Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 (Part 2)
Pukul 11.30 WIB – Di Dalam Gudang Belakang
Begitu pintu gudang terkunci, Gala langsung melepaskan ekspresi marahnya. Ia duduk di atas meja kayu tua, mengusap tangannya yang sedikit sakit karena mencengkeram kerah Reno tadi.
"Akting lo lumayan, tapi jangan terlalu sering nunduk. Reno bakal curiga kalau lo nggak ngelawan sama sekali," ujar Gala sambil memeriksa ponsel yang layarnya retak tadi.
Kella bersandar di tembok, mengatur napasnya yang memburu. "Kamu hampir bikin jantungku copot, Gala. Tadi itu terlalu nyata."
"Harus nyata. Reno sekarang ngerasa dia punya 'senjata' karena dia sempet kirim beberapa file palsu itu ke ponselnya sendiri. Dia bakal ngerasa dia punya kuasa atas gue, padahal dia baru aja masuk ke dalam jebakan malware yang gue pasang di file-file itu."
Kella mengerutkan kening. "Malware?"
"Begitu dia buka file itu di rumahnya, ponsel dan laptopnya bakal jadi cermin buat gue. Gue bisa liat semua isi pesannya, siapa yang dia hubungi, dan siapa orang suruhan Ayah gue yang selama ini ngasih informasi ke dia," jelas Gala dengan seringai tipis.
Kella menatap Gala dengan rasa kagum yang campur aduk. Pria ini sangat cerdas, namun juga sangat berbahaya. Ia memanipulasi teman-temannya sendiri seperti bidak catur.
"Gala, soal pesta minggu depan... aku sudah bicara dengan Pak Heru. Dia bilang agensi pelayan memang butuh tiga orang tambahan untuk acara Alangkara. Aku sudah masuk dalam daftar," kata Kella.
Gala terdiam sejenak. Ia turun dari meja dan mendekati Kella. Jarak mereka kini sangat dekat, hingga Kella bisa mencium aroma sabun dan sedikit bau sisa tepung dari seragamnya sendiri yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan.
"Pesta itu bakal jadi tempat yang sangat berbahaya, Kella. Ayah gue bukan cuma pengusaha properti. Dia punya koneksi dengan orang-orang yang nggak segan-segan buat ngilangin jejak kalau ada yang mengganggu," Gala menatap mata Kella dengan serius. "Lo yakin mau ngelakuin ini? Lo bisa aja berhenti sekarang, dan gue bakal cari cara lain."
Kella menggeleng pelan. "Gabriel meninggal karena mencoba membongkar ini. Aku nggak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Aku ingin dunia tahu siapa sebenarnya Bramantyo Alangkara."
Gala mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Kella, namun ia menariknya kembali di detik terakhir. Ia berdeham, mencoba mengembalikan suasana dinginnya.
"Oke. Gue bakal kirim denah rumah lewat cara yang biasa. Di ruang kerja Ayah, ada brankas di balik lukisan ibunda. Kodenya adalah tanggal pernikahan mereka yang gagal... 14 Februari. Tapi itu cuma kunci pertama. Kunci keduanya ada di jam tangan yang selalu Ayah pakai."
"Jam tangannya?"
"Ya. Jam tangan itu punya chip RFID. Tanpa jam itu mendekat ke sensor, brankas nggak akan terbuka," Gala menatap Kella. "Tugas lo adalah cari cara buat bikin dia ngelepas jam tangan itu selama lima menit."
Kella menelan ludah. Bagaimana mungkin seorang pelayan bisa membuat tuan rumah yang sangat waspada melepas jam tangannya?
"Aku akan memikirkan caranya," jawab Kella mantap.
...
Pukul 15.00 WIB – Pulang Sekolah
Saat Kella berjalan menuju halte bus, Sarah dan gengnya tiba-tiba menghalangi jalannya. Sarah tampak sangat kesal.
"Heh, Kella! Gue nggak tahu apa yang lo lakuin sampe Reno jadi aneh seharian ini, tapi denger ya... jangan pikir karena lo jadi asisten Gala, lo bisa bebas dari gue," Sarah menyiramkan sisa es kopi ke arah sepatu Kella.
Kella menatap sepatunya yang kotor, lalu menatap Sarah tepat di matanya—persis seperti yang disarankan Gala semalam.
"Sarah," suara Kella terdengar sangat tenang, hampir membisik. "Kalau aku jadi kamu, aku akan lebih khawatir soal apa yang dilakukan Reno di belakangmu daripada soal sepatuku."
Sarah mengernyit. "Apa maksud lo?"
"Tanya saja dia, file apa yang baru saja dia dapat dari ponsel Gala siang tadi. Mungkin kamu bakal kaget liat daftar nama cewek yang ada di sana," Kella kemudian berjalan melewati Sarah yang terpaku kebingungan.
Itu adalah gertakan kecil, namun efektif. Kella mulai belajar cara bermain di dunia Gala. Dunia di mana informasi adalah senjata, dan kebohongan adalah perisai.
...