NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Gosip yang Sampai ke Meja Guru

..."Kami tidak pernah mendefinisikan apa-apa, tapi dunia sudah lebih dulu memberi kami nama."...

Happy Reading!

...----------------...

Sekolah hari itu terasa lebih ribut dari biasanya.

Bukan ribut yang kacau, tapi ribut yang penuh persiapan. Lorong-lorong dipenuhi siswa berseragam rapi, rambut ditata lebih patuh dari hari biasa.

Jadwal foto ijazah akhirnya tiba, momen yang sudah dibicarakan sejak berminggu-minggu lalu, lengkap dengan keluhan, candaan, dan kepanikan kecil.

Satu per satu kelas dipanggil sesuai urutan.

Ada yang bolak-balik menyesuaikan kerah kemeja, ada yang menepuk sepatu agar mengilap, ada yang menatap cermin sambil menggigit bibir menahan grogi. Gurunya pun sibuk meluruskan posisi murid, sesekali menepuk bahu atau menegur dengan senyum tipis—semua terlihat seperti ritual rutin yang menegangkan sekaligus menghibur.

Kelas kami kebagian giliran siang.

Menunggu justru membuat suasana semakin ramai. Setiap kali pintu kelas terbuka dan guru memanggil kelas lain, selalu ada komentar, celetukan, dan teriakan iseng dari bangku belakang.

Saat giliran kami akhirnya dipanggil, aula kecil di ujung koridor sudah disulap menjadi studio dadakan. Latar kain polos dipasang seadanya, lampu-lampu tambahan menyala terang, dan beberapa kursi disusun rapi di depan kamera. Beberapa guru berdiri membantu mengatur barisan-ada yang memastikan posisi duduk rapi, ada yang mengecek atribut, ada juga yang sekadar berdiri sambil mengawasi sambil sesekali menggoda murid-muridnya.

Aku berdiri di barisan tengah.

Raven tidak jauh dariku.

Seperti biasa, ia terlihat santai, seolah ini hanya hari sekolah biasa. Kemeja putihnya rapi, dasi tergantung pas, rambutnya sedikit berantakan-bukan berantakan yang asal, tapi berantakan yang entah bagaimana selalu terlihat cocok di dirinya. Wajahnya tenang, tidak tampak tegang, tidak juga terlalu bersemangat.

Raven memang selalu begitu.

Dan semua guru di sekolah ini mengenalnya.

Bukan cuma karena sikapnya yang kalem atau karena namanya sering muncul di papan nilai. Tapi karena satu hal lain yang hampir semua orang tahu-meski jarang dibicarakan secara langsung.

Ia anaknya Pak Aditya Pratama.

Pak Aditya memang tidak mengajar di kelas kami, tapi namanya cukup disegani. Guru senior. Tegas. Disiplin. Dan dikenal hampir oleh semua siswa. Beberapa orang bahkan bilang, aura Raven sedikit banyak mirip ayahnya-tenang, tertutup, dan tidak banyak basa-basi.

Di antara guru-guru yang sedang mengatur barisan, ada Pak Damar, guru fisika, dan Bu Ratna, guru bahasa Inggris. Keduanya berdiri tak jauh dari Raven, sesekali melirik ke arahnya dengan senyum penuh arti, seolah ada bahan candaan yang sedang disimpan.

"Eh, Raven," sapa Pak Damar sambil melipat tangan di depan dada.

"Kamu gimana? Udah punya pacar belum sekarang?"

Kalimat itu terdengar ringan. Santai. Tapi efeknya langsung terasa.

Suasana di sekitar kami berubah.

Beberapa teman sekelas refleks menoleh. Ada yang menahan tawa sambil menutupi mulut dengan tangan, ada yang mengangkat alis sambil menatapku penasaran, ada yang pura-pura sibuk menulis di buku tapi matanya jelas mengikuti kami. Aku menelan ludah, menunduk sebentar, lalu merasakan telinga memerah.

Raven tertawa kecil, sedikit menggaruk tengkuknya—gestur khasnya saat merasa kikuk atau tidak nyaman dengan perhatian yang tiba-tiba. Ia menoleh ke arah lain sejenak, menggigit bibir bawah, seolah berharap topik itu cepat berlalu.

"Pak, kok nanyanya gitu sih."

