Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Interogasi Mayat
Lantai sel bawah tanah itu terasa seperti lempengan es yang siap menelan siapa pun yang berdiri di atasnya. Elara masih mematung, sepasang matanya yang kelam tak sedikit pun berkedip menatap sosok Kapten Harka yang kini lebih menyerupai patung porselen biru daripada seorang manusia. Uap dingin mengepul dari tubuh jasad itu, melawan suhu ruangan yang sebenarnya tidak terlalu ekstrem. Kematian Harka bukan sekadar akhir dari sebuah pengkhianatan, melainkan pesan berdarah yang dikirimkan langsung dari kegelapan Utara.
Panglima Vane berdiri beberapa langkah di belakang Elara, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Para perwira lainnya saling lirik dengan wajah pucat pasi, beberapa di antaranya menyentuh gagang pedang mereka dengan tangan yang gemetar hebat. Keheningan di dalam sel itu begitu pekat, seolah suara detak jantung mereka sendiri pun terdengar seperti genderang perang.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nyonya?" suara Vane pecah, terdengar serak oleh ketakutan yang berusaha ia tekan. "Dia baru saja bicara satu detik yang lalu. Bagaimana mungkin seseorang membeku secepat ini tanpa sihir elemen air tingkat tinggi?"
Elara tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju, membiarkan ujung sepatunya menyentuh lantai yang kini tertutup lapisan tipis kristal es yang merambat dari kaki jasad Harka. Ia bisa merasakan resonansi energi yang sangat familiar—sebuah frekuensi yang berdenyut dengan rasa lapar yang purba.
"Ini bukan sihir elemen air, Panglima," Elara berbisik tanpa menoleh. Suaranya dingin, datar, dan membawa otoritas yang membuat bulu kuduk semua orang di sana berdiri. "Ini adalah pengikat jiwa. Harka telah menjual suaranya kepada entitas yang jauh lebih haus daripada badai salju di luar sana. Begitu dia membocorkan rahasia 'Bunga Musim Dingin', kontraknya terpenuhi, dan jiwanya ditarik paksa hingga menyisakan kehampaan yang membeku."
"Maksud Anda... Sekte itu?" tanya salah satu perwira dengan suara mencicit.
Elara berbalik perlahan, menatap satu per satu wajah para perwira di depannya. Matanya berkilat dengan ancaman yang tidak terucapkan. "Siapa pun di antara kalian yang masih menyimpan surat dari Elena, atau siapa pun yang pernah berbisik di balik bayangan untuk mengkhianati perjalanan ini, lihatlah baik-baik rekan kalian ini. Kematian es adalah berkah dibandingkan apa yang akan aku lakukan jika aku menemukan pengkhianat lain."
"Kami setia pada Kekaisaran, Nyonya!" seru Vane dengan nada yang terlalu cepat, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Kesetiaan kalian tidak berharga bagiku jika tidak disertai dengan ketaatan mutlak," Elara mendekat ke arah Vane, membuat panglima itu mundur selangkah. "Keluarkan semua orang dari sini. Sekarang. Hanya Kaelen dan Rina yang boleh tetap di dalam. Jika ada satu telinga saja yang mencoba mencuri dengar di balik pintu ini, aku akan memastikan mereka tidak akan pernah bisa mendengar suara apa pun lagi selamanya."
Vane segera memberikan perintah dengan gerakan tangan yang panik. Para perwira itu berebut keluar dari sel yang menyesakkan itu, seolah-olah iblis sendiri sedang mengejar mereka. Kaelen melangkah masuk setelah memastikan koridor telah kosong, sementara Rina menyusul di belakangnya dengan membawa sebuah nampan kayu berisi peralatan medis dan ramuan herbal yang baunya menyengat.
"Tutup pintunya, Kaelen," perintah Elara.
Begitu pintu besi itu berdentang menutup, Elara membuang napas panjang. Bahunya sedikit merosot, dan untuk sesaat, topeng ketegarannya retak. Ia mendekati jasad Harka lagi, kali ini dengan tangan yang mulai menunjukkan sedikit getaran.
"Elara, jangan lakukan ini," Kaelen mendekat, suaranya penuh dengan kekhawatiran yang mendalam. "Energi yang membekukan Harka berasal dari tingkat Master. Kau baru saja pulih dari penggunaan Void yang menguras tenaga saat badai tadi. Menyentuh residu ini tanpa persiapan adalah kegilaan."
"Aku tidak punya pilihan, Kaelen," jawab Elara sambil menatap tangannya sendiri yang tampak pucat. "Harka membawa informasi tentang Gua Kristal Biru. Jika aku tidak mengambil sisa memorinya sekarang, kristal-kristal itu akan hancur bersama jasadnya dalam satu jam. Kita butuh koordinat itu sebelum pasukan Elena mencapainya lebih dulu."
"Tapi resikonya terlalu besar," Kaelen tetap bersikeras. "Lihat tanganmu, Elara. Kau sudah mulai terpengaruh."
Elara menatap ujung jari-jarinya yang mulai membiru. "Aku sudah pernah merasakan api yang melahap kulitku sampai ke tulang, Kaelen. Rasa dingin ini tidak ada apa-apanya dibandingkan memori itu. Rina, siapkan garam Asteria dan campurkan dengan air hangat. Aku butuh jangkar sensorik jika pikiranku mulai hanyut."
Rina mengangguk cepat, wajahnya yang mungil tampak sangat khawatir namun ia tetap cekatan. "Baik, Nyonya. Saya akan menyiapkannya di samping Anda. Tolong... hati-hati."
Elara melepaskan sarung tangan sutranya, membiarkan kulit telanjang tangannya terpapar udara sel yang menggigit. Ia memejamkan mata sejenak, memanggil sirkuit Void-nya. Di dalam batinnya, ia membayangkan aliran energi yang melambat, mendingin, dan menyatu dengan frekuensi es yang menyelimuti Harka.
"Void Tahap Satu poin Tujuh... Analisis Molekuler," bisik Elara.
Saat telapak tangannya menyentuh dada Harka yang sekeras batu, sebuah sengatan dingin yang luar biasa tajam menghantam kesadarannya. Elara tersentak, giginya bergeletuk hebat. Bayangan-bayangan fragmen memori mulai bermunculan di balik kelopak matanya—hutan pinus yang gelap, wajah seorang pria bertopeng putih dengan mata yang bersinar ungu, dan sebuah gua yang memancarkan cahaya biru yang menyakitkan mata.
"Nyonya!" teriak Rina saat melihat uap es mulai merambat ke lengan Elara.
"Jangan sentuh dia!" bentak Kaelen, menahan bahu Rina. "Dia sedang melakukan sinkronisasi. Jika kau memutuskannya sekarang, jiwanya akan ikut membeku di dalam sana."
Elara terus tenggelam lebih dalam. Di dalam kegelapan memori Harka, ia mendengar suara nyanyian yang aneh, seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya. Ia melihat Harka sedang menerima sebuah gulungan kertas di sebuah pondok tersembunyi. Pria bertopeng itu menunjuk ke arah utara, ke sebuah celah di tebing yang tersembunyi oleh ilusi salju.
Gua Kristal Biru... Segel Pertama...
Suara Master Sekte itu bergema di kepala Elara, membawa beban kegelapan yang sangat pekat. Tiba-tiba, pemandangan itu berubah. Elara melihat dirinya sendiri, atau lebih tepatnya Aurelia, sedang berdiri di tengah kobaran api istana. Ia merasakan panas yang membakar, bau daging yang hangus, dan tawa Valerius yang menggema dari kejauhan.
"Tidak... jangan lagi..." rintih Elara di dunia nyata. Air mata mulai mengalir di pipinya, namun air mata itu langsung membeku menjadi butiran kristal kecil sebelum jatuh ke lantai.
"Elara! Kembali!" Kaelen berteriak, suaranya terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.
Elara merasakan tangan yang kuat mencengkeram bahunya, menariknya keluar dari pusaran trauma itu. Ia tersentak bangun, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja muncul dari permukaan air yang membeku. Ia jatuh ke pelukan Kaelen, tubuhnya gemetar hebat karena kedinginan dan ketakutan yang sisa.
"Sudah cukup. Kau sudah mendapatkannya, kan?" tanya Kaelen dengan nada mendesak, sambil menggosok lengan Elara yang membeku untuk mengembalikan sirkulasi darahnya.
Elara terbatuk, uap dingin keluar dari mulutnya. "Gua... Gua Kristal Biru. Letaknya di celah tebing... di balik hutan pinus yang tidak pernah disinari matahari. Master Sekte... dia sedang menunggu di sana."
Rina segera mendekat dengan mangkuk berisi air garam hangat. "Nyonya, celupkan tangan Anda. Cepat!"
Elara merendam tangannya ke dalam mangkuk itu. Rasa perih yang luar biasa menyerangnya saat suhu hangat bertemu dengan sisa-sisa pembekuan Void, namun ia tidak mengeluh. Matanya perlahan kembali fokus, menatap jasad Harka yang kini mulai menunjukkan retakan kecil di bagian dadanya, tempat Elara menyentuhnya tadi.
"Kenapa dia membeku dari dalam, Nyonya?" tanya Rina sambil menyeka keringat dingin di dahi Elara dengan kain lembut.
"Itu adalah cara mereka memastikan rahasia tidak bocor," Elara menjawab dengan suara yang masih lemah. "Sekte itu menggunakan sistem sihir yang bersifat parasit. Mereka menanamkan benih energi di dalam jiwa para pengikutnya. Saat pengikut itu melanggar sumpah, benih itu meledak dan membekukan seluruh sistem saraf. Harka bukan korban pertama, dan dia jelas bukan yang terakhir."
Kaelen menatap jasad Harka dengan pandangan jijik. "Jadi, Elena bekerja sama dengan orang-orang seperti ini? Apa dia sudah gila? Membawa kekuatan seperti ini ke dalam Kekaisaran sama saja dengan mengundang kehancuran bagi kita semua."
"Elena hanya peduli pada kekuasaan, Kaelen," Elara bangkit berdiri dengan bantuan tangan Kaelen. Meskipun kakinya masih terasa lemas, sorot matanya kembali menajam. "Dia berpikir dia bisa mengendalikan monster-monster ini. Dia tidak sadar bahwa dia hanyalah pion yang akan dibuang saat waktunya tiba. Sama seperti Harka."
"Lalu apa langkah kita selanjutnya? Jika Master Sekte ada di gua itu, kita tidak bisa menyerang dengan pasukan biasa. Prajurit Vane akan mati membeku sebelum sempat menghunus pedang," ujar Kaelen.
Elara menoleh ke arah meja kecil di sudut sel, tempat beberapa dokumen yang ditemukan di saku Harka diletakkan. Di antaranya ada sebuah surat kecil dengan segel lilin merah yang sudah hancur. Elara mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit kaku.
"Kita akan bergerak sesuai rencana awal, tapi dengan sedikit modifikasi," Elara membuka surat itu. Matanya menyipit saat membaca barisan kalimat di dalamnya. "Vane harus tetap berada di pihak kita, setidaknya untuk sementara. Tapi surat ini... surat dari Valerius ini mengubah segalanya."
"Surat dari Kaisar? Apa isinya?" Kaelen mendekat.
