Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Yang Mau Pergi ?
Aku pergi?
Pertanyaan itu menggantung di udara—atau pada apa pun yang menyerupai udara di Ruang Tunggu—seperti kabut yang menolak larut.
Aku mati?
Perempuan itu menatap tangannya—atau sesuatu yang ia yakini sebagai tangan. Cahaya yang berdenyut pelan, transparan, tak menyatu dengan tubuh yang bahkan tak lagi ia miliki. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, mencoba merasakan sesuatu, tidak ada sentuhan, tidak ada suhu atau kesadaran yang melayang hanya jiwa yang tenang.
“Kamu sudah dipanggil," ujar perempuan tua itu datar, tanpa nada, tanpa empati yang berlebihan. “Pukul 03.47 WIB. ICU nomor tujuh. Di pangkuan suamimu.”
Kinan jatuh—meski tak punya tubuh untuk jatuh, tak ada gravitasi yang menariknya. Rasanya seperti hancur lagi, padahal ia sudah hancur sejak tiba di tempat ini.
Dan anehnya, ada serpihan kelegaan yang terasa salah, salah waktu, salah tempat ataupun salah segalanya.
“Aku ingat…” bisiknya, getar pikiran seperti senar yang ditekan terlalu keras. “Aku ingat Mas Raka saat dia menangis. Aku ingat kata kataku sendiri ‘Mas Raka, Kinan capek, Kinan sayang Mas, Iklas kan Kinan pergi, Cinta ini hanya untuk mas selamanya."
Perempuan itu tidak menjawab, mata tua biru muda —menatap tanpa berkedip. Ia sudah terlalu sering menyaksikan ini. Jiwa-jiwa yang menyesal saat terakhir, detik yang hilang karena semua kenangan yang tak kan bisa diulang.
“Apa dia tahu?” tanya Kinan tiba tiba panik. “Apakah Mas Raka tahu aku sayang dia? Apakah dia mengerti aku nggak mau pergi? Bahwa aku berjuang sampai akhir untuknya?”
Tak ada air mata. Tapi duka tetap menemukan bentuknya dalam jiwa walau diatas dunia tanpa bentuk .
“Dia tahu,” balas perempuan itu lembut. “Cinta yang cukup kuat untuk menahan mu di Ruang Tunggu tidak mungkin tak terasa, mungkin bukan lewat kata-kata. Tapi lewat sesuatu yang lebih dalam, lebih berarti untuknya.”
Kinan ingin percaya menggenggam keyakinan itu seperti tenggelam di udara.Tapi pertanyaan yang lebih besar datang.
“Mas Raka… gimana dia?”
“Dia masih hidup,” katanya pelan. “Tapi tidak baik-baik saja. Bayangan hitam yang kamu lihat itu bukan sekadar duka. Itu godaan terbesar keinginan untuk menyusul mu, jiwanya lelah sama sewaktu kamu sakit, walau banyak yang menghibur tapi tidak akan mempan.
Kinan terdiam sesaat lalu
" Jika dia tak menemukan alasan untuk bertahan… dia bisa memilih berhenti.”
Wanita itu merasakan sesuatu yang menyerupai jantung berdegup, tekad menyala seperti api.“Aku harus bantu dia, Bu.”
Ia menggeleng pelan.“Tidak semudah itu, Kinan, Ruang Tunggu punya hukum Tuhan, Kamu tak bisa sembarang pergi, menyentuh dunia sana karena alam kita sudah berbeda. Ada harga yang harus dibayar.”
“Apa pun itu, aku harus pulang.”
Ia menatapnya lamat terlalu sering mendengar kata itu saat lalu dan sekarang, ketika semuanya telah runtuh dan penyesalan diatas dunia.
“Setiap kali kamu berinteraksi dengan dunia sana—masuk ke dalam mimpinya, memberi firasat, menggeser bayangan—kamu akan kehilangan bagian dari dirimu, bukan tubuh, kamu sudah tak punya itu, tapi esensi akan kenangan, perasaan. Hal-hal yang membuatmu… menjadi seorang Wanita bernama Kinan.”
