seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
happy reading all
Sudah lima hari berturut-turut, devi masih saja belum di temukan. lokasi nya entah dimana, mereka sangat kesusahan untuk melacak keberadaan devi.
"fathir, saya berhasil menemukan keberadaan devi." ucap lian
Fathir langsung menoleh ke arah Lian.
"dimana?"
"sepertinya agak jauh dari sini, pantesan kita kesusahan untuk menemukan nya. ternyata sejauh itu." jelas lian.
"emangnya di mana lokasi devi, pah?" tanya afan penasaran.
"devi berada di pusat kota terpencil..."
Fathir mengernyit. "apa maksudmu?"
"itu kawasan pusat kota lama yang sudah jarang di huni. tempat nya masih di wilayah kota, tapi letaknya di bagian yang sepi dan terisolasi. bangunan nya banyak yang kosong, aksesnya juga sangat sulit. pantas saja kita kesusahan untuk melacak keberadaan devi." jelas lian.
suasana langsung berubah tegang.
"kenapa Devi bisa berada di sana..." gumam Salma pelan, wajahnya mulai memancarkan kepanikan.
"kita berangkat sekarang." ucap Fathir
Salma yang sejak tadi diam ikut berdiri.
"aku ikut."
"gausah bun. tempat nya asli dan agak berbahaya" jawab fathir.
"biarkan kita yang kesana." sambung Lian.
Tak ingin membuang waktu, Afan, Fathir, dan Lian segera menuju mobil. mesin dinyalakan, suara deru nya memecah keheningan malam.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang berbicara, hanya ada keheningan. dan suara navigasi dari ponsel Lian yang sesekali terdengar pelan.
"Lurus terus, nanti belok kanan menuju kawasan kota lama" ucap Lian sambil memperhatikan layar ponselnya.
Lampu-lampu kota perlahan mulai terlihat jarang. gedung gedung tinggi berubah menjadi bangunan gua yang tampak tak terawat dan kumuh. jalanan semakin sempit dan gelap.
Afan menatap sekitar, Dan merasa heran.
"serius ini pusat kota?" gumam Afan pelan.
"bagian lama yang sudah di tinggal kan" jawab Lian
mobil akhirnya memasuki kawasan yang benar benar sepi.beberapa bangunan kosong berdiri sunyi dan tak ada penghuninya.cat nya mengelupas, jendela nya gelap tanpa adanya cahaya.
Fathir memelankan laju mobilnya.
"lokasinya tinggal dua ratus meter lagi" ucap Lian dengan suara sedikit lebih pelan dari biasanya.
jantung mereka seakan berdetak lebih cepat dari biasanya.
di ujung jalan, terlihat sebuah bangunan besar yang tampak terbengkalai.
"sepertinya...Devi disana" gumam Lian
Fathir mematikan mesin mobil.
suasa mendadak hening.
mereka saling menatap.
dan tanpa aba aba lagi, mereka turun dari mobil, dan melangkah perlahan menuju bangunan itu.
Pintu bangunan itu tertutup namun tak rapat, agak sedikit terbuka. cat nya mengelupas, engselnya berkarat.
Fathir mendorong pintu itu perlahan.
Creeeek...
Suara gesekan pintu memecah kesunyian malam.
Bagian dalamnya gelap, dan hanya ada cahaya dari lampu remang-remang. Bau lembab langsung terasa saat mereka melangkah masuk.
"fan, nyalakan senternya" bisik Lian.
Cahaya senter menyapu ruangan. debu berada dimana mana. kursi kursi kayu dan sudah nampak tua berserakan. beberapa kardus tua menumpuk di sudut ruangan.
"Devi!" panggil fathir, suaranya menggema di dinding kosong.
Tak ada jawaban.
Mereka melangkah lebih dalam. setiap langkah yang mereka tapaki terasa berat.
Tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh dari lantai atas.
Buk!
Afan refleks menoleh ke atas. "kalian dengar?"
Lian mengangguk pelan. "dari atas"
Fathir sudah lebih dulu berjalan menuju tangga di sisi ruangan. tangga besi itu tampak tua dan sedikit berderit saat di injak.
"pelan pelan" ucap Lian mengingatkan.
Mereka naik satu persatu. suasana semakin mencekam, angin dari jendela pecah membuat tirai lusuh bergerak pelan.
Sesampainya di lantai dua, cahaya senter menyorot lorong panjang dengan beberapa pintu tertutup.
Dan di ujung lorong itu....
Seperti ada bayangan yang bergerak.
Fathir menahan napasnya.
"Devi?" panggil nya lagi, kali ini lebih pelan.
Hening.
Tanpa berkata apa-apa, Fathir melangkah mendekati pintu itu.
tangan nya perlahan menyentuh gagang pintu.
dan perlahan, ia memutarnya.
Di dalam ada tiga orang pria berbadan besar, tengah berkumpul. seolah mereka sudah mengetahui bahwa akan ada seseorang yang masuk.
Dan yang benar saja.
"pantesan bos suruh kita berjaga jaga, ternyata beneran" bisik pria itu pelan.
"siapa kalian?" tanya Fathir.
Afan menatap ke lantai bawah, sepertinya ada sesuatu di bawah sini.
"pah..." panggil Afan pelan.
"sepertinya disini ada ruangan." ucap Afan pelan.
Lian menatap sebuah lantai yang nampak ada ruangan di bawahnya, ruang bawah tanah.
Lian berbisik ke Fathir. "Afan menemukan ruang bawah tanah, biarkan Afan yang masuk ke dalam dan kita yang melawan mereka bertiga."
Fathir mengangguk. "mari kita alihkan perhatian nya"
Lian mengangguk.
Tanpa aba aba, Lian langsung meninju perut pria itu. dan membawanya jauh dari sini, supaya Afan bisa masuk ke dalam.
Setelah beberapa detik mereka menjauh dari tempat ini, dan Afan langsung membuka pintu yang ada di balik lantai itu.
Ada tangga di bawah sana.
Tanpa fikir panjang, Afan langsung menuruni tangga itu.
Afan berjalan sedikit demi sedikit, semakin kebawah suasana langsung berubah menjadi gelap dan hanya ada cahaya remang. dan juga ada bau amis disini.
Afan terus berjalan. hingga di ujung ruangan ini, ia melihat--
Devi.
Devi terduduk lemas di bawah, tubuhnya penuh luka dan lebam.
Tanpa berfikir panjang, Afan langsung menghampiri devi.
"Dev.." lirihnya pelan.
Devi mengangkat wajahnya, walaupun sedikit lemas, ia memaksakan tersenyum.
Afan langsung memeluk tubuh devi.
Satu tetes air mata devi lolos begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Fan gue gamau disinii.." lirih Devi pelan, di sela sela Isak tangisnya.
"iya, gue akan bawa Lo keluar dari sini yah?"
Devi mengangguk lemah.
Afan melepas pelukannya, dan membuka ikatan tali yang ada di kaki dan pergelangan tangan devi.
Saat mau berdiri tiba tiba tubuh devi linglung, dan jatuh di pelukan Afan.
"dev" panggilnya.
"gua gakuat fan..."
Tubuh devi langsung ambruk dan pandangan nya berubah jadi gelap.
Afan yang panik langsung mengangkat tubuh devi kedalam gendongan nya.
Afan keluar dari ruangan bawah tanah.
Fathir, yang melihat putrinya di gendong oleh Afan. ia langsung menghampirinya dengan langkah tergesa.
"Fan? devi kenapa?" tanya Fathir panik
"gatau om tadi Devi sadar, tapi setelah itu Devi langsung pingsan."
"kita bawa Devi ke rumah sakit sekarang." ucap lian.
Fathir dan Afan mengangguk.
Mereka keluar dari bangunan tua itu.
Saat mereka keluar, mereka melihat clarissa di hadapan bangunan itu.
Sepertinya Clarissa akan masuk kedalam.
tubuh Clarissa seketika menegang.
"Clarissa?" gumam Lian.
"apa? mereka kok bisa selamatin Devi?" batin Clarissa setengah panik.
"jadi ini semua ulah kamu?" tanya fathir.
Clarissa langsung menggeleng cepat.
"e-e-enggak om, aku mana mungkin berani." jawabnya sedikit gugup.
"tidak usah bohong, Clarissa." ucap Fathir.
"pah...aku mana mungkin berani nyulikt eman aku sendiri" jawab Clarissa membela diri.
"teman? sejak kapan putri saya berteman dengan kamu?" tanya Fathir.
"dan jangan panggil saya papah, Clarissa. saya tidak punya menantu selicik kamu." sambung Lian.
Tatapan Clarissa beralih ke Afan, yang tengah menggendong devi.
"Fan, Lo pasti percaya sama gue kan?" tanya clarissa lebih harap.
"gak" jawabnya singkat.
"om, pah. kita bawa devi kerumah sakit terlebih dahulu saja."
Mereka berdua mengangguk.
Lian, tadi sempat menelfon salah satu anak buahnya untuk datang ke tempat ini.
"bawa Clarissa." perintah Lian ke anak buahnya.
"pahh! aku gak nyulik devii!" teriak Clarissa.
Lian tak memperdulikan teriakan Clarissa.
Fokus nya sekarang hanya ada pada Devi.
Tanpa menunggu lama lagi, mereka berjalan menuju ke arah mobil.