Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — Jarak yang Mulai Terasa
Hari kedua selalu lebih sulit daripada hari pertama.
Kim Ae Ra menyadari itu bahkan sebelum ia benar-benar duduk di mejanya.
Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif Aegis Corp, beberapa karyawan langsung menoleh. Bukan sekadar melihat—melainkan mengamati. Bisikan pelan kembali terdengar, lebih samar namun jelas ditujukan padanya.
“Itu dia…”
“Sekretaris CEO…”
“Masih bertahan ternyata.”
Ae Ra pura-pura tidak mendengar. Ia berjalan lurus menuju mejanya, menggenggam tas sedikit lebih erat. Komputer baru saja dinyalakan ketika Yoo Min Ji muncul di sampingnya.
“Jadwal CEO hari ini penuh,” katanya singkat sambil menyerahkan tablet. “Tiga rapat internal, satu makan siang bisnis, dan presentasi sore.”
Ae Ra menelan ludah.
“Iya… saya akan berusaha.”
Min Ji menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Di lantai ini, kesalahan kecil terlihat sangat besar.” Kalimat itu bukan ancaman, tapi cukup membuat bahu Ae Ra menegang.
Belum lima belas menit bekerja, telepon sudah berdering bertubi-tubi. Email masuk tanpa henti. Permintaan perubahan jadwal datang hampir bersamaan.
Ae Ra berusaha mengikuti semuanya, namun tangannya mulai bergerak terlalu cepat. Ia salah mencatat waktu rapat dan baru menyadarinya ketika pintu ruang CEO terbuka.
“Sekretaris Kim.”
Ia langsung berdiri. “Iya!”
Jae Hyuk menatap layar tabletnya sebentar lalu menghela napas pendek.
“Rapat dengan tim pemasaran seharusnya pukul sepuluh tiga puluh.”
Ae Ra membeku. Ia melihat catatannya. Dadanya langsung jatuh.
“Maaf… saya—”
“Perbaiki sekarang.”
Nada suara Jae Hyuk datar, tidak keras, tapi cukup membuatnya merasa kecil. Ae Ra segera menghubungi pihak terkait, meminta perubahan dengan gugup. Setelah panggilan berakhir, tangannya sedikit gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam.
*Jangan menangis. Jangan di sini.* ujarnya dalam hati.
Dari dalam ruangannya, Jae Hyuk memperhatikan melalui dinding kaca. Ia melihat bagaimana Ae Ra berusaha tetap tenang meski jelas panik. Alisnya sedikit berkerut. Ia tahu kesalahan itu kecil. Bahkan sekretaris berpengalaman pun pernah melakukannya.
Namun melihat ekspresi Ae Ra yang seperti menahan sesuatu membuatnya merasa… tidak nyaman. Beberapa menit kemudian ia keluar lagi.
“Kau sudah sarapan?” Pertanyaan itu datang tiba-tiba.
Ae Ra berkedip.
“…Belum.”
Jae Hyuk menghela napas pelan.
“Min Ji.”
“Iya, Tuan?”
“Tunda rapat lima belas menit.”
Min Ji terlihat sedikit terkejut, tapi mengangguk. Jae Hyuk lalu menaruh kantong kecil di meja Ae Ra. Sandwich dan kopi hangat.
“Makan dulu. Otak tidak bekerja baik saat lapar.”
Ia kembali masuk sebelum Ae Ra sempat menjawab. Ae Ra menatap makanan itu lama.
“…Dia sebenarnya orang baik atau menyebalkan?”
Namun perhatian kecil itu justru memperburuk situasi. Tatapan karyawan lain berubah. Bisikan semakin jelas.
“CEO membelikan makan?”
“Serius?”
“Baru dua hari…”
Ae Ra menunduk, merasa semakin tidak nyaman. Siang hari datang bersama rapat besar pertama yang harus ia dampingi. Ruangan konferensi dipenuhi eksekutif senior. Ae Ra duduk di sisi belakang, mencatat dengan hati-hati.
Park Se Rin, Direktur Operasional, meliriknya beberapa kali. Ketika rapat selesai, wanita itu menghampiri.
“Kau masih di sini.”
“Iya, Direktur.”
Se Rin tersenyum tipis. “Dunia ini tidak ramah pada orang yang naik terlalu cepat.” Ia berjalan pergi sebelum Ae Ra sempat menjawab.
Kalimat itu terus terngiang di kepala Ae Ra.
Sore menjelang, pekerjaan akhirnya sedikit mereda. Ae Ra bersandar lelah di kursinya. Hari kedua terasa lebih berat dari kemarin. Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor yang familiar.
**Seo Jun:**
*Masih hidup?*
Ae Ra tanpa sadar tersenyum kecil.
**Ae Ra:**
*Hampir tidak.*
Balasan datang cepat.
*Ramen baru datang. Kalau pulang, makan dulu.*
Kalimat sederhana itu terasa seperti tali penyelamat.
Di dalam ruang CEO, Jae Hyuk tanpa sengaja melihat senyum kecil Ae Ra melalui kaca. Ekspresi itu berbeda dari yang ia lihat sepanjang hari. Ringan. Nyaman. Ia mengikuti arah pandangan Ae Ra—ke layar ponsel. Perasaan aneh muncul di dadanya. Ia tidak menyukainya.
Tanpa sadar ia memanggil, “Sekretaris Kim.”
Ae Ra langsung berdiri. “Iya?”
“Kita pulang.”
“…Sekarang?”
“Ada makan malam bisnis.”
Lagi. Ae Ra menahan napas.
Malam hari, mobil perusahaan melaju di jalan kota. Ae Ra duduk kaku di kursi belakang bersama Jae Hyuk. Hening panjang terasa canggung.
“Kau terlihat lebih santai tadi,” kata Jae Hyuk tiba-tiba.
Ae Ra menoleh bingung.
“Tadi?”
“Saat melihat ponselmu.”
Wajah Ae Ra sedikit memerah.
“Itu… teman.”
Jae Hyuk mengangguk pelan, tapi pandangannya kembali ke luar jendela. Entah kenapa, kata *teman* itu terasa mengganggu.
Di sisi lain kota, Seo Jun berdiri di depan toserba sambil menata kotak ramen baru. Lampu jalan menerangi wajahnya yang tenang. Ponselnya kembali bergetar. Ia melihat pesan singkat masuk. Senyumnya memudar sedikit.
Sebuah berita bisnis muncul di layar:
**“Grup Haesung dikabarkan mulai memperluas investasi di sektor yang sama dengan Aegis Corp.”**
Seo Jun mematikan layar tanpa ekspresi. Tatapannya beralih ke jalan kosong di depan toko. Tenang.
Namun dalam diam, sesuatu mulai bergerak. Tanpa disadari Ae Ra, jarak antara dua dunia yang mengelilinginya perlahan semakin dekat.