Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Hantu Malam Puncak Awan
Satu bulan telah berlalu sejak Lin Xuan memasuki Puncak Awan Dalam.
Bagi para Tetua dan sebagian besar murid, nama "Mu Chen" telah dilupakan. Ia hanyalah murid cacat yang membusuk di Gua Nomor 99 yang miskin Qi. Namun, di balik kelupaan itu, sebuah teror baru perlahan mencengkeram Puncak Dalam.
Teror itu tidak memiliki wajah, hanya julukan yang dibisikkan dengan gemetar di kedai teh sekte: Hantu Malam.
Dalam kurun waktu tiga puluh hari, lima Murid Dalam telah menghilang tanpa jejak. Mereka bukan murid sembarangan. Tiga di antaranya berada di Puncak Qi Condensation, dan dua lainnya baru saja menembus Foundation Establishment awal. Persamaan dari kelima korban ini? Mereka semua dikenal suka memeras murid lain dan menimbun kekayaan di kantung penyimpanan mereka.
Ketika mayat murid kelima ditemukan di dasar tebing jurang belakang, kondisinya membuat Penatua Balai Hukuman bergidik. Mayat itu kering kerontang, kulitnya menempel pada tulang kelabu, tanpa setetes pun darah atau Qi yang tersisa di meridiannya. Dantian nya telah dihancurkan dari luar dengan satu pukulan fisik yang sangat mengerikan.
Malam ini, awan tebal kembali menutupi bulan.
Di sebuah jalan setapak terpencil menuju area Paviliun Pil, seorang pemuda berjubah putih berjalan tergesa-gesa. Namanya Ma Kang, sepupu jauh dari Wang Long. Berkat koneksi keluarganya, ia berhasil mencapai Foundation Establishment pilar pertama dan baru saja mengambil jatah bulanan berupa tiga botol Pil Pengumpul Roh tingkat menengah.
Ma Kang terus menoleh ke belakang, menggenggam gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih.
"Hanya rumor orang-orang penakut," gumam Ma Kang meyakinkan dirinya sendiri. "Aku berada di ranah Foundation Establishment. Hantu Malam itu pasti hanya menargetkan murid lemah"
Wush.
Angin berhembus sedingin es dari arah depan, membawa aroma samar darah kering.
Ma Kang menghentikan langkahnya. Tiga puluh meter di depannya, sesosok bayangan berdiri menghalangi jalan setapak. Sosok itu mengenakan jubah hitam kelam yang menyatu dengan malam, dan sebuah topi caping bambu menutupi wajahnya.
"S-siapa di sana?!" Ma Kang membentak, menghunus pedangnya. Qi elemen tanah meledak dari tubuhnya, membentuk lapisan perisai batuan di atas kulitnya.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju perlahan.
Ma Kang memindai aura sosok di depannya dengan Mata Batin (Divine Sense). Kosong. Tidak ada fluktuasi Qi sama sekali. Sosok itu seperti mayat yang berjalan.
Kepanikan melanda Ma Kang. "Mati kau!"
Ma Kang mengayunkan pedangnya, melepaskan Tebasan Pemecah Gunung yang membentuk gelombang Qi berbentuk bulan sabit raksasa menuju sosok bertopi caping itu.
Sosok hitam itu Lin Xuan bahkan tidak repot-repot menghindar.
Ia mengangkat tangan kirinya yang pucat, meninju langsung ke arah gelombang Qi pembelah gunung tersebut.
BOOM!
Gelombang Qi itu pecah berkeping-keping hanya dengan benturan daging dan tulang murni. Kekuatan fisik dari Tulang Besi Hitam yang kini didukung oleh sembilan pilar Foundation Establishment di dalam Dantian Lin Xuan berada di luar nalar kultivator sekelas Ma Kang.
Mata Ma Kang membelalak lebar. "Tubuh fisik macam apa ini—"
Sebelum kalimatnya selesai, Lin Xuan menggunakan Langkah Hantu Tanpa Jejak. Ia menghilang dari pandangan dan muncul tepat di punggung Ma Kang dalam sepertiga kedipan mata.
Tangan kanan Lin Xuan, yang urat-uratnya kini terlihat menghitam akibat latihan penyiksaan pedang, menembus perisai batuan Ma Kang seolah itu hanya lumpur basah.
Tangan itu mencengkeram tengkuk Ma Kang dengan brutal.
"Ugh!" Ma Kang tersedak, pedangnya jatuh berdenting ke tanah.
"Sepupu yang sombong. Persis seperti Wang Long," bisik Lin Xuan dingin di telinga Ma Kang.
Cincin Jiwa Kuno di jari Lin Xuan menyala dengan warna merah darah yang mengerikan. Saraf-saraf Ma Kang menjerit saat aliran darah dan Qi murni dari Dantian nya disedot keluar secara paksa.
Dalam hitungan belasan detik, tubuh Ma Kang yang berisi menyusut menjadi sekadar tulang berbalut kulit kering. Lin Xuan melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat itu jatuh berdebum ke tanah.
Tanpa ekspresi, Lin Xuan mengambil kantung penyimpanan (Spatial Pouch) dari pinggang Ma Kang, lalu menyiramkan sebotol cairan penghancur mayat ke atas tubuh tersebut. Desisan asap berbau asam naik ke udara, menghapus jejak pembunuhan itu selamanya.
"Enam," gumam Lin Xuan, lalu menghilang ke dalam pekatnya malam.
Gua Nomor 99.
Lin Xuan duduk bersila di atas ranjang batunya yang dingin. Cahaya merah dari Cincin Samsara Darah menerangi wajahnya yang pucat.
Di hadapannya, tertumpuk ratusan Batu Roh kualitas menengah, belasan botol pil, dan beberapa gulungan teknik tingkat rendah hasil panennya selama sebulan menjadi 'Hantu Malam'.
Energi darah Ma Kang baru saja diserap habis. Di dalam Dantian Lin Xuan, sembilan pilar hitamnya berputar dengan lambat dan kokoh. Energi dari Foundation Establishment pilar pertama milik Ma Kang memperkuat Qi di dalam tubuh Lin Xuan secara signifikan.
"Bagaimana retakannya?" tanya Lin Xuan di dalam pikirannya.
Gu Tianxie mendengus. "Masih ada sedikit. Teruslah membunuh. Kultivator dengan satu atau dua pilar tidak cukup untuk menyembuhkan luka akibat Petir Ungu. Kau butuh mangsa yang lebih besar."
Lin Xuan membuka matanya. Ia merasakan kejanggalan. Sebulan meminum darah kultivator Foundation Establishment, tapi garis-garis retak di dasar pilarnya tidak berkurang satu milimeter pun. Sebaliknya, saat ia memusatkan energi pembunuhan seperti saran Gu, garis itu seolah menyerap energi tersebut dan menjadi sedikit lebih gelap.
"Kau berbohong padaku, Hantu Tua?" batin Lin Xuan, nadanya datar namun mematikan.
Gu Tianxie tertawa dingin di dalam cincin. "Berbohong? Aku memberimu kekuatan untuk membantai orang yang tingkatnya di atasmu seperti menyembelih ayam. Jika kau tidak percaya padaku, berhentilah membunuh dan biarkan pilar itu hancur perlahan!"
Sebelum Lin Xuan bisa membalas perdebatan mental itu, telinganya tiba-tiba menangkap sesuatu.
Bulu kuduk di leher Lin Xuan berdiri. Udara di dalam gua yang pengap tiba-tiba berubah. Aroma tanah lembap tergantikan oleh keharuman manis yang memabukkan... seperti bunga lili yang direndam dalam darah.
Formasi Peringatan di luar pintu tidak berbunyi.
Lin Xuan tidak menoleh. Tangan kanannya dengan tenang menggenggam gagang pedang di sampingnya. Sembilan pilar di Dantian nya bersiap meledakkan Tebasan Kilat Hantu kapan saja.
"Membunuh sesama murid dalam demi sumber daya. Kejam, rapi, dan tak meninggalkan jejak. Hantu Malam ternyata bersarang di gua paling buruk di seluruh sekte."
Suara wanita yang merdu, namun dipenuhi nada geli yang mematikan, bergema dari sudut gelap gua.
Lin Xuan menoleh perlahan.
Di atas sebuah batu di pojok ruangan, duduk sesosok wanita. Jubah merah darahnya menjuntai ke bawah seperti kelopak bunga. Kaki jenjangnya yang dibalut sutra putih berayun pelan di udara. Cadar tipis masih menutupi separuh wajahnya, namun sepasang mata berbentuk bulan sabit itu melengkung penuh tawa.
Bai Qing'er.
"Bagaimana kau bisa masuk tanpa memicu formasi?" tanya Lin Xuan dingin, membangkitkan niat membunuh (Killing Intent) dari ratusan nyawa yang telah ia renggut, mengarahkannya lurus ke arah wanita itu.
Bai Qing'er sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan mematikan itu. Ia justru menopang dagu dengan satu tangan, menatap tumpukan hasil jarahan Lin Xuan dengan tatapan menilai.
"Formasi berkarat milik Sekte Awan Hijau ini bahkan tidak bisa menghentikan nyamuk pincang, apalagi aku," Bai Qing'er terkekeh pelan. Ia melompat turun dari batu dengan keanggunan seekor kucing, mendarat tanpa suara di lantai batu.
Ia berjalan mendekat, pinggulnya bergoyang pelan, menyebarkan aroma racun manis yang membuat pusing kultivator biasa. Namun Tulang Asura Lin Xuan secara otomatis menolak racun tersebut.
Bai Qing'er berhenti dua langkah di depan Lin Xuan. Ia menunduk, menatap wajah pucat pemuda yang sedang duduk bersila itu.
