"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Ketegangan
Waktu seolah melesat dengan cara yang menyiksa. Kini, kandungan Sasha telah memasuki bulan ketujuh, sebuah fase di mana perutnya tidak bisa lagi disembunyikan oleh daster longgar sekalipun. Di sisi lain, sandiwara Maya semakin gila; ia mulai mengenakan ganjalan perut yang lebih besar dan sering mengunggah foto-foto persiapan kamar bayi di media sosial untuk memuaskan dahaga publik dan keluarga besar akan informasi. Namun, di balik kemewahan The Obsidian Towers, Adrian hidup dalam ketakutan yang terus menggerogoti sarafnya.
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan deras yang membuat suasana hati Adrian semakin gelap. Ia baru saja tiba di apartemen rahasia Dharmawangsa untuk membawakan Sasha vitamin khusus dan buku-buku seni yang dipesan dari Eropa. Saat ia sedang menyesap teh bersama Sasha yang duduk bersandar di sofa, ponselnya bergetar hebat di atas meja. Nama "Maya" berkedip dengan frekuensi yang menunjukkan kepanikan.
"Adrian! Kamu di mana?!" suara Maya melengking, tertahan dalam bisikan yang mendesak.
"Ada apa, May? Aku sedang ada urusan luar," jawab Adrian, memberi kode pada Sasha untuk tetap diam.
"Papa Haryo dan Mama Helena... mereka sudah di depan lobi The Obsidian Towers! Mereka membawa dokter keluarga dan peralatan USG portabel. Mereka bilang mereka tidak mau lagi mendengar alasan, mereka ingin melihat cucu mereka secara langsung hari ini juga! Aku bilang aku sedang di luar, tapi Papa melihat mobilmu tidak ada di kantor. Dia sedang melacak GPS mobilmu, Adrian! Kamu harus pergi dari sana sekarang!"
Darah Adrian seolah berhenti mengalir. Ia menatap Sasha yang kebingungan, lalu menatap jendela. Di bawah sana, ia tahu teknologi pelacak pada mobil Mercedes-nya adalah musuh terbesarnya. Ayahnya bukanlah pria yang bisa dibohongi dengan alasan sederhana; Haryo Ardilwilaga adalah mantan jenderal yang memiliki insting pelacak yang luar biasa.
"Sasha, masuk ke kamar pelayan. Sekarang! Jangan keluar, jangan bersuara, jangan nyalakan lampu!" perintah Adrian dengan nada yang membuat Sasha langsung gemetar ketakutan.
"Ada apa, Adrian? Siapa yang datang?" tanya Sasha dengan mata berkaca-kaca, tangannya protektif memeluk perutnya yang besar.
"Orang tuaku. Cepat, Sasha!" Adrian membantu Sasha berdiri, menuntunnya masuk ke ruangan kecil di dekat dapur yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang, lalu mengunci pintunya dari luar.
Hanya berselang lima menit setelah pintu kamar itu terkunci, bel pintu apartemen berbunyi. Bukan sekali, tapi berkali-kali dengan ketukan yang tidak sabar. Adrian mengatur napasnya, mengusap keringat di dahi, lalu membuka pintu dengan wajah yang diusahakan tampak tenang.
Haryo Ardilwilaga berdiri di sana dengan mantel panjang yang basah, didampingi oleh Helena Zieliński yang menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. Di belakang mereka, seorang dokter pria paruh baya memegang tas medis yang berat.
"Jadi di sini kamu menyembunyikan istrimu?" suara Haryo menggelegar di lorong yang sunyi. Ia melangkah masuk tanpa menunggu undangan, matanya menyapu setiap sudut ruangan mewah itu. "Maya bilang dia sedang stres dan butuh ketenangan, tapi kenapa di apartemen yang tidak terdaftar atas nama keluarga kita?"
"Pa, ini tempat temanku. Aku menyewanya agar Maya tidak terganggu oleh wartawan di Obsidian," dalih Adrian, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa dadanya akan meledak.
"Di mana Maya?" tanya Helena tajam. Ia berjalan menuju area dapur, sangat dekat dengan pintu tempat Sasha bersembunyi. "Maya! Ini Mama! Keluar nak, jangan takut."
"Maya sedang tidur di kamar utama, Ma. Dia baru saja minum obat tidur karena migrain," Adrian mencoba menghalangi langkah Helena.
Namun, Haryo tidak bisa dihentikan. "Dokter, siapkan alatnya. Saya tidak peduli dia sedang tidur atau tidak. Saya ingin melihat detak jantung pewaris saya hari ini. Terlalu banyak desas-desus yang mengatakan kehamilan ini tidak wajar."
