saat mereka duduk di taman sekolah, Sasha bertanya, "Rizky, cerita dong tentang mantan kamu."
Rizky diam. "Kenapa tanya?"
"Aku penasaran. Kayaknya dia spesial banget buat kamu."
Rizky menghela napas. "Dia... guru."
Sasha terkejut. "Guru?"
"Iya. Guru matematika. Namanya Bu Ima."
Sasha diam, mencerna informasi itu. "Kamu sayang banget sama dia?"
Rizky mengangguk pelan. "Dulu. Sekarang... aku nggak tahu."
Sasha meraih tangannya. "Makasih udah cerita. Itu pasti berat."
Rizky menatapnya. "Kamu nggak marah?"
"Marah kenapa? Itu masa lalu kamu, aku nggak bisa marah sama masa lalu."
Rizky tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa nyaman dengan seseorang selain Ima.
---
Malam itu, di kostnya, Rizky memandangi jam tangan pemberian Ima. Lama. Lalu perlahan, ia melepasnya dan menyimpannya di dalam laci.
Bukan berarti ia melupakan. Tapi ia siap melangkah.
Ponselnya bergetar. Sasha.
"Selamat malam, Rizky. Mimpi indah, ya."
Rizky membalas: "Kamu juga."
Ia mematikan lampu. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia tidur dengan senyum.
---