"Kau berakting menjadi sampah di depan para Tetua tua bangka itu. Menyembunyikan kultivasi yang sebenarnya sudah mencapai Puncak Foundation Establishment dalam waktu semalam. Benar-benar penipuan yang indah," Bai Qing'er berbisik, suaranya dipenuhi rasa kagum yang gelap.
Mata Lin Xuan menyipit. "Kau terlalu banyak tahu."
Sring!
Dalam seperseribu detik, Lin Xuan mencabut pedangnya setengah inci dari sarungnya. Kilatan Qi perak melesat keluar, menempel tepat di leher jenjang Bai Qing'er, hanya berjarak sehelai rambut dari memotong urat nadinya.
Bai Qing'er tidak berkedip. Senyum di balik cadarnya justru semakin lebar. Ia bahkan sengaja mencondongkan lehernya sedikit ke depan, membiarkan ujung aura pedang Lin Xuan menggores kulit putihnya hingga setetes darah merah seukuran mutiara merembes keluar.
"Bunuh aku," tantang Bai Qing'er lembut, matanya menatap lurus ke dalam pupil hitam Lin Xuan. "Tapi jika kepalaku jatuh ke lantai malam ini, besok pagi seluruh Sekte Awan Hijau akan tahu bahwa Mu Chen adalah Hantu Malam, dan kau menyimpan Token Eksperimen di kantungmu."
Tangan Lin Xuan tetap kokoh, tidak gemetar sedikit pun. "Ancaman dari orang mati tidak berarti."
"Aku tidak datang untuk mengancammu, Tuan Pembunuh," Bai Qing'er mengangkat tangannya yang lentik, perlahan mendorong punggung pedang Lin Xuan menjauh dari lehernya. "Aku datang untuk mengajakmu bekerja sama."
Lin Xuan menekan pedangnya kembali ke dalam sarung dengan bunyi klik yang dingin. "Katakan."
Bai Qing'er melangkah mundur, menjilati tetesan darah dari lehernya sendiri dengan ujung lidahnya sebuah pemandangan yang aneh dan meresahkan.
"Sekte Awan Hijau ini hanyalah cangkang palsu," kata Bai Qing'er, suaranya berubah serius. "Di bawah Puncak Awan Dalam, terdapat Reruntuhan Makam Darah Abadi yang telah disegel selama ribuan tahun. Para Tetua korup sekte ini telah diam-diam menculik murid-murid dan menggunakan darah mereka untuk memberi makan binatang mutasi, mencoba mencari kunci untuk membuka segel makam tersebut."
Mata Lin Xuan mengingat tumpukan mayat kering di Lembah Kabut Beracun dan laba-laba raksasa waktu itu.
"Dan Token Eksperimen yang kau temukan..." lanjut Bai Qing'er, "adalah salah satu kunci formasi untuk masuk ke lapisan luar makam itu."
"Apa untungnya bagiku?" tanya Lin Xuan pragmatis.
Bai Qing'er tersenyum misterius. "Makam itu milik kultivator aliran iblis dari zaman kuno. Di dalamnya terdapat Kolam Sumsum Darah. Jika kau berendam di sana, fondasi pilar yang sedang 'bermasalah' di Dantian-mu itu... bisa disembuhkan secara permanen."
Jantung Lin Xuan berdegup kencang sedetik, namun wajahnya tetap datar. Dia bahkan tahu pilarku retak?
Di dalam cincin, Gu Tianxie menggeram. "Wanita jalang ini! Lin Xuan, jangan dengarkan dia! Dia pengguna Melahap Yin Jiwa dari Sekte Iblis Darah! Dia hanya ingin menggunakanmu sebagai tameng daging untuk melewati jebakan makam!"
Lin Xuan mengabaikan Gu. Ia menatap Bai Qing'er dalam-dalam. Di balik senyum cantiknya, wanita ini adalah ular berbisa yang seratus kali lebih berbahaya dari Wang Long.
"Dan kau?" tanya Lin Xuan. "Apa yang kau inginkan dari makam itu?"
"Sebuah pusaka yang seharusnya menjadi milik sekteku," jawab Bai Qing'er. Ia mencondongkan tubuhnya lagi, mengulurkan jari telunjuknya, dan menyentuh dada Lin Xuan tepat di atas jantungnya.
"Aku butuh kekuatan fisik pembongkar gunung milikmu. Kau butuh informasi dan pemahaman formasiku. Kita saling memanfaatkan. Jika salah satu dari kita lengah..." Bai Qing'er tertawa pelan. "...yang lain berhak membunuhnya."
Lin Xuan menatap jari yang menyentuh dadanya, lalu menatap mata bulan sabit itu. Sebuah transaksi yang sangat adil di Jalan Asura.
"Kapan kita masuk?" tanya Lin Xuan.
Senyum Bai Qing'er merekah sempurna. "Tiga hari lagi. Saat Festival Leluhur Sekte. Semua Tetua akan sibuk mabuk dan berdoa. Pada malam itu, kita akan membongkar kuburan di bawah kaki mereka."