Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33 Kalau Orang Sudah Jatuh, Semua Ikut Menginjak
Pagi di gang kontrakan itu tidak pernah benar-benar tenang.
Selalu ada suara orang mencuci, anak kecil berlari, atau ibu-ibu yang berbicara keras seolah tidak ada tembok di antara rumah.
Hari itu juga begitu.
Namun sejak kejadian kemarin—ketika Nara datang dan menyebut nama Armand—suasana gang terasa berbeda.
Bisik-bisik semakin sering terdengar.
Orang-orang mulai memandang rumah kontrakan Pipit lebih lama dari biasanya.
Di depan rumah Bu Rukmini, tiga orang ibu-ibu sudah duduk di bangku plastik.
Bu Rukmini, Bu Sari, dan Bu Lina.
Topik mereka cuma satu.
“Pipit.”
Bu Rukmini menggeleng pelan.
“Aku ini sudah hidup lama ya… tapi baru kali ini lihat pasangan seperti itu.”
Bu Sari menyahut cepat.
“Maksudnya?”
Bu Rukmini menghela napas panjang.
“Ya itu tadi. Suaminya kelihatannya dulu orang besar, sekarang jatuh. Istrinya kelihatannya pendiam, tapi masa lalunya juga tidak jelas.”
Ia mencondongkan tubuhnya.
“Kalian dengar sendiri kemarin kan? Ada perempuan datang bilang hidup mereka mau dihancurkan segala.”
Bu Lina ikut mendekat.
“Iya aku dengar. Makanya aku dari tadi penasaran.”
Bu Rukmini menepuk pahanya.
“Nah itu dia. Orang hidup biasa saja tidak mungkin punya musuh sampai begitu.”
Ia memandang rumah kontrakan Pipit.
“Berarti dulu mereka pasti punya masalah besar.”
Bu Sari tiba-tiba berkata pelan.
“Eh… aku kemarin dengar dari tukang sayur.”
Bu Rukmini langsung menoleh.
“Apa lagi?”
Bu Sari menurunkan suaranya.
“Katanya Pipit dulu kerja di perusahaan besar di kota.”
Bu Lina mengangguk.
“Iya itu aku juga dengar.”
Bu Rukmini mengangkat alis.
“Terus?”
Bu Sari melanjutkan dengan nada penuh rasa ingin tahu.
“Katanya dia keluar dari sana bukan karena berhenti biasa. Ada masalah.”
Bu Lina menimpali.
“Masalah apa?”
Bu Sari mengangkat bahu.
“Tidak tahu pasti. Tapi katanya dulu ada rumor dia dekat dengan orang penting di perusahaan itu.”
Bu Rukmini langsung mendecakkan lidah panjang.
“Ah… kalau begitu sudah jelas.”
Ia bersandar di kursinya.
“Perempuan seperti itu biasanya hidupnya memang tidak pernah benar-benar tenang.”
Tepat saat itu—
pintu rumah kontrakan Pipit terbuka.
Pipit keluar membawa ember cucian.
Ia berjalan ke keran air di ujung gang.
Langkahnya pelan.
Namun begitu ia lewat di depan tiga ibu-ibu itu—
suasana langsung berubah.
Bu Rukmini menatapnya lama.
Lalu berkata keras.
“Pipit.”
Pipit berhenti.
“Iya Bu?”
Bu Rukmini menyilangkan tangan.
“Kamu ini ya… dari kemarin aku mau tanya.”
Pipit menunggu.
Namun Bu Rukmini malah mulai bicara panjang.
“Kamu itu sebenarnya dulu kerja di mana sih?”
Pipit menjawab pelan.
“Perusahaan Bu.”
Bu Rukmini langsung tertawa kecil.
“Lho ya jelas perusahaan. Masa kerja di kebun.”
Bu Lina ikut tertawa.
Namun Bu Rukmini belum selesai.
“Aku tanya perusahaan apa. Soalnya dari kemarin orang-orang di gang ini mulai dengar cerita macam-macam.”