Bu Ratna ikut nimbrung, matanya berbinar jahil, sedikit condong ke depan seolah ingin membaca reaksi kami.

"Ya namanya juga penasaran. Anak Pak Aditya, masa nggak boleh ditanya?"

Raven masih tertawa, bahu sedikit mengangkat, tangannya menepuk lutut ringan—tanda ia ingin santai tapi tetap kikuk.

Dan tepat di saat itulah—Arkan membuka mulut.

"Udah ada, Bu," katanya enteng, tanpa beban.

"Pacarnya itu."

Tangannya terangkat, menunjuk lurus ke arahku. Jari-jari lurus, telapak sedikit terbuka, seolah menekankan.

"Hah?!" refleksku, terlalu kaget untuk berpikir. Mata semua orang tertuju padaku. Beberapa menahan tawa sambil menutupi mulut, beberapa bersiul pelan. Pipiku panas, pundakku ikut naik, tangan menekan buku di pangkuan, jari-jari menekuk dan menggenggam buku secara refleks. Aku ingin hilang dari sana, tapi kaki tetap terpaku di lantai.

Tawa langsung pecah di mana-mana. Ada yang menepuk meja, ada yang berseru memanggil nama kami, ada yang menepuk bahu temannya sambil menunjukku, nada suara penuh godaan dan senyum nakal.

Bu Ratna menyipitkan mata, lalu melangkah mendekat. Pandangannya jatuh ke name tag di dadaku. Ia menunduk sedikit, membaca perlahan.

"Shaira..." ucapnya pelan, seolah mengeja.

"Oh. Shaira Aluna Maheswari."

Nada suaranya tidak mengejek. Justru terdengar seperti sedang mencatat sesuatu di kepala. Matanya berkedip tipis, menahan senyum, dan kepala sedikit condong ke samping, seolah menunggu reaksi berikutnya.

Pak Damar terkekeh kecil, bahunya bergerak naik turun pelan.

"Cocok."

Aku buru-buru menggeleng, wajahku panas, tangan menutupi sebagian pipi, lutut ikut gemetar sedikit.

"Eh-engga, Bu. Engga kok."

Kalimat itu keluar terlalu cepat, terlalu gugup, hampir tersendak di tenggorokan.

Raven masih tertawa, tapi kali ini terdengar sedikit pasrah. Bahunya turun, telapak tangannya menekan lutut, dan ia mencondongkan badan sedikit ke arahku, memberi tatapan singkat—sekejap yang entah kenapa membuatku makin gugup.

Bu Ratna tersenyum penuh arti, kepala sedikit dimiringkan, mata menatapku tajam tapi ramah.

"Iya, iya. Santai aja. Ibu cuma nanya."

Tapi dari caranya menatap, aku tahu, ini tidak akan berhenti di situ.

Dan benar saja.

...----------------...

Beberapa hari setelah foto ijazah itu, gosip kecil yang lahir di aula ternyata tidak menguap begitu saja.

Ia berjalan. Pelan. Tapi jauh.

Sampai ke tempat yang lebih berbahaya.

Ruang guru.

Siang itu, pelajaran berlangsung seperti biasa. Bu Maya, wali kelas kami, sedang mengajar dan menyuruh kami duduk berkelompok untuk diskusi. Meja-meja digeser, kursi diseret, suasana kelas berubah lebih santai.

Tanpa banyak mikir, kami berpindah tempat.

Dan entah kebetulan atau takdir yang sedang iseng—aku dan Raven satu kelompok.

Aku baru menyadarinya saat sudah duduk. Tanganku menutup buku sedikit, jantung berdegup lebih cepat, pundak terasa panas.

Belum sempat bereaksi, Bu Maya berjalan mengelilingi kelas, matanya menyapu setiap kelompok, lalu langkahnya berhenti tepat di depan kami.

Beliau mengernyit kecil, dagunya sedikit diangkat, matanya menyipit menatap kami dengan penuh rasa ingin tahu.

"Loh..."

"Shaira sama Raven satu kelompok?"

Seketika, kelas meledak.

Tawa pecah di mana-mana. Ada yang menepuk meja pelan, ada yang menepuk bahu temannya sambil menunjuk kami, ada yang bersiul sambil menutup mulut dengan tangan, dan beberapa menahan tawa sambil mencondongkan tubuh ke depan. Aku menunduk, wajah panas, tangan menutupi pipi, berharap bisa menghilang ke bawah meja.