Adrian berdiri mematung di tengah ruangan. Ia terjepit di antara dua kehancuran. Jika ia membiarkan mereka masuk ke kamar utama, mereka akan tahu Maya tidak ada di sana. Jika ia mencoba mengulur waktu, Helena yang kini sedang berada di dapur mungkin akan mendengar gerakan Sasha. Di dalam kamar sempit itu, Sasha sedang berjuang melawan rasa mulas yang tiba-tiba datang karena stres. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kain, air mata mengalir deras karena takut bayi dalam kandungannya akan membawa petaka.
*Krieeek...*
Sebuah suara gesekan kecil terdengar dari arah dapur. Helena berhenti melangkah. "Suara apa itu? Seperti ada orang di dalam sana?"
"Mungkin kucing, Ma. Pemilik apartemen ini punya kucing," sahut Adrian cepat, suaranya parau.
Tepat saat Helena hendak meraih kenop pintu tempat Sasha bersembunyi, pintu depan apartemen terbuka dengan bantingan keras. Semua orang menoleh. Maya masuk dengan napas tersengal-sengal, mengenakan mantel besar yang menutupi perut palsunya, wajahnya pucat namun penuh tekad. Ia telah memacu mobil lain dengan kecepatan gila untuk sampai di sana.
"Papa! Mama! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Maya, segera berlari ke arah ibunya, menjauhkan Helena dari pintu dapur. "Aku sedang di kamar mandi di lantai atas—maksudku, aku baru saja dari apotek bawah untuk membeli obat!"
Kebohongan Maya yang tumpang tindih membuat suasana semakin tegang. Haryo menyipitkan mata. "Adrian bilang kamu sedang tidur di dalam, Maya. Kenapa kamu baru masuk dari pintu depan?"
Adrian dan Maya saling pandang selama satu detik yang terasa seperti satu jam. "Maksudku... Maya baru saja kembali dari jalan santai di bawah, Pa. Aku salah bicara karena aku sendiri panik melihat kalian datang tiba-tiba," Adrian mencoba menambal lubang di cerita mereka.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika dokter keluarga itu mulai mengeluarkan alat USG portabel. "Nyonya Maya, silakan berbaring di sofa. Kita akan melakukan pemeriksaan singkat."
Maya membeku. Jika ia berbaring, dokter itu akan menyentuh perut karetnya. Jika ia menolak, Haryo akan langsung tahu mereka berbohong. Di dalam kamar rahasia, Sasha tidak sengaja menjatuhkan sebuah botol air plastik. Bunyi *klutuk* yang pelan itu terdengar sangat jelas di ruangan yang mendadak sunyi.
"Cukup!" teriak Maya tiba-tiba, air mata buayanya mulai jatuh. Ia berpura-pura histeris, sebuah taktik terakhir untuk menyelamatkan mereka. "Kalian memperlakukanku seperti binatang percobaan! Kalian tidak percaya padaku? Kalian ingin memeriksa perutku di sini, di apartemen ini, seolah aku bukan putri kalian? Jika Papa dan Mama tidak percaya, lebih baik ambil saja anak ini setelah lahir dan jangan pernah temui aku lagi!"
Maya jatuh terduduk di lantai, terisak hebat. Histerianya begitu meyakinkan sehingga Helena langsung luluh. Ia memeluk putrinya, merasa bersalah karena telah meragukan darah dagingnya sendiri. Haryo, meski masih menyimpan kecurigaan, tidak tega melihat putrinya hancur seperti itu di depan dokter asing.
"Sudahlah, Haryo," bisik Helena pada suaminya. "Kita sudah keterlaluan. Lihat dia, dia sangat tertekan."
Haryo menghela napas panjang, menatap Adrian dengan tatapan peringatan yang terakhir. "Baiklah. Kami pergi. Tapi pastikan, Adrian, saat cucuku lahir, tidak boleh ada satu pun cacat dalam prosesnya. Jika ada yang kamu sembunyikan, aku akan mengetahuinya."
Setelah pintu apartemen tertutup dan suara langkah kaki mereka menjauh, Adrian ambruk di sofa, sementara Maya segera melepaskan pegangan ibunya di pikirannya dan berdiri dengan wajah dingin yang kembali mengeras. Adrian segera berlari ke dapur, membuka pintu rahasia, dan menemukan Sasha sudah lemas di lantai karena serangan panik.
Adrian memeluk Sasha erat, namun matanya menatap Maya yang berdiri di ambang pintu. Maya menatap mereka berdua dengan kebencian yang murni. "Hari ini kita selamat, Adrian," ucap Maya dingin. "Tapi jangan pernah lupa, setiap kali kamu memeluknya, kamu sedang menaruh pisau di leher kita semua. Jika mereka tahu gadis itu ada, kita semua habis. Termasuk bayi yang kamu puja itu."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya terus mendekap Sasha, merasakan detak jantung bayi di dalam perut gadis itu yang berdegup kencang, seolah tahu bahwa dunianya dibangun di atas fondasi kebohongan yang bisa runtuh kapan saja.