Elara memberikan surat itu kepada Kaelen. "Valerius memerintahkan eksekusi Vane begitu kami sampai di benteng logistik pertama. Dia menganggap Vane sudah gagal mengamankan jalur Utara. Dia ingin aku mengambil alih komando sepenuhnya secara resmi."
Kaelen membaca surat itu dengan cepat, wajahnya semakin gelap. "Ini jebakan. Valerius ingin mengadu domba kau dengan Vane. Jika kau mengeksekusi Vane, kau akan kehilangan dukungan dari faksi militernya. Jika kau tidak melakukannya, kau dianggap membangkang perintah Kekaisaran."
"Aku tahu," Elara tersenyum pahit. "Valerius selalu suka melihat orang-orang saling mencabik di bawah kakinya. Dia merindukan Aurelia yang patuh, tapi dia juga takut pada Elara yang mulai menunjukkan taring. Ini adalah caranya untuk menguji sejauh mana aku bersedia menumpahkan darah demi posisiku."
"Apa yang akan Anda lakukan, Nyonya?" tanya Rina dengan suara gemetar. "Panglima Vane mungkin sulit, tapi dia telah melindungi kita sejauh ini."
Elara menatap jasad Harka yang mulai mencair secara perlahan, meninggalkan genangan air hitam yang berbau busuk. "Aku tidak akan membunuh Vane. Belum saatnya. Aku akan menggunakan surat ini sebagai alat tawar-menawar. Vane akan berhutang nyawa padaku, dan seorang pria yang berhutang nyawa adalah pion yang jauh lebih berguna daripada seorang jenderal yang mati."
"Tapi bagaimana dengan utusan kaisar yang membawa perintah ini? Dia pasti akan melaporkan jika perintah itu tidak dilaksanakan," Kaelen mengingatkan.
"Utusan itu tidak akan pernah kembali ke ibu kota," Elara berkata dengan nada yang begitu dingin hingga Rina tersentak. "Kaelen, temukan utusan itu sebelum dia sempat meninggalkan perkemahan. Pastikan dia 'menghilang' di tengah badai. Salju Utara sangat pandai menyembunyikan rahasia."
Kaelen mengangguk pelan, memahami maksud Elara. "Akan kulakukan. Setelah itu, apa kita akan langsung menuju Gua Kristal Biru?"
"Tidak. Kita akan membiarkan pasukan Vane beristirahat satu malam lagi. Aku butuh waktu untuk menganalisis peta memori yang kudapat dari Harka. Gua itu bukan hanya tempat penyimpanan kristal, Kaelen. Itu adalah Segel Pertama. Jika sekte itu berhasil membukanya, badai yang kita lihat hari ini hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi dibandingkan badai sesungguhnya yang akan datang."
Elara melangkah menuju pintu sel, berhenti sejenak untuk menatap Rina. "Rina, bakar semua peralatan yang menyentuh jasad Harka. Jangan biarkan ada satu tetes pun air hitam itu menyentuh kulitmu. Itu adalah racun mana yang sangat berbahaya."
"Baik, Nyonya," jawab Rina cepat.
Saat Elara keluar dari sel, ia menemukan Vane sedang mondar-mandir di koridor dengan wajah yang penuh kecemasan. Melihat Elara keluar, ia segera menghampiri.
"Nyonya Elara! Bagaimana hasilnya? Apa Anda menemukan sesuatu dari... pengkhianat itu?" tanya Vane dengan nada mendesak.
Elara menatap Vane dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkoraknya. Ia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik, membiarkan kegelisahan Vane memuncak.
"Kapten Harka bukan hanya pengkhianat, Panglima Vane. Dia adalah peringatan," Elara berkata pelan sambil melangkah melewati Vane. "Ikutlah ke tendaku. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan secara pribadi mengenai perintah terbaru dari kaisar."
Vane tampak ragu, namun ia tidak punya pilihan selain mengikuti Elara. Mereka berjalan menembus kerumunan prajurit yang sedang berbisik-bisik. Suasana di perkemahan itu sudah sangat berubah; ketakutan akan serangan gaib dan rasa tidak percaya antar sesama prajurit telah merusak moral mereka.
Sesampainya di tenda, Elara duduk di kursinya yang berat, sementara Vane berdiri di depannya dengan kaku. Elara mengeluarkan surat dari Valerius dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan Vane.
"Bacalah, Panglima. Dan katakan padaku, apa pendapatmu tentang kesetiaanmu pada mahkota saat ini," kata Elara sambil menopang dagunya dengan tangan yang masih terasa dingin.
Vane mengambil kertas itu dengan ragu. Saat ia membaca baris demi baris perintah eksekusi dirinya sendiri, wajahnya yang tadinya kemerahan karena kedinginan mendadak pucat pasi seperti mayat Harka di sel bawah tanah tadi. Tangannya mulai gemetar hebat, dan kertas itu berkerisik di jemarinya.
"Ini... ini tidak mungkin," bisik Vane. "Aku sudah melayani kaisar selama dua puluh tahun! Aku mempertaruhkan nyawaku di Utara ini untuk mengamankan logistiknya! Bagaimana mungkin dia memerintahkan eksekusiku hanya karena satu keterlambatan?"
"Kaisar tidak peduli pada masa lalumu, Vane. Dia hanya peduli pada kegunaanmu saat ini," Elara menjawab dengan suara yang penuh empati palsu yang tajam. "Baginya, kau adalah liabilitas yang mulai meragukan perintahnya. Dan di matanya, keraguan adalah benih pengkhianatan."
Vane menjatuhkan surat itu, kakinya lemas hingga ia harus bertumpu pada meja. "Lalu... apa Anda akan melaksanakannya, Nyonya? Apa Anda akan memenggal kepalaku di depan pasukanku sendiri?"
