Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 3
Drake memiliki tubuh yang lebih tinggi darinya, Zayna akui, tubuh Drake memang ideal, karena Drake dulu suka berolah raga.
Drake memang pria yang memiliki wajah cukup tampan, apalagi ketika masih masa-masa remaja, layaknya model majalah, tidak heran akan banyak gadis atau wanita terpikat pada Drake.
Dulu Drake memperlakukan Zayna bagai putri, moment itu terekam indah di pikiran Zayna, moment di saat mereka belum memutuskan pindah ke kota.
“Seandainya aku memiliki uang yang banyak, dan aku merawat diriku, apa mungkin suamiku tidak akan berselingkuh dengan gadis muda? Atau jika aku merawat diriku dengan baik dan memakai pakaian yang layak serta memakai pakaian dalam yang bagus apakah suamiku tetap setia padaku? Tapi dari mana aku mendapatkan uang untuk diri ku sendiri? Sedangkan seumur hidupku pun mungkin hutang-hutang kami tidak akan lunas.” Rintih Zayna.
“Jangan berpikir gila. Bajingan tetaplah bajingan. Kau maafkan sekali maka akan ada yang kedua, dan begitu seterusnya.” kata pria di belakang Zayna dengan lirih.
Beberapa jam berlangsung dengan cukup lama, kaki Zayna mulai kesemutan menunggu permainan sepasang manusia bejatt itu selesai menuntaskan hasrat mereka.
Pria di belakang Zayna seolah tahu, kemudian tangan berorot nya yang melingkari tubuh Zayna mulai mengerat lagi.
“Menopang padaku akan kacau semuanya jika kita ketahuan. Orang-orang di luar sana pasti juga masih mencariku.”
Tidak ada pilihan lain, Zayna pun menopangkan tubuhnya pada dada bidang pria yang bersembunyi bersamanya, tangan kekar merangkul dan merantai Zayna agar Zayna tidak merosot ke bawah karena kakinya yang kesemutan. Tubuh Zayna hampir melayang dalam pelukan pria tersebut.
Zayna kembali teringat, tangan Drake memang berurat namun Zayna merasakan tangan pria yang memeluknya sekarang jauh lebih berurat dan kuat. Hingga Zayna merasakan bagaimana pria di belakang itu tanpa kesusahan dapat menopang tubuhnya layaknya seperti menggenggam kapas.
“Jika kau suamiku, pasti aku sudah tenggelam dalam hinaannya.”
“Kenapa? Apa suamimu sering menghinamu?”
“Katanya aku wanita kumal, badanku gemuk dan berat, dia selalu terlihat jijik saat melihat dan dekat denganku.” Kata Zayna, tanpa sadar. Seolah ia ingin mencurahkan segala tekanan dalam hati nya pada seseorang.
“Omong kosong, tubuh mu seringan kapas.” Kata pria itu berbisik, dengan napas yang tidak teratur di belakang tengkuk leher Zayna.
“Bahkan pinggul dan dadamu pun sempurna. Memang jauh lebih besar dan berisi. Tapi ini bukan gemuk. Suami mu bodoh. Aku bahkan bisa melihat kecantikanmu dari kegelapan dan dari pakaian kumalmu. Tubuh wanita ini sangat sempurna.” Kata pria tersebut dalam hatinya.
Hembusan napas hangat menyerang tengkuk leher Zayna, membuat nya merinding.
Akhirnya, Drake sudah selesai, suami tak tahu diri itu kemudian memakai pakaiannya dan membantu Ezme, wanita selingkuhannya untuk memakai pakaian juga.
“Dia begitu perhatian pada wanita muda itu.” Kata Zayna lirih.
“Ayo… Aku antar pulang dulu.” Ajak Drake.
“Benarkah tidak apa-apa jika kau mengantarku pulang? Istrimu bagaimana?”
“Dia biasa pulang sendiri. Ini sudah pukul 11 malam ayo kita pergi sebelum dia juga pulang.” Kata Drake.
“Kalau begitu bagaimana jika kau menginap di rumahku saja sayang?”
“Benarkah boleh seperti itu?” Tanya Drake.
“Aku akan sangat senang, kita bisa melakukannya sepanjang malam bukan? Aku masih merindukanmu…” Ezme menggelanyut di pelukan Drake.
“Cintaku ini mulai manjaa sekali yaaa… Baiklah sesuai permintaan tuan putri.” Kata Drake sembari memeluk dan mencium Ezme.