Raven tertawa kecil, bahunya ikut terangkat, tangan menepuk lutut dengan santai, seperti biasa ia tetap tenang di tengah kekacauan.

"Ibu tau dari mana?" tanyanya santai, matanya menatap ke arah Bu Maya tapi sudut bibirnya menekuk tipis, menahan senyum.

Bu Maya mengangkat alisnya, dagu sedikit maju, kepala mencondongkan ke samping.

"Ada gosip di kantor."

Tawa makin menjadi. Beberapa teman sekelas menepuk meja keras, berseru “ciee!” dan menoleh ke arah kami sambil menyengir nakal. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, telapak menekan pipi, lutut sedikit bergetar.

Aku mengangkat wajah sedikit, menatap Raven sekilas, yang masih duduk santai, bahu santai tapi mata tetap memperhatikanku dengan sorot hangat—seolah mencoba menenangkan. Gosip... kantor?

Bu Maya lalu mengalihkan perhatian ke Raven. Ia mencondongkan tubuh sedikit, tangan di pinggang, senyum lebar tapi matanya bersinar penuh arti.

"Kamu jadi kuliah ke luar kota, ya?"

"Iya, Bu," jawab Raven singkat, bahunya bergerak naik pelan, tangan menepuk lutut, kepala sedikit menoleh ke samping.

Beliau mengangguk pelan, lalu—tanpa aba-aba—menoleh ke arahku. Kepala dimiringkan, senyum lebar masih terjaga.

"Shaira gimana?"

Aku benar-benar tidak siap. Bibirku tercekat, tangan menutup mulut sebentar, pundak ikut naik, lutut terasa kaku.

"Maksudnya, Bu?"

Bu Maya tersenyum lebar, dagu sedikit terangkat, matanya berbinar jahil, senyum yang terlalu cerah untuk sekadar pertanyaan biasa—jelas mengandung godaan.

"Ya... ikut Raven, kan?"

Kelas langsung ribut lagi.

"BUUU-"

"HAHAHAHA!"

Beberapa teman bersiul, menepuk meja, menoleh sambil tertawa tanpa dosa. Ada yang menunjuk kami, ada yang mencondongkan badan ke depan untuk melihat reaksiku lebih jelas. Aku menunduk lagi, tangan menekan pipi, telapak menempel di wajah, jantung berdetak kencang, wajah panas.

"Bawa aja Shaira," tambah Bu Maya santai, tangan menekuk di pinggang, tubuh condong ke depan sedikit, matanya masih bersinar.

"Jangan ditinggal. Nanti malah LDR."

Raven hanya menggaruk tengkuknya, bahu naik turun, jelas kebingungan harus menjawab apa. Ia tertawa kecil, bahunya santai, tangan menepuk lutut, pasrah pada keadaan yang sudah telanjur berkembang ke mana-mana.

Aku menutup wajah dengan tangan, menekan pipi, rasanya panas dan malu bercampur aduk. Napasku sedikit cepat, lutut gemetar.

Dan saat itu aku sadar—gosip ini sudah resmi naik level.

...----------------...

Pelajaran belum sepenuhnya kembali tenang saat terdengar ketukan di pintu.

Tok. Tok.

"Silakan," kata Bu Maya, sambil menoleh ke pintu dengan mata setengah terpejam.

Pintu terbuka perlahan. Pak Damar berdiri di ambang pintu, satu tangan menahan pintu, yang lain menggenggam beberapa lembar kertas. Matanya menyapu kelas dengan sorot tegas tapi ramah.

"Maaf ganggu sebentar," katanya, menunduk sedikit. "Saya cuma mau nyampein pengumuman."

Kelas langsung diam, semua mata menatapnya.

Pak Damar melangkah masuk. Sepatu berdecit pelan di lantai kayu, langkahnya mantap tapi tidak tergesa-gesa.

"Buat kelas tiga, besok ada pengumpulan berkas kelulusan tambahan. Tolong dicek lagi, jangan sampai ada yang kurang. Kalau masih ada yang belum lengkap, segera ke TU."

Beberapa murid mengangguk, beberapa menunduk sambil menulis.

