Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Malaikat yang Terlupakan
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah mansion klasik yang jauh lebih megah dan angker daripada apartemen modern Sean. Ini adalah rumah utama keluarga Elgar, kediaman Tuan Besar Elgar—kakek Sean yang merupakan pendiri sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga tersebut.
"Sean, aku takut. Bagaimana kalau kakekmu sama seperti ibumu?" Lyra mencengkeram lengan jas Sean, jemarinya gemetar.
Sean menatap pintu mansion itu dengan dingin, lalu mengalihkan pandangannya pada Lyra. Ia merapikan syal di leher Lyra yang menutupi tanda-tanda merah darinya. "Kakek adalah orang yang logis. Dan jika dia tidak menyukaimu, itu tidak mengubah apa pun. Kau tetap istriku. Ayo."
Di dalam aula besar, Nyonya Elgar dan Celia sudah duduk dengan wajah angkuh, seolah sedang menunggu hukuman mati dijatuhkan pada Lyra. Di tengah ruangan, seorang pria tua dengan kursi roda namun tetap memancarkan aura wibawa yang luar biasa, sedang menatap taman luas di luar jendela.
"Kakek, aku datang," ujar Sean tegas.
Tuan Besar Elgar memutar kursi rodanya perlahan. "Jadi ini wanita yang membuatmu berani mengusir ibumu sendiri, Sean?"
Nyonya Elgar tersenyum sinis. "Lihat, Papa. Inilah gadis yang aku ceritakan. Anak dari wanita tidak jelas—"
"Diam, Martha!" bentak Tuan Besar Elgar tiba-tiba, membuat seluruh ruangan tersentak.
Pria tua itu menyipitkan matanya, menatap Lyra yang sedang menunduk ketakutan. "Mendekatlah, Nak. Biar aku lihat wajahmu lebih jelas."
Sean mengerutkan kening, namun ia menuntun Lyra maju. Saat Lyra memberanikan diri menatap sang Kakek, mata pria tua itu membelalak. Tangannya yang keriput bergetar saat mencoba meraih tangan Lyra.
"Kau... mata itu..." bisik Tuan Besar Elgar. "Siapa nama ibumu?"
"K-Kirana, Tuan," jawab Lyra terbata.
Tuan Besar Elgar terdiam lama, nafasnya menjadi berat. "Tujuh tahun lalu... di pinggiran kota saat aku sedang melakukan penyamaran untuk riset pasar... aku terkena serangan jantung di sebuah gang sepi. Tidak ada satu pun mobil yang mau berhenti. Tidak ada satu pun orang yang menolong."
Sean menatap kakeknya dengan kaget. "Kakek pernah bercerita soal itu, tapi Kakek tidak pernah bilang siapa yang menolong."
"Seorang perawat muda dan anak gadisnya yang masih remaja," ujar Kakek dengan suara serak. "Gadis itu... dia memegang tanganku, menangis sambil memintaku terus bernapas sementara ibunya melakukan pijat jantung dengan tangan kosong sampai ambulans datang. Mereka menghilang begitu aku dibawa ke rumah sakit. Aku mencari mereka bertahun-tahun, tapi mereka seolah ditelan bumi."
Kakek menatap Lyra dengan air mata yang mulai menggenang. "Nak, kau yang memegang tanganku saat itu, kan? Kau yang bilang 'Kek, bertahanlah, Ibu pasti bisa menyelamatkan Kakek'?"
Lyra tertegun. Ingatan samar tentang kejadian di gang gelap itu tiba-tiba muncul. "Saya... saya ingat ada kakek yang pingsan... tapi saya tidak tahu itu Anda, Tuan."
"Papa? Apa maksudnya ini?" Nyonya Elgar berdiri dengan wajah pucat. "Wanita ini... dia hanya kebetulan—"
"KEBETULAN?!" Kakek memukul sandaran kursi rodanya. "Wanita yang kau sebut 'jalang' ini adalah orang yang membuatku masih bisa bernapas hari ini, Martha! Dan kau menghinanya? Kau menghina orang yang menyelamatkan nyawa mertuamu?!"
Celia langsung tertunduk, sementara Nyonya Elgar membeku tak berdaya.
Sean tertawa dingin, sebuah tawa kemenangan yang sangat tajam. "Ternyata benar, Mama. Darah memang tidak pernah bohong. Lyra memiliki darah malaikat yang menyelamatkan keluarga ini, sementara Mama hanya memiliki darah parasit yang ingin merusaknya."
Kakek Elgar meraih tangan Lyra, menciumnya dengan penuh rasa hormat. "Selamat datang di rumah, Lyra Elgar. Maafkan keluarga ini yang begitu buta. Mulai hari ini, siapa pun yang menghinamu, artinya mereka berurusan langsung denganku."
Malam harinya, di dalam perjalanan pulang, Lyra masih merasa seperti sedang bermimpi. "Sean... aku tidak menyangka..."
"Aku juga tidak," bisik Sean. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, lalu menarik Lyra ke dalam pelukannya. "Tapi itu membuktikan satu hal. Kau memang ditakdirkan untukku, dari dulu hingga sekarang."
Sean menatap Lyra dengan tatapan yang sangat dalam. Kelegaan karena istrinya diterima oleh kakeknya membuat gairahnya kembali bangkit. Ia mencium Lyra dengan panas, kali ini lebih lembut namun tetap menuntut.
"Sean, jangan di sini... nanti ada yang lihat..."
"Biarkan mereka lihat," geram Sean, tangannya mulai masuk ke balik pakaian Lyra, membelai kulit halus yang kini ia anggap sebagai harta paling berharga di dunia. "Kakek sudah merestuimu. Seluruh dunia sudah tahu kau milikku. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi apa yang ingin kulakukan padamu."
Sean menarik Lyra ke pangkuannya di kursi pengemudi, membuat Lyra melenguh saat merasakan kejantanan suaminya yang sudah menegang.
"Kau menyelamatkan kakekku dulu," bisik Sean di ceruk leher Lyra, memberikan tanda baru di atas tanda yang lama. "Dan sekarang, kau harus menyelamatkanku dari rasa lapar yang menyiksa ini. Aku ingin kau, Lyra. Sekarang juga."
Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, Sean kembali mengklaim miliknya dengan intensitas yang luar biasa. Malam itu bukan lagi tentang hukuman atau kecemburuan, melainkan tentang pengakuan bahwa Lyra adalah nyawa bagi keluarga Elgar, dan satu-satunya pemilik hati sang CEO yang tak tersentuh itu.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...