Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Suasana di kediaman Wijaya terasa sedikit sendu sore itu.
Setelah mengantarkan Rengganis kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak, Permadi langsung bergerak cepat.
Hadi sudah menunggu di depan dengan mobil SUV hitam yang lebih tertutup, sementara beberapa koper berisi setelan formal dan dokumen proyek Yogyakarta sudah tertata rapi di bagasi.
Permadi berdiri di ruang tengah, menatap Rengganis yang masih mengenakan pakaian rumahnya.
Ia memegang kedua bahu istrinya dengan erat, seolah berat untuk melepaskan genggamannya walau hanya untuk 48 jam.
"Aku sudah meminta tim keamanan tambahan untuk berjaga di depan gerbang dan di area rumah sakit besok," ujar Permadi dengan nada serius.
"Jangan matikan ponsel, dan jangan lepaskan cincin itu, Ganis. Janji?"
Rengganis tersenyum tenang, meski ada rasa hampa yang mulai menyusup di hatinya.
"Janji, Mas. Kamu juga, jangan terlalu lelah. Ingat makan dan jangan terlalu banyak minum kopi di sana."
Permadi mengecup dahi Rengganis lama sekali, lalu turun ke bibirnya dengan lumatan singkat namun penuh perasaan.
"Aku akan meneleponmu begitu mendarat di Adi Sucipto."
Dengan langkah berat, Permadi akhirnya berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Rengganis berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan hingga mobil suaminya menghilang di balik gerbang besar mansion mereka.
Perjalanan menuju Bandara Halim Perdanakusuma terasa lebih lambat dari biasanya bagi Permadi.
Ia terus menatap layar tabletnya yang menampilkan koordinat GPS dari cincin yang melingkar di jari manis Rengganis.
Titik hijau kecil itu masih berada di dalam rumah, memberikan sedikit rasa tenang di tengah kegelisahannya.
Begitu sampai di bandara, jet pribadi milik Wijaya Group sudah menunggu dengan mesin yang mulai menderu halus.
Para kru pesawat menyambut dengan hormat saat Permadi menaiki tangga pesawat.
"Selamat sore, Pak Permadi. Kita siap berangkat menuju Yogyakarta," lapor sang kapten pilot.
Permadi hanya mengangguk singkat. Ia duduk di kursi utama yang luas, melepas jasnya, dan melonggarkan dasinya.
Saat pesawat mulai taxiing menuju landasan pacu, Permadi mengirimkan satu pesan singkat terakhir untuk Rengganis:
"Baru mau terbang, sudah rindu. I love you, Anjali."
Namun, di sudut lain area keberangkatan komersial bandara yang berbeda, sesosok wanita dengan topi lebar dan kacamata hitam besar sedang menggenggam tiket pesawat kelas ekonomi tujuan Yogyakarta.
Laras tersenyum miring melihat sebuah jet pribadi lepas landas dari kejauhan.
"Terbanglah setinggi mungkin, Permadi," desis Laras dengan suara parau.
"Karena di Yogyakarta nanti, aku akan memastikan kamu jatuh tepat ke pelukanku... atau jatuh sehancur-hancurnya."
Pesawat jet itu pun melesat menembus awan, membawa Permadi menuju kota pelajar, tanpa ia sadari bahwa bahaya sedang membuntutinya di udara yang sama.
Setelah perjalanan udara yang memakan waktu, jet pribadi Wijaya Group akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sucipto.
Udara malam Yogyakarta yang sedikit lebih sejuk dibandingkan Jakarta menyambut Permadi saat ia turun dari tangga pesawat.
Sebuah mobil mewah sudah menunggu di apron, siap membawanya langsung menuju hotel bintang lima miliknya yang terletak di pusat kota, dengan pemandangan langsung ke arah Gunung Merapi jika hari sedang cerah.
Di dalam mobil, Permadi tidak berhenti menatap layar ponselnya.
Meski lelah karena jadwal yang padat, pikirannya tetap tertinggal di Jakarta. Begitu ia sampai di Presidential Suite miliknya, hal pertama yang ia lakukan bukanlah membuka koper, melainkan melonggarkan dasi dan merebahkan diri di sofa besar sambil mendial nomor istrinya lewat panggilan video.
Hanya butuh dua kali nada sambung sampai wajah cantik Rengganis muncul di layar. Istrinya itu sudah mengenakan daster tidurnya, bersandar di kepala ranjang dengan lampu kamar yang temaram.
"Belum tidur?" tanya Permadi, suaranya terdengar jauh lebih lembut dari nada bicaranya saat rapat tadi.
Rengganis memberikan senyum tipis yang nampak sedikit layu.
"Belum bisa, Mas. Suasana kamarnya terlalu luas kalau kamu tidak ada."
Permadi terkekeh, hatinya menghangat. "Hanya dua hari, Sayang.
Jangan membuatku ingin menyuruh pilot terbang balik ke Jakarta sekarang juga."
"Kangen..." ucap Rengganis tiba-tiba dengan nada manja yang jarang ia perlihatkan jika tidak sedang berduaan.
Suaranya yang pelan namun tulus itu merambat melalui sinyal telepon, menghantam dada Permadi dengan telak.
Mendengar pengakuan jujur itu, Permadi justru tertawa terbahak-bahak.
Tawa lepas yang sangat maskulin dan penuh kebahagiaan, hingga bahunya terguncang.