Elara bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Vane. Ia meletakkan tangannya di bahu panglima itu, sebuah sentuhan yang terasa lebih seperti cengkeraman predator daripada penghiburan.
"Jika aku ingin kau mati, Vane, aku akan membiarkan Harka membunuhmu di hutan tadi. Aku tidak butuh surat dari kaisar untuk menghapusmu dari dunia ini," Elara berbisik tepat di telinga Vane. "Tapi aku butuh seseorang yang mengenal medan ini. Seseorang yang memiliki loyalitas pasukannya sendiri. Aku bisa merobek surat ini dan menganggapnya tidak pernah sampai... tapi itu berarti kau berhutang nyawamu padaku, bukan pada mahkota."
Vane mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Elara dengan campuran rasa takut dan harapan. "Apa yang Anda inginkan dariku?"
"Aku ingin kau membantuku menghancurkan Sekte Void di Gua Kristal Biru. Dan aku ingin kau memastikan bahwa mulai saat ini, setiap prajurit di perkemahan ini hanya mendengarkan perintah dariku, bahkan jika perintah itu bertentangan dengan perintah dari istana," Elara memberikan tuntutannya dengan jelas.
Vane menelan ludah. Ia tahu ia sedang melakukan kesepakatan dengan iblis, namun di sisi lain, ia melihat malaikat maut sedang berdiri di belakangnya dengan perintah kaisar. "Baik. Aku bersumpah. Nyawaku adalah milik Anda, Nyonya Elara. Selama Anda melindungiku dari murka kaisar, aku akan menjadi pedang Anda di Utara ini."
"Bagus," Elara melepaskan cengkeramannya. "Sekarang, kumpulkan para perwira inti. Kita tidak akan menunggu fajar. Kita berangkat tengah malam nanti ke celah tebing barat. Harka meninggalkan peta menuju jantung kekuatan musuh, dan aku berniat untuk mengambilnya sebelum matahari terbit."
"Tapi badai ini, Nyonya..." Vane mencoba memprotes secara refleks.
"Badai ini adalah sekutu kita sekarang, Vane. Master Sekte tidak akan menyangka kita menyerang di tengah cuaca seperti ini. Gunakan bubuk penghangat mana yang kita ambil dari gudang Harka untuk pasukan. Pastikan tidak ada satu lampu pun yang menyala saat kita bergerak."
Vane mengangguk hormat, lalu bergegas keluar dari tenda untuk melaksanakan perintah tersebut. Elara kembali terduduk, ia merasakan kelelahan yang luar biasa menyerang jiwanya. Void Lv 1.7 benar-benar menguras cadangan energinya, dan trauma api yang dipicu oleh residu es tadi masih meninggalkan rasa sesak di dadanya.
"Nyonya, minumlah teh jahe ini," Rina masuk dengan secangkir teh yang masih mengepulkan uap. "Wajah Anda sangat pucat."
Elara mengambil cangkir itu, merasakan kehangatan yang merembes ke telapak tangannya. "Terima kasih, Rina. Di mana Kaelen?"
"Dia sedang mengatur urusan 'utusan' itu di gerbang belakang, Nyonya. Dia bilang dia akan segera kembali setelah semuanya... beres," jawab Rina dengan nada bicara yang berhati-hati.
Elara mengangguk, lalu menyesap tehnya. Rasa pedas jahe itu memberikan sedikit kehidupan pada indra perasanya yang sempat mati rasa. Ia menatap nyala lilin di meja, api kecil yang menari-nari itu biasanya akan membuatnya ketakutan, namun kali ini ia memaksakan dirinya untuk terus menatapnya.
"Kenapa Anda menatap api itu seperti itu, Nyonya? Bukankah itu menyakiti Anda?" tanya Rina lembut.
"Aku sedang membiasakan diri, Rina," jawab Elara dengan nada yang jauh. "Jika aku ingin mengalahkan kegelapan yang membeku di gua itu, aku harus bisa menjinakkan api yang membakar jiwaku. Aku tidak boleh membiarkan rasa takut ini menjadi kelemahanku lagi."
"Anda adalah orang terkuat yang pernah saya kenal, Nyonya. Bahkan lebih kuat dari mendiang Permaisuri Aurelia," bisik Rina tulus.
Elara tersenyum pahit mendengar perbandingan itu. Aku adalah Aurelia, Rina. Dan aku sedang membunuh sisi lembutku agar aku bisa bertahan hidup, batinnya.
Tak lama kemudian, Kaelen masuk ke dalam tenda. Pakaiannya tertutup lapisan salju tipis, dan wajahnya tampak kaku. Ia memberikan isyarat singkat kepada Elara bahwa tugasnya telah selesai. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan; mereka berdua tahu bahwa satu nyawa telah dikorbankan demi rahasia besar yang sedang mereka pegang.
"Vane sudah mulai bergerak. Pasukan sedang bersiap secara diam-diam," lapor Kaelen sambil membersihkan salju dari bahunya. "Tapi Elara, kau harus tahu sesuatu. Saat aku mencegat utusan itu, aku menemukan surat lain di tas kudanya. Surat yang tidak sempat dia berikan padamu."
Elara meletakkan cangkir tehnya. "Surat apa lagi?"
Kaelen mengeluarkan sebuah perkamen kecil yang tampak sedikit basah karena salju. "Ini adalah instruksi rahasia untuk utusan itu. Jika kau menolak mengeksekusi Vane, dia diperintahkan untuk membakar gudang logistik kita dan melarikan diri untuk melaporkanmu sebagai pemberontak."
