Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman kecil
Annette keluar dari kamarnya dan meninggalkan Leon yang tidur kembali. Pandangannya lurus ke depan dan sebuah kemarahan tersirat di wajahnya. Ia tidak tau kenapa ia merasa marah. Mungkin hati pemilik raga ini yang marah mengetahui sebuah fakta akan kepergian ibunya.
Annette memasuki kamar Emilie yang pintunya sedikit terbuka. Dua orang pelayan sedang membantu Emilie menata rambutnya.
"Kakak, sedang apa kau disini ?" tanya Emilie dengan takut.
"Hanya lewat saja. Dan ingin menyapamu di pagi yang indah ini," jawab Annette tegas tanpa senyum.
"Kalian keluarlah," perintah Annette pada kedua pelayan yang menatapnya dengan takut.
Aura kesombongan Annette begitu kuat hingga membuat segan para pelayan yang bekerja di rumah besar Tuan Wiles.
"Kenapa kaka mengusir mereka. Aku belum selesai," kata Emilie panik. Ia merasa Annette akan melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya dan ia yakin itu.
"Kenapa wajahmu pucat ? apa kau sakit ?" tanya Annette mulai mendekat. Suaranya dibuat selembut mungkin. Bukannya merasa lebih baik, Emilie justru semakin takut.
"Pu pucat ?" gugup Emilie menyentuh wajahnya sendiri.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Mungkin karena belum makan jadi aku lemas," jawabnya lagi.
Annette hanya mengangguk lalu duduk di meja rias Emilie hingga beberapa peralatan riasnya jatuh ke lantai dan rusak. Emilie ingin marah dan berteriak, tapi ia ingat di hadapannya Annette jadi ia tidak berani melakukan apapun.
"Kau menyukai semua barang-barang ini ya ? Dari mana kau mendapatkan nya ?" tanya Annette memungut sebuah wadah kecil yang berisi pemerah pipi.
"Ayah yang membawakan nya dari berlayar, kak" jawab Emilie.
"Lalu untukku ? apa Ayah membelikannya juga ?" tanya Annette.
"Aku aku tidak tau, Kak. Itu sudah lama sekali," lagi Emilie menjawab.
Annette mengangguk lalu melempar pemerah pipi itu hingga isinya bertebaran ke lantai marmer di kamar Emilie.
"Wah maafkan kau, aku tidak sengaja merusaknya," kata Annette dengan ekspresi wajah yang dibuat menyesal.
"Tapi aku akan menggantikan nya," lanjutnya lalu mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tadinya ia selipkan di belakang sepatu kulitnya.
Wajah Emilie pias saat merasakan dinginnya pisau itu menyentuh pipi kanannya lalu berpindah ke pipi kirinya.
"Kak, apa yang mau kau lakukan ? Kau tidak bermaksud melukai ku kan ?" tanya Emilie dengan lemas. Ia benar-benar takut dan tidak berani berteriak meminta pertolongan.
"Tentu saja tidak. Kalau aku ingin melukaimu, sudah dari dulu kulakukan. Tapi nyatanya tidak kan ? Aku bahkan membiarkan mu menguasai Ayah sendirian. Aku juga memberimu dan ibumu kesempatan untuk membunuhku," bisik Annette dengan suaranya yang begitu dingin hingga membekukan tubuh Emilie.
Lagi-lagi Emilie terkejut dengan apa yang di dengarnya. Apa maksudnya Annette sudah tau kalau ia dan ibunya berusaha melenyapkan Annette ?
"Apa yang kau bicarakan, Kak ? Itu tidak benar ?" kata Emilie sembari menggeleng pelan.
"Tidak benar ? Jadi bagaimana yang benar ? Ayo beritahu aku," balas Annette. Suaranya benar-benar tenang namun justru menenggelamkan Emilie dalam ketakutan.
Emilie tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya terbelalak mengikuti setiap gerak pisau yang berpindah-pindah.
"Kau cantik sekali, Emilie. Pasti ibumu begitu memanjakan mu ya," kata Annette lagi.
"Bagaimana jika wajahmu ku rusak hingga semua orang yang mengagumi mu menjadi ketakutan saat melihatnya ?" bisik Annette.
"Jangan, Kak. Jangan lakukan itu. Aku tau kau baik. Kau menyayangiku. Lalu kenapa kau ingin melukaiku ?" Emilie sudah menangis ketakutan. Ia tidak peduli lagi dengan riasan nya yang mungkin saja sudah luntur.
