NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 04

Setibanya di rumah Amayah, Brian menekan bel. Hanya beberapa detik berlalu sebelum Barbara muncul di ambang pintu.

“Amayah?! Apa yang terjadi padanya?” tanya Barbara panik, wajahnya langsung tegang.

Brian tersenyum tipis melihat reaksi itu. “Tenangkan diri Anda, Bu Barbara…”

“Amayah baik-baik saja. Dia hanya tertidur. Lebih baik Anda merawatnya dulu, dia masih sedikit ketakutan.”

Barbara menghela napas lega, lalu tersenyum manis. “Terima kasih sudah begitu perhatian padanya, Brian.”

“Sama-sama.”

Brian pun mengangkat tubuh Amayah dengan hati-hati, membawanya masuk dan menaruhnya di kamarnya. “Kalau begitu, saya pamit dulu.”

Namun ketika Brian hendak melangkah keluar dari kamar, Barbara memanggilnya.

“Brian, bisa kamu jelaskan situasinya?”

Brian menoleh. “Biar Amayah yang menceritakannya. Saya rasa ada hal yang hanya ingin ia sampaikan pada Anda.”

Barbara terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat. “Sekali lagi, terima kasih.”

Brian menutup pintu rumah Amayah dan melangkah pergi. Ia meregangkan tubuhnya yang pegal setelah membawa Amayah hampir tiga kilometer.

“Melelahkan sekali…”

“Tapi setidaknya, urusanku dengan Amayah sudah selesai…”

---

Keesokan paginya, Amayah akhirnya terbangun dari tidur panjangnya—tidur yang tidak pernah ia rasakan selama berhari-hari.

Ia menemukan dirinya di kamar sendiri, mengenakan pakaian tidurnya. Perlahan, ingatan tentang kejadian kemarin muncul kembali.

“Aku baru ingat…”

Namun, seketika Amayah menggeleng pelan. Ia tidak ingin mengingat bagian kelam itu. Yang tertinggal jelas di benaknya hanyalah nasihat Brian—tulus, sederhana, namun mampu menenangkannya. Rasa bersalah kembali menusuk hatinya karena ia sempat mengabaikan lelaki itu dulu.

Aroma masakan dari dapur membuat perutnya bergerak. Amayah berdiri, berjalan menuju sumber wangi itu. Di sana, ia melihat ibunya sedang memasak, seperti biasa—hangat, tenang, dan membuat hati luluh.

“Kamu sudah bangun ya—”

Belum sempat Barbara menyelesaikan kalimatnya, Amayah memeluknya erat. Air matanya langsung jatuh, membasahi bahu ibunya. “Maafkan aku, Bu…”

Barbara terkejut, namun segera berlutut dan membalas pelukan itu dengan lembut, seolah memeluk kembali anak kecilnya yang hilang.

Pagi itu, Amayah memohon maaf atas semua kekhawatiran yang ia timbulkan selama ini. Ia mengakui kesalahannya, menyesali semuanya. Namun alih-alih marah, Barbara justru membelainya, tersenyum, dan memaafkannya tanpa ragu. Ia senang karena putrinya akhirnya kembali menjadi dirinya sendiri.

Mereka berpelukan dalam tangis—momen kecil, namun hangat dan langka dalam kehidupan mereka.

Beberapa menit kemudian, setelah Amayah tenang, ia mengusap sisa air matanya dan bertanya pelan,

“Bu… apa Ibu melihat jaket milik Brian?”

---

Di sekolah, Brian yang tubuhnya terasa pegal dan punggungnya sakit hanya bisa meringis ketika John memijatnya dengan cara yang sangat kasar—lebih mirip menyiksa daripada membantu.

"Arghhh! Kau ini bisa memijat tidak?!" teriak Brian sambil menahan rasa sakit.

"Sudah… diam saja, wahai kakek," ejek John, jelas menikmati kondisi Brian yang tampak menderita.

"Lagipula, apa yang sudah kau lakukan sampai tubuhmu seperti ini?"

"Tidak perlu banyak tanya. Selesaikan saja."

"Baiklah!"

"ARGHHH!!!"

Teriakan Brian menggema di ruang kelas, membuat murid-murid lain menoleh dan menatap mereka dengan ekspresi bingung.

---

Sore harinya, ketika perut Brian berbunyi nyaring, ia membuka lemari pendingin—dan mendapati isinya kosong melompong.