Elara tertawa dingin, sebuah suara yang terdengar tajam di tengah kesunyian malam. "Valerius benar-benar tidak pernah berubah. Dia selalu menyiapkan rencana cadangan untuk menghancurkan apa pun yang tidak bisa dia kendalikan. Dia lebih suka pasukannya mati kelaparan di Utara daripada membiarkan aku memiliki kekuatan mandiri."
"Untungnya, gudang logistik kita aman sekarang," kata Kaelen. "Tapi ini berarti kita benar-benar telah memutus jembatan dengan ibu kota. Begitu Valerius sadar utusannya tidak pernah kembali, dia akan mengirimkan pasukan yang lebih besar."
"Maka kita harus memastikan bahwa saat pasukan itu datang, Utara sudah berada sepenuhnya dalam genggamanku," Elara berdiri, berjalan menuju peta besar yang terbentang di tengah tenda. Ia menunjuk ke arah celah tebing yang baru saja ia ketahui koordinatnya. "Gua Kristal Biru. Jika rumor tentang kristal mana purba itu benar, aku akan memiliki cukup energi untuk membangun pertahanan yang tidak akan bisa ditembus oleh siapa pun, bahkan oleh sihir hitam Elena sekalipun."
"Juna dan sisa pasukan Asteria sudah siap," Kaelen berdiri di samping Elara. "Mereka menunggumu untuk memberikan perintah terakhir."
Elara mengambil belati peraknya, menyilangkannya di atas peta. "Kita berangkat sekarang. Kita akan menembus badai ini dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Rina, kau tetap di sini bersama tim medis. Pastikan tenda tetap terlihat berpenghuni agar tidak ada yang curiga bahwa kita sudah pergi."
"Baik, Nyonya. Tolong... kembalilah dengan selamat," Rina memeluk lengan Elara sejenak sebelum melepaskannya.
Elara keluar dari tenda, disambut oleh hembusan angin Utara yang ganas. Di kegelapan malam, ia bisa melihat bayangan barisan prajurit yang sedang bergerak tanpa suara, seperti hantu yang berparade di atas salju. Vane sudah berdiri di depan barisan, wajahnya tertutup kain penutup hidung untuk menahan dingin.
"Semua sudah siap, Nyonya," bisik Vane.
Elara mengangguk. Ia merasakan denyut energi Void di tangan kanannya, sebuah sensasi yang kini mulai menyebar ke arah lengannya. Rasa sakitnya ada, namun ia mengabaikannya. Ia menatap ke arah hutan pinus yang gelap di kejauhan, di mana Master Sekte mungkin sedang menertawakan upayanya.
"Bergerak," perintah Elara.
Pasukan itu mulai meluncur ke dalam kegelapan. Elara berjalan di barisan paling depan bersama Kaelen, setiap langkahnya di atas salju terasa seperti langkah menuju takdir yang tak terelakkan. Pikirannya kembali ke jasad Harka yang membeku—sebuah pengingat bahwa kegagalan di tanah ini berarti menjadi abadi dalam kedinginan yang bisu.
Di tengah perjalanan, Elara merasakan getaran aneh di bawah kakinya. Tanah seolah berdenyut. Ia memberi isyarat agar pasukan berhenti sejenak. Ia berjongkok, menyentuh salju dengan telapak tangannya yang masih sensitif terhadap energi.
"Ada apa, Elara?" bisik Kaelen, tangannya sudah memegang gagang pedang.
"Resonansi... gua itu sedang bereaksi terhadap kehadiran kita," Elara bergumam. "Master Sekte sedang melakukan sesuatu dengan segel itu. Kita harus mempercepat langkah kita. Jika segel itu pecah sebelum kita sampai, tidak akan ada yang tersisa dari benteng ini besok pagi."
"Panglima Vane! Perintahkan pasukan untuk lari! Abaikan keheningan, kita harus sampai di celah tebing itu secepat mungkin!" Elara berteriak, suaranya membelah kebisingan badai.
Pasukan itu pun mulai berlari, menerobos salju yang setinggi lutut. Elara bisa merasakan sirkuit jiwanya mulai memanas, sebuah kontras yang tajam dengan suhu di sekelilingnya. Ia tahu bahwa malam ini, ia akan dipaksa untuk menggunakan kekuatan yang mungkin akan merusak tubuhnya lebih jauh. Namun, saat bayangan api istana kembali muncul di benaknya, ia hanya menggertakkan gigi dan terus berlari.
"Aku tidak akan mati sebagai tawanan lagi," bisik Elara pada dirinya sendiri. "Dan aku tidak akan membiarkan es ini memadamkan apiku."
Celah tebing barat itu tampak seperti luka menganga pada tubuh gunung, gelap dan diselimuti kabut mana yang menyesakkan paru-paru. Pasukan yang dipimpin Elara bergerak melambat saat mereka memasuki koridor alami yang sempit, di mana dinding es setinggi tiga puluh meter mengapit mereka di kedua sisi. Suara derap langkah kaki di atas salju yang padat bergema secara tidak wajar, menciptakan ilusi seolah-olah ada pasukan hantu yang mengikuti mereka dari balik bayangan.
Elara mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat berhenti. Matanya yang kini sedikit bercahaya keunguan—efek samping dari sinkronisasi Void yang dipaksakan—menatap tajam ke arah dinding es di depan mereka. Ia merasakan sesuatu yang salah. Udara di sini tidak hanya dingin; udara ini mati.
"Ada apa, Nyonya?" bisik Panglima Vane. Wajahnya pucat, keringat dingin membeku di pelipisnya meski suhu berada jauh di bawah nol.
"Ilusi," jawab Elara singkat. Ia melangkah maju, mendekati dinding es yang tampak buntu. "Harka melihat celah ini dalam memorinya, tapi Master Sekte telah menambalnya dengan tabir mana. Jika kita menabraknya begitu saja, kita akan terjebak dalam ruang hampa yang akan menghisap oksigen dari paru-paru kita dalam hitungan detik."
Kaelen menghunus pedang hijaunya, namun Elara menahannya dengan satu pandangan. "Pedang tidak akan berguna melawan kebohongan visual, Kaelen. Mundurlah sedikit."
Elara memejamkan mata, membiarkan sirkuit jiwanya beresonansi dengan ketidakteraturan molekul di depannya. Ia memanggil Void Lv 1.7 miliknya untuk menganalisis retakan terkecil dalam struktur sihir tersebut. Tangannya yang mati rasa mulai berdenyut perih, seolah-olah ribuan jarum es sedang ditusukkan ke dalam sarafnya.
"Void... Penyerapan Struktur," gumam Elara.
Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding es itu. Alih-alih suara benturan, yang terdengar adalah suara seperti kaca yang retak secara perlahan. Cahaya ungu tipis merambat dari ujung jari Elara, menyebar seperti akar pohon yang merusak fondasi batu. Tiba-tiba, dinding es di depan mereka bergetar hebat dan memudar, menyingkapkan sebuah terowongan tersembunyi yang memancarkan cahaya biru terang dari kejauhan.
"Masuk," perintah Elara dengan suara yang sedikit parau.
Vane segera memerintahkan pasukannya untuk maju. Saat mereka melewati ambang pintu ilusi itu, suhu mendadak turun drastis. Di dalam sana, formasi kristal mana murni tumbuh dari langit-langit dan lantai gua seperti taring raksasa. Cahaya biru yang dipancarkannya begitu kuat hingga para prajurit harus menutupi mata mereka sejenak.
"Ini... ini adalah kekayaan yang bisa membeli seluruh Kekaisaran," gumam Vane dengan mata yang berkilat serakah sejenak, sebelum rasa takut kembali mendominasi wajahnya saat ia melihat mayat-mayat prajurit pengintai yang tergantung membeku di langit-langit gua.
"Kekayaan ini adalah kutukan jika kau tidak tahu cara menjaganya, Vane," Elara memperingatkan, matanya tertuju pada altar besar di tengah aula gua.
Di sana, Master Sekte sedang berdiri. Sosoknya dibalut jubah putih panjang yang tampak menyatu dengan es di sekelilingnya. Ia tidak menoleh saat pasukan Elara mengepungnya. Di depannya, sebuah segel besar yang terukir di lantai gua sedang berdenyut dengan warna hitam pekat, kontras dengan cahaya biru kristal di sekitarnya.
"Anda datang lebih cepat dari yang saya perkirakan, Nyonya Elara. Atau haruskah saya memanggil Anda... Permaisuri yang Terbakar?" suara Master Sekte bergema, terdengar seperti gesekan logam di atas es.
Seluruh pasukan tersentak. Kaelen segera berdiri di depan Elara dengan pedang terhunus. "Siapa kau?! Bagaimana kau tahu identitas itu?"
Master Sekte tertawa pelan, sebuah suara yang kering dan tanpa emosi. "Dunia ini memiliki telinga di dalam Void, Ksatria. Dan jiwa yang penuh dengan dendam seperti milik Nyonya ini berteriak begitu keras di alam bawah sana hingga para penghuni kegelapan pun merasa terganggu."
Elara melangkah maju, melewati Kaelen. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, hanya kebencian yang murni dan terkontrol. "Kau menggunakan Harka sebagai umpan untuk membawaku ke sini. Kau tahu aku akan membedah memorinya. Kau menginginkan aku melihat segel ini, bukan?"
"Sangat cerdas," Master Sekte berbalik perlahan. Topeng putihnya yang datar tidak memiliki lubang mata, namun Elara bisa merasakan tatapan yang menghujam jantungnya. "Elena hanyalah perantara yang membosankan. Dia menginginkan tahta, tapi saya... saya menginginkan kunci untuk membuka kembali apa yang telah dikunci oleh leluhur Asteria Anda."
"Segel Pertama," Elara menunjuk ke arah lantai yang berdenyut hitam. "Kau tidak akan bisa membukanya. Darah yang mengalir di nadiku adalah satu-satunya kunci yang bisa menyentuh segel itu tanpa hancur."
"Itulah sebabnya Anda di sini, Nyonya," Master Sekte merentangkan tangannya. "Saya tidak butuh seluruh tubuh Anda. Saya hanya butuh darah Anda yang penuh dengan keputusasaan itu untuk merusak kemurnian segel ini. Prajurit! Bunuh semua orang kecuali wanita ini!"
Tiba-tiba, dari balik kristal-kristal raksasa, muncul belasan sosok berpakaian putih dengan senjata mana yang berpendar. Pertempuran pun pecah dalam sekejap. Suara denting pedang dan ledakan sihir memenuhi ruangan gua yang tertutup, menciptakan gema yang menyakitkan telinga.
"Panglima Vane! Lindungi sayap kanan! Kaelen, bersamaku!" teriak Elara.
Elara tidak menggunakan senjata fisik. Ia menggerakkan tangannya dalam pola melingkar, menciptakan perisai Void yang menyerap setiap anak panah mana yang dilontarkan musuh. Setiap kali ia menyerap serangan, energi itu ia simpan dan diledakkan kembali ke arah musuh, membuat para pengikut sekte itu terpental dan membeku secara instan saat terkena energi mereka sendiri.
Namun, Master Sekte tidak tinggal diam. Ia menghentakkan tongkat esnya ke tanah, mengirimkan gelombang kejut dingin yang membuat lantai gua meretak. Elara melompat mundur, namun ia merasakan perih yang luar biasa di punggungnya—luka bakar lamanya bereaksi terhadap tekanan mana yang begitu besar.
"Elara!" Kaelen menebas dua orang musuh sekaligus dan mencoba mendekati Elara, namun ia dihadang oleh seorang petarung sekte yang menggunakan cambuk es.
"Jangan khawatirkan aku, Kaelen! Fokus pada altar!" Elara berteriak sambil menahan sesak di dadanya.
Ia melihat Master Sekte mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat dinding gua bergetar. Cairan hitam mulai merembes keluar dari retakan segel, menyerap cahaya biru dari kristal mana di sekelilingnya. Elara tahu, jika ia tidak menghentikannya sekarang, seluruh gua ini akan meledak dan membawa bencana ke seluruh perbatasan Utara.
"Kau pikir kau bisa mengendalikan energi ini?" Elara berlari menerjang Master Sekte, tangannya diselimuti aura Void yang pekat. "Kau hanyalah parasit yang mencoba memakan sisa-sisa kekuatan yang tidak kau pahami!"
"Kekuatan ini adalah milik mereka yang berani mengambilnya, Elara!" Master Sekte melepaskan tembakan energi es murni dari telapak tangannya.
Elara tidak menghindar. Ia menggunakan strategi 'Third Option' yang selama ini ia asah. Alih-alih menangkis, ia sengaja membiarkan energi es itu mengenai telapak tangan kanannya yang sudah menghitam. Ia menggunakan tangannya sebagai konduktor, menyerap energi es Master Sekte dan mengubah frekuensinya di dalam sirkuit jiwanya menjadi energi Void yang bersifat korosif.
"Apa yang kau lakukan?!" Master Sekte terkejut saat melihat energinya justru ditarik masuk ke dalam tubuh Elara.
"Aku menjahit luka dengan racunmu sendiri!" Elara menghantamkan tangan kanannya ke dada Master Sekte.
Sebuah ledakan energi transparan terpancar dari titik benturan. Master Sekte terlempar jauh, topengnya retak dan memperlihatkan wajah yang penuh dengan urat-urat hitam yang berdenyut. Namun, Elara juga jatuh berlutut, memuntahkan darah hitam yang langsung membeku di atas salju.
"Nyonya!" Rina, yang entah bagaimana berhasil merangkak di antara pertempuran, mencoba mendekat dengan botol obat.
"Tetap di sana, Rina!" Elara terbatuk, dadanya terasa seperti ditekan oleh gunung es.
Master Sekte bangkit kembali dengan gerakan yang patah-patah. "Kau... kau menyerap energi kutukanku? Kau akan mati lebih cepat dari yang kau bayangkan, Aurelia!"
"Jika aku harus mati, aku akan memastikan kau menyeretku ke dalam neraka bersamamu," Elara berdiri dengan sisa tenaganya. Ia melihat segel di bawahnya mulai retak lebih lebar. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia mengeluarkan belati peraknya dan menyayat telapak tangan kirinya sendiri.
"Jangan, Elara! Jangan beri dia darahmu!" teriak Kaelen dari kejauhan.
"Aku tidak memberinya darah untuk membuka segel ini, Kaelen," Elara meneteskan darahnya ke atas retakan segel, namun ia sambil merapalkan mantra pembalik yang ia pelajari dari arsip rahasia Asteria. "Aku memberinya darah untuk menyegelnya selamanya dengan nyawaku sebagai taruhan!"
Darah merah segar Elara menyentuh cairan hitam itu. Sebuah reaksi kimia-metafisika terjadi; cahaya putih menyilaukan meledak dari tengah altar, menelan Master Sekte yang berteriak saat tubuhnya mulai hancur menjadi debu es. Seluruh gua berguncang hebat, kristal-kristal mana mulai runtuh dari langit-langit.
"Semuanya keluar! Gua ini akan runtuh!" Vane memberikan komando terakhirnya dengan suara menggelegar.
Kaelen berlari secepat kilat, menyambar tubuh Elara yang sudah lunglai dan menggendongnya keluar tepat saat aula altar itu tertutup oleh longsoran kristal raksasa. Mereka berlari menembus terowongan ilusi yang kini mulai hancur, debu salju dan serpihan kristal mengejar mereka dari belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka berhasil keluar ke udara terbuka di bawah langit malam yang pekat. Suara gemuruh di dalam tebing terdengar seperti raungan monster yang perlahan mereda. Elara terbaring di atas salju, napasnya sangat tipis, wajahnya hampir seputih salju di sekelilingnya.
"Elara... bicara padaku," Kaelen berlutut di sampingnya, suaranya gemetar oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Elara membuka matanya perlahan. Ia melihat bintang-bintang di langit Utara yang tampak begitu jauh. Rasa sakit di tubuhnya mulai memudar, digantikan oleh mati rasa yang dingin namun tenang.
"Gua itu... sudah tertutup," bisik Elara. "Master Sekte sudah lenyap... tapi ini baru permulaan, Kaelen."
"Jangan bicara lagi. Kita harus membawamu kembali ke perkemahan," Kaelen mencoba mengangkatnya, namun Elara menahan tangannya.
"Vane... di mana dia?" tanya Elara.
Panglima Vane mendekat, pakaiannya compang-camping dan lengannya terluka, namun ia tampak sangat terpukul melihat kondisi Elara. "Saya di sini, Nyonya. Pasukan selamat, meski kita kehilangan banyak orang di dalam sana."
"Ingat sumpahmu, Vane," Elara menatapnya dengan sisa-sisa otoritasnya. "Surat eksekusi itu... aku sudah menghancurkannya dalam pikiranku. Tapi mulai besok, kau adalah bayanganku. Jika kau mencoba mengkhianatiku lagi, tidak akan ada gua yang bisa menyembunyikanmu."
"Saya mengerti, Nyonya. Saya bersumpah demi nama keluarga saya," Vane menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
Kaelen segera membawa Elara kembali ke arah perkemahan. Selama perjalanan, Elara hanya diam, menatap tangannya yang kini memiliki garis hitam yang merambat hingga ke pergelangan tangan. Ia tahu bahwa penggunaan Void di level ini telah memberikan konsekuensi permanen pada tubuhnya.
Sesampainya di perkemahan, suasana masih mencekam. Namun, saat para prajurit melihat Kaelen menggendong Elara yang berlumuran darah namun tetap hidup, sebuah keheningan yang penuh hormat menyelimuti mereka. Mereka bukan lagi menatap seorang tawanan atau permaisuri kiriman, mereka menatap seorang pemimpin yang baru saja bertarung dengan maut demi keselamatan mereka.
Rina segera menyiapkan tenda medis dengan segala kemampuan yang ia miliki. Elara dibaringkan di atas tempat tidur bulu, sementara Rina dengan telaten membersihkan luka-lukanya dan memberikan ramuan penawar racun.
"Nyonya, tangan Anda... ini tidak mau hilang," bisik Rina sambil menangis pelan saat melihat garis hitam di lengan Elara.
"Biarkan saja, Rina. Itu adalah pengingat bahwa kekuatan selalu menuntut harga," Elara menjawab dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti suara Aurelia yang dulu.
Malam itu, setelah semua luka dijahit dan semua laporan diterima, Elara sendirian di dalam tendanya. Kaelen sedang berjaga di depan pintu, menolak untuk pergi meski hanya satu inci pun. Elara mengambil cermin kecilnya yang retak, menatap bayangannya sendiri.
Ia melihat seorang wanita yang wajahnya tampak lebih dewasa sepuluh tahun dalam satu malam. Matanya kini membawa beban rahasia Gua Kristal Biru dan ancaman Master Sekte yang mungkin masih memiliki pengikut di tempat lain. Namun, ia tidak merasa menyesal.
"Valerius ingin aku menjadi pionnya," gumam Elara pada bayangannya. "Dia mengirimkan perintah eksekusi untuk menghancurkanku. Tapi dia tidak sadar, di tanah yang membeku ini, akulah yang memegang kendali atas hidup dan mati."
Ia teringat bisikan Master Sekte tentang "Ratu Void". Sebuah gelar yang awalnya terdengar seperti hinaan, kini mulai terasa seperti takdir. Jika dunia ini harus hancur agar ia bisa membalas dendam, maka ia akan memastikan bahwa dialah yang memegang obornya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang kaku mendekati tendanya. Bukan langkah Kaelen yang ringan, melainkan langkah seseorang yang membawa beban otoritas yang berat. Elara segera merapikan pakaiannya dan duduk tegak, menyembunyikan rasa sakitnya di balik ekspresi yang dingin.
Seorang utusan baru, yang mengenakan seragam khusus pengawal pribadi kaisar, masuk ke dalam tenda. Ia membawa sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu hitam yang diukir dengan lambang mawar emas—lambang pribadi Valerius.
"Nyonya Elara, saya baru saja tiba dari ibu kota," utusan itu berlutut dengan kaku. "Kaisar mengirimkan hadiah ini sebagai tanda apresiasi atas keberhasilan Anda mengamankan jalur logistik awal. Beliau juga menunggu laporan Anda mengenai... Panglima Vane."
Elara mengambil kotak itu, membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah tusuk konde emas berbentuk matahari Asteria yang sangat indah—sebuah perhiasan yang dulu pernah ia miliki sebagai Aurelia. Di bawahnya, ada secarik kertas kecil.
Aku tahu kau tidak akan membunuhnya, Elara. Kau terlalu cerdas untuk itu. Tapi ingatlah, setiap nyawa yang kau simpan adalah hutang yang harus kau bayar padaku nanti.
Elara meremas kertas itu hingga hancur di telapak tangannya. Kemarahan yang dingin kembali membakar dadanya. Valerius sedang bermain dengannya dari jarak ribuan mil, memperlakukannya seperti binatang peliharaan yang sedang dilatih.
"Katakan pada kaisar," Elara menatap utusan itu dengan tatapan yang membuat pria itu gemetar. "Bahwa laporan mengenai Vane sedang diproses. Dan katakan padanya... matahari Asteria tidak akan pernah bisa dipakai oleh seseorang yang hidup dalam kegelapan. Aku akan menyimpan hadiah ini sebagai pengingat akan apa yang harus ia bayar padaku."
Utusan itu segera berpamitan dengan tergesa-gesa, ketakutan oleh aura yang terpancar dari wanita di depannya. Elara kembali menyendiri, ia memegang tusuk konde emas itu, merasakannya menusuk telapak tangannya.
"Babak ini mungkin berakhir di sini, Valerius," bisik Elara. "Tapi badai yang sesungguhnya sedang menuju ke arahmu. Dan kali ini, tidak ada api yang bisa menyelamatkanmu dari rasa dingin yang kubawa."
Di luar tenda, salju mulai turun kembali dengan lembut, menutupi jejak-jejak pertempuran di celah tebing barat. Dunia kembali menjadi putih dan sunyi, menyembunyikan mayat-mayat dan rahasia yang terkubur di bawahnya. Namun di dalam hati Elara, sebuah tekad baru telah mengkristal—sebuah tekad yang sekeras es abadi dan setajam belati perak yang ia pegang.
Ia tidak lagi hanya sekadar bertahan hidup. Ia sedang membangun kerajaannya sendiri di atas tanah yang terbuang ini. Dan ia tahu, saat musim semi tiba, bunga-bunga yang akan mekar di Utara bukanlah bunga biasa, melainkan bunga-bunga kematian yang akan menandai berakhirnya era Valerius.