"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu, ketenangan di kediaman Dirgantara pecah bukan oleh suara burung, melainkan oleh deru sirine polisi yang mengepung gerbang mansion. Bima tidak bisa diam begitu saja; trauma dicekik dengan kawat di lantai 40 terlalu besar untuk disembunyikan.
Rangga tidak melawan. Saat polisi memborgol tangannya di depan Alya, ia hanya menatap istrinya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia membiarkan petugas menyeretnya masuk ke mobil patroli tanpa sepatah kata pun.
Alya menyusul dengan perasaan hancur, namun ia harus tetap tegar. Ia tahu ini adalah konsekuensi dari apa yang terjadi semalam.
Di kantor polisi, Rangga ditempatkan di sebuah ruang interogasi yang sempit dengan lampu neon yang berkedip-kedip. Dua detektif senior duduk di depannya, sementara Alya dan pengacara keluarga mengamati dari balik kaca satu arah.
"Saudara Rangga, saksi mengatakan Anda mencoba membunuhnya dengan kawat baja. Apa motif Anda?" tanya Detektif itu sambil menyodorkan foto barang bukti.
Rangga terdiam. Ia menatap kawat itu seolah-olah itu adalah mainan yang menyenangkan. Perlahan, ia mulai mengeluarkan suara—bukan jawaban, melainkan tawa rendah yang semakin lama semakin keras.
"He... hehehe... hahahaha!"
Tawanya memenuhi ruangan, bergema dengan nada yang sangat ganjil dan dingin hingga membuat bulu kuduk para detektif merinding.
"Motif?" Rangga berhenti tertawa mendadak. Matanya melotot menatap detektif itu. "Dunia ini terlalu bising, Detektif. Bima adalah suara sumbang yang mengganggu melodi cintaku dan Alya. Aku hanya mencoba... menekan tombol mute."
Ia kemudian membenturkan kepalanya pelan ke meja interogasi sambil terus bergumam, "Alya bilang aku sakit... Alya bilang aku harus sembuh... Apakah membunuh orang yang mengganggu istriku itu termasuk sakit?"
Melihat perilaku Rangga yang sangat tidak stabil dan jawaban-jawabannya yang tidak masuk akal, tim medis kepolisian segera didatangkan. Setelah pemeriksaan intensif selama beberapa jam, psikiater kepolisian keluar dengan sebuah laporan.
"Dia tidak bisa diproses secara hukum biasa untuk saat ini," ujar psikiater itu kepada tim penyidik. "Rangga menderita gangguan kepribadian antisosial yang ekstrem disertai episode psikotik akut akibat trauma masa kecil yang terpicu kembali. Kondisi temperamentalnya sangat tidak terduga. Dia berbahaya, tapi secara hukum, dia dianggap tidak sadar sepenuhnya atas konsekuensi tindakannya saat serangan itu terjadi."
Alya menghela napas panjang. Berkat laporan medis tersebut dan pengaruh pengacara mereka yang sangat lihai, Rangga tidak dijebloskan ke sel penjara umum yang keras. Namun, ia juga tidak bisa pulang begitu saja.
Polisi memutuskan agar Rangga ditempatkan di sebuah rumah sakit jiwa dengan pengamanan setingkat penjara (Ward Isolasi Psikiatri) untuk observasi dan pengobatan wajib.
Saat Rangga dibawa keluar dari kantor polisi untuk dipindahkan ke ambulans rumah sakit, ia melihat Alya berdiri di selasar. Rangga berhenti melangkah. Meskipun tangannya diborgol dan dijaga dua petugas, auranya tetap mendominasi.
"Alya," panggilnya lembut, sangat kontras dengan tawanya di ruang interogasi tadi.
Alya mendekat, matanya sembab. "Ya, Mas?"
"Kau lihat? Aku tidak melawan mereka. Aku diam seperti yang kau minta," bisik Rangga dengan nada bangga seperti anak kecil yang baru saja melakukan tugas sekolah. "Aku akan 'sembuh' di tempat itu jika itu yang kau inginkan. Tapi berjanjilah satu hal..."
Arka mendekatkan wajahnya ke telinga Alya, mengabaikan tarikan petugas.
"Jangan pernah mengunjungi Rendi lagi selama aku tidak ada. Karena jika aku tahu kau menatap pria lain saat aku sedang dikurung... aku akan merobohkan dinding rumah sakit itu dengan tangan kosong hanya untuk mencungkil matanya."
Alya membeku. Arka kemudian tertawa lagi, tawa yang sama yang ia keluarkan di ruang interogasi, sebelum akhirnya masuk ke dalam ambulans dengan sukarela.
Alya kini sendirian di mansion besar itu. Namun, ia segera menyadari bahwa meskipun Rangga di rumah sakit jiwa, ia tetap tidak "bebas". Di dalam rumah, terpasang CCTV di berbagai sudut ruangan rumah.
Bersambung....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/