NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membangkitkan Monster

Gultom berteriak dari balik tirai air terjun yang nyaris membeku.

“Yohan! Keluar! Ada suara teriakan—seperti seratus wanita!”

Yohan berdiri, kakinya kaku karena hawa dingin. Ayah tewas mencoba memurnikan Patung ini. Dia gagal di tengah jalan. Sekarang aku menghadapi entitas purba ini telanjang, tanpa perisai ibuku.

“Aku tahu!” balas Yohan, suaranya berusaha mengatasi tekanan fisik yang mengerikan. Dingin dari Batu itu begitu intens sampai tulang-tulangnya terasa bergetar hebat. Ia tahu Gultom hanya memberinya waktu sedikit.

Yohan dengan cepat menatap goresan lumut di altar gua yang menampung catatan terakhir Yosef, tulisan tentang 'akumulasi kegelapan purba'. Tiba-tiba, mata Yohan menangkap detail yang lebih dalam—sketsa kecil di sudut batu, tersembunyi sempurna. Itu bukan catatan Yosef; itu instruksi spiritual.

Yohan meraup sedikit lumpur dingin dari lantai gua dan meletakkannya di tangannya. Dia harus segera mundur dan merencanakan. Kepanikan di luar adalah pengakuan bahwa Kutukan sudah sampai pada mereka secara fisik.

Ia menyelinap keluar gua, bergabung dengan Gultom, Dido, dan Anton, yang berdiri dalam formasi ketakutan, menangkis hawa dingin dengan senter kecil mereka. Kabut hitam elemental kini sudah melampaui ambang Air Terjun yang nyaris beku.

“Air terjun sudah hampir kaku. Kami tidak bisa bernapas, Yohan. Rasanya paru-paru kami akan meledak!” Dido terisak.

“Kita harus cepat kembali. Kabut ini adalah manifestasi dari Kutukan Primordial yang dilepaskan. Ia lapar dan sekarang ia tahu Inti Pusaka sudah kita ambil,” kata Yohan, menahan desakan dingin dari Pusaka di tangannya.

***

Kembali ke desa adalah balapan yang mengerikan. Yalimo yang mereka tinggalkan beberapa jam yang lalu telah memasuki fase kehancuran unsur yang nyata.

Di pekarangan rumah, Yohan segera mendapati tetangga yang panik. Udara kini jauh lebih tebal dari sebelumnya, terasa mencekik dan berbau besi dingin.

“Kami nggak tahu lagi mau berbuat apa, Yohan,” seru Nenek Tua dari seberang rumah, bibirnya membiru kedinginan padahal matahari masih ada di atas.

“Semua kambing ternak Bapak Frans mati dalam hitungan menit. Badannya... Beku. Anak-anak kami batuk. Pusaka! Kau bawa apa itu?”

Mereka menunjuk ke Pusaka Inti Batu yang Yohan bawa, kini Pusaka itu tampak jelas: batu berbentuk elang purba abu-abu, memancarkan kedinginan yang terlihat menyerap energi sekitarnya. Ini bukan patung batu biasa, melainkan semacam generator kehampaan yang sekarang bebas.

“Ini Pusaka murni, Diancang. Ia belum dimurnikan, dan sekarang dia lepas kendali karena tak ada Penyangganya. Jangan dekati. Aku perlu membawanya ke rumah,” kata Yohan, menahan gelombang warga panik yang mencoba merangsek.

“Pemurnian apalagi? Kami cuma mau Marta atau Jiro kembali menenangkan kutukan ini dengan ritual pengorbanan yang lama. Setidaknya dulu Yalimo aman! Walau dengan Marta!” seru seorang pemuda, memprovokasi kerumunan.

Gultom menahan pemuda itu.

“Tidak! Kita sudah setuju pengorbanan masa lalu keji! Kita harus maju bersama Penjaga Baru!”

Yohan berhasil mencapai pintu rumah warisan Ayahnya dan bergegas menutup pintu, sementara gemuruh elemental semakin menguasai desa. Warga menuntut kepastian dan tindakan, tetapi Yohan, Gultom, dan dua pemuda yang setia hanya bisa menatap nanar. Pertaruhan kini terlalu tinggi.

“Dido, Anton. Cari yang paling bijak di desa, suruh mereka mempersiapkan upacara persembahan apa pun di kuil leluhur. Apapun yang murni. Apapun yang dapat memanggil Roh Yalimo untuk kembali fokus. Cepat!” perintah Yohan. Dido dan Anton bergegas pergi.

“Pemurnian adalah satu-satunya jalan,” bisik Yohan, menyentuh Jimat Tulang Ina.

“Tapi butuh Pengorbanan yang lebih besar dari diriku, Gultom. Pengorbanan Jiwa yang kubayar untuk ibuku adalah Pembuka Pintu—membuktikan ketulusan untuk Yalimo. Pemurnian Pusaka ini membutuhkan harga.”

“Apa harganya, Yohan? Apa yang Ayahmu tulis di Gua Suci?” tanya Gultom, giginya bergemeletuk kedinginan.

Yohan mengeluarkan Pusaka Wadah yang diikatkan pada Sumiati dan memegang kedua Pusaka, yang Inti dan Wadah. Keduanya kini beresonansi. Dingin Pusaka Batu seolah-olah mengisap energinya secara total. Rasa kelelahan menyerbu Yohan, membiarkannya terduduk lemah di lantai kayu rumah warisan.

“Ayah menulis, Pusaka ini tidak dapat dihancurkan, itu akan membunuh kita semua. Pemurnian menuntut Pengorbanan Jiwa yang melampaui rasa takut pribadi. Aku berhasil mengorbankan diriku agar Sumiati bebas. Tapi sekarang... Patung ini menuntut aku meyakinkan seluruh Yalimo bahwa tidak ada kebenaran kecuali yang berasal dari kerendahan hati murni,” Yohan menjelaskan, frustrasi.

“Itu terlalu filosofis untuk bencana seperti ini, Yohan! Kamu butuh tindakan militer. Kita sudah diselimuti kabut! Bisakah kita menggunakan kekerasan?”

“Ini bukan musuh yang bisa dibalas dengan senjata, Gultom. Kita membicarakan kekuatan yang ada di setiap mineral di lembah ini,” balas Yohan, suaranya lemah.

Tiba-tiba, ada keributan keras dari gubuk tempat mereka menahan Marta.

Yohan terpaksa bangun. “Marta.”

Mereka keluar ke pekarangan. Para penjaga Marta terlihat takut-takut berdiri di samping gubuk reyot yang bergetar samar karena Pusaka Elemental.

Yohan membuka kunci gubuk yang ringkih. Marta duduk di dalamnya. Dia terlihat tidak dingin secara fisik; malah, dia memancarkan kehangatan internal yang menakutkan, seperti ada sesuatu yang membakarnya dari dalam. Matanya bersinar liar. Jelas Marta—penjahatnya—tidak diserang Kutukan, ia telah terbiasa atau entah bagaimana mendapatkan kekuatan darinya.

Marta tertawa, suara tawa yang tinggi dan melengking, mirip seperti yang Yohan dengar saat pengusiran hantu Sumiati yang gagal.

“Kau melepaskan kutukan itu, Pewaris kota! Aku sudah peringatkan, aku sudah peringatkan! Kau pikir kebenaran Sumiati akan menyelamatkan kita?” seru Marta, bangkit, tetapi tidak mendekati Yohan yang membawa Pusaka.

Yohan memandang Pusaka Batu, lalu ke Marta. “Aku menyelamatkan Ibu, Marta. Ayah adalah martir. Kau adalah pembunuhnya.”

“Yosef hanyalah seorang idiot fanatik yang terlalu sombong! Dia pikir dia bisa menjadi Pahlawan Spiritual sekaligus mengendalikan tambang! Dia seharusnya menyingkir. Janji Darah adalah solusi sementara kami! Itu solusi paling stabil untuk menenangkan Diancang agar perusahaan David bisa menambang aman dan kita kaya. Yalimo perlu distabilitas! Yosef dan istrinya adalah harga murah yang disepakati oleh nenek moyangmu sendiri!” Marta mencibir, tertawa lebih keras. Tawa itu memiliki kualitas histeris.

Gultom gemetar mendengar kebiadaban pengakuan Marta. “Jadi kau senang sekarang Kutukan Primordial dilepaskan, Marta?”

Marta memiringkan kepalanya. Wajahnya bengis.

“Senang? Tentu saja. Kini dia kembali! Entitas itu! Entitas itu butuh kehancuran Yalimo agar dia senang. Dialah yang kita layani, sejak awal mula! Ayahmu mengira Pusaka butuh pemurnian, Yosef ingin menghentikan Kutukan Primordial dengan kerendahan hati. Ide bodoh. Padahal, Kutukan itulah Yalimo!”

Pengakuan Marta menyerang Yohan di titik terlemahnya: keraguan apakah tindakan penyelamatan dirinya tulus murni atau sekadar pemicu bencana yang lebih besar. Yosef sempat menemukan kerendahan hati itu, tapi dibunuh Marta.

“Ayah mencoba mencari ‘Kekosongan yang Murni’. Artinya pemurnian tanpa kendali emosi manusia. Hanya spiritualitas yang berpasrah. Aku tidak tahu bagaimana mencapainya. Ayah gagal, dan Pusaka telah bereaksi terhadapku sebagai Pembuka Bencana,” desah Yohan.

“Aku butuh bantuan spiritual murni untuk ini, Marta.”

Marta terkikik gila. Dia menyentuh dinding gubuk. Dinding itu sekejap menjadi lapisan es yang rapuh, bukan karena Yohan, melainkan karena kontak dengan kekuatan Marta.

“Bantuan apa lagi, Yohan? Dukun Ina? Dia cuma bisa memberimu teori, Pewaris cengeng! Ayahmu sendiri menyerah pada kegilaan demi solusi sementara. Kau sudah membakar ID dan paspormu, tapi kau masih mencari jalan keluar! Tidak ada pemurnian yang mulus di Yalimo!”

“Tutup mulutmu!” sentak Gultom, menghunus tombak kayu tua.

“Kami percaya pada Yohan! Dia tidak takut dengan kematian pribadi seperti kalian!”

“Tutup mulut?” Marta menunjuk ke Kabut Hitam yang mulai meluncur menuruni bukit. Suaranya serak karena kebahagiaannya.

“Kau akan menjadi milik Kutukan itu! Semuanya akan layu, Gultom! Kita tidak perlu Marta, kita tidak perlu Yohan. Kita akan diselimuti kematian! Kau tidak punya cukup pengorbanan di dalam dirimu, Yohan, untuk mengatasi kemarahan ini. Kutukan Primordial adalah Dewa Kematian yang dibendung orang bodoh seperti Yosef!”

Ucapan Marta menggerakkan Yohan. Yosef benar: Pusaka harus dimurnikan. Kegagalan spiritual bukanlah solusi. Jika ia ingin mengatasi ancaman ini, ia harus mengakhiri pertarungan mental ini dan berfokus pada apa yang Ina ajarkan: teknik dan pengorbanan yang tulus, melampaui logika modern dan bahkan trauma Ayahnya.

Yohan maju, tangannya diacungkan, Patung Pusaka menunjuk Marta. Seketika, suhu di gubuk turun drastis, tetapi kali ini dingin Pusaka mematikan kehangatan internal Marta.

“Aku sudah mengorbankan masa depanku di kota untuk ibuku, dan aku tidak akan menyesalinya!” Yohan berseru lantang.

“Aku tidak tahu apa itu Pengorbanan yang ‘Melampaui Rasa Takut Pribadi’, tetapi Ina tahu. Ayahku mati karena tidak memiliki guru yang mumpuni. Tapi aku punya! Jimat Tulang darinya adalah kuncinya,” Yohan berbalik kepada Gultom.

“Marta tidak peduli. Kita harus meninggalkan desa sementara. Kita akan kembali ke Ina, Sang Dukun Penjaga Api. Dialah yang tahu cara memurnikan Patung purba, yang selama ini digunakan Yosef untuk menjaga David tetap aman dan kaya!”

“Kembali? Kita sudah diambang kehancuran Yalimo, Yohan! Perjalanan itu memakan waktu tiga hari!” protes Gultom.

Yohan menatap kabut hitam yang merayap di horizon. Desa Yalimo terasa hening, tapi itu adalah keheningan yang mematikan. Tidak ada suara, hanya rasa sakit kolektif.

“Tiga hari untuk Pemurnian di bawah ajaran Ina, lebih baik daripada mencoba mencari mantra baru Ayahku yang sudah terputus!” jawab Yohan.

“Jika kita gagal, kehancuran akan abadi. Aku harus melakukannya. Pusaka Batu ini harus mendapatkan gurunya, Ina.”

Marta tertawa terakhir kalinya, gila. “Pergilah, Pahlawan bodoh! Aku akan melihat dari Yalimo yang layu, apakah kamu bisa membayar harga untuk sepuluh ribu jiwa!”

Yohan mengabaikannya. Ia meminta Gultom mempersiapkan kuda atau sarana transportasi cepat. Kehadiran Patung Pusaka yang telanjang dan tidak murni ini harus dilindungi.

***

Di kamar warisan, Yohan menyentuh Jimat Tulang yang diberikan Ina—Jimat yang Yohan yakin adalah wadah untuk Kebenaran Spiritual Murni, atau Kunci spiritual untuk membuka ritual Pemurnian.

Saat Yohan merogoh kantungnya dan bersiap meninggalkan Yalimo (lagi), ia memandang Jimat Tulang. Tiba-tiba, ia mendapat bisikan mental. Bukan ilusi godaan, tetapi panduan lembut, menembus pusaran kabut dan dingin. "Api perlu pendorong. Ia perlu energi jiwa murni. Bawalah apa yang paling kamu yakini."

“Api butuh energi jiwa,” Yohan mengulang, berpikir cepat. Jimat Perunggu Sumiati. Namun, energi Pusaka Inti itu kini terasa terlalu brutal, menghisap seluruh jiwanya.

Ia menarik napas terakhir dari Yalimo yang damai, sebelum perjalanan mendesak kembali ke pedalaman yang sangat jauh. Udara terasa tebal dan suram. Ia meninggalkan Yalimo yang dikuasai kepanikan Marta. Tapi dia yakin: ia telah memiliki senjata pamungkas spiritual untuk menantang Imbalance Kosmik yang ia bebaskan.

Yohan meninggalkan rumah. Di luar, Gultom menatap hutan dengan wajah penuh kecemasan. Kabut hitam elemental sudah merangkak perlahan, menyentuh dahan pohon di pekarangan.

“Yohan… jangan terlalu lama,” bisik Gultom.

“Tidak, Gultom. Pusaka Inti akan memanggil semua bencana menuju kepadaku di sepanjang jalan,” Yohan menjawab, mengikatkan Jimat Tulang di lengan yang kuat.

“Dan aku akan menyambut Kutukan itu, sampai aku mendapatkan api Pemurnian.”

Yohan, memeluk Pusaka Inti yang beku itu, melangkah ke jalan setapak yang menuju hutan pedalaman. Udara bergetar dan Kabut Hitam itu menyambutnya, bergerak seolah mengunci Sang Jangkar Baru mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!