NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH HATI

Sampai di rumah sakit, Claudia langsung mendapatkan penanganan. Wajah Farhan pias, perutnya perih karena belum makan seharian. Matanya mulai berkunang-kunang.

Tiba-tiba, ia mau roboh, Rivaldi yang kebetulan lewat langsung menahan tubuh pria itu.

"Sob. Medis!" pekiknya.

Farhan langsung dibawa ke ruang rawat. Sepuluh menit kemudian, Farhan tersadar, ia gegas bangun. Rivaldi menahannya.

"Sob, tenanglah. Kau kena maag kronis!"

Farhan merebahkan tubuhnya lagi, ia memejamkan matanya. Kepalanya masih pusing.

"Gimana Claudia?" tanyanya lemah.

"Siapa. Anak tadi?" Farhan mengangguk.

"Dia anak tiriku, tiba-tiba demam tinggi," jawab Farhan.

Rivaldi keluar kamar itu dan memanggil rekannya yang menangani Claudia.

"Pasien mendapat tekanan psikis dan panasnya bukan karena dia sakit ... tapi ...," dokter itu berhenti menjelaskan.

"Katakan saja Dok!" ujar Farhan.

“Secara medis, demamnya tidak sepenuhnya wajar. Ada iritasi kulit cukup parah di area ketiak. Seperti… paparan zat yang memicu panas berlebih.”

Farhan membeku.

“Zat?” suaranya tercekat.

“Bawang putih, misalnya atau bahan sejenis,” lanjut dokter itu hati-hati.

Farhan duduk tegak meski kepalanya masih berdenyut.

Wajahnya pucat, tapi kini bukan karena maag.

“Apa bahaya?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.

“Jika hanya ditempel sebentar, biasanya hanya iritasi. Tapi kalau dibiarkan lama, bisa menyebabkan luka bakar ringan, infeksi, bahkan trauma psikis kalau anak merasa dipaksa atau disakiti," jelas sang dokter akurat.

Farhan mengangguk paham, ia menatap ponsel yang dari tadi menyala. Entah berapa kali Rani menghubunginya. Dokter itu pergi, Rivaldi duduk di pinggir ranjang.

"Jika aku, dia akan ku laporkan ke polisi atas dugaan kekerasan pada anak!" ujarnya tegas. .

"Buktinya apa? Keterangan dokter?" tanya Farhan.

"Kau meremehkan kekuatan kami?" sinis Rivaldi.

"Lalu bagaimana Claudia. Itu ibunya. Seharian kemarin aku bersama Adrian ...."

"Adrian anak kandungmu!" sahut Rivaldi.

"Dan Claudia juga anak yang ditinggal bapaknya bahkan sebelum ia lahir!" sahut Farhan. .

"Itu bukan kesalahanmu!" sahut Rivaldi lagi.

"Kau tak punya andil atas psikologis anak itu. Dulu maupun sekarang!"

"Lalu apa Claudia juga tak punya hak untuk dapat kasih sayang! Dia anakku sekarang!" sahut Farhan dan itu membuat Rivaldi kalah debat.

Pria berjas sneli itu menghela nafas panjang. Ia tau siapa Farhan, baik hati dan bertanggung jawab. Loyalitas terhadap apapun Makanya Farhan bisa sesukses sekarang karena dedikasi yang ia miliki.

"Aku tidak bisa mengatakan apapun itu. Saranku. Utamakan yang lebih utama!" sahut Rivaldi lali ia pun pergi untuk pulang.

Sementara di rumah, Rani terduduk lemas di teras depan rumahnya. Malam telah larut, ia belum beranjak sedikit pun dari sana.

Tertekan jelas bagaimana kemarahan Farhan tadi. Lalu wajah Claudia, putri satu-satunya yang ia sakiti.

'Mas ... Claudia ...."

Pagi menjelang, Farhan sudah lebih baik. Ia keluar kamar rawat dan langsung ke ruang rawat Claudia. Gadis kecil itu masih tidur dengan selang infus menancap di lengan kiri.

Matanya sembab, tubuhnya sedikit gemetar akibat habis menangis. Perlahan Farhan mendekat, duduk di sisi brangkar, mengelus kepala putri sambungnya pelan.

Mata Claudia terbuka dan mengerjap. Lalu bibirnya langsung mencebik dan terdengar tangisannya.

"Ayah ... Ayah dari mana ... aku sendirian... Huuuuu ... Uuuu ... Hiks ... Hiks!"

"Maaf, Nak. Ayah juga sakit ...."

"Mama mana?" tanya Claudia memotong, ia mencari ibunya.

Farhan menghela nafas panjang, ia membelai lagi rambut Claudia.

'Mama di rumah, masak sup kesukaan Claudia," jawabnya.

"Ayah ... Boleh nggak keluar dari rumah sakit ini, aku makan sate ayam?" tanya Claudia polos.

Farhan tersenyum, ia mengangguk. Lalu mata Claudia kembali memejam. Dokter datang memeriksa.

"Dia terpaksa kami tenangkan. Tadi malam, pasien histeris dan mencari anda, ayahnya,' ujar dokter itu.

"Apa?" hati Farhan menclos. Ia tak menyangka sakitnya membuat Claudia tadi malam histeris.

"Lalu bagaimana perkembangannya?" yang Farhan.

"Belum baik secara emosional. Tetapi panas dan luka di ketiaknya sudah lebih baik," jawab dokter lalu mengoleskan salep di ketiak Claudia.

Wajah gadis kecil itu sedikit mengernyit, lalu tenang.

"Sebentar lagi efek obat penenangnya habis. Kemungkinan ia lupa akan kejadian sebelumnya. Saya sarankan, ajak pasien untuk healing, dan buat hatinya senang dan melupakan semuanya!" ujar dokter.

"Kalian boleh pulang setelah infusnya habis!" lanjutnya lalu pergi meninggalkan ruang rawat.

Farhan duduk di tepi brangkar, ponselnya mati kehabisan daya. Ia tak mengisinya karena kelelahan.

"Astaghfirullah, pekerjaan!" ia teringat akan tanggung jawab.

Lalu ia mengambil power bank di saku lain dan mengisi daya ponsel. Tak lama benda pintar itu terisi. Puluhan panggilan tak terjawab dari Rani dan dua panggilan tak terjawab dari Lina.

Ia menghubungi Lina terlebih dahulu. Setelah semua soal pekerjaan selesai. Ia tak menelpon Rani istrinya. Hatinya masih kalut dan ingin menghukumnya.

Setelah satu jam, infus habis. Claudia boleh pulang. Farhan juga sudah jauh lebih baik. Ia sudah segar setelah mandi.

"Ayo, ayah ajak kamu makan sate ayam!" ajaknya.

"Bener Ayah?" tanya Claudia dengan mata berbinar.

"Iya benar!" angguk Farhan.

"Nggak sama Mama kan?" ujar Claudia takut-takut.

"Nggak. Hanya kita berdua!" jawab Farhan.

Claudia bersorak, ia melompat kegirangan. Mereka pun keluar dari rumah sakit menuju food court terdekat. Claudia dibuat senang dan bahagia.

Setelahnya baru ia membawanya pulang. Dua puluh menit, mobil sampai. Pagar terbuka otomatis, kendaraan itu masuk carpot. Di sana Farhan melihat jelas, Rani terduduk dengan wajah kuyu di lantai.

"Astaghfirullah, Rani!"

"Mama?"

Farhan gegas turun, Claudia bisa turun sendiri. Keduanya mendekati Rani yang seperti setengah orang linglung. Lingkar matanya menghitam, bibirnya pucat dan hampir memburu karena kedinginan, rambutnya kusut dan seluruh tubuhnya terdapat bintik-bintik merah akibat digigit nyamuk. Sementara ponsel tergeletak di lantai.

"Sayang?" panggil Farhan.

"Mama!" panggil Claudia.

Rani menatap keduanya, lalu airmatanya luruh.

"Kalian sudah pulang?" tanyanya lirih.

Farhan langsung dipukul dengan perasaan bersalah. Ia memeluk istrinya begitu juga Claudia.

"Maaf ... maaf!"

Pemandangan di teras rumah itu benar-benar memilukan, menghancurkan sisa-sisa kemarahan yang tadinya membatu di hati Farhan. Melihat Rani dalam kondisi hancur seperti itu—kuyu, pucat, dan penuh bekas gigitan nyamuk karena menunggu di luar semalaman—membuat Farhan lupa akan rasa sakit hatinya.

Rani memeluk Claudia begitu erat, tangisannya pecah hingga tubuhnya terguncang.

"Maafkan Mama, Nak... Mama jahat... Mama sayang Claudia," isaknya berkali-kali di bahu putri kecilnya.

Claudia yang tadinya sempat takut, kini luluh melihat kondisi ibunya. Ia ikut menangis sambil mengusap air mata Rani dengan tangan mungilnya. Farhan hanya bisa terdiam menyaksikan itu, dadanya terasa sesak oleh konflik batin yang luar biasa.

Farhan membimbing Rani masuk ke dalam rumah. Ia mendudukkan istrinya di sofa, lalu mengambilkan air hangat. Rani meminumnya dengan tangan gemetar.

"Mas... aku pikir kalian tidak akan pernah kembali," suara Rani nyaris hilang, serak karena terlalu banyak menangis.

"Aku tahu aku salah. Aku pantas dihukum, tapi tolong jangan ambil Claudia dariku.!"

Farhan menghela napas panjang, duduk di hadapan Rani sambil memegang kedua tangan istrinya.

"Ran, dengarkan aku. Apa yang kamu lakukan pada Claudia itu berbahaya. Kamu menyakiti fisik dan jiwanya hanya untuk memancing perhatianku. Itu bukan cinta, itu obsesi."

Rani menunduk, air matanya jatuh ke punggung tangan Farhan.

"Aku takut, Mas. Aku merasa sejak kamu bertemu lagi dengan anak-anak Mbak Sinta, posisiku di hidupmu terancam. Aku merasa sendirian lagi seperti dulu sebelum kamu menjemput ku."

Farhan memejamkan mata. Inilah "penjara" yang ia bangun sendiri. Ia terlalu lembut, dan Rani tahu cara memainkan kartu "trauma masa lalu" untuk mengikat Farhan.

"Aku memaafkanmu, Ran. Tapi ini yang terakhir. Claudia harus healing, dan kamu... kamu harus belajar mengontrol rasa takutmu itu!" seru Farhan.

"Kau tau jika aku sudah punya anak. Mereka adalah prioritas. Jangan ganggu ketika aku bersama mereka. Ingat ... Rani. Mereka adalah darah dagingku!"

"Aku ... aku minta maaf ... tapi Claudia hanya tau kau ayahnya ...."

"Aku cuma nanya kapan Ayah pulang!' sahut Claudia yang tentu tak bisa berbohong.

Rani terdiam, putrinya memang hanya bertanya. Tapi pikirannya terlalu buruk.

"Rani ... Aku sayang kamu dan Claudia. Aku memilihmu karena aku yakin kamu bisa lebih mengerti aku!" ujar Farhan.

"Maaf Mas ...," sahut Rani lirih.

Farhan menghela nafas panjang, ia memeluk dan mencium istrinya lembut. Tak lama ponselnya berdering. Nama Lina di layar.

"Iya, Lin ....tahan sebentar ya. Saya pasti ke kantor!" ujar Farhan lalu menutup sambungan telepon.

Ia pun keluar dan kembali sambil menjinjing kresek. Bau sate tercium, Claudia tersenyum melihat makanan itu.

"Ini aku bawakan sate. Claudia suka itu. Kalian makanlah!" ujar Farhan.

"Mas mau kemana?" tanya Rani ketika melihat suaminya pergi lagi.

Seketika kaki Farhan berhenti melangkah. Ia melirik Rani dengan ekor matanya, wanita itu terdiam.

"Ran. Aku kerja dulu. Jangan tunggu. Tapi pasti aku pulang larut!" ujarnya lagi lalu pergi dari sana.

Rani menatap pintu rumah yang ditutup pelan oleh suaminya.

"Mama ... Satenya aku taruh piring ya!" seru Claudia yang membuyarkan lamunannya.

"Iya sayang. Makasih. Mama mau mandi dulu!" ujar Rani lalu melangkah ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Rani menatap dirinya di cermin besar. Meraba perutnya yang rata. Pernikahan baru dua bulan, tentu ia berharap kehamilan secepatnya.

"Aku harus hamil. Harus!"

Sementara di tempat lain, Sinta sibuk dengan adonan dan loyang. Pesanan demi pesanan berdatangan. Menu baru diciptakan, begitu sampai di tangan konsumen, semua suka dan langsung memesan.

"Bu Sin, makaroni panggang banyak yang kesan dalam bentuk slice. Apa perlu biaya tambahan untuk tempatnya?" tanya manager toko

"Iya, nggak usah mahal-mahal. Cukup tambah dua ribu saja. Mereka pasti mikir murah. Tapi jika pesanan lebih dari seratus slice, kita gratiskan wadahnya!" jawab Sinta.

"Baik, Bu!" angguk manager toko.

Mata Sinta berbinar, raut kebahagiaan muncul. Bayangan kesuksesan telah di depan mata. Semua mengenal kuenya. Kue Sinta.

Kesibukan toko kembali menguras perhatiannya. Leo dan Adrian kembali harus menunggu ibunya datang menjemput.

Di ruang kerjanya, Farhan mendapat laporan jika kedua anaknya kembali terlantar di sekolah.

"Lina ... apa toko Kue Sinta sibuk?" tanyanya.

"Hah?" Lina kaget.

"Ah .. Saya cek Pak!" lanjutnya lalu menelpon seseorang.

"Iya, Pak. Banyak pesanan!" jawabnya setelah mendapat laporan.

"Minta Pak Supri menjemput mereka. Nanti aku kirim orang untuk kasih mereka makan siang ke rumah!" suruh Farhan.

"Baik, Pak!" sahut Lina.

Farhan pun kembali fokus pada pekerjaannya.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit. Sebuah mobil sedan datang. Supri turun, keberadaannya telah diketahui pihak sekolah karena Farhan telah mengirimkan data yang menjemput dua putranya.

"Selamat siang Den Leo, Den Ardian! Saya Supri yang sekarang menjemput karena Bu Sinta sibuk!" ujar pria beruban itu ramah.

Leo dan Adrian menatap guru piket. Guru itu mengangguk menandakan jika pria itu benar-benar suruhan ibunya .

Keduanya menaiki mobi dan tak lama, kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang.

Sepanjang perjalanan, keduanya diam dan menikmati pemandangan yang dilalui. Jalan sedikit macet karena gerimis melanda.

"Pak, apa Bapak disuruh Bunda?" tanya Leo yang tak didengar Supir.

Leo mengangguk, diamnya sang supir membenarkan dugaannya. Jika sang bunda yang telah meminta supir untuk menjemput mereka.

Sampai sana, Bi Ratih menyambut dengan rantang besar. Leo menatapnya. Ia kembali yakin jika sang ibu mengirim makanan.

"Dek ... Ayo jangan nakal. Bunda sudah cape ngurusin kita. Kita harus jadi anak baik!" ujarnya.

Bersambung.

Dung ...dung ... dung!

Next?

1
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
Serli Ati
ah....istri Soleha yg manja dan penurut Farhan memang selalu membutuhkan uang Farhan ya, semoga Rani bisa membuka mata dan hati Farhan utk melihat keburukan dan tipu muslihat Rani yg telah menjerat leher dan meruntuhkan rumah tangganya terdahulu.
Atik Marwati
kelihatan belangnya sekarang...rasakan Farhan
Atik Marwati
🧐🧐🧐
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sungguh malang nasib Farhan istri tua yg setia tapi mandiri dan ambisius istri muda yg manja, tamak dan rakus hanya ingin menguasai harta saja Farhan saja.
dewi: tp ms mending yg pertama lah mnrt aq ms bisa di beri pengertian pelan2 dr pd istri kedua
total 1 replies
nurry
lanjuuuuttt
nurry
nah sekarang puyeng kan Bu Rani 😄
nurry
sama-sama gila kakak 😄😄😄
nurry
wah wah wah Rani mulai gak jujur sama Farhan, hati2 main api kalo kebakar gosong 😄
nurry
set dah Rani 😬
nurry
astaga Rani 😬
Atik Marwati
berharap dapat berlian ternyata krikil...
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
sama sama anak kandung kok begitu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!