Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik topeng kaca
Pagi itu, Cassia berdiri cukup lama di depan cermin. Ia memastikan letak wignya sudah sempurna. Rambut palsu itu terlihat sangat alami, persis seperti mahkotanya yang telah gugur semalam. Namun, saat ia menyentuh tengkuknya, ia bisa merasakan rambut aslinya yang kini terpangkas pendek dan kasar—sebuah rahasia yang ia sembunyikan di bawah kepalsuan.
"Cassie! Sarapan!" panggil Kalingga dari meja makan.
Cassia menarik napas dalam, memaksakan sebuah senyum tipis di wajahnya. Ia harus tetap menjadi 'adik kecil yang ceria' di depan kakaknya. Ia belum siap melihat Kalingga menghajar Zidane dan membuat keributan besar. Ia ingin membalas dendam dengan caranya sendiri.
"Pagi, Kak," sapa Cassia sambil duduk di hadapan Kalingga.
Kalingga mengerutkan kening, menatap adiknya lekat-lekat. "Mata kamu sembap. Habis nangis semalam? Zidane bikin ulah?"
Cassia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sedikit hampa bagi siapa pun yang mendengarnya dengan teliti. "Nggak, Kak. Cuma habis nonton film sedih. Biasalah, cewek."
Kalingga tampak tidak sepenuhnya percaya, namun ia tidak bertanya lebih lanjut. "Nanti sore Kakak nggak bisa jemput. Ada urusan sama Acheron di markas. Kamu pulang naik taksi aja, ya?"
"Nggak apa-apa, Kak. Aku mau ke perpustakaan dulu juga kok," bohong Cassia.
Sore harinya, Cassia tidak pergi ke perpustakaan. Ia melangkah menuju sebuah bengkel tua di pinggiran kota yang pernah ia lihat saat pergi bersama Kalingga. Bengkel itu milik Mang Dadang, seorang mekanik senior yang dikenal tidak banyak tanya asal dibayar mahal.
Dengan hoodie kebesaran dan masker hitam yang menutupi separuh wajahnya, Cassia melepas wignya di dalam toilet umum sebelum masuk ke bengkel. Kini, penampilannya benar-benar berbeda. Rambut pendeknya yang berantakan memberikan kesan tomboy yang kuat.
"Cari siapa, Dek?" tanya Mang Dadang sambil mengelap tangannya yang penuh oli.
"Saya mau beli motor bekas yang kencang. Tapi saya mau motor ini nggak boleh terdaftar atas nama saya. Bisa?" suara Cassia sengaja dibuat sedikit lebih rendah.
Mang Dadang menatap remaja di depannya dari atas ke bawah. "Buat balap liar? Kamu kecil begini mana kuat nahan motor sport."
Cassia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melihat sebuah motor trail tua yang sedang diperbaiki. Tanpa izin, ia naik ke atasnya, menyalakan mesin dengan sekali hentakan, dan menarik gas hingga raungannya memenuhi bengkel. Keseimbangan tubuhnya saat menopang motor itu membuat Mang Dadang tertegun.
"Saya punya insting, Mang. Saya cuma butuh mesinnya," ucap Cassia dingin.
Malam harinya, di sebuah sirkuit jalanan yang tersembunyi di balik kawasan industri, kerumunan orang mulai memadati jalur aspal yang lurus. Di sanalah anak-anak geng motor sering berkumpul.
Kalingga dan anggota Acheron ada di sana. Mereka sedang bersantai di atas motor masing-masing, menunggu balapan pembuka dimulai. Di sudut yang lebih gelap, Galaksi berdiri bersandar pada tiang lampu yang mati. Matanya yang tajam mengawasi situasi, sampai pandangannya tertuju pada seorang pembalap baru.
Pembalap itu menggunakan motor sport tua yang dicat hitam doff seluruhnya. Ia memakai jaket kulit hitam, celana kargo, helm full face gelap, dan masker yang menutupi lehernya. Sosoknya ramping, namun cara ia duduk di atas motor menunjukkan kepercayaan diri yang luar biasa.
"Siapa itu? Kayaknya baru lihat," bisik salah satu anggota Acheron pada Kalingga.
"Nggak tahu. Mungkin anak luar kota yang cari nyali," jawab Kalingga acuh tak acuh.
Namun, Galaksi tidak merasa itu orang luar kota biasa. Ada sesuatu pada cara pembalap itu memutar gas yang terasa familiar, meski ia tak tahu apa.
Balapan dimulai. Motor hitam itu melesat seperti bayangan di tengah kegelapan. Ia meliuk di antara lawan-lawannya dengan teknik yang sangat berani, seolah ia tidak takut mati. Saat melewati garis finis pertama kali, pembalap misterius itu tidak berhenti untuk mengambil hadiah uang. Ia terus memacu motornya, menghilang ke dalam kegelapan malam sebelum ada yang sempat bertanya siapa dia.
Di bawah helmnya, Cassia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan Zidane, ia merasa hidup. Di sini, di atas aspal, ia bukan lagi Cassia yang lemah dan mudah dibohongi. Ia adalah 'Phantom'—si hantu jalanan yang tak bisa disentuh siapa pun.
Tanpa ia sadari, di garis finis, Galaksi masih menatap ke arah hilangnya motor hitam itu.
"Menarik," gumam Galaksi pelan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...