"Kalau begitu katakan pada ibumu jangan coba-coba mencari gara-gara denganku. Aku tau kalau ibumu lah yang merencanakan pembunuhan ku kemarin. Ia sengaja menyuruh dua orang pelayan untuk membakar ruanganku," sentak Annette penuh amarah hingga tidak sengaja ujung pisau yang dipegangnya mengenai pipi Emilie.
Bukannya merasa bersalah Annette justru memperdalam tusukan nya hingga Emilie berteriak meminta ampun.
"Kau kesakitan ? Bagaimana denganku yang merasakan rasa sakit itu karena ibumu menyuapkan racun padaku ? Aku ingat kau tertawa penuh kemenangan dengan wajah sombong mu itu," teriak Annette lalu menarik kembali pisaunya dari wajah Emilie.
Bayang-bayang tentang Emilie dan tawanya seakan masih menggema dikepala Annette. Kala itu, Emilie tertawa dengan nada mengejek. 'Kau hanya sampah, Kak. Jika kau mati maka tidak akan ada orang yang mencari mu,'
"Kau hanya sampah, Emilie. Kalau kau mati tidak banyak orang yang kehilangan mu," kata Annette tertawa terbahak lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar Emilie meninggalkan Emilie yang bersimpuh di lantai dan berteriak kesakitan.
Dapat Annette lihat jika darah mulai mengalir dan membasahi gaun putih yang Emilie kenakan. Tapi bagi Annette, luka itu tidaklah sebesar luka yang ada di hatinya.
Suara teriakan Emilie memancing banyak orang untuk datang termasuk Nyonya Vivian yang berlari tergopoh-gopoh dengan mengangkat gaunnya yang panjang menjuntai.
"Emi...." teriak Nyonya Vivian histeris saat mendapati Emilie duduk di lantai dengan sebagian wajahnya terkena darah.
"Apa yang terjadi kenapa kau .. Wajahmu ?" kata Nyonya Vivian panik. Ia bingung ingin melakukan apa hingga yang bisa ia lakukan hanya mengoceh saja.
"Diamlah, Ibu. Tolong aku, ini sakit" teriak Emilie.
Seorang pelayan datang dengan membawakan kain dan sebaskom air. Lalu Nyonya Vivian membersihkan darah di wajah Emilie.
Emilie tidak menangis lagi, ia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Dirabanya bekas luka yang masih terasa sedikit perih.
"Bagaimana kau bisa terluka ?" tanya Nyonya Vivian.
Emilie menoleh pada Nyonya Vivian yang duduk disebelahnya. Lalu dengan kasar ia mendorong pundak ibunya dengan kasar sembari berteriak.
"Kenapa Ibu ingin melenyapkan Kakak tanpa berpikir matang-matang ? Karena rencana buruk Ibu, Kakak jadi marah dan melampiaskannya padaku. Sekarang Ibu lihat aku tidak cantik lagi. Bagaimana caraku menghadapi banyak orang nantinya ?" teriak Emilie sembari menangis.
Nyonya Vivian terdiam mencoba mencerna ucapan Emilie. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal hebat. "Jadi ini ulah Annette. Anak sialan itu yang sudah melukaimu, Emi ?"
"Jangan lakukan apapun lagi padanya, Ibu. Aku sungguh takut. Kakak seperti monster yang tidak memiliki rasa kasihan," tangis Emilie kemudian.
Nyonya Vivian menarik nafas panjang lalu memeluk Emilie. Ia merasa sakit hati melihat putrinya yang begitu ketakutan karena Annette.
'Kau bermain dengan orang yang salah, Annette. Meskipun Emilie melarang ku melukaimu, bukan berarti aku akan berhenti. Tadinya aku berbaik hati untuk mempertemukan mu dengan cara yang lebih cepat dengan ibumu. Tapi rupanya, kau perlu diberi sedikit pelajaran,' batin Nyonya Vivian penuh amarah.
...
kapaan up lagiii....
😍😍❤❤❤💪💪
up donk..
😍💪💪❤❤❤❤💪💪💪💪
😍😍💪💪💪❤❤❤
lalu menyelidiki...
😍😍💪❤❤
😄🤣🤣😍💪💪❤❤
saat istri lagi hamil malah bawa pelakor ke rumah...
burungnya minta disunat itu ..
🤣😄😄😍😍💪
apa yg akan dilakukan leon dan annete ya buat balas vivian..
😍😍❤❤💪💪
keren banget si leon
😍😍😍❤💪
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