NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Sabtu malam di Desa Sukamaju biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik dan obrolan bapak-bapak di pos ronda. Namun, Sabtu malam pertama Freya di sana terasa sangat menegangkan. Sejak sore, Freya terus melirik jam tangannya, mengabaikan ajakan Bimo dan teman-teman KKN lainnya untuk bermain kartu di teras rumah warga yang mereka tumpangi.

"Frey, lo nungguin siapa sih? Dari tadi gelisah bener kayak nungguin paket flash sale," celetuk Jihan, sahabatnya yang ternyata satu kelompok KKN lagi dengannya.

"Eh? Enggak, gue... gue cuma butuh udara segar. Gue ke depan bentar ya!" dalih Freya sambil menyambar jaket hoodie-nya yang kebesaran.

Ia berjalan menuju area gelap di dekat pohon beringin besar, tak jauh dari balai desa. Tak lama kemudian, sebuah mobil off-road hitam yang tampak sangat gagah dan mahal—terlalu mahal untuk ukuran jalanan desa yang berlubang—berhenti dengan perlahan di bawah bayangan pohon.

Pintu terbuka, dan sesosok pria keluar. Freya hampir saja memekik kalau ia tidak segera menutup mulutnya.

Kaisar berdiri di sana, namun penampilannya benar-benar membuat Freya ingin tepok jidat. Meskipun berniat "menyamar" dan "santai", definisi santai bagi seorang Pangeran Mahkota ternyata sangat melenceng. Kaisar mengenakan celana chino desainer warna krem yang sangat rapi, sepatu loafers kulit tanpa kaus kaki, dan kemeja linen biru muda yang disetrika sangat licin—bahkan tidak ada satu pun kerutan meski ia sudah menyetir berjam-jam.

Belum lagi jam tangan limited edition yang berkilau terkena cahaya bulan dan aroma parfum mahal yang seketika mengalahkan bau tanah basah di desa itu.

"Kai!" bisik Freya setengah berteriak sambil menghampirinya. "Kamu harusnya jangan pakai baju begini dong!"

Kaisar mengerutkan kening, menatap pakaiannya sendiri dengan bingung. "Memangnya kenapa? Ini pakaian paling santai yang aku punya di lemari. Aku bahkan tidak memakai dasi."

"Kai, ini Desa Sukamaju, bukan lapangan golf di Zurich!" Freya menarik lengan Kaisar agar lebih masuk ke dalam bayangan pohon. "Lihat tuh, sepatu kamu! Itu kulit asli kan? Bentar lagi kena tahi ayam atau lumpur, nangis kamu nanti! Terus parfum kamu... astaga, ini baunya kecium sampe ujung desa. Orang bakal ngira ada pejabat kementerian lagi sidak!"

Kaisar hanya menghela napas, lalu tanpa aba-aba menarik Freya ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Freya, menghirup aroma cat dan sabun murah yang kini melekat pada istrinya.

"Aku tidak peduli soal sepatu atau parfum," gumam Kaisar pelan. "Aku hanya merindukanmu. Lima hari tanpamu di istana terasa lebih lama daripada tiga puluh hari perjodohan kita dulu."

Sial bagi mereka, keromandisan itu terinterupsi oleh cahaya senter yang tiba-tiba menyorot ke arah mereka.

"Sapa itu?! Sapa di sana?!" suara Pak RT yang sedang keliling ronda terdengar galak.

Freya panik. Ia segera mendorong Kaisar. "Aduh, Kai! Sembunyi!"

"Kenapa aku harus sembunyi? Aku suamimu yang sah," ujar Kaisar dengan harga diri yang tetap tegak.

Pak RT dan dua warga lainnya mendekat. Begitu cahaya senter mengenai wajah Kaisar dan mobil mewahnya, Pak RT langsung melongo. Ia menurunkan senternya, menyadari bahwa pria di depannya ini punya aura yang sangat tidak main-main.

"Walah... punten, Gusti... eh, Den? Ini siapa ya? Kok ganteng banget kayak artis ibu kota?" tanya Pak RT heran.

Freya langsung maju, mencoba memasang wajah senormal mungkin. "Eh, Pak RT! Ini... ini kakak saya, Pak! Iya, kakak sepupu dari kota. Dia mau... nganterin logistik buat anak-anak KKN!"

Kaisar melirik Freya dengan satu alis terangkat. Kakak sepupu? batinnya kesal. Namun, demi kelancaran misi Freya, ia terpaksa mengangguk kaku.

"Selamat malam, Pak," ujar Kaisar dengan nada wibawa yang tak bisa disembunyikan. "Saya hanya mampir sebentar untuk memastikan adik saya baik-baik saja."

"Oalah, pantesan! Bibit unggul semua ya keluarganya," puji Pak RT sambil mengamati mobil Kaisar yang mengkilap. "Mobilnya bagus bener, Den. Ini harganya dapet sawah se-kecamatan ya?"

Setelah berhasil meyakinkan Pak RT bahwa Kaisar bukan intel atau pengembang tanah yang mau menggusur desa, Freya membawa Kaisar ke sebuah warung kopi kecil yang sudah sepi di pojok desa. Ia memesankan segelas teh hangat dan pisang goreng untuk suaminya.

Kaisar menatap meja kayu yang sedikit lengket itu dengan ragu, namun ia tetap duduk demi Freya. Ia memperhatikan Freya yang tampak sangat bersemangat bercerita tentang program kerjanya mengajar anak-anak desa melukis.

"Mereka pinter banget, Kai. Walaupun cuma pake krayon murah, imajinasi mereka luar biasa," cerita Freya dengan mata berbinar. "Tadi ada anak namanya Ucok, dia gambar kamu loh! Dia nanya, 'Kak Freya, suaminya kayak gimana?' Terus aku bilang, 'Kayak robot tapi baik hati'."

Kaisar tersenyum tipis, meraih tangan Freya dan mengusapnya. "Lalu, apakah si 'robot' ini boleh menginap di sini malam ini?"

"Di mana? Di posko KKN?" Freya melotot. "Bisa heboh se-kecamatan kalau ada pangeran tidur di ubin posko bareng Bimo dan yang lain!"

"Aku sudah memesan sebuah penginapan kecil, sekitar 20 kilometer dari sini. Sangat sederhana, tapi setidaknya ada privasi," bisik Kaisar.

Malam semakin larut. Kaisar harus segera pergi sebelum teman-teman Freya mulai mencari-cari. Di samping mobilnya, Kaisar kembali memeluk Freya.

"Sabtu depan aku akan datang lagi," janji Kaisar. "Dan aku akan mencoba memakai... apa tadi istilahnya? Baju yang lebih 'merakyat'?"

"Pake kaos oblong sama celana pendek aja, Kai! Dan jangan pake parfum seheboh ini!" tawa Freya pecah.

Kaisar mencium kening Freya lama sekali. "Jaga dirimu. Kalau Bimo itu macam-macam, katakan saja pada tim keamananku yang menyamar di pasar desa."

"Kai! Jangan diapa-apain Bimo-nya! Dia cuma temen sekelompok!"

Kaisar tidak menjawab, ia hanya memberikan senyum misterius sebelum masuk ke mobilnya. Freya berdiri di bawah pohon beringin, melambaikan tangan sampai lampu belakang mobil Kaisar menghilang di telan kegelapan hutan pinus.

Ia berjalan kembali ke posko dengan hati yang penuh. Meskipun Kai salah kostum dan nyaris membuat geger warga, kehadiran pria kaku itu benar-benar menjadi suntikan energi bagi Freya untuk menyelesaikan 35 hari sisa KKN-nya.

"Dasar robot posesif," gumam Freya sambil tersenyum, tidak sabar menanti Sabtu malam berikutnya—mungkin dengan Kai yang memakai kaos partai atau sarung? Freya tertawa sendiri membayangkannya.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!