NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikan asin dari kamar nomor 04

...​"Pesona Terlarang dari Dasar Lumpur: Sekali Sentuh, Satu Nyawa Tergadaikan."...

......................

Syifa melangkah keluar dari kamar nomor 04 dengan aura yang benar-benar berbeda. Langkahnya mantap, seakan-akan lantai semen yang kumuh itu telah berubah menjadi hamparan permadani merah. Gaun terbaru yang membalut tubuhnya seolah menyatu dengan kulitnya yang kini berpendar halus, memancarkan pesona yang tak masuk akal. Ini adalah hari terakhirnya menjadi penghuni kamar standar—kamar bekas obral sampah yang penuh aroma keputusasaan.

​Kini, ia melangkah masuk ke dalam aquarium dengan percaya diri yang meluap. Di balik kaca besar itu, para "barbie" andalan Mami Maya yang biasanya merasa paling unggul, tiba-tiba terdiam seribu bahasa. Ada rasa iri yang menusuk dan minder yang mendalam menjalar di antara mereka. Atmosfer di dalam ruangan kaca itu mendadak panas. Mereka tidak menyadari, sosok yang kini tampak begitu agung dan molek itu adalah Syifa—wanita yang selama ini mereka remehkan dan mereka bicarakan di belakang punggung karena nasibnya yang selalu sial.

​Mami Maya yang berdiri di depan pintu bar, mengamati dari kejauhan dengan mata menyipit. Ia terperangah. Rokok di jemarinya nyaris terjatuh melihat bagaimana Syifa memainkan gestur tubuhnya; begitu luwes, begitu menantang, dan begitu "mahal".

​"Ikan asin berubah jadi ikan duyung... mahal dadakan!" gumam Mami Maya. Ia ingin terbahak melihat keajaiban ini, namun rasa heran lebih mendominasi hatinya. Ia merasa geli sekaligus takjub melihat bagaimana "sampah" miliknya tiba-tiba berubah menjadi permata paling berkilau.

​"Tumben punya kehidupan," batin Maya sambil menyeringai.

​Begitu pintu bar dibuka, sederet pria VIP—para pejabat dan pengusaha kelas kakap—masuk ke dalam ruangan. Mereka mulai mengamati barisan gadis di balik kaca, namun pandangan mereka seolah terkunci pada satu titik.

​Fantastis! Dalam hitungan menit, kerumunan pria berpakaian mahal itu sudah mengantri di depan etalase Syifa. Mereka mengabaikan gadis-gadis lain, seakan-akan hanya Syifa satu-satunya wanita yang ada di ruangan itu. Mereka terpukau, terhipnotis oleh pesona "duyung" yang baru saja muncul dari dasar lumpur.

​Mami Maya berdiri di sudut ruangan, merasa seperti baru saja mendapatkan jackpot lotre terbesar dalam sejarah bisnisnya. Uang besar sudah membayang di depan mata. Namun di balik kaca, Syifa tersenyum penuh kemenangan yang dingin. Minyak Kukang itu terus berdenyut di setiap pori kulitnya, membakar habis masa lalunya yang hina.

Syifa tersenyum tipis di balik kaca, sebuah senyuman yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Inilah momen permadani terbaiknya. Pria-pria yang dulu menoleh pun tidak, kini bertekuk lutut di bawah kakinya, berebut hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Minyak Kukang benar-benar gila; ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulitnya, menarik jiwa-jiwa haus itu seperti laron menuju api.

​Sementara itu, di luar etalase, Mami Maya mulai beraksi. Ia melakukan negosiasi gila-gilaan, layaknya seorang pelelang yang sedang memamerkan barang antik yang sangat langka. Dengan kepercayaan diri setinggi langit, ia bahkan berani membual dan menyebut selangkangan Syifa masih segel—sebuah kebohongan besar yang ia lempar tanpa kedip.

​"Urusan belakangan kalau ternyata becek dan nggak enak. Paling Syifa cuma digampar," batin Mami Maya masa bodoh. Baginya, urusan kualitas itu nomor sekian, yang penting uang di depan mata.

​Di tengah hiruk-pikuk antrean pria-pria itu, tiba-tiba sosok pria paling "mahal" muncul. Ia datang terlambat, duduk dengan tenang di pojokan yang remang, membiarkan auranya yang dingin mendominasi ruangan. Ia tak perlu berteriak; cukup satu isyarat, dan ajudannya melangkah maju untuk membisikkan sesuatu di telinga Mami Maya.

​"100 juta!"

​Mami Maya hampir melompat histeris. Tawaran itu fantastis! Dari harga obral yang biasanya hanya 100 ribu, kini melonjak menjadi 100 juta. Berapa kali lipat kenaikannya? Otak Maya bahkan tak sanggup menghitungnya dengan cepat, ia hanya tahu ini adalah rejeki nomplok terbesar sepanjang sejarah bar miliknya.

​Tanpa membuang sedetik pun, Mami Maya langsung memasang tanda SOLD OUT pada etalase Syifa. Barisan pria yang mengantri tadi langsung bubar dengan kecewa, mulai sibuk mencari "ikan-ikan" lain di balik aquarium bak kucing garong rakus yang sedang kelaparan.

​Di balik kaca, Syifa bergetar. Rasa penasaran bercampur gugup menyergapnya. Siapa pelanggan VIP itu? Dan yang paling penting, berapa angka yang disepakati?

​"Berapa angkanya? Apa cuma naik sejuta?" pikir Syifa getir. Ia membayangkan bahwa ia masih harus berhutang selamanya pada Mami Maya.

​Mami Maya melangkah mendekat ke arah Syifa dengan wajah yang sengaja dibuat biasa saja, meski hatinya sedang bersorak. Ia membisikkan angka yang menurutnya sudah cukup besar untuk membungkam mulut Syifa.

​"Kau ditawar 30 juta. Lumayan, kan?"

​"30 juta?" Syifa terperangah. Baginya, angka itu sudah seperti mukjizat. Ia tidak pernah tahu bahwa harga fantastis yang sebenarnya telah dikorupsi gila-gilaan oleh Mami Maya. Tujuh puluh juta raib dalam sekejap ke kantong tas kulit buaya milik sang mucikari.

Syifa melangkah keluar dari aquarium kaca itu dengan kepala tegak, meninggalkan barisan "barbie" yang masih terpaku tak percaya. Transisi ini terasa seperti mimpi yang sangat ganjil. Baru tadi sore ia meringkuk di Kamar Nomor 4 yang pengap, menghitung retakan di langit-langit yang bocor dan menghirup bau pesing yang merembes dari kamar mandi umum. Kamar belakang bar itu adalah saksi bisu kehinaannya, tempat ia diobral seperti sampah yang tak berharga.

​Namun malam ini, nasibnya melompat melewati kasta yang tak pernah ia bayangkan.

​Sebuah mobil mewah membawanya meninggalkan bar kumuh itu menuju sebuah hotel bintang enam di jantung kota. Saat pintu Presidential Suite terbuka, Syifa terpaku di ambang pintu. Kamar itu bukan lagi sekadar ruangan; itu adalah istana di atas awan. Lantai marmernya mengkilap seperti cermin, lampu kristalnya berpendar keemasan, dan keheningannya terasa begitu megah—sangat jauh dari kebisingan musik disko dan teriakan pria mabuk di bar.

​Di ujung ruangan, di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap Jakarta, seorang pria berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan kimono mandi sutra hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya yang tegap dan tinggi. Punggung itu tampak sangat bersih, memancarkan aura kekuasaan dan kekayaan yang tak terukur.

​Syifa mendadak gugup. Ia merasa dirinya masihlah "ikan asin" dari Kamar Nomor 4, namun Minyak Kukang yang meresap di kulitnya terus berdenyut, memberinya kekuatan yang memabukkan.

​Pria itu perlahan berbalik.

​Deg!

​Jantung Syifa seolah berhenti berdetak. Dunia seakan sunyi seketika. Pria itu, Broto Adiningrat, bukan sekadar tamu VIP biasa. Ia adalah pria paruh baya dengan garis wajah ningrat yang sangat tajam dan memikat. Ketampanannya adalah jenis yang tidak bisa luntur oleh waktu, sangat bersih, dan sangat berwibawa.

​Syifa tergugu. Sepanjang hidupnya di dunia hitam, ia hanya pernah menemui pria-pria gembel, pria kasar, atau si "raksasa tronton" yang bau keringat. Bahkan jika dibandingkan dengan pria pertama yang menghancurkan masa gadisnya saat diobral dulu, pria di depannya ini berada di level yang mustahil digapai. Ketampanan Broto membuatnya merasa pening.

​"Sini," suara Broto rendah dan berat, bergetar di telinga Syifa seperti melodi yang berbahaya.

​Syifa melangkah gemetar di atas karpet tebal yang terasa seperti kapas di kakinya. Saat ia mendekat, aroma mistis dari Minyak Kukang mulai menguap hebat dari tubuhnya, memenuhi ruangan mewah itu dan mulai menjerat indra sang pria ningrat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!