Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Langkah pertama perjanjian
"Pikirkan baik-baik, aku tidak akan memberikan tawaran untuk kedua kalinya." ucap Kevandra dingin.
Kini mereka sudah sampai di gedung perusahaan Bagaskara group milik paman dari Liora, yang baru Kevandra ketahui bahwa mereka adalah keluarga.
Liora masih tertegun dengan tawaran itu, lalu mereka melangkah keluar mobil. Dengan langkah tegas keduanya beriringan menuju ruangan Bagaskara.
Sepanjang langkah menuju ruangan Bagaskara, keheningan di antara mereka terasa mencekam mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Liora berusaha mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tetap profesional, meski jantungnya masih berdetak dengan cepat akibat tawaran Kevandra.
Kini mereka telah tiba di depan pintu ruangan Tuan Bagaskara.
Tok! Tok! Tok! Suara pintu yang kini di ketuk oleh Liora, perlahan ia membukanya.
Saat pintu ruangan terbuka, Bagaskara langsung berdiri dari kursinya. "Kalian sudah sampai. Tuan Kevandra, Liora, terima kasih sudah datang tepat waktu."
Liora dan Kevandra melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Silakan, duduk." perintah Bagaskara dengan nada hormat.
Kini Liora dan Kevandra duduk bersisian dan Bagaskara berada di hadapan mereka.
"Bagaimana? Paman ada masalah apa tentang proyek ini?" tanya Liora, yang memecah ketegangan antara dirinya dan Kevandra.
"Sesuai, yang Paman jelaskan di telepon tadi, bahwa masyarakat di sana berubah pikiran, dan mereka kini sedang melakukan aksi unjuk rasa di area pembangun yang akan kita lakukan." Jelas Bagaskara.
"Kalau begitu, biarkan kami yang langsung turun ke lapangan hari ini." Sahut Kevandra, dengan dingin dan datar.
Tuan Bagaskara yang sedang memegang berkas-berkas di atas meja menghentikan aktivitasnya. Lalu ia menatap mata Kevandra.
"Usul yang bagus Tuan Kevandra."
Pertemuan berlangsung dengan professional. Mereka membahas kendala lahan di lapangan. Liora sesekali memberikan argumen yang cerdas, namun ia menyadari satu hal: setiap kali ia berbicara, ia bisa merasakan tatapan tajam dan dingin Kevandra yang seolah sedang menilainya.
Akhirnya pertemuan itu selesai. "Baiklah, rapat hari ini sudah cukup untuk menangani kendala yang terjadi. Selamat bertugas Tuan Kevandra dan Liora." ucap Bagaskara.
Liora dan Kevandra mengangguk pelan, setelah itu mereka pergi dari ruangan tersebut. Kini mereka melangkah beriringan menuju mobil yang terparkir di depan kantor.
Liora menghela napas, ia berbalik menatap Kevandra yang tengah merapikan jasnya.
Tiba-tiba suara Liora memecah keheningan di antara mereka. "Bagaimana jika aku menyetujui tawaranmu, justru itu akan menghancurkanmu juga, Kevan?" tanya Liora akhirnya, memberanikan diri.
Kevandra berjalan mendekat ke arah Liora, mengikis jarak hingga Liora bisa mencium aroma parfum maskulin milik Kevandra.
"Kalau begitu, kita akan hancur bersama." bisik Kevandra tepat di samping telinganya. "Setidaknya, kita tidak hancur sendirian karena dikhianati oleh mereka." Lanjutkannya, lalu ia menarik diri. Dan menjaga jarak kembali dari Liora.
Liora terdiam sejenak mendengar setiap kata yang Kevandra ucapkan.
"Rencana apa yang kamu punya untuk itu?" tanya Liora dengan nada menantang, menyembunyikan kegugupan di balik tatapan matanya yang berani.
Seketika suasan koridor itu menjadi tegang, atas interaksi kedua insan yang memiliki niat tersembunyi di balik kesepakatan masing-masing.
"Melakukan apa yang mereka lakukan. Bukankah itu adil?" bisiknya dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Melihat mantan tunanganmu dan mantan istriku menyaksikan kedekatan kita... kurasa itu cukup untuk membuat mereka kehilangan akal sehat." lanjut Kevandra penuh penekanan. Ia menatap lekat netra Liora sejenak.
Liora tertegun sejenak. Memang benar, sejak awal rencananya adalah mendekati Kevandra untuk menghancurkan Salsa. Ia tahu betul sifat Salsa yang selalu menginginkan apa pun miliknya. Dengan menjalin hubungan dengan Kevandra, ia akan membuat Salsa menyesal karena telah mencampakkan suami sehebat Kevandra demi merebut tunangan bajingannya itu.
Namun, Liora bimbang. Jika kesepakatan ini diterima, artinya ia harus bersandiwara dalam kedekatan fisik. Dan Liora benci kontak fisik jika bukan dengan pasangan sahnya nanti.
"Baiklah, aku menerimanya." putus Liora akhirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila. "Tapi aku memiliki syarat untuk itu, Kevan."
Kevandra menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkesan dengan keberanian Liora yang masih sempat memberikan syarat di posisi yang terpojok.
"Jadi, apa syarat itu?" tanya Kevandra singkat.
"Jaga batasanmu." jawab Liora dengan nada penuh penekanan. "Meski kita berada dalam kesepakatan sandiwara ini, aku tidak ingin kamu melewati batasmu denganku. Tidak ada kontak fisik yang berlebihan tanpa persetujuanku."
Kevandra mengangguk singkat. "Baiklah aku mengerti, selamat atas kesepakatan ini, Li." Kata Kevandra dingin, ia mengurkan tangannya dan Liora menerima uluran tangan itu sebagai tanda bahwa mereka kini terikat kerja sama, setelahnya mereka melanjutkan langkahnya.
Jika Liora dan Kevandra, tengah melakukan kesepakatan untuk membuat pasangan mereka menyesal.
Sementara, berbeda di tempat lain saat ini, di sebuah apartemen yang kini dibeli Salsa— untuk ia dan Raka tinggal bersama setelah mengkhianati pasangan mereka masing-masing.
Salsa kini sedang duduk di pangkuan Raka, melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dengan manja. Ia berbisik tepat di telinga Raka. "Raka, kapan kamu akan meresmikan hubungan kita? Semuanya sudah terbongkar, dan aku sudah bercerai dari Kevandra."
Seketika, tubuh Raka menegang. Kata-kata Salsa terasa seperti menuntut sebuah kepastian. Padahal, Raka melakukan semua ini hanya demi menyelamatkan diri dari amukan ayahnya: ia harus mempertahankan hubungan ini demi keberlangsungan hidup dan posisinya.
"Secepatnya, Sa. Untuk saat ini, biarkan aku fokus mengurus bisnis Ayah dulu demi masa depan kita." bohong Raka dengan nada lembut, meski wajahnya menyembunyikan kepura-puraan yang tidak di ketahui Salsa.
Raka mengelus rambut Salsa dengan lembut, memberikan kecupan di kening wanita itu untuk menenangkannya. Namun, di balik tatapan matanya yang tampak penuh kasih, tersimpan konspirasi yang mendalam.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Salsa. Aku hanya membutuhkanmu untuk melepaskan hasrat dan rasa frustrasiku terhadap Liora." batin Raka sinis.
Baginya, Salsa hanyalah pengganti sementara—sebuah pelarian karena ia tidak pernah benar-benar bisa memiliki Liora sepenuhnya.
"Baiklah, aku akan bersabar menunggunya." ucap Salsa dengan senyum manis yang tampak begitu tulus, seolah ia baru saja memenangkan masa depan yang ia impikan.
Tanpa ia ketahui, di balik senyum itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya hanyalah sebuah alat bagi orang-orang di sekelilingnya. Ia terjebak dalam niat jahat dan obsesi yang gelap. Di satu sisi, ibu tirinya memanfaatkannya sebagai senjata untuk menghancurkan keluarga Prayudha. Di sisi lain, laki-laki yang ia puja dan ia cintai—yang demi memilikinya ia tega mengkhianati sahabatnya dan suaminya sendiri—ternyata ia hanya dijadikan pelarian semata.
Tiba-tiba, suara nyaring dan getaran ponsel milik Salsa memecah kedekatan di antara mereka.
Drt! Drt! Drt!
Salsa melepaskan pelukannya dari Raka dengan helaan napas berat saat melihat nama "Siska" di layar ponselnya. Dengan ragu, ia menekan tombol hijau.
"Halo? Pulang sekarang! Ada tugas yang harus kamu kerjakan." perintah Siska dari seberang telepon. suaranya terdengar dingin, penuh nada mengancam, dan sama sekali tidak menerima bantahan.
Klik. Sambungan diputus secara sepihak, meninggalkan Salsa yang kini terdiam dengan raut wajah yang menahan amarah.