Ia terdiam pilu.
“Maksudnya?”
“Jika kamu terlalu sering pergi, kamu akan lupa siapa dirimu, lupa siapa dia, lupa cinta yang menahan mu di sini karena ingatanmu akan beralih hanya kepada Tuhan. Dan saat itu pula… kamu tak lagi disini, tak lagi menunggu. Kamu akan dibawa ke alam lain."
Hilang.Pergi. Tuhan
Bukan mati bukan hidup bukan apa-apa hanya menunggu untuk hari kebangkitan.
“Aku akan melupakan Raka?” suaranya retak. “Lupa cinta kami ?”
Ia mengangguk dan menggeleng.
“Itu sebuah jalan dan perintah Tuhan, bukan berarti jiwamu akan melupakan, nanti di suatu masa, disuatu waktu pertemuan itu akan datang."
Sunyi mengental di antara mereka.
“Cinta yang tak dilepaskan bisa menjadi penjara, Kinan” lanjutnya, Tuhan memberimu waktu untuk menyelesaikan. Dan penjara yang terlalu lama dihuni akan memakan penghuninya.”
“Mengimbangi apa?”
“Mengimbangi mencintai dengan mengikhlaskan,” jawabnya. “Tetap mencintai, tapi tidak menggenggam terlalu keras. Itu yang membuatku masih ada disini karena jiwamu tidak rela… meskipun sudah lupa siapa yang di tunggu.”
Untuk pertama kalinya, Kinan benar-benar melihat jiwa yang tetap bertahan meski kenangan terkikis.
“Aku nggak mau lupa,” kata Kinan tegas. “Aku mau membantu Raka. Tapi aku juga mau tetap menjadi diri sendiri.”
Ia tersenyum ada harapan yang kecil, tapi nyata.
“Kamu berbeda Nak,” katanya. “Kamu ingin mencintai tanpa menjadi korban dari cintamu sendiri. Itu… mungkin menyelamatkan, tapi semua ada dijalan Tuhan, karena Dia yang memutuskan.”
“Ajarkan aku , gimana caranya?”
“Kita mulai dengan melihat tanpa menyentuh, mengubah hanya memahami. Perhatikan baik baik."
Di hadapan Kinan muncul sesuatu yang menyerupai cermin Dan ia melihatnya
Laki laki itu didalam kamar mereka. Di atas ranjang yang kini terasa terlalu luas. Ia berbaring di sisi tubuhnya dulu, memeluk bantal menggantikan yang hilang.
“Sayang…” suara nya pecah. “Mas pulang lho, kamu dimana?”
Jiwanya terasa remuk entah apa nama entitas tersebut didalam jiwa datang dari alam yang berbeda
“Mas...Kinan di sini, ” bisiknya. “Kinan nggak pergi. cuma… nggak bisa mas sentuh.”
Raka menutup mata, wajahnya terkubur di bantal air matanya jatuh.
Dan untuk sepersekian detik—hanya sepersekian—ia berhenti menangis. Seolah ada sesuatu yang lewat seperti angin yang tak kasat mata menyentuh rambutnya.
“Dia merasakan kehadiran mu,” kata perempuan tua itu pelan. “Hanya sedikit tapi cukup untuk sekarang.”
Kinan menatap dunia itu dengan cinta yang tak berkurang meski tubuhnya sudah tiada.
Ini bukan lagi penolakan penerimaan pahit.
Ia sudah pergi menghadap Rabb tapi cintanya belum.
Dan selama ia masih bisa memilih, ia akan bertahan—bukan untuk menggenggam keras, tapi untuk menjaga agar Raka tidak ikut tenggelam bersamanya. Ia ingin laki laki itu, orang yang disayanginya tetap hidup menjalani kehidupan ada dan tiada sebelum pertemuan hakiki di surga .
Meskipun harga sebuah kenangan, risikonya melupakan, meski pada akhirnya ia sendiri mungkin pergi ke alam lain selama nya...
mampir 🤭