"Iya, Pak," jawab kami serempak.

Pak Damar hendak keluar, tapi langkahnya terhenti. Matanya menangkap satu sosok.

Raven.

"Raven," panggilnya. Suaranya terdengar cukup jelas, matanya menatap lurus ke arah Raven.

"Iya, Pak?" Raven mengangkat kepala, mata menatap ke arah Pak Damar, wajah tetap tenang tapi bahunya sedikit menegang.

"Kemarin kamu nggak masuk sekolah," lanjut Pak Damar. "Izin ngapain?"

Dadaku langsung sesak. Pundakku terasa berat, telapak tangan menekuk di atas meja, jari-jari sedikit gemetar.

"Izin, Pak," jawab Raven tenang, bahunya santai tapi ada sedikit getaran di tangan yang menggenggam pensil di meja.

"Ngurus SIM."

Pak Damar mengangguk, dagu sedikit menekuk ke bawah.

"Oh... SIM?"

Nada suaranya terlalu santai, tapi matanya menyorot dengan kilatan jahil yang samar.

Lalu, dengan senyum paling jahil yang pernah kulihat, ia berkata cukup keras untuk satu kelas penuh:

"Surat Izin Menikah sama Shaira ya?"

Hening.

Setengah detik.

Lalu—

KELAS MELEDAK.

Tawa pecah tanpa ampun. Kursi berderak, beberapa meja ditepuk keras. Beberapa teman memiringkan tubuh ke depan sambil menepuk lutut, ada yang menutup mulut dengan tangan tapi matanya berbinar nakal. Bahkan Bu Maya menutup mulutnya, mencoba menahan tawa, bahunya terangkat pelan beberapa kali.

Aku membeku, tangan menempel di wajah, telapak menutupi pipi, lutut sedikit bergetar. Mukaku panas, seluruh tubuh rasanya tegang. Otak rasanya kosong.

"Hah...?" gumamku pelan, nyaris tak terdengar, hanya bisa menoleh ke arah Raven yang tetap duduk tenang.

Raven menarik napas kecil, pundaknya santai, tapi telinga jelas memerah. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, lengan bertumpu di atas meja, menatapku sekilas dengan mata hangat.

"Bukan, Pak," katanya cepat, hampir terdengar terburu-buru.

Tapi tawa justru makin keras. Beberapa teman mengangkat tangan sambil tertawa, ada yang menunjuk ke arah kami, ada yang bersiul sambil mencondongkan tubuh ke depan.

Pak Damar tertawa puas, bahu berguncang sedikit.

"Bapak cuma bercanda."

Ia melirik ke arahku sekilas, senyum tipis di bibirnya, lalu menambahkan:

"Yang penting SIM-nya jadi."

Lalu pergi, langkah mantapnya meninggalkan kelas yang masih dalam kondisi chaos.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan, menekan pipi, lutut bergetar, napas masih cepat.

Raven mencondongkan badan sedikit ke arahku, mata menatapku lewat sisi helm rambutnya—sorot mata yang tenang, bahu rileks tapi jarinya tak sengaja menempel di tangan yang menutup wajahku.

"Maaf," ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.

Aku menggeleng pelan, telapak tangan turun perlahan dari wajah, wajah panas tapi lega sedikit.

"Bukan salah kamu."

"Kayaknya sekarang satu sekolah tau kita pacaran," gumamnya, bahu santai, senyum tipis di bibir tapi matanya tetap hangat.

Aku hampir tertawa, tapi hanya menahan senyum, menoleh sebentar ke teman-teman yang masih tertawa kecil.

Pelajaran berlanjut. Kelas akhirnya tenang. Tapi rasa malu itu belum sepenuhnya hilang.

Di tengah semua itu, aku sadar satu hal—Raven tetap duduk di sampingku, bahunya santai, tangan bertumpu di meja, mata sesekali menatapku dengan sorot menenangkan.

Tenang. Diam. Tidak pergi ke mana-mana.

Hari itu aku belajar:

Gosip bisa berjalan jauh. Bisa tumbuh dari candaan kecil. Bisa sampai ke meja guru.

Tapi selama Raven masih di sisiku, aku sanggup berdiri di tengahnya.

...----------------...

“Shaira – ternyata semua orang tau tentang kita.”

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!