NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: tamat
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: uutami

"Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?"
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 pelayan khusus

Alis Deni dan Anggun terangkat bersamaan.

"Pelayan khusus?" ulang Anggun, matanya menyipit penuh curiga.

Yuda menyandarkan punggungnya ke sofa, menautkan jemari dengan santai, seolah yang ia minta bukan sesuatu yang aneh. "Iya. Tapi bukan di rumah ini."

"Terus di mana?" tanya Deni.

"Di kontrakan aku."

Anggun menatap anaknya lama. "Buat apa? Bukannya Ning masih bisa beres-beres sendiri?"

Yuda tersenyum tipis. "Justru karena itu."

Deni mengernyit. "Maksud kamu?"

"Papa tau kondisi Ning," lanjut Yuda, suaranya kini lebih pelan tapi tegas. "Dia masih pakai kruk. Masih maksa berdiri lama. Aku enggak mau dia kecapekan, tapi aku juga enggak mau dia ngerasa… enggak berguna."

Anggun terdiam. Ada sesuatu di nada suara Yuda yang jarang ia dengar, perlindungan tanpa pamer.

"Makanya," Yuda melanjutkan, "aku mau ada orang yang bantu. Diam-diam. Ning enggak perlu tau."

"Diam-diam?" Anggun mendengus kecil. "Kamu ini licik dari mana sih?"

"Dari Mama," jawab Yuda ringan.

Deni tertawa kecil, lalu menghela napas. "Terus, maunya siapa aja?"

"Satu tukang masak. Dua orang buat bersih-bersih," jawab Yuda tanpa ragu. "Datangnya pagi buta. Pulangnya sebelum Ning bangun. Jangan ribut. Jangan ninggalin jejak."

Anggun menatap anaknya lama, lalu berdiri. "Ikut Mama."

Mereka masuk ke ruang kerja kecil di belakang. Anggun membuka buku catatan lama, daftar orang-orang kepercayaan yang pernah bekerja di rumah besar itu.

"Ini Bu Mar," katanya sambil menunjuk nama. "Masaknya sederhana. Enggak neko-neko."

"Cocok," kata Yuda.

"Ini dua orang ini," lanjut Anggun lagi. "Kerjanya cepat, mulutnya rapat."

Yuda mengangguk mantap. "Aku mau mereka mulai besok pagi."

Anggun menutup buku itu, menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kamu beneran serius sama Ning, ya?"

Yuda tersenyum kecil. "Dari awal."

petang itu, Yuda menepikan motornya di depan Rumi’s Salon. Bel pintu berdenting pelan saat ia masuk.

Rumi yang sedang membereskan kuas make up mendongak, lalu membeku.

"Loh, Yuda?" refleks ia menyebut nama itu, sebelum cepat-cepat menarik ucapannya.

Yuda hanya tersenyum sopan, seolah benar-benar orang asing. "Permisi, Bu. Saya mau jemput istri saya."

Rumi berkedip, lalu melirik ke arah Ning yang baru keluar dari ruang rias. Ning berhenti melangkah begitu melihat Yuda.

"Mas?" matanya berbinar.

“Iya," jawab Yuda lembut. "Udah selesai?"

Ning mengangguk. "Udah, Mas."

"Oh iya. Bu Rumi, ini Mas Yuda, suami Ning." Ning berganti pada Bu Rumi, memperkenalkan suaminya.

Yuda mengulurkan tangannya, "Yuda, Bu Rumi."

Rumi menelan ludah, potongan-potongan di kepalanya mulai menyatu, cara Anggun tadi mengamati Ning, sikap tersinggung yang aneh, dan kini… Yuda.

"Oh," Rumi akhirnya tersenyum formal. Ia membalas jabatan tangan ponakan nya sendiri. "Rumi. Jadi, kamu suaminya Ning, ya?"

"Iya, Bu," jawab Yuda tenang. "Terima kasih udah jaga istri saya."

"Selamat ya, udah nikah, Nak Yuda."

Ning menoleh ke Rumi, sedikit aneh dengan sikap Bu Rumi, tapi tersenyum. "Bu, Ning pulang dulu."

"Iya… hati-hati," jawab Rumi, suaranya agak tertahan.

Begitu pintu salon tertutup, Rumi langsung meraih ponselnya. Lalu menelpon Anggun.

"Mbak. Mau ngomong sekarang, aku ke rumah, ya?" katanya tanpa basa basi.

"Hah? Ngapain?" sahut suara di seberang sana."Tumben banget pake telpon. Ngomong aja langsung."

Bukan ketus, tapi memang begini bahasa Anggun. Dan Rumi sangat hapal. "Aku ketemu suaminya Ning."

Hening sebentar.

"Oke, langsung ke sini, ada yang mau kami bicarakan juga."

****

"Ning! Pegangan dong."

"Udah, Mas."

"Pegangannya yang bener dong."

Yuda menarik tangan Ning sampai melingkar di perutnya.

Di atas motor, Ning memeluk jaket Yuda pelan. Pipinya bersemu merah. Jalanan malam itu ramai, tapi hati Ning terasa tenang.

"Mas capek, nggak?" tanyanya lirih.

"Enggak," jawab Yuda. "Kalau jemput kamu, malah enak. Bisa peluk-peluk gini."

Ning tersenyum, menyandarkan dahi ke punggung Yuda. Angin malam menyapu wajahnya, membawa rasa aman yang belum pernah ia punya sebelumnya.

Sampai di kontrakan, Yuda membantu Ning turun.

"Mas, Ning bisa sendiri kok."

"Iya, tapi mas pengen peluk kamu, gendong kamu..."

Ning tersenyum lagi. Lagi. Pipinya dibuat bak kepiting rebus.

Mereka makan malam sederhana, nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening.

"Ini Mas yang masak?"

"Iya. Enak enggak?" tanya Yuda. Tadi dia pulang tak lupa membawa beberapa olahan dari rumah utama.

"Masakanku kalah sama punya Mas," canda Ning.

Yuda menggeleng. "Oh ya? Kupikir ini agak kelebihan garam gitu."

"Enggak, ini enak, Mas."

Yuda tersenyum kaku, ia pikir, "Hmm, besok harus buat yang kurang garam deh."

Malam turun perlahan. Mereka beristirahat lebih cepat. Ning tertidur dengan cepat, lelah yang manis menyergap tubuhnya.

****

Pagi datang. Ning terbangun saat kasur di sampingnya bergerak.

"Mas?" gumamnya setengah sadar. "Ayo subuh."

Yuda menoleh, bangun dengan malas. Setelah subuh, Yuda memikirkan cara untuk membuat Ning tidur lagi.

Ia mengusap rambut Ning pelan saat Ning selesai melipat mukena. "Ning."

Ada keheningan hangat di antara mereka, tatapan, senyum kecil, bibir yang perlahan saling bertaut, dan napas yang menyatu. Waktu seolah melambat, lalu menghilang begitu saja di balik tirai kamar.

Ketika Ning kembali terlelap, Yuda bangkit perlahan. Ia meraih ponsel dan mengetik singkat.

Mulai sekarang.

Tak lama, suara sangat pelan terdengar dari luar, langkah kaki hati-hati, bisikan singkat. Dua orang membersihkan rumah dengan cekatan, satu orang di dapur memasak menu sederhana.

"Kali ini buat yang sederhana saja," pesan Yuda pelan. "dan... buat agak kurang garam."

"Siap, Mas Yuda," jawab mereka serempak.

Yuda kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang, menatap Ning yang masih terlelap. Ia tersenyum kecil.

"Tidur yang nyenyak," bisiknya. "Biar Mas yang urus sisanya."

Di luar, pagi berjalan seperti biasa, tanpa Ning sadari, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam, menjaga hidup barunya tetap tenang.

1
Rebecca Jaimin
aku cari ternyata dia masih perawan ngk ada tuh
Rebecca Jaimin
karya yang hebat..mengajar apa itu keredhaan,kemaafan dan keikhlasan serta keindahan didalam semuanya itu..teruskan berkarya yg mampu membuka mata hati nurani..moga kita hidup tidak didasari dgn kepahitan masa lalu,tapi menjadikan teladan dn pengalaman di titi usia untuk menjadi insin yg lebih baik dari kemarin,lebih dewasa hari ini untuk hari ini dan dewasa memotivasikan hari esok..
Marina Tarigan
semoga jgn yg nya lina lqqmembenci ningsih Dewi Ranu dan nenek
Marina Tarigan
lanjut yg tetbsik bagi mereka ksrena sdh kedal dipertengahan jln deh
Marina Tarigan
keyemu kuntilanak cantik. hi hi hiii aku cinta kamu zRanu jgn istri juda pantang kualat kamu nanti Ningsih juga ngeri dan jijik melihatmu . bagus pak Deni anakmu tdk normal
Marina Tarigan
rRanu lesong alias gila alias bodoh mencintai istri orang sadarlah tuan kamu tdk laku ya cinta sm idtri orang ningsih taat agama dia bukan jalang tolol kamu mau hancurkan keluargamu sendiri
Marina Tarigan
ranu gila ys dia sakitin yg di tabrak sampai pincang kamu perlu dijebloskan kepenjsra tanpa bertanggung jswab apapun sm korban tabrskanmu otakmu kemana larinya tolol
Marina Tarigan
la jut ceritanya
Marina Tarigan
lanjutkan semoga semua stroke kecuali ningdih
Marina Tarigan
ya elah Ranu sdh iistrimu pun bisa pisah diambil orang ini kamu tabrak dia menferita tdk punya kuasa pincang tdk punya dans berobat dlm segi apapun tdk afa hakmu persoalkan itu juds menjsga dan merswat sampai operadi juga srmbuh total tdk ada sedikitpun jasamu di tubuh ningsinh berpikir jernih lah demi ketenanganmu ningsih bukan barang bisa diofer sesuma hatimu Arun aneh otakmu
Marina Tarigan
salon ning akan berkembang jgn saling merebut harta kalau orang tuamu tdk bijak biarkan saja tinggalkan semua juga ibumu itu yg tdk tegas sejal awsl doa hanya mikirkan Arun bukan rmh tgha mu
Marina Tarigan
bagus tak usah punya saudara begitu ning nukan pacarmu Ranu gomans sekarang ibu zaanggun radakan akibst perbuatsnmu itu anakmu akan saling menghancurkan
Marina Tarigan
biadap kamu Ranu awal kehancuran keluargamu Anggun
Marina Tarigan
salahkan ibumu tdk berterus terang terus maksa ningsih terus bantu therapimu tuan kelusrgamu tdk punya adab ya kalau adst kami ssngst pantang dekat sm ipsr sendiri apalagi sempst pegang apapun ceritanya mknya sussh dekat sama orang tdl punya adsb khusus ibumu dua2 anaknya tetluka korban ningsih jgn mau lagi ningsih biadap mertuamu itu
Marina Tarigan
pindsh saja Ning sm suamimu ke Salon kalian Ranu tdk tahu ning idtri juda ibu Anggun cari masallah
Marina Tarigan
keluarga kaya raya tapi punya ibu biadap jgn2 anakmu berdua saling membunuh aru tahu rasa dan ning kembali pd ridho karena merema saling mencintai dulu
Marina Tarigan
mama anggun tfk benar seorang ibu wataknya menyakiti anak sendiri Ranu belum tahu Ning istri juda fan dulupun ning bukan pacar Ranu dia merasa bersalah karena menabrkaknya dia mencari diA tdk ning istri adiknya juda apa ibu mau menghilir ning ke anak ibu berdua ning bukan barang ibu apa mau ning punya dua suami atau ibu
Marina Tarigan
ning kan bukan pacar Ranu Ning istrimu biadap sia2 kamu pintar dan masa sangsi sm Ranu dan ning bukan barang tak ada masallah apapun ningsih idyrimu atau kamu mau sm zDewi cerita aneh
Marina Tarigan
ning kan sdj fisayang sangat dinikahi juda dan ning sdh dioperasi hingga mormal kembali pikiran keluarga ini kok picik kali
Marina Tarigan
kepoĺosanmu ning bisa bawa petala pd
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!