"Aku baru menghabiskannya semalam… Kurasa aku harus menyetok lagi buat malam ini…" gumamnya lelah.

Ia pun memutuskan pergi ke minimarket dekat rumah. Namun begitu membuka pintu, Brian terkejut melihat sosok seseorang berdiri tepat di depannya.

"Amayah?"

Gadis itu memeluk sebuah jaket—milik Brian. Wajahnya tampak kaget, seolah tak menyangka pintu akan terbuka sebelum ia sempat menekan bel.

Brian menatapnya bingung. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"A-Aku… hanya ingin mengembalikan ini…" jawab Amayah dengan suara pelan. Ekspresinya tetap datar, tapi sorot matanya sedikit gugup.

Brian menerima jaket itu. "Terima kasih…"

Hening sejenak. Keduanya tampak tidak tahu bagaimana melanjutkan percakapan.

"Bagaimana kondisimu?" tanya Brian akhirnya.

"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolongku sebelumnya…"

"Sama-sama. Bagaimana dengan ibumu? Ah, maaf, aku terlalu banyak bertanya."

Amayah mengangkat kepalanya, suaranya sedikit lebih tegas. "Aku tidak mempermasalahkannya…"

Brian terdiam, agak kaget dengan perubahan nada suara itu.

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada Ibu, dan… sekarang ia sudah memaafkanku."

"Kalau begitu, syukurlah," ujar Brian tenang.

Namun ia kembali heran karena Amayah belum pergi dari depan rumahnya. Ada sesuatu yang ingin gadis itu katakan—tapi tidak diucapkan.

Brian pun melangkah pergi. Justru hal itu membuat Amayah bingung.

"M-Mau pergi ke mana?" tanyanya.

"Minimarket. Mau membeli makan malam," jawab Brian singkat.

Amayah terdiam sebentar, lalu berkata, "Boleh aku ikut?"

Brian sempat kebingungan, namun akhirnya mengangguk. "Boleh."

Mereka berjalan di trotoar—dengan jarak yang cukup jauh. Amayah berada di belakang, mengikuti langkah Brian yang sedikit lebih cepat. Ketika menyadari hal itu, Brian memperlambat langkahnya hingga mereka berjalan berdampingan. Ada sesuatu yang ingin Brian katakan, namun ia memilih menahannya.

Sesampainya di minimarket, Brian langsung menuju rak berisi snack, minuman bersoda, dan berbagai cemilan manis. Amayah memandangnya dengan kebingungan. Terlebih ketika Brian membeli makanan cepat saji dekat kasir.

"Kau membeli itu semua untuk makan malam?" tanya Amayah heran.

"Ya, ini makan malamku. Gorengan ini aku makan dengan nasi—salah satu cara makan di negaraku."

"Jadi kau memakan itu setiap hari?"

"Tidak juga. Terkadang makanan instan. Aku tidak bisa masak, jadi ya…"

Brian berjalan menuju kasir, meninggalkan Amayah yang masih mencerna informasi itu.

Namun tak lama, Amayah mengejarnya.

"Brian."

Ia memanggil sambil menarik ujung jaket Brian. Brian menoleh, bingung.

"Ada apa?"

"Mau… makan malam bersama?" tanya Amayah serius.

"Eh?"

Brian berkedip, tak mengerti maksudnya.

"Maksudnya?"

"Aku dan Ibuku sering makan malam bersama… tapi hidangannya jarang habis. Jadi… aku ingin mengajakmu makan di rumah kami…"

"Maaf, tapi… aku tidak ingin merepotkan kalian."

"Tidak merepotkan kok! Aku hanya…"

Amayah menggigit bibir, tampak gugup.

"Aku hanya ingin membalas kebaikanmu!" ujarnya pelan namun penuh tekad.

Sorot matanya tampak memohon. Brian diam, menatap balik.

"Aku selalu memikirkan bagaimana membalas kebaikanmu. Kau rela menolongku… padahal aku sering mengabaikanmu sebelumnya. Aku tidak pernah bertemu orang seperti dirimu…"

"Tidak perlu membalas budi. Aku hanya menolongmu saja."

