Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30 Tanda Tangan di Atas Luka
Malam itu lebih sunyi dari biasanya.
Tidak ada suara motor lewat.
Tidak ada tawa anak kecil.
Hanya angin yang seperti berbisik, seolah tahu ada keputusan besar akan diambil.
Bagas duduk sendirian di ruang kosong gedung pertemuan tua itu.
Di depannya: map hitam.
Di dalamnya: kontrak proyek miliaran rupiah.
Dan di halaman terakhir—ruang tanda tangan.
Tangannya diam di atas meja.
Pikirannya tidak.
Suara Bu Marni terngiang.
"Lelaki itu harus realistis."
"Harga diri nggak bisa dimakan."
"Sudah miskin, dapat istri bermasalah pula."
Kata-kata itu seperti palu, memukul harga dirinya tanpa henti.
Pintu terbuka pelan.
Pipit masuk.
Langkahnya pelan.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
“Mas.”
Bagas tidak langsung menoleh.
“Kamu nggak harus datang.”
Pipit tersenyum tipis.
“Aku yang dulu memulai semua ini.”
Bagas menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Pipit duduk di depannya.
Lalu untuk pertama kalinya—
Ia membuka luka yang selama ini ia simpan.
“Dulu,” suara Pipit pelan, “aku memang diminta mengubah data laporan.”
Bagas membeku.
“Tapi aku menolak.”
“Lalu?”
“Aku dipanggil atasan. Dia bilang kalau aku tidak mau, karierku selesai.”
Bagas mulai mengerti arah ceritanya.
“Dan aku tetap menolak. Jadi mereka memalsukan dokumen, buat seolah aku yang manipulasi.”
Air mata jatuh.
“Aku dipecat. Tanpa pembelaan. Tanpa pengacara. Tanpa siapa-siapa.”
Bagas mengepalkan tangan.
“Kenapa kamu diam selama ini?”
Pipit tersenyum pahit.
“Karena aku nggak mau kamu merasa menikahi perempuan yang membawa masalah.”
Sunyi.
Berat.
“Mas,” lanjutnya, “kalau sekarang aku harus datang ke mereka, menunduk, pura-pura minta maaf supaya hidup kita selamat… aku siap.”
Bagas langsung berdiri.
“Tidak.”
“Mas—”
“Tidak!”
Suara Bagas menggema di ruangan kosong.
“Selama ini kamu dijatuhkan karena mempertahankan kebenaran. Jangan sekarang kamu dihancurkan lagi demi aku.”
Air mata Pipit semakin deras.
“Tapi aku nggak kuat lihat kamu terus dihina.”
Bagas tertawa kecil.
Tawa yang lebih mirip pecah.
“Aku sudah dihina dari lahir jadi orang biasa. Aku nggak mati.”
Ia mendekat.
Memegang wajah Pipit.
“Tapi kalau kamu hancur lagi karena aku… aku nggak akan bisa hidup.”
Pintu terbuka.
Pria berjas abu-abu masuk.
Di belakangnya—
Pria paruh baya itu.
Wajah tenang.
Mata dingin.
“Sudah waktunya.”
Ia meletakkan pulpen di meja.
“Keputusan?”
Bagas menatap kontrak.
Lalu menatap Pipit.
Lalu menatap pria itu.
“Kalau kami tanda tangan,” katanya pelan, “semua dokumen dihapus?”
Pria itu tersenyum.
“Tentu.”
“Nama istri saya bersih?”
“Tentu.”
“Dan tidak ada syarat tambahan?”
Pria itu terdiam sepersekian detik.
Senyumnya tetap ada.
“Tentu.”
Jawaban yang terlalu halus.
Terlalu mudah.
Terlalu licin.
Di luar gedung—
Bu Marni berdiri di dalam mobil.
Memantau.
Ia menatap ke atas.
“Pilihlah. Jatuh miskin atau jatuh harga diri.”
Ia tersenyum puas.
Karena baginya—
Bagas sudah kalah apapun pilihannya.
Kembali ke dalam ruangan.
Bagas mengambil pulpen.
Tangannya bergetar.
Bukan karena takut miskin.
Tapi karena ia tahu—
Begitu tinta menyentuh kertas, hidupnya berubah.
Pipit memegang lengannya.
“Mas… kalau kamu lakukan ini, aku nggak akan pernah salahkan kamu.”
Bagas menatapnya lama.
Lalu pelan…
Ia menurunkan pulpen.
Ujungnya menyentuh kertas.
Dan—
Berhenti.
Sunyi.
Hening.
Bahkan napas terasa keras.
Pria paruh baya itu menyipitkan mata.
“Kenapa berhenti?”
Bagas mengangkat kepala.
Tatapannya berbeda.
Bukan tatapan lelaki tertekan.
Bukan tatapan lelaki kalah.
Tapi tatapan lelaki yang akhirnya sadar.
“Kalian salah satu hal,” katanya pelan.
Pria itu tersenyum tipis.
“Oh ya?”
“Kalian pikir saya takut miskin.”
Ia berdiri.
“Saya cuma takut kehilangan diri saya sendiri.”
Pulpen itu diletakkan kembali.
“Tawaran ini kami tolak.”
Sunyi.
Hening lebih berat dari sebelumnya.
Pria berjas abu-abu mendekat sedikit.
“Kamu yakin? Setelah semua tekanan?”
Bagas mengangguk.
“Kami mungkin miskin. Tapi kami tidak murahan.”
Kalimat itu menghantam ruangan.
Pipit menangis.
Bukan karena sedih.
Tapi karena untuk pertama kalinya—
Ia merasa tidak sendirian melawan dunia.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis.
Tapi kali ini senyum itu berbeda.
Bukan kecewa.
Bukan marah.
Seperti… tertarik.
“Baiklah.”
Ia berdiri.
“Permainan belum selesai.”
Bagas mengernyit.
“Maksudnya?”
Pria itu merapikan jasnya.
“Proyek ini memang satu jalan cepat. Tapi bukan satu-satunya.”
Ia menatap Pipit.
“Dan masa lalu… bisa jadi senjata, bisa jadi peluang.”
Lalu ia berjalan keluar.
Meninggalkan mereka dengan tanda tanya besar.
Di luar gedung—
Bu Marni melihat mereka keluar tanpa ekspresi panik.
Ia mengernyit.
“Kenapa nggak ada yang tanda tangan?”
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk.
“Mereka menolak. Fase dua dimulai.”
Wajah Bu Marni berubah.
Fase dua?
Apa lagi ini?
Ia mulai merasa—
Mungkin permainan ini bukan sepenuhnya ia kendalikan.
Bagas dan Pipit berjalan di jalan gelap.
Tanpa mobil mewah.
Tanpa uang.
Tanpa kepastian.
Tapi langkah mereka lebih ringan.
“Mas…”
“Iya.”
“Kita benar-benar nol lagi ya?”
Bagas tersenyum tipis.
“Nggak.”
Pipit menoleh.
“Kita masih punya satu hal.”
“Apa?”
“Kita.”
Sunyi.
Hangat.
Di tengah dingin malam yang kejam.
Namun—
Beberapa meter di belakang mereka—
Sebuah mobil hitam lain mengikuti pelan.
Dan di dalamnya—
Seorang wanita muda memandang foto Pipit di tablet.
“Menarik,” katanya pelan.
“Perempuan yang dulu menolak manipulasi data.”
Ia tersenyum tipis.
“Kita lihat seberapa kuat kamu kalau permainan naik level.”
Mobil itu terus mengikuti.
Tanpa mereka sadari.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid