NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:487.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20 pelayan khusus

Alis Deni dan Anggun terangkat bersamaan.

“Pelayan khusus?” ulang Anggun, matanya menyipit penuh curiga.

Yuda menyandarkan punggungnya ke sofa, menautkan jemari dengan santai, seolah yang ia minta bukan sesuatu yang aneh. “Iya. Tapi bukan di rumah ini.”

“Terus di mana?” tanya Deni.

“Di kontrakan aku.”

Anggun menatap anaknya lama. “Buat apa? Bukannya Ning masih bisa beres-beres sendiri?”

Yuda tersenyum tipis. “Justru karena itu.”

Deni mengernyit. “Maksud kamu?”

“Papa tau kondisi Ning,” lanjut Yuda, suaranya kini lebih pelan tapi tegas. “Dia masih pakai kruk. Masih maksa berdiri lama. Aku enggak mau dia kecapekan, tapi aku juga enggak mau dia ngerasa… enggak berguna.”

Anggun terdiam. Ada sesuatu di nada suara Yuda yang jarang ia dengar—perlindungan tanpa pamer.

“Makanya,” Yuda melanjutkan, “aku mau ada orang yang bantu. Diam-diam. Ning enggak perlu tau.”

“Diam-diam?” Anggun mendengus kecil. “Kamu ini licik dari mana sih?”

“Dari Mama,” jawab Yuda ringan.

Deni tertawa kecil, lalu menghela napas. “Terus, maunya siapa aja?”

“Satu tukang masak. Dua orang buat bersih-bersih,” jawab Yuda tanpa ragu. “Datangnya pagi buta. Pulangnya sebelum Ning bangun. Jangan ribut. Jangan ninggalin jejak.”

Anggun menatap anaknya lama, lalu berdiri. “Ikut Mama.”

Mereka masuk ke ruang kerja kecil di belakang. Anggun membuka buku catatan lama—daftar orang-orang kepercayaan yang pernah bekerja di rumah besar itu.

“Ini Bu Mar,” katanya sambil menunjuk nama. “Masaknya sederhana. Enggak neko-neko.”

“Cocok,” kata Yuda.

“Ini dua orang ini,” lanjut Anggun lagi. “Kerjanya cepat, mulutnya rapat.”

Yuda mengangguk mantap. “Aku mau mereka mulai besok pagi.”

Anggun menutup buku itu, menatap anaknya dengan tatapan yang sulit dibaca. “Kamu beneran serius sama Ning, ya?”

Yuda tersenyum kecil. “Dari awal.”

petang itu, Yuda menepikan motornya di depan Rumi’s Salon. Bel pintu berdenting pelan saat ia masuk.

Rumi yang sedang membereskan kuas make up mendongak—lalu membeku.

“Loh, Yuda?” refleks ia menyebut nama itu, sebelum cepat-cepat menarik ucapannya.

Yuda hanya tersenyum sopan, seolah benar-benar orang asing. “Permisi, Bu. Saya mau jemput istri saya.”

Rumi berkedip, lalu melirik ke arah Ning yang baru keluar dari ruang rias. Ning berhenti melangkah begitu melihat Yuda.

“Mas?” matanya berbinar.

“Iya,” jawab Yuda lembut. “Udah selesai?”

Ning mengangguk. “Udah, Mas.”

"Oh iya. Bu Rumi, ini Mas Yuda, suami Ning." Ning berganti pada Bu Rumi, memperkenalkan suaminya.

Yuda mengulurkan tangannya, "Yuda, Bu Rumi."

Rumi menelan ludah, potongan-potongan di kepalanya mulai menyatu—cara Anggun tadi mengamati Ning, sikap tersinggung yang aneh, dan kini… Yuda.

“Oh,” Rumi akhirnya tersenyum formal. Ia membalas jabatan tangan ponakan nya sendiri. “Rumi. Jadi, kamu suaminya Ning, ya?”

“Iya, Bu,” jawab Yuda tenang. “Terima kasih udah jaga istri saya.”

"Selamat ya, udah nikah, Nak Yuda."

Ning menoleh ke Rumi, sedikit aneh dengan sikap Bu Rumi, tapi tersenyum. “Bu, Ning pulang dulu.”

“Iya… hati-hati,” jawab Rumi, suaranya agak tertahan.

Begitu pintu salon tertutup, Rumi langsung meraih ponselnya. Lalu menelpon Anggun.

"Mbak. Mau ngomong sekarang, aku ke rumah, ya?" katanya tanpa basa basi.

"Hah? Ngapain?" sahut suara di seberang sana."Tumben banget pake telpon. Ngomong aja langsung."

Bukan ketus, tapi memang begini bahasa Anggun. Dan Rumi sangat hapal. "Aku ketemu suaminya Ning."

Hening sebentar.

"Oke, langsung ke sini, ada yang mau kami bicarakan juga."

****

"Ning! Pegangan dong."

"Udah, Mas."

"Pegangannya yang bener dong."

Yuda menarik tangan Ning sampai melingkar di perutnya.

Di atas motor, Ning memeluk jaket Yuda pelan. Pipinya bersemu merah. Jalanan malam itu ramai, tapi hati Ning terasa tenang.

“Mas capek, nggak?” tanyanya lirih.

“Enggak,” jawab Yuda. “Kalau jemput kamu, malah enak. Bisa peluk-peluk gini.”

Ning tersenyum, menyandarkan dahi ke punggung Yuda. Angin malam menyapu wajahnya, membawa rasa aman yang belum pernah ia punya sebelumnya.

Sampai di kontrakan, Yuda membantu Ning turun.

"Mas, Ning bisa sendiri kok."

"Iya, tapi mas pengen peluk kamu, gendong kamu..."

Ning tersenyum lagi. Lagi. Pipinya dibuat bak kepiting rebus.

Mereka makan malam sederhana—nasi hangat, telur dadar, dan sayur bening.

"Ini Mas yang masak?"

"Iya. Enak enggak?" tanya Yuda. Tadi dia pulang tak lupa membawa beberapa olahan dari rumah utama.

“Masakanku kalah sama punya Mas,” canda Ning.

Yuda menggeleng. “Oh ya? Kupikir ini agak kelebihan garam gitu.”

"Enggak, ini enak, Mas."

Yuda tersenyum kaku, ia pikir, "Hmm, besok harus buat yang kurang garam deh."

Malam turun perlahan. Mereka beristirahat lebih cepat. Ning tertidur dengan cepat, lelah yang manis menyergap tubuhnya.

****

Pagi datang. Ning terbangun saat kasur di sampingnya bergerak.

“Mas?” gumamnya setengah sadar. "Ayo subuh."

Yuda menoleh, bangun dengan malas. Setelah subuh, Yuda memikirkan cara untuk membuat Ning tidur lagi.

Ia mengusap rambut Ning pelan saat Ning selesai melipat mukena. “Ning.”

Ada keheningan hangat di antara mereka—tatapan, senyum kecil, bibir yang perlahan saling bertaut, dan napas yang menyatu. Waktu seolah melambat, lalu menghilang begitu saja di balik tirai kamar.

Ketika Ning kembali terlelap, Yuda bangkit perlahan. Ia meraih ponsel dan mengetik singkat.

Mulai sekarang.

Tak lama, suara sangat pelan terdengar dari luar—langkah kaki hati-hati, bisikan singkat. Dua orang membersihkan rumah dengan cekatan, satu orang di dapur memasak menu sederhana.

“Kali ini buat yang sederhana saja,” pesan Yuda pelan. “dan... buat agak kurang garam.”

“Siap, Mas Yuda,” jawab mereka serempak.

Yuda kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang, menatap Ning yang masih terlelap. Ia tersenyum kecil.

“Tidur yang nyenyak,” bisiknya. “Biar Mas yang urus sisanya.”

Di luar, pagi berjalan seperti biasa—tanpa Ning sadari, ada tangan-tangan yang bekerja diam-diam, menjaga hidup barunya tetap tenang.

1
Ibrahim Efendi
terserah author aj. klw dibuat dapat ganti, juga ok. biar sama2 happy ending.
Tuty Yatun
pengen ning hamil dulu dan ridho dpt pengganti ning
Eka Burjo
kabarnya Dewi gimana
Lilis Yuanita
harus geh ranu dpt wanita pujaanya biar dia gk iri ma yuda🤭🤭
Nasya Sifa Aura
msh mau dong gmn ke lanjutan si ranu itu
Fyrly
sampai Ning punya anak dan Ranu menemukan tambatan hati menikah juga lah Kak😍😍😍
Marini Suhendar
mau ning sama yuda bahagiabmemiliki momongan..dan Extra part yg banyak ranu🤭
delis armelia
pengen ning hamil pengen ranu juga menemukan bidadarinya... kayany jngn dulu kelar blm puas
Allea
cewe bodoh 😁
Arin
Tara..... Kejutan..... malam ini Ning kasih hadiah buat Yuda. Sebagai rasa terima kasih karena udah menyelamatkan Ning dari baju basah yang secara tidak sadar memperlihatkan lekuk tubuhnya.....
Imas Karmasih
orang ga sadar diri jahat sama kamu lah yang kamu lakukan je Ning emang bukan perbuatan jahat
Yuni Ngsih
visualnya keren Thor cocok Ning sm Yuda ....ceritramu bgs bangeeeet ,tp ujian kehidupan buat kelamaan jd ku yg baca greget Thor ...tp yg namanya bgmna imajinasi kamu aza ....& tetap semangat ...lanjut
bibuk Hannan & Afnan
seorang istri memang begitu Yudha meski sudah saling melihat luar dalam tp rasa malu itu masih tetap ada, ky aku juga gt meski sudah punya anak dua klo telanjang bulat depan paksu masih malu, video call aja masih sering malu apalagi telanjang bulat 🤭🤭
Lilis Yuanita
moga cpt hamil y
sunaryati jarum
Yuda kaget namun terpesona melihat Ning memakai baju dinasnya 🥰🤩
Fyrly
Yuda shock tu Ning 😄😄😄
Rahmawati Amma
cih kirain bunting 🤣
Sri Rahayu
hahaha...sampe kaku tubuh Yuda melihat Ning pake baju DINAS MALAM yg Ning beli online...lanjur Thorr😘😘😘
Ibrahim Efendi
Ning pakai busana yang dipesannya kah??
Sri rahayu
sepertinya baju linger deh ,Ning ingin rumah tangganya tambah harmonis makanya pake linger supaya Yuda tambah senang 😁😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!