"Tapi tetap saja!" suara Amayah sedikit meninggi, namun penuh ketulusan. "Aku tidak bisa tenang jika seseorang berbuat baik padaku, tapi aku tidak melakukan apa-apa untuknya… Setidaknya… tolong…"

Brian menghela napas. Melihat kesungguhannya, ia tak bisa menolak.

"Baiklah…"

---

"Silakan dimakan, Brian," ucap Barbara, ibu Amayah, dengan senyum ramah.

"Terima kasih banyak, Bu Barbara. Maaf merepotkan…"

"Tidak apa-apa. Ini keinginan Amayah juga. Lagipula, ini balasan kami atas kebaikanmu."

Barbara tampak benar-benar tulus. Ia menatap Brian prihatin.

"Tapi saya khawatir waktu mendengar kamu makan makanan cepat saji setiap hari. Itu tidak sehat, loh…"

"Saya tidak punya pilihan lain…"

"Memangnya kau tinggal sendirian?" tanya Amayah datar.

"Ya. Orang tuaku bekerja di luar negeri. Awalnya aku punya pengasuh… tapi aku memilih hidup mandiri."

Mendengar itu, Amayah terlihat sedikit memahami Brian lebih dalam. Barbara tersenyum lembut.

"Kalau begitu, kamu boleh makan malam di sini setiap hari," ujar Barbara penuh ketulusan.

Brian hampir tersedak. "Saya… tidak ingin merepotkan…"

"Tidak masalah! Saya selalu masak kebanyakan, dan sering tidak habis. Tidak ada salahnya kamu makan bersama kami, kan?" Barbara menambahkan sambil tersenyum hangat.

Brian bimbang. Ia merindukan masakan rumahan—dan masakan Barbara benar-benar enak. Namun ia tetap khawatir merepotkan.

Ekspresi Barbara yang begitu tulus membuatnya tak bisa menolak.

"Kalau begitu… saya terima. Tapi saya tidak bisa ke sini tiap malam. Bagaimana kalau saya membawanya pulang untuk dimakan di rumah?"

"Nanti biar Amayah yang akan mengantarkannya!" ujar Barbara bahagia.

"Eh?" Amayah terkejut sebentar, lalu mengangguk. "T-Tentu saja…"

Setelah makan malam selesai, Brian pun berpamitan.

"Terima kasih untuk makanannya."

"Sama-sama! Nanti sarapan akan kami siapkan juga, ya!" ujar Barbara ceria.

"B-Baiklah…" Brian menjawab dengan bingung.

Setelah Brian pulang, Amayah menatap ibunya dengan wajah serius.

"Ibu, ada yang ingin aku katakan…"

Barbara menoleh. "Ya? Apa itu?"

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Keesokan paginya, Brian yang baru saja selesai mandi—masih mengenakan kaus dan celana pendek—melangkah menuju pintu depan rumahnya. Suara bel yang terus berbunyi sejak tadi membuatnya sedikit heran.

Saat pintu terbuka, Brian terdiam.

Di hadapannya berdiri Amayah.

Ia tampak rapi seperti biasa, namun sorot matanya sedikit menghindar. Kedua tangannya memegang sekotak bekal makan.

“Ini… sarapan pagi untukmu…” ucap Amayah datar, namun nada suaranya terdengar kaku dan sedikit malu, sambil menyodorkan kotak bekal itu.

Brian sejenak terdiam. Ingatannya langsung melayang pada kejadian semalam.

“Ah… terima kasih…” jawabnya singkat, menerima bekal tersebut.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tidak ada yang tahu harus mengatakan apa. Udara di antara keduanya terasa canggung, seolah satu kata saja bisa merusak keseimbangan aneh itu.

“Kalau begitu, aku kembali dulu…” kata Amayah akhirnya, suaranya terdengar ragu.

“Baiklah…”

Amayah berbalik, melangkah pergi. Brian menutup pintu perlahan.

Namun sebelum benar-benar pergi, Amayah menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada pintu rumah Brian yang kini tertutup rapat. Dadanya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang asing tumbuh di dalam dirinya—perasaan yang tidak bisa ia pahami.

---

Di sekolah, seperti biasanya, Brian tertidur pulas di mejanya. Kepalanya tertopang tangan, napasnya teratur, seolah dunia di sekitarnya tidak berarti apa-apa.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Brian, ini gawat!” bisik John panik sambil menggoyangkan tubuhnya dengan kasar.

Brian terbangun dengan wajah kesal. “Ada apa? Berhenti mengangguku!” gerutunya.

