NovelToon NovelToon
WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

WANITA PANGGILAN CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Ibu

Lorong operasi rumah sakit sore itu dipenuhi aroma antiseptik yang menusuk hidung. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya dingin, membuat bayangan wajah setiap orang tampak lebih pucat dari biasanya. Udara di sana terasa berat terlalu banyak harapan, ketakutan dan doa yang menggantung tanpa suara.

“Keluarga pasien Sagara, bersiap. Operasi akan dimulai.” kata seorang perawat dengan suara profesional.

Aluna langsung berdiri. Lututnya gemetar tapi ia berusaha berjalan mengikuti brankar ibunya yang didorong menuju ruang operasi. Napasnya pendek-pendek, seperti tubuhnya tak cukup kuat menanggung kecemasan.

Namun baru beberapa langkah, tangan kasar menahan bahunya.

“Kamu nggak usah ikut.”

Sultan berdiri di belakangnya, rahang mengeras, mata menyala marah. Cengkeramannya kuat seolah ingin memberinya peringatan lewat kulit yang memar.

“Kakak… aku cuma mau....”

“Jangan dekat-dekat Ibu dulu.” potongnya tajam. “Aku nggak mau dia kepikiran hal kotor tentang kamu di detik-detik kayak gini.”

Kata-katanya menampar lebih keras daripada tangan mana pun. Tenggorokan Aluna tercekat. Ia memandang Sultan yang dulu selalu menjadi tamengnya, kini berubah menjadi orang pertama yang melukai.

Friska melangkah maju, wajahnya geram. “Mas, tolong jangan gitu. Ini ibunya juga.”

Sultan tak menggubris. Tatapannya hanya tertuju pada Aluna, penuh kekecewaan dan jijik yang tak disembunyikan.

Pintu ruang operasi menutup di depan wajah Aluna, menyisakan denting kecil yang terdengar seperti vonis.

**

Ruang tunggu penuh, tapi hening. Bunyi mesin oksigen dari ruang lain, suara langkah perawat dan detik jam di dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Aluna duduk dengan tubuh membungkuk sedikit, tangan saling menggenggam seperti seseorang yang takut tubuhnya hancur jika ia melepaskannya.

Annisa duduk tidak jauh darinya, kaki disilangkan, bibir menekuk sinis.

“Kalau dipikir-pikir aneh ya.” katanya pelan tapi sengaja dibuat cukup keras untuk didengar semua orang. “Ibu jadi begini karena kamu kerja di tempat kotor itu… ya kamu tahu sendirilah, tempat ‘itu’.”

Aluna menegang. Ia menunduk, tak berkata apa pun.

Diamnya justru membuat Annisa semakin berani.

“Tiap orang pasti menuai apa yang dia tanam. Ibu stres karena malu punya anak kayak kamu.”

“Cukup Mbak.” Friska memperingatkan, tapi suaranya sendiri terdengar gemetar menahan emosi.

Alika tiba-tiba bangkit, matanya memerah dan penuh kemarahan yang belum sempat reda sejak tadi.

“Kalau Ibu nggak kuat… itu semua salah kamu. Aku nggak akan pernah maafin kamu kak jika sampai ibu kenapa-napa.”

Suara itu menggema keras di ruang tunggu. Beberapa pengunjung lain menoleh.

Jantung Aluna seperti berhenti. Ia tak bisa menelan, tak bisa bernapas. Adiknya yang dulu selalu berlindung di balik tubuhnya saat kecil kini berdiri paling depan untuk menyingkirkan dirinya.

“Lik… Kakak Cuma….”

“Jangan panggil aku begitu.” jerit Alika sambil menahan air mata. “Aku nggak punya kakak kayak kamu.”

Friska langsung berdiri, menarik Aluna menjauh sebelum pertengkaran itu meledak menjadi sesuatu yang tak termaafkan.

“Ayo, Lun. Udah.”

Suara Friska lembut tapi tegas, seakan memeluk luka yang tidak terlihat.

**

Begitu mereka tiba di lorong samping yang lebih sepi, ponsel Aluna bergetar. Nama yang muncul membuatnya kehilangan sedikit warna wajahnya.

Pak Marko.

Tangan Aluna gemetar ketika membuka pesan.

Kontrak mulai berlaku. Jangan buat masalah di luar. Renaldi akan ke sana.

Tidak ada salam. Tidak ada tanya. Hanya perintah dingin dari pria yang kini memiliki tiga tahun hidupnya.

Dunia Aluna seakan menyempit menjadi dua dinding tak bergerak. Keluarga yang menolaknya dan Marko yang mengendalikan hidupnya.

“Lun?” Friska memanggil pelan.

Aluna hanya menggeleng, tak sanggup menjelaskan beban baru yang menekan dadanya.

**

Tak lama kemudian, sosok pria berjas rapi muncul di ujung lorong. Sepatunya memantulkan suara tegas setiap langkah. Renaldi.

Penampilannya terlalu mewah untuk rumah sakit, wajahnya tenang, dan matanya langsung mencari Aluna.

“Nona Aluna.” panggilnya sopan, tapi cukup keras.

Sultan yang masih di ruang tunggu langsung menoleh. Wajahnya mengeras.

“Siapa dia, Lun?!”

Renaldi maju, tanpa memberi kesempatan Aluna menjawab.

“Saya utusan dari pihak yang menanggung biaya operasi. Kami perlu memastikan keadaan pasien.”

Annisa langsung menyeringai seperti menemukan bukti dari setiap dugaan kotornya.

“Ah...Aku udah bilang, kan? Nggak mungkin dia bisa dapat uang sebanyak itu sendiri. ”

Sultan mendekat, matanya menatap Aluna seperti membakar.

“Jadi ini apa, Lun? Bos kamu? Sponsor? Atau sugar daddy?!”

Wajah Aluna memanas karena malu dan sakit. Ia ingin menjelaskan tapi tak ada kata yang bisa keluar.

Renaldi hanya menunduk sedikit, bersikap netral. “Nona Aluna, kontrak meminta Anda kembali sebelum malam. Ada aturan yang harus segera dipenuhi.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kata kontrak terus bergema di kepala semua orang.

**

Alika berdiri tidak jauh. Ia mendengar sepotong percakapan itu. Ketika Renaldi berbicara dengan Aluna di ujung lorong, adiknya itu mengikuti secara diam-diam, sembunyi di balik dinding.

“Pak Marko membutuhkanmu malam ini.” ujar Renaldi datar. “Kalau kamu tidak segera ke sana… biaya pengobatan ibumu akan dihentikan.”

Alika membeku.

Ia menutup mulutnya, menahan sesak di dada. Dunia di sekelilingnya runtuh dalam sekejap. Air matanya jatuh bukan karena sedih, tapi karena rasa jijik dan hancur.

Dalam pikirannya, hanya ada satu kesimpulan:

Kakaknya menjual diri demi menyelamatkan Ibu.

**

Tidak lama setelah itu, lampu indikator operasi berkedip merah. Alarm kecil berbunyi.

Pintu ruang operasi terbuka sedikit. Seorang dokter keluar dengan wajah serius.

“Ada sedikit komplikasi. Operasi akan memakan waktu lebih lama dan risikonya meningkat.”

Sultan langsung menatap tajam pada Aluna.

“Kamu.... Ini semua gara-gara kamu!” teriaknya.

Tubuh Aluna terhuyung. “Kak… jangan gitu, Kak. Aku cuma....”

Alika menghampiri dan mendorong bahu Aluna menjauh.

“Jangan dekat Ibu. Kamu bawa sial."

Kata itu menusuk sampai ke tulang.

Friska menahan napas, wajahnya pucat. “Lik… kamu keterlaluan.”

Tapi Alika tak peduli. Kebenciannya sudah menutupi semuanya.

Aluna membeku. Hatinya remuk berserakan seperti kaca yang diinjak tanpa belas kasihan.

Ponsel Aluna bergetar lagi. Pak Marko menelepon.

Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya.

“Ya Pak…” suaranya hampir tak terdengar.

“Pulang ke apartemen malam ini.” kata Marko, suaranya datar dan dingin. “Kita perlu foto pernikahan untuk dokumentasi.”

“Pak… Ibu saya masih di meja operasi. Tolong… izinkan saya menunggu sampai selesai.”

Marko terdiam beberapa detik. Heningnya menekan seperti dinding es.

“Aku sudah bayar untuk nyawa ibumu."  katanya akhirnya. “Jangan buat aku menyesal.”

Air mata Aluna jatuh. Tapi ia tetap memohon.

“Pak… saya janji. Begitu operasi selesai dan ibu dinyatakan baik-baik saja, saya langsung pergi. Tolong beri saya waktu sebentar.”

Hening lagi. Lebih lama kali ini.

Akhirnya Marko berkata, suaranya sedikit menurun walau tetap tegas.

“Baik. Tapi begitu selesai, kamu berangkat. Jangan membuatku menyesal memberi kelonggaran.”

Telepon terputus.

Untuk pertama kalinya, suara Marko terdengar… manusiawi. Sedikit saja, tapi cukup untuk menusuk hati Aluna yang sudah penuh luka.

Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka lagi. Dokter keluar, wajahnya sulit dibaca.

Semua berdiri serempak.

Sultan di depan, Annisa di sampingnya, Alika memeluk dirinya sendiri sambil menangis, Friska menggenggam tangan Aluna erat-erat.

“Kami berhasil…” kata dokter.

Semua mengembuskan napas.

“Tapi ada hal penting yang harus dibicarakan dengan keluarga inti.”

Mata Sultan langsung memandang Aluna tajam, dingin, menusuk. Seolah ingin berkata tanpa suara:

“Kamu bukan bagian keluarga lagi.”

1
Ariany Sudjana
Aluna itu adik kamu sultan, dan Aluna itu keluarga inti, yang bukan keluarga itu si pelacur murahan Anisa, kamu bodoh percaya semua omongan si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
sabar yah Aluna, sultan ini bodoh,punya istri tapi pelacur murahan, dan masih percaya dengan semua omongan pelacur murahan itu
Boa
nama karakternya kok beda ya sama yg di sinopsis, apa aku yg salah baca? 🙏
Boa: semangat Thor, mana udah 14 episode 💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!