Pipit diam.
Bu Rukmini melanjutkan lagi.
“Katanya kamu dulu dekat dengan orang besar di sana.”
Ia menyipitkan mata.
“Benar tidak?”
Pipit tidak menjawab.
Bu Rukmini mendengus.
“Kalau benar ya bilang saja. Tidak usah diam begitu. Orang diam malah bikin orang makin curiga.”
Bu Sari ikut menimpali.
“Iya Pipit… kita ini cuma tanya baik-baik. Jangan sampai nanti orang berpikir yang tidak-tidak.”
Pipit memegang embernya lebih erat.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa—
sebuah suara keras terdengar dari ujung gang.
“Bagas Pratama!”
Semua orang menoleh.
Seorang pria besar berjalan masuk ke gang itu.
Langkahnya berat.
Wajahnya keras.
Ia berhenti tepat di depan rumah kontrakan Pipit.
“Bagas! Keluar!”
Suara itu membuat beberapa orang langsung berdiri.
Bu Rukmini berbisik.
“Siapa lagi ini…”
Bagas keluar dari dalam rumah.
Ia menatap pria itu.
“Ya?”
Pria itu tertawa pendek.
“Ya? Kamu tanya ya?”
Ia menggeleng pelan.
“Bagas… Bagas… kamu ini benar-benar berani ya. Hutang lama belum selesai, sudah sembunyi di tempat seperti ini.”
Suasana langsung berubah tegang.
Bu Rukmini dan yang lain saling pandang.
Pria itu menunjuk Bagas.
“Kamu pikir kalau tinggal di gang sempit begini aku tidak akan menemukanmu?”
Bagas berkata tenang.
“Aku tidak lari.”
Pria itu tertawa keras.
“Tidak lari? Lihat tempat tinggalmu sekarang!”
Ia menoleh ke tetangga-tetangga yang berdiri.
“Kalian tahu tidak? Orang ini dulu bicara besar sekali. Proyek miliaran. Janji sana sini.”
Ia menunjuk rumah kontrakan itu.
“Sekarang lihat. Tinggal di sini.”
Beberapa tetangga mulai berbisik.
Pria itu melanjutkan dengan suara lebih keras.
“Dan hutangnya masih ada.”
Ia melangkah mendekat.
“Kalau kamu tidak bayar dalam waktu dekat, jangan salahkan aku kalau aku datang lagi. Tapi lain kali bukan cuma bicara.”
Ia melirik Pipit.
“Dan jangan kira istrimu akan aman kalau masalah ini semakin panjang.”
Pipit menegang.
Pria itu tersenyum tipis.
Lalu berbalik pergi.
Suasana gang benar-benar sunyi.
Namun keheningan itu tidak berlangsung lama.
Karena Bu Rukmini kembali bicara.
Pelan.
Tapi semua orang mendengarnya.
“Aduh Pipit…”
Ia menggeleng panjang.
“Kamu ini ya. Hidup sudah susah begini masih saja punya masalah sebanyak itu.”
Ia berdiri dari kursinya.
“Dari tadi aku cuma dengar cerita. Sekarang malah lihat sendiri.”
Ia menunjuk rumah kontrakan itu.
“Utang, musuh, masa lalu tidak jelas…”
Ia menatap Pipit lama.
“Kalau aku jadi kamu ya Pipit… aku sudah dari dulu memikirkan ulang hidupku.”
Pipit menunduk.
Namun di ujung gang—
mobil hitam yang kemarin kembali terlihat.
Di dalam mobil itu seorang pria sedang berbicara lewat telepon.
“Ya Pak Armand.”
Ia melihat ke arah rumah Bagas.
“Orangnya sudah benar-benar jatuh.”
Ia tersenyum tipis.
“Seperti yang Bapak inginkan.”
Pria itu menutup telepon.
Matanya masih tertuju pada Bagas yang berdiri di depan rumah kecil itu.
“Permainan baru saja dimulai.”
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid