Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jessie Cassandra
*
Suara desingan mobil Porsche 911 dengan atap terbuka memasuki pagar besi menjulang tinggi lalu berhenti di halaman luas depan rumah mewah bertingkat tiga.
Seorang satpam menghampiri pengendara, membuka pintu mempersilahkannya. Jessie keluar menampilkan wajah datar terkesan angkuh. Satpam itu segera memarkirkan mobil Jessie di garasi.
Langkah sepatuh Jessie terdengar saling menyentak lantai. Memasuki rumah bak istana, di sambut dua pelayan yang membawa minuman serta makanan ringan di atas nampan. Dengan santai Jessie mengambil minuman, meminumnya lalu meletakkan kembali. Dia juga mengambil cemilan yang di sediakan kemudian lanjut melangkah. Kedua maid tersebut menunduk hormat lalu pergi.
"Jessie Cassandra."
Langkah Jessie terhenti mendengar namanya di panggil, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jessie menghela nafas panjang, memutar bola mata malas sambil menenteng tas sekolahnya. Sedetik kemudian menggerakkan tubuh menghadap orang yang telah memanggil.
Jessie mendengus, ia bukan hanya mendapati satu orang melainkan dua orang dan salah satunya sungguh dalam hati ingin mencabik hidup-hidup.
"Waah Papa sudah pulang? Kapan? Pasti ada sesuatu kan?" Jessie tampak antusias namun sebenarnya biasa saja.
"Sesuatu itu kamu. Bikin ulah apa lagi kamu Jessie?" Papa Ardi berusaha menahan emosi meski nafasnya kini memburu.
"Pa, aku tidak berbuat onar hari ini. Aku juga malas mendengar ceramah Papa." Cetus Jessie jengah.
"Hari ini tidak, lalu kemarin apa? Kamu membuat salah satu siswi masuk rumah sakit." Seru Papa Jessie, dia Tuan Ardi.
Jessie berdehem panjang, mengatupkan jari telunjuk ke dagu mengingat kemarin membully siswi sampai masuk rumah sakit "Aah siswi itu ya maksud Papa. Itu bukan salahku, dia saja yang lemah."
"JESSIE!!!" Sentak Tuan Ardi membuat Jessie terdiam "Apa kamu tidak pernah menyadari perbuatanmu Ha?! Kamu itu selalu membuat masalah. Papa kecewa sama kamu." Suara Tuan Ardi semakin meninggi, nafasnya memburu.
"Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi pembully. Kamu memang anak yang susah di atur. Mau jadi apa kamu nanti HA?!!" Lanjutnya membentak.
Jessie terpaku, bahunya sedikit bergetar, mencoba bertahan agar tidak tumbang.
"Mas sudah, kamu jangan kelepasan nanti penyakitmu kambuh." Istrinya mengelus pundak Tuan Ardi mencoba menenangkan.
"Ya, Papa benar. Aku gak pernah sadar apa perbuatanku. Aku gak tau dimana kesalahanku. Aku gak pernah bisa di atur dan aku anak yang pembangkang." Seru Jessie tersulut emosi "Ini semua juga karna Papa." Lanjutnya dengan suara meninggi.
"Kamu yang melakukan tapi menyalahkan Papa?" Tuan Ardi tidak terima.
"Buat apa aku menuruti keinginan Papa jadi anak yang baik kalau Papa aja gak nurutin kemauanku. Papa juga seenaknya sendiri, melakukan apa yang Papa mau meski aku tidak setuju." Nafas Jessie tersengal, dadanya naik turun dengan perasaan menggebu "Papa juga gak peduli menyakiti aku, jadi kenapa aku harus peduli sama mereka?"
"Jessie kamu--..."
Jessie melirik perempuan di samping Papanya sekilas "Orang miskin itu benalu, aku membencinya terutama dia!" Ucapnya menunjuk perempuan itu.
"Jaga ucapanmu, dia Mama kamu." Tegas Tuan Ardi.
"Dia bukan Mamahku, mamahku sudah berada di dalam tanah. Dia pelakor yang merebut Papa dari Mama." Bantah Jessie menatap sengit.
Wanita bernama Linda, istri dari Tuan Ardi hanya bisa terdiam membeku. Ia terbiasa dengan ucapan pedas Jessie.
"Jangan menyakiti Mama." Seru seseorang mendekati mereka.
Jessie menoleh malas "Ini lagi bocah kemarin sore gak usah sok ikut campur."
"Aku ikut campur karna kakak menyakiti Mama." Ucap gadis berseragam SMP, bername-tag Vira Callista "Mama bukan wanita seperti itu kak."
"Gue bukan kakak lo, jangan panggil gue kakak." Sentak Jessie, Vira menatap kakaknya takut. Tapi mencoba biasa karena ingin melindungi ibunya.
"Cukup Jessie. Kamu sudah keterlaluan." Bentak Tuan Ardi "Kamu--..."
"Apa? Papa mau mengusirku dari sini? Usir saja Pa! Aku juga udah muak tinggal di keluarga yang egois seperti Papa."
Jessie yang sangat kesal memilih pergi dari sana, tidak menghiraukan panggilan Papanya yang berulang kali. Dia menuju Garasi mobil lalu membawa mobil miliknya pergi menjauhi pelataran rumah dengan kecepatan tinggi.
"Astaga, anak itu." Tuan Ardi tampak frustasi melihat mobil putrinya sudah menjauh.
"Mas, jangan terlalu keras sama Jessie." Nyonya Linda mengusap lembut punggung suaminya.
Tuan Ardi menghela nafas mengontrol emosinya "Dia berubah. Padahal dulu dia sangat penurut dan baik."
"Mungkin ini memang salahku Mas." Wajah Nyonya Linda murung.
"Tidak. Ini bukan salahmu. Jessie memang keras kepala, dia sulit sekali mempercayaimu." Tuan Ardi mengelus tangan istrinya lembut.
*
*
"AAAAARRGHHH."
Di sinilah Jessie berada, di sebuah pantai yang sepi. Ia berteriak sekencang mungkin meluapkan emosi yang ia pendam.
"Gue capek. Gue sangat lelah seperti ini. Kenapa gak ada yang bisa ngertiin gue Ha?! Gue pengin seperti dulu, gue juga gak mau kayak gini." Teriaknya kencang, tanpa terasa menitikkan air mata yang sejak tadi terbendung.
Ia terduduk lemas di atas pasir putih membiarkan angin menerpa wajah namun tak mampu menyapu air matanya. Isakan sedikit terdengar, mendongak "Jessie kangen Mama, kenapa Mama pergi secepat ini? Kenapa Ma?" Lirihnya begitu menyakitkan.
"Andai gue bisa memilih, gue ingin punya keluarga selalu ada buat gue, selalu mengerti apa yang gue inginkan, gak selalu tentang harta, gue ingin lebih di perhatikan seperti Mama. A-apa itu salah? Kenapa itu sangat sulit?" Tangisan Jessie semakin pecah. Merasa bisa meluapkan semua keinginannya disana tanpa ragu menganggap tidak ada orang lain yang mendengar.
Tanpa ia sadari, sepasang mata memperhatikan dia dari kejauhan. Tatapannya lekat, begitu dalam, hatinya berkata ingin mendekat namun raga seolah menahan. Dia ragu, hanya bisa meremas ujung pakaian melihat pemandangan yang begitu menyesakkan seperti bisa merasakan kesedihan Jessie.
*
*
Di lain sisi, sebuah rumah cukup sederhana namun sedikit elegan. Dua insan sedang asik belajar bersama untuk mengerjakan PR sekolah.
Raya melirik Pipit yang sejak tadi asik memainkan handphone "Ini jadinya kita belajar kelompok atau kamu main handphone sendiri?"