“Ini soal Amayah,” ujar John singkat namun serius.

Mata Brian sedikit terbuka lebih lebar. “Memangnya kenapa?”

Namun sebelum John sempat menjelaskan, percakapan mereka terpotong oleh suara obrolan beberapa siswa yang terdengar jelas meskipun dari kejauhan.

“Kau tahu berita soal Michael? Katanya dia jadi tahanan rumah setelah melecehkan si Amayah itu!” seru seorang murid perempuan.

“Iya, aku juga dengar! Katanya Amayah sudah tidak lagi peraw*n!” sahut yang lain tanpa rasa bersalah.

“Itu pasti cuma tuduhan!” sela murid lain. “Michael itu terkenal baik pada semua orang. Dia sering membantu kita. Tidak mungkin dia melecehkan seseorang. Justru dalang kejahatan yang sebenarnya adalah Amayah!”

John menyimak dengan ekspresi serius. Sementara itu, Brian hanya menatap ke arah mereka dengan wajah datar, tanpa emosi.

“Kau dengar itu?” bisik John. “Rumor tentang Michael dan Amayah. Kesan Amayah jadi makin buruk karena semua ini!”

Brian menghela napas pelan. “Itu saja? Lebih baik tidak perlu membangunkanku.”

Ia kembali merebahkan kepalanya ke meja, seolah tidak peduli. John hanya bisa menatapnya dengan bingung.

“Kau tidak peduli padanya?” tanya John pelan namun tegas.

Brian membuka matanya sedikit dan menatap John. “Semua yang terjadi adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika aku ikut campur, reputasiku justru akan semakin buruk.”

Namun jauh di dalam hatinya, Brian tahu itu bukan sepenuhnya benar.

Ia merasa kasihan pada Amayah—dibenci hampir seluruh siswa, dan kini harus menanggung rumor kejam karena menjadi korban pelecehan. Tapi rasa simpati itu terkubur oleh ketakutan dan sikap acuh tak acuhnya sendiri.

---

Saat jam istirahat tiba…

Amayah berjalan cepat menyusuri lorong sekolah, menundukkan kepala. Namun langkahnya terhenti ketika segerombolan murid menghadangnya, menyudutkannya di sudut lorong.

Tatapan mereka tajam, penuh kecurigaan dan kebencian.

“Apa benar Michael jadi tahanan rumah karena kau?” tanya salah satu dari mereka.

“Atau semua ini cuma tuduhan palsu yang sudah kau rencanakan sejak awal?”

“Masuk akal juga,” ujar yang lain dengan nada mengejek. “Mungkin kau iri pada Michael yang super populer, jadi kau menjatuhkannya dengan membuat kasus palsu!”

Amayah terdiam. Ia memilih tidak menjawab apa pun, berharap mereka akan berhenti. Ia tidak ingin terjerumus dalam masalah yang lebih besar.

Namun mereka tidak berniat membiarkannya pergi.

“Ayo jawab dong. Kau punya mulut, kan?” ejek seorang murid. “Atau sudah rusak karena sering berbohong?”

Tawa kecil terdengar.

“Mungkin mulutnya sudah Michael gunakan!” provokasi murid lainnya.

Kesabaran Amayah runtuh.

Tangannya mengepal erat. Bahunya sedikit bergetar menahan emosi. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan amarah yang mendidih. Ia tidak terima—dirinya korban, namun justru dituduh sebagai pelaku. Posisi dan penderitaannya sama sekali tidak diakui.

Bisikan-bisikan kotor itu semakin menusuk telinganya.

“Kalian tahu apa soal diri—”

Namun sebelum kalimat itu selesai, seseorang tiba-tiba menerobos kerumunan. Sebuah tangan mencengkeram pundak Amayah dengan kuat namun tegas, memberi isyarat agar ia berhenti bicara.

“Brian…?”

Brian kini berdiri di depan Amayah.

Ekspresinya datar, tenang, dan sulit ditebak. Ia menatap para murid yang mengerumuni mereka tanpa gentar.

Suasana memanas, bahkan John yang sedang berjalan bersama pacarnya, tertarik melihat Brian bertindak.

Namun kali ini, Amayah tidak lagi sendirian.

Kini, apa yang akan Brian lakukan untuk menyelesaikan semua ini?

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!