NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 Diantara

Ada doa yang tak diucap keras, namun digenggam rapi—karena percaya, yang dititipkan pada Allah tak pernah benar-benar hilang.

—Caesar Cendana—

Perjalanan menuju Yogyakarta bukan sekadar perpindahan tempat bagi keluarga Cendana dan Athariz. Ia menjelma menjadi ruang sunyi yang hangat, tempat harapan disimpan tanpa suara, seperti embun yang menempel pada dedaunan pagi—tak pernah meminta diperhatikan, namun setia hadir.

Di balik tawa yang sesekali pecah di dalam kendaraan, ada doa-doa yang diam-diam dirapalkan. Doa yang tidak ditujukan untuk memaksa arah takdir, melainkan untuk memohon kelembutan dalam setiap langkah yang akan ditempuh. Terutama doa tentang Aldivano dan Celine—dua nama yang tak pernah diucapkan beriringan secara terang-terangan, namun kerap disandingkan dalam hati banyak orang.

Daddy Caesar memandang ke luar jendela, sementara pikirannya melayang jauh. Ia tahu, sebagai orang tua, ada batas antara berharap dan memaksa. Harapan itu kini ia simpan rapi, seperti menyimpan perhiasan berharga—tak dipamerkan, tak pula dituntut untuk segera dipakai.

"Semoga ini yang terbaik.." gumam Daddy Caesar yang terdengar oleh Mommy Chailey.

"...Aku juga berharap yang sama," sahut Mommy Chailey sembari memandang penuh harap pada anak gadisnya–Celine.

Bunda Afsheen pun demikian. Setiap kali matanya menangkap siluet Celine dari kejauhan, ada doa yang mengalir lirih di bibirnya. Ia berharap ada kemajuan, walau hanya seujung langkah. Bukan kemajuan yang gegap gempita, cukup satu titik temu kecil yang membuat hati keduanya lebih tenang.

"Semoga Allah menyatukan mereka dengan cara terbaik-Nya," gumam Ayah Aarash yang diamini oleh Bunda Afsheen.

"...Amiin." Kedua orang tua Aldivano menatap anaknya, seolah memberikan–semangat.

Namun mereka semua sepakat pada satu hal: tak ada yang boleh dipercepat sebelum waktunya.

Karena cinta, sebagaimana iman, tak pernah tumbuh subur di bawah paksaan.

Harapan yang Tak Bersuara

Di dalam kendaraan yang ditumpangi keluarga Athariz, suasana terasa teduh. Tidak terlalu ramai, namun juga tak sunyi. Aldivano duduk dengan posisi tegak, tangannya sesekali bertumpu di paha, sementara matanya memandang jalan panjang yang terbentang di depan.

Ia tahu, banyak pasang mata berharap padanya. Tapi ia juga tahu, ia bukanlah pemegang kunci takdir. Maka yang ia lakukan hanyalah bersiap—seperti petani yang membersihkan ladang, tanpa bisa memerintah hujan turun.

Sesekali, Aldivano melirik ke spion. Di sana, kendaraan keluarga Cendana mengikuti dengan jarak yang aman. Hatinya berdesir kecil, seperti angin yang menyentuh permukaan air dan menciptakan riak halus.

“Kalau Allah menghendaki, akan dimudahkan,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Kalimat itu bukan sekadar penghiburan, melainkan prinsip hidup yang ia genggam erat sejak lama.

Celine dan Perasaan yang Dijaga

Di kendaraan lain, Celine duduk tenang. Kepalanya bersandar ringan pada sandaran kursi, matanya menatap pemandangan yang terus berganti. Jalan panjang itu terasa seperti cermin—memantulkan banyak hal yang selama ini ia simpan sendiri.

Ia tahu, selama perjalanan ini, banyak yang berharap padanya. Namun ia juga tahu, perasaan bukan sesuatu yang bisa ditarik atau dilepaskan sesuka hati. Maka ia memilih menjaga jarak, bukan karena tak peduli, tetapi karena terlalu peduli.

Celine menata ulang niatnya setiap kali detak jantungnya terasa sedikit lebih cepat saat mengingat Aldivano. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan—seperti orang yang menenangkan gelombang di dadanya agar tak meluap.

“Apa pun yang terjadi,” bisiknya dalam hati, “biarlah Allah yang mengaturnya.”

Reina yang duduk di sampingnya menangkap raut wajah itu. Ia tak bertanya. Ia tahu, ada proses yang tak boleh diinterupsi. Kadang, kehadiran tanpa kata jauh lebih menenangkan dibanding seribu nasihat.

Tak Meninggalkan Kewajiban

Ketika waktu zuhur tiba, rombongan berhenti di sebuah rest area yang cukup luas. Langit siang itu cerah, seperti kain putih yang dibentangkan dengan penuh kesabaran. Suara adzan terdengar mengalun, lembut namun tegas, memanggil mereka kembali pada poros utama hidup.

Tanpa komando, semua bergerak ke arah yang sama. Ada yang mengambil wudu, ada yang menyiapkan sajadah. Di tengah perjalanan yang penuh tawa dan cerita, kewajiban itu tetap berdiri tegak—seperti tiang yang menyangga bangunan agar tak runtuh.

Celine melangkah ke tempat wudu bersama Reina dan Alya. Air yang mengalir membasahi tangan dan wajahnya terasa sejuk, seperti sentuhan lembut yang mengingatkan bahwa di mana pun berada, Allah selalu dekat.

Saat mereka berdiri sejajar dalam saf, Celine merasakan ketenangan yang berbeda. Sujudnya terasa lebih lama, doanya lebih jujur. Ia tak meminta banyak—hanya memohon agar hatinya tetap lurus dan langkahnya tak melenceng.

Di saf pria, Aldivano berdiri tenang. Setiap gerakan shalatnya teratur, seperti ritme yang telah lama ia hafal. Dalam doanya, tak ada permintaan yang tergesa. Ia hanya memohon petunjuk dan kesabaran, dua hal yang ia yakini akan mengantarnya pada keputusan yang benar.

Shalat itu terasa seperti jeda—jeda yang memberi makna pada perjalanan panjang mereka.

Liburan yang Tetap Menjaga Arah

Setibanya di Yogyakarta, malam menyambut mereka dengan udara yang sejuk. Kota itu terasa ramah, seperti rumah lama yang membuka pintunya tanpa banyak tanya. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya keemasan, membuat setiap langkah terasa lebih pelan, seolah mengajak siapa pun yang datang untuk tidak terburu-buru.

Hari-hari liburan mereka diisi dengan kunjungan ke berbagai tempat. Namun satu hal yang tak pernah berubah: jadwal shalat selalu menjadi penanda waktu utama.

Pagi hari dimulai dengan subuh berjamaah. Di teras penginapan, suara dzikir terdengar lirih namun konsisten. Celine duduk bersila, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Udara pagi menyentuh kulitnya seperti kain tipis yang menenangkan.

Ia memandang langit yang perlahan berubah warna. Ada rasa syukur yang mengalir, seperti sungai yang tenang namun dalam. Di momen-momen seperti ini, ia merasa hidupnya utuh—tak terbelah antara dunia dan akhirat.

Bunda Afsheen memperhatikan dari kejauhan. Hatinya terasa hangat. Ia tahu, apapun yang akan terjadi antara Aldivano dan Celine, keduanya sedang berada di jalan yang benar.

Harapan yang Dilepas dengan Ikhlas

Hari demi hari berlalu. Ada momen kebersamaan yang hangat, ada pula jarak yang tetap terjaga. Aldivano dan Celine tak pernah benar-benar berdua. Selalu ada ruang aman yang disepakati tanpa kata.

Namun justru di situlah kemajuan kecil itu terjadi.

Bukan lewat sentuhan. Bukan lewat kata-kata manis. Melainkan lewat sikap saling menghormati.

Celine mulai merasa tenang dengan kehadiran Aldivano. Tidak lagi gelisah, tidak pula waspada berlebihan. Seperti air yang menemukan wadahnya—mengalir tanpa meluap.

Aldivano pun merasakan hal yang sama. Ia belajar bahwa mendekat tak selalu berarti mempersingkat jarak. Kadang, mendekat justru berarti memberi ruang.

Kedua keluarga menyadari itu. Dan mereka memilih bersyukur dalam diam.

Karena harapan yang paling indah adalah harapan yang diserahkan sepenuhnya pada kehendak-Nya.

Di Antara Doa dan Waktu

Suatu malam, setelah isya, Celine duduk sendiri di balkon. Angin malam menyentuh wajahnya lembut, seperti tangan yang menenangkan. Ia menatap lampu-lampu kota Jogja yang berkelip, menyerupai bintang yang turun ke bumi.

Di kejauhan, Aldivano juga berdiri sendiri. Pandangan mereka tak bertemu, namun doa mereka mungkin beriringan.

Malam itu, tanpa disadari siapa pun, ada sesuatu yang mulai berubah—bukan pada sikap, bukan pada jarak, melainkan pada kesiapan hati.

Dan perubahan itu, seperti fajar, tak pernah datang dengan tergesa.

Ia selalu tahu kapan harus muncul.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!