Ia tidak menyangka wanita yang tadi pagi begitu tegas menghadapi Laras, kini bisa terdengar begitu rapuh hanya karena ditinggal beberapa jam.
"Kenapa tertawa?" protes Rengganis sambil mengerucutkan bibirnya. "Aku serius, Mas!"
"Maaf, maaf," ucap Permadi sambil mencoba meredakan tawanya, meski sisa-sisa binar jenaka masih ada di matanya.
"Aku hanya tidak menyangka efek 'Anjali' bisa secepat ini. Baru tadi sore aku mengantarmu, dan sekarang kamu sudah merindukan 'Rahul'-mu?"
"Iya! Dan jangan panggil aku Anjali kalau kamu tidak mau aku menyanyi sedih di telepon!" ancam Rengganis, yang malah membuat tawa Permadi kembali pecah.
"Baiklah, Sayang. Aku juga kangen. Sangat kangen," bisik Permadi kemudian, wajahnya berubah serius.
Ia menyentuh layar ponselnya, seolah sedang membelai pipi Rengganis.
"Cincinnya masih dipakai, kan?"
Rengganis mengangkat tangan kanannya ke depan kamera, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau di jari manisnya.
"Masih, Mas. GPS-nya masih menyala, jadi jangan macam-macam di sana ya. Aku bisa melacakmu kalau kamu pergi ke tempat yang aneh-aneh."
"Tempat anehku hanya satu, yaitu di sampingmu," balas Permadi gombal.
"Sudah malam, tidurlah. Aku akan mengirimkan ciuman lewat satelit. Besok jadwal rapatku sangat padat, aku ingin kamu sudah segar saat aku telepon besok pagi."
Rengganis mengangguk, merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar tawa suaminya.
"Selamat istirahat, Mas. Love you."
" Love you more, Nyonya Wijaya."
Permadi mematikan ponselnya dengan senyum yang masih tersisa. Namun, saat ia berdiri untuk menuju kamar mandi, tatapannya beralih ke jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Yogyakarta.
Di balik pantulan kaca, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres—sebuah intuisi bisnis yang tajam memberitahunya bahwa ia tidak benar-benar sendirian di kota ini.
Pagi di Yogyakarta dimulai dengan kesibukan yang luar biasa bagi Permadi.
Di ruang pertemuan utama hotel miliknya, ia berdiri dengan penuh wibawa di depan para investor dan jajaran direksi.
Mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, ia nampak sangat fokus saat menyalakan proyektor untuk memaparkan cetak biru pembangunan rumah sakit internasional dan resor ramah lingkungan di Sleman.
"Proyek ini bukan sekadar bisnis properti," ucap Permadi sambil menunjuk ke arah layar proyektor yang menampilkan desain bangunan modern namun tetap mempertahankan unsur etnik Jawa.
"Ini adalah pusat kesehatan masa depan. Saya ingin fasilitas di sini menjadi yang terbaik di Asia Tenggara."
Mata Permadi bergerak lincah, namun sesekali ia melirik ke arah pintu masuk ruang rapat. Instingnya masih waspada.
Meskipun rapat berjalan sangat lancar dan para investor nampak terkesan dengan presentasinya, ada rasa tidak tenang yang terus membayangi pikirannya.
Ia sempat melihat kilatan kamera dari arah taman hotel saat ia baru keluar dari kamar tadi pagi, namun tim keamanannya melaporkan tidak ada hal yang mencurigakan.
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di Jakarta, Rengganis berada dalam dunianya sendiri yang tak kalah menegangkan.
Suara monitor jantung yang berbunyi teratur menjadi musik latar di ruang operasi yang dingin.
Rengganis, dengan pakaian operasi lengkap dan masker yang menutupi wajahnya, fokus sepenuhnya pada prosedur operasi Caesar seorang pasien dengan komplikasi preeklampsia.
Tangannya bergerak dengan sangat stabil dan presisi.
Tidak ada lagi sosok "Anjali" yang manja di sini; yang ada hanyalah Dokter Rengganis, dokter spesialis obgyn yang sangat kompeten.
"Pisau... klem..." pintanya singkat dan tegas kepada perawat asisten.
Ketegangan di ruang operasi memuncak saat bayi akhirnya berhasil dikeluarkan.
Suara tangisan bayi laki-laki yang melengking memecah keheningan, membawa kelegaan luar biasa bagi seluruh tim medis.
"Selamat, bayinya sehat. Laki-laki," ucap Rengganis dengan senyum yang tertutup masker.
Ia merasakan kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan uang manapun setiap kali berhasil membantu sebuah nyawa baru lahir ke dunia.
Setelah menyelesaikan penjahitan dan memastikan kondisi sang ibu stabil, Rengganis keluar dari ruang operasi.
Ia melepas sarung tangan dan maskernya dengan napas lega.
Ia melirik jam di dinding, lalu teringat pada cincin di jarinya yang tersembunyi di balik sarung tangan tadi.
Sambil berjalan menuju ruang ganti, ia meraba cincin GPS itu.
"Mas Permadi pasti sedang sibuk meeting sekarang," gumamnya dalam hati.
Rengganis tidak tahu bahwa di saat ia berjuang menyelamatkan nyawa, dan Permadi sedang memaparkan masa depan bisnisnya, sesosok wanita yang sudah kehilangan akal sehatnya tengah mengamati gerak-gerik Permadi dari balik pilar lobi hotel di Yogyakarta, menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan segalanya.
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh