NovelToon NovelToon
Rumah Yang Kami Pilih

Rumah Yang Kami Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Healing / Chicklit / Dark Romance
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Anggriani

Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”

Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3-Putus yang Tidak Selesai

Alea baru tahu kalau hal yang lebih menyakitkan daripada sebuah perpisahan yang jujur adalah dibiarkan tergantung di dahan yang patah. Tidak benar-benar dilepaskan untuk jatuh ke tanah dan belajar merangkak kembali, namun tidak juga ditarik kembali ke batang yang kokoh untuk merasa aman. Semuanya mengambang, buram, dan menyesakkan. Ia merasa layaknya sebuah kalimat yang dipaksa berhenti tepat di tengah kata oleh sebuah tangan yang kasar; menggantung tanpa arti, kehilangan bentuk, dan perlahan-lahan dilenyapkan oleh sunyi yang tidak berujung.

Hari itu dimulai dengan langit yang tampak sepucat kertas usang. Matahari naik dengan keangkuhan yang luar biasa sejak pukul tujuh pagi, memancarkan panas yang tidak bersahabat. Udara di dalam toko buku tempat Alea bekerja terasa tebal, seolah setiap helai oksigen telah digantikan oleh hawa gerah musim kemarau yang merayap masuk lewat sela-sela pintu kaca. Alea berdiri di balik meja bar, sebuah wilayah yang biasanya ia kuasai dengan penuh percaya diri. Namun, pagi ini kedua bahunya merosot, dan jemarinya terasa seperti terbuat dari timah yang beku.

Fokusnya tidak berada pada takaran susu atau aroma biji kopi yang baru digiling. Matanya terpaku pada sebuah benda persegi panjang yang tergeletak pasrah di samping wadah gula: ponselnya. Benda itu terletak di bawah sorot lampu neon yang berkedip pelan. Bagi Alea, ponsel itu sekarang bukan lagi alat komunikasi, melainkan sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Pukul sepuluh pagi tepat, layar itu berpendar. Getarannya di atas meja kayu bar terdengar seperti dentuman meriam yang menghantam gendang telinganya.

“Kita nggak bisa lanjut, Al. Aku capek. Jangan cari aku dulu, aku mau tenang.”

Dunia di sekitar Alea mendadak senyap. Suara musik akustik yang diputar di toko, suara bising dari jalan raya, bahkan suara napasnya sendiri seolah ditarik paksa ke sebuah ruang hampa yang kedap. Tiga kalimat. Dua puluh dua kata. Hanya itu harga dari dua tahun yang telah mereka lalui? Alea menatap barisan kata itu sampai matanya perih, mencari satu saja kata ‘maaf’ di sana, namun hasilnya nihil.

Ia mencoba mengetik balasan, namun telapak tangannya mendadak basah oleh keringat dingin. Ia harus berkali-kali menyeka tangannya ke celemek hitam yang ia pakai hanya untuk memegang ponsel dengan benar. Huruf-huruf di layar tampak kabur. Setiap kali ia salah menekan karakter, ia merasa harga dirinya semakin terkikis, jatuh ke lantai bersama harapan-harapan bodohnya.

“Han, maksud kamu apa? Kita bisa omongin ini, kan? Aku salah apa? Tolong kasih tahu,” ketik Alea. Tulisan itu hanya menggantung di kolom input. Ia merasa mual. Akhirnya, yang terkirim hanyalah satu kalimat putus asa yang diketik dengan sisa-sisa kekuatannya. “Han, aku boleh ketemu sebentar? Tolong, sekali aja.”

Satu jam berlalu tanpa balasan. Alea hanya berdiri mematung, sementara di area depan, Dinda sedang sibuk merapikan deretan kursi kayu. Dinda menggeser kursi-kursi itu dengan sengaja, menciptakan bunyi decit yang menyayat telinga di atas lantai kayu yang kering.

“Al! Kamu denger nggak sih?” suara Dinda tiba-tiba memecah lamunannya. Dinda berdiri di depannya dengan wajah yang merah karena hawa panas.

“Pelanggan di meja empat nanya pesanannya mana. Kamu dari tadi cuma berdiri megang kain lap, tapi mata kamu nggak kedip.”

Alea tersentak, wajahnya pucat pasi seolah seluruh darah di tubuhnya baru saja disedot keluar. “Eh, iya...sorry, Din. Aku... kepalaku agak muter.”

“Kamu kenapa, sih?"”Dinda mendekat, meletakkan tumpukan buku menu ke atas meja dengan suara buk yang keras. Ia menyadari ada yang salah saat melihat tatapan kosong Alea.

“Al, kamu kayak mayat hidup. Ada masalah sama Han lagi? Dia chat apa?”

Alea tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan ponselnya dengan gerakan yang kaku, seolah lengan itu bukan miliknya lagi. Dinda mengambilnya, membaca pesan singkat itu, dan seketika rahangnya mengeras.

“Bajingan!” umpat Dinda telak. Ia membanting ponsel Alea kembali ke meja bar hingga bunyinya memantul ke seluruh ruangan. “Setelah dua tahun, Al? Dia mutusin kamu lewat chat? Dia pikir kamu ini paket kiriman yang bisa di-cancel seenaknya? Laki-laki macam apa yang nggak punya keberanian buat ngomong langsung?!”

“Din, pelan-pelan... suara kamu,” bisik Alea, tenggorokannya terasa tersumbat duri.

“Biarin semua orang denger! Biar mereka tahu betapa pengecutnya pacar kamu itu!” Dinda mencengkeram kedua bahu Alea, memaksa Alea untuk menatap matanya.

“Jangan cuma diem, Al! Balas! Maki-maki dia! Bilang kalau dia itu sampah!”

Alea menggeleng lemah. Sudut matanya terasa panas, namun ia menolak untuk menangis di tempat ini. “Dia cuma lagi emosi, Din. Dia bilang dia lagi capek. Mungkin kalau aku kasih dia waktu beberapa hari, suasananya bakal mendingan dan kita bisa—“

“Al, sadar!” potong Dinda cepat. “Capek itu istirahat, Al. Bukan memutus hubungan dua tahun lewat pesan singkat terus menghilang kayak pecundang. Dia sengaja gantung kamu biar dia nggak perlu nanggung rasa bersalah kalau liat muka kamu. Dia itu pengecut yang mau bebas tanpa mau dicap sebagai penjahat!”

“Aku nggak bodoh, Din. Aku cuma... aku cuma butuh penjelasan langsung,” bela Alea, suaranya mulai meninggi karena frustrasi.

Tepat saat itu, ponselnya kembali berpendar. Sebuah notifikasi balasan muncul.

“Nggak perlu ketemu. Udah jelas, kan? Aku mau sendiri.”

Alea mencoba mengetik balasan lain, namun pesannya hanya berakhir dengan tanda centang satu yang membeku.

“Dia blokir aku, Din,” bisik Alea. Tubuhnya mendadak lunglai, ia terpaksa berpegangan pada pinggiran meja bar agar tidak jatuh. “Dia bener-bener nutup semua pintu. Tanpa penjelasan apa-apa.”

Dinda menghela napas panjang, kemarahannya luruh berganti rasa iba yang mendalam. Ia menarik Alea ke dalam pelukan singkat yang kuat. “Udah, Al. Jangan dikejar. Orang yang pergi tanpa pamit itu nggak layak dapet salam perpisahan. Kamu pulang aja ya? Biar sisanya aku yang urus. Kamu nggak akan sanggup berdiri di sini sampai sore.”

Alea menggeleng tegas. Ia melepaskan pelukan Dinda dan mulai merapikan bar kopi dengan gerakan mekanis yang tidak wajar. “Nggak. Aku harus di sini. Kalau aku pulang sekarang, aku bakal gila sendirian di kamar. Aku butuh sibuk.”

Sepanjang sisa hari itu, Alea bekerja seperti robot. Ia tidak lagi mencium bau kopi yang biasanya ia cintai, tidak lagi mendengar musik latar toko. Yang ia rasakan hanyalah hawa panas yang makin menyesakkan dan suara detak jam dinding yang seolah mengejek setiap detik penantiannya. Ia merasa seperti korban tabrak lari; ia tahu hatinya berserakan, tapi rasa sakitnya tertahan di balik rasa syok yang luar biasa.

Sore harinya, matahari mulai turun meninggalkan warna jingga kusam yang terasa gerah. Alea meminta Dinda pulang duluan. Saat ia mengunci pintu toko sendirian, gagang logamnya terasa panas menyengat, seolah logam itu sendiri menyimpan amarah matahari seharian. Suara gerendel besi yang beradu terdengar begitu final, bergema di telinganya seperti bunyi peti mati yang ditutup.

Sesampainya di kost an, ia tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan merayap naik, ditemani suara kipas angin tua di sudut ruangan yang berputar dengan bunyi tek-tek-tek yang monoton. Angin yang dihasilkan hanya memutar-mutar hawa pengap yang membuatnya merasa seperti tercekik perlahan. Ia duduk di pinggir kasur, menatap langit-langit yang hitam, memegang ponselnya dengan cengkeraman yang sangat erat hingga kuku-kukunya memutih.

“Kenapa, Han? Apa yang kurang dari aku?” tanyanya pada sunyi. Tentu saja, tidak ada jawaban.

Pukul sepuluh malam, harapannya mulai padam dan berganti menjadi rasa hampa yang amat sangat. Alea baru saja akan meletakkan ponselnya saat sebuah notifikasi muncul dari aplikasi media sosial. Bukan pesan, melainkan unggahan foto dari salah satu teman dekat Han yang lupa ia mute.

Di sana, di sebuah bar terbuka yang hanya berjarak sepuluh menit dari tempatnya sekarang, terlihat siluet Han yang sedang tertawa lebar. Di tangannya ada sebuah gelas yang terangkat tinggi, dan di sampingnya duduk seorang perempuan cantik berambut panjang yang tidak pernah Alea kenal. Perempuan itu menyandarkan kepala di bahu Han dengan mesra, seolah tempat itu memang miliknya sejak lama.

Keterangan fotonya sangat singkat, namun cukup untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari hati Alea: “Celebrating freedom.”

Rasa gerah di kamar itu mendadak hilang, digantikan oleh hawa dingin yang mematikan yang menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Tubuh Alea yang tadinya kaku kini mendadak tegap karena dorongan adrenalin yang membakar. Seluruh penyangkalannya menguap, berganti menjadi api amarah yang meluap dari dasar lambungnya.

“Bebas?” desis Alea. Suaranya tidak lagi lemah, kini terdengar dingin dan tajam seperti mata pisau. “Jadi kamu mutusin aku biar bisa pamer perempuan baru malam ini juga?”

Alea bangkit dari tempat tidur. Ia menyambar jaketnya, tidak peduli dengan wajahnya yang pucat atau penampilannya yang berantakan. Ia meraih kunci motor dengan cengkeraman yang mantap. Tidak ada lagi ragu, tidak ada lagi air mata.

Persetan dengan ‘jangan cari aku’. Persetan dengan ‘aku ingin tenang’.

Alea tidak akan membiarkan dirinya mati perlahan dalam ketidakpastian sementara Han merayakan kebebasan di atas puing-puing hatinya. Ia ingin melihat wajah pengecut itu sekali lagi. Ia ingin memastikan bahwa rasa sakit ini memiliki alamat untuk dituju. Malam itu, di bawah langit kota yang hitam tanpa bintang, Alea memacu motornya dengan kecepatan tinggi menembus angin malam yang kering. Ia memutuskan untuk menjemput kehancurannya sendiri dengan kepala tegak.

1
falea sezi
Lea ini egois bgt males
Aviciena
thor, aku tinggal dulu ya,. nanti aku balik lagi klo sdh sengganng waktunya
AtNy Aby
😭apa sesulit itu alea keluaf dari zona itu
Ika Anggriani: orang klo kecintaan ya susah kak😭
total 1 replies
Aviciena
kayaknya lbh enak di baca dlm bentuk buku nih novel
Ika Anggriani: kenapa kak?😭
semoga yaa kak
total 1 replies
Aviciena
nungguin arahnya kmn
Aviciena
misterius
Ranita Rani
cwe bego gk pny otak,,,,jelas2 cwonya dh gk beres tetep ja ngemis2 kyak gk pny hrg dri ja,,,mbok yo sadar,pngalaman ortumu jgn d bikin truma tp bikin itu sebuah pelajaran,,,,
Ika Anggriani: emang ngeselin banget si alea ya kak😭
total 1 replies
Aviciena
karya sastra luar biasa
Aviciena
maaf thor, d awal penulisan , pake sudut pandang orang 1 ya... kemudian setelahnya jadi berubah
Ika Anggriani: tetap sudut pandang orang ketiga kok kak dari pertama juga
total 1 replies
falea sezi
wanita malu maluin aja ngemis2
Ika Anggriani: sabar kak😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh siapa ya
Panda%Sya🐼
giliran selingkuh gak malu tuch
Panda%Sya🐼
Kenapa sih lelaki selalu gini, udah bagi harapan malah di balas santapan 😤
Anonymous
brengseknya nggak kira" bangett tuh cowok
Anonymous
dominan banget auranya si aksa
Panda%Sya🐼
Alea please sadar, kamu gak kurang apa-apa dia aja yang tidak tahu menghargai 🤧
Ika Anggriani: Han yang kurang padahal😭
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ihhh Han lu benar-benar bego! 😡
Panda%Sya🐼
Dia laki-laki gak tahu apa itu wanita setia! emang kampret lu ya Han, gue masak lu campur seblak biar lu tahu panasnya hati Al yang selalu nungguin pesan-pesan chat lu 😤😤
Ika Anggriani: banyak modelan han di dunia nya wkwkw
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Ada baiknya kadang lepasin aja Al. Siapa tahu dia memang gak ada otak
Gaza Nesia
playing victimmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!