Pipit menyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya "Belajar dong Ray, cuma sambil menyelam minum air. Belajar pun harus sesekali lihat handphone barangkali ada berita up to date. Kan lumayan, biar gak ketinggalan gosip terbaru."
"Tau begini mending aku kerjakan di rumahku sendiri." Raya memutar bola matanya malas.
"Gak usah ngambek dong, gue udah gak main Handphone nih." Pipit meletakkan handphonenya di atas meja.
"Fokus." Titah Raya menjelma jadi guru les yang super duper galak, ia memperbaiki kacamatanya.
Pipit mengangguk patuh, mencoba memahami tiap kalimat yang di jelaskan Raya. Pipit mengakui dirinya tidak sepandai Raya si murid beasiswa, itu sebabnya dia terkadang meminta bantuan Raya untuk menjelaskan materi yang tidak ia pahami. Raya pun senang menjelaskan, bagaimanapun juga Pipit adalah sahabatnya sejak duduk di bangku SMP.
Raya dengan tenang menjelaskan materi Geografi, Astronomi tentang susunan tata surya atau benda langit lainnya.
"Ray, lo percaya mitos gak?" Pipit tiba tiba berceletuk asal.
"Kenapa tiba tiba nanya itu?" Raya tidak mengerti, Pipit selalu saja bertanya sesuatu yang melenceng jauh dari yang di jelaskan.
"Jawab aja."
"Huemm tergantung. Mitos apa?" Tanya Raya akhirnya penasaran.
"Gue pernah denger cerita katanya kalo kita lihat ada bintang jatuh, terus kita berdo'a meminta sesuatu pasti akan di kabulkan." Ujar Pipit si paling nomor satu tentang cerita rakyat, gosip serta hal berbau trending topik.
"Gak percaya." Seru Raya.
"Emang sih sulit di percaya, tapi kalo bener gimana?" Ucap Pipit antusias "Lo mau minta apa?"
Raya sedikit berpikir, mengingat saat dirinya di bully "Aku bakal minta jadi orang kaya, biar gak di bully sama mereka lagi."
Pipit tertawa puas "Kalo lo jadi Jessie kayaknya enak tuh. Tinggal minta ini itu pasti di kabulin, semua siswa jadi segan sama lo Hahaaa."
Raya ikut tertawa, sahabatnya ini meski sering memaki Jessie tapi dia juga mengaguminya dan bisa di bilang seperti penggemarnya kalo Jessie lagi mode waras, gak kumat ngebully orang.
Tawanya terhenti, dia teringat kejadian sebelum kesini. Setelah keributan yang terjadi di sekolah, Pipit mengajak dia main ke rumah untuk belajar. Raya setuju tapi meminta Pipit pulang lebih dulu karena dia memakai sepeda sedangkan Pipit pakai motor. Saat Pipit pergi, ia mampir ke toilet namun sesuatu dalam gudang menghentikan langkahnya.
Matanya membola saat itu, tidak percaya pemandangan yang ia lihat lewat kaca jendela. Berasa mimpi tapi itu nyata. Mereka berhubungan di sekolah saat sudah sepi? Bagaimana bisa mereka sekotor itu?
"Raya." Panggil Pipit menyenggol lengannya.
"Hah Apa?" Beo Raya bingung.
"Lo di panggil seribu kali kagak nyahut sama sekali." Pipit mendengus.
"Gak usah lebay, gak mungkin seribu kali juga." Tukas Raya.
Pipit menyengir "Ya gak seribu, tapi tiga kali. Emang lamunin apa sih?"
Raya berpikir sejenak, ia ingin bercerita apa yang dia lihat tapi memilih di urungkan saja. Mengingat betapa embernya mulut sahabatnya itu, bisa heboh nanti satu sekolah di buatnya. "Bukan apa-apa. Gak penting juga."
Pipit hanya ber-oh ria.
...----------------...