Drake pun akhirnya pergi bersama Ezme. Sudah di pastikan malam ini Drake tidak akan pulang. Mereka akan melanjutkan hubungan terkutuk itu di rumah Ezme.
Setelah terdengar pintu menutup. Kaki Zayna mendadak lemas, tubuhnya hampir jatuh ke bawah. Pintu almari langsung terbuka.
“BRAAKK…!!”
Namun pria di belakang Zayna langsung menangkapnya dari belakang memeluknya dengan satu tangan kekar nya. Tangan berotot yang kuat itu menarik tubuh Zayna dan mendekapnya ke dalam tubuh kerasnya.
Zayna langsung mendongak ke atas ia ingin tahu seperti apa orang yang selama beberapa jam ini bersembunyi bersama dirinya di dalam almari.
Namun, saat dirinya melihat wajah pria yang sedang memeluknya dengan satu tangan tersebut.
Alangkah terkejutnya Zayna. Begitu banyak luka di tubuh pria itu, kemeja berwarna putih berubah menjadi merah, karena banyak bercak darah dan bagaimana mungkin pria yang tak dikenal itu justru terus menerus menopang tubuhnya. Kekuatan apa yang pria itu miliki.
Wajahnya tampan namun penuh darah di pelipis dan tubuhnya. Hidungnya mancung dan garis rahangnya begitu tegas. Bola matanya berwarna biru muda.
Zayna sempat terpana dengan ketampanan pria tersebut. Bagaimana mungkin di dunia ini ada pria setampan itu, seperti jelmaan dari dewa yang agung, bahkan menurut Zayna selama ini ia belum pernah melihat pria yang lebih tampan dari Drake.
Zayna sempat berpikir, apakah pria di hadapan nya ini reinkarnasi dari dewa yunani yang terkenal dengan ketampanan mereka yang sempurna.
Bagi Zayna, selama ini Drake adalah visual paling sempurna. Tubuhnya tinggi dan lumayan berotot, parasnya juga tampan dengan hidung yang mancung. Namun setelah melihat pria yang ada di hadapannya, meski di penuhi darah yang mengering, Drake tidak sebanding apapun darinya.
Zayna pun seperti tersihir dengan wajah tampan itu.
“Aku akan menurunkanmu perlahan.” Suara rendah pria itu menggetarkan dada Zayna.
Zayna terperangah, sontak ia terkejut dengan suara asli pria itu. Suara rendah yang begitu mempesona, dan juga tegas namun terdengar hangat.
“Ah iya. Terimakasih.”
Zayna pun duduk di lantai, sang pria kemudian duduk menyandarkan punggung besarnya di almari yang sebelumnya untuk mereka bersembunyi.
“Ugh.” Rintih pria tersebut sembari memegangi perutnya.
Zayna menelan ludahnya, ia melihat darah yang ada di perut kiri pria tersebut. Lukanya terlihat cukup parah.
“Jadi….” Zayna melihat sekujur tubuh pria di hadapannya tersebut.
“Uhuk…” pria tersebut terbatuk batuk.
Lengan kemejanya yang di gulung menunjukkan tangan berototnya yang kuat pun banyak lebam, wajahnya penuh dengan darah.
“Bagaimana bisa anda menopang tubuh saya dengan keadaan anda yang seperti itu…” kata Zayna.
“Bukan hal sulit. Tubuhmu seringan kapas.” Kata pria itu masih menyandarkan tubuhnya, nampak pria itu menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Zayna nampak merasa bersalah.
“Bicaralah santai denganku. Aku juga berutang padamu, karena kau sudah mau bekerja sama denganku.”
Dengan ragu Zayna mengangguk pelan.
“Jadi… Pertama-tama… Aku akan mengambil obat luka luar dulu dan membantu mu membersihkan tubuhmu yang penuh darah. Sementara kau boleh bersembunyi di sini sampai besok pagi. Kau dengar sendiri suamiku…. “ Zayna berhenti sesaat saat dia sibuk mengambil obat-obatan tanpa sadar masih memanggil suaminya.
“Maksud ku Drake… Dia tidak akan pulang. Kau juga mendengarnya sendiri.”
“Aku tahu. Uhuk… Uhukk…”
Zayna menatap pria itu, matanya terpejam, dia berusaha keras untuk terus menjawab Zayna meski terlihat kesusahan.
Zayna kemudian mendekat dan membawa handuk basah beserta panci berisi air hangat.
“Aku akan membuka pakaian mu…